Mobil yang Ruben kendarai berhenti di depan garasi rumah mereka pada pukul setengah sembilan lebih dua puluh tujuh menit. Di setengah sisa perjalanan menuju rumah, Risa habiskan dengan menangis hingga saat ini matanya membengkak. Ruben sudah mencoba untuk menenangkannya, tetapi tangis perempuan itu tak juga berhenti. Segala ungkapan baik, segala kalimat penenang yang Ruben sampaikan tetap tak membuat hati istrinya membaik. "Masih sedih, Adek?" tanya Ruben pelan. Kepala pria itu ditolehkan kepada Risa yang masih tampak terdiam. Kedua kuasa perempuan itu saling tertaut erat. Matanya yang sembab memandang ke arah selang air yang melingkari keran di garasi rumah mereka. "Adek?" panggil Ruben. Risa mengerjapkan mata. Ruben memanggilnya, ya? Ia bahkan tak sadar, sungguh. Salah satu kebiasaan

