“Pakai jaketnya El aja mau enggak, Ma?” tawar Nara pada Lilly. Lilly, perempuan itu tampak berpikir sejenak. Satu sisi dia ingin menerima tawaran itu, tetapi di sisi yang lain rasanya tak memungkinkan bagi ia untuk menerima tawaran itu. Apalagi udara puncak pagi itu tampak lebih dingin dan sejuk dari yang biasanya. Lilly punya kekhawatiran, seandainya jaket cucunya—baby El—dipakai oleh sang putra—baby Leonel—maka nanti bisa saja baby El yang akan sakit. Ah, memikirkan hal ini seperti tak ada habisnya, sungguh. Lilly merasa kepalanya berat dan ia ingin mengamuk sekarang. “Enggak usah ah, Nar. Nanti biar papa cari toko baju deket sini, ya. Terus beliin adek jaket. Mama enggak mau baby Leonel pakai jaket punya baby El, hawa puncak, ‘kan, dingin. Takutnya Leonel sembuh, tapi El sakit

