Chapter Three: The Memories
Dia bersinar, mempesona. Aku hanya ingin berada di sampingnya, mereasakan hembusan nafasnya. Memastikan jika dia ada di sampingku
__
MARIENNE
“Tinggallah!” pinta bocah raksasa berambut brunette, bewajah melas, bernama Nathan ini. Dia, sahabatku, paling tahu bahwa aku tidak akan bisa menolak jika sudah mengeluarkan jurus memelasnya. Jadilah aku tinggal di ruma sakit untuk menemaninya sementara waktu sampai dokter memperbolehkannya kembali ke rumah.
Beberapa waktu, setelah waktu observasi usai dan Nathan dinyatakan boleh kembali ke rumah, akhirnya kami pun beranjak pergi dari rumah sakit. Tubuh kecilku ini terpaksa harus memapahnya berjalan, tampaknya Nathan sangat menikmatinya, menyiksaku seperti ini. Dia sadar betul jika tubuhnya lebih besar dariku, dan dengan manjanya dia bergelayut. Sesekali aku mengeluh jika dia terlalu berat, dan tahu apa yang dia katakan padaku?
“Ayolah, Mary, kau tidak selemah ini, lihat tubuh dempalmu ini!” godanya, sembari menunjukkan deretan gigi rapinya yang berwarna putih itu. Hanya dengusan kesal yang bisa aku lakukan, menyadari bahwa apa yang terjadi pada Nathan pun juga ada kesalahanku di sana. Aku menindihnya setelah terjatuh. Tapi awas saja, suatu saat aku pasti akan membalas ejekannya itu.
“Tinggallah, Mary.” Nathan merengek, mengatakan hal yang tepat sama seperti saat kami di rumah sakit tadi. Bahkan dia membuat ekspresi wajah yang sama, sampai kapan dia akan memerasku seperti ini. aku memutar mataku kesal, tapi dia malah lebih memelas lagi. “Ayolah, Mary, please … Ibuku sedang di London sampai akhir pekan, kau tahu ‘kan kamarku ada di atas, jadi akan sulit bagiku –” Dia benar-benar menyebalkan jika sudah merengek seperti ini.
“Baiklah, Tuan Manja, aku akan menemanimu, merawatmu seperti nanny, jadi jangan merengek lagii!” kataku sembari memutar bola mataku dengan kesal.
Lihat! Senyumannya mengembang begitu lebar seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. Rasanya seperti mengenang kembali masa-masa kecil kami saat tangannya patah dulu. Nathan selalu memanfaatkan situasi, dia selalu memintaku agar tak jauh-jauh darinya. Agar dia bisa menyuruhku melakukan segala hal sesuai dengan keinginannnya. Dia sangat mahir memanfaatkan situasi. Itulah dia, Nathan Wycliff.
Perlahan-lahan, aku membantu Nathan untuk berjalan ke sofa yang terletak di ruang tamu rumahnya, dia menurunkan tubuhnya pelan lalu tenggelam dalam kenikmatan sofa yang empuk itu. kakinya dijulurkan memanjang dan diletakkan di atas meja. Lelah setelah membopongnya, aku pun turut bersandar di sampingnya.
Hening. Untuk beberapa saat tak ada suara yang keluar dari mulut kami kecuali suara tarikan dan hembusan nafas kami berdua. Pikiran kami melayang jauh, entah apa yang dipikirkan Nathan saat ini, tapi aku … aku lapar.
“Kau ingin makan apa untuk makan malam, Nat?” Akhirnya aku tak tahan lagi dengan suara perutku yang mulai mengganggu ini.
“Sesuatu dari Chuck;s,” balasnya dengan suara lirih. Aku menghela nafas, dia mulai menyebalkan, bukan karena tidak bisa membelinya, tapi karena jarak Chuck’s Lit dari rumah kami ini cukup jauh. Kenapa tidak meminta saat kami perjalanan pulang tadi, kita bisa mampir sebentar dan membeli apapun yang dia inginkan.
“Kau tahu, Nat, kau ini sungguh menyebalkan!” aku melemparkan bantal di sofa tepat ke wajahnya, dan bocah raksasa itu hanya cekikikan.
“Jangan marah begitu, kita bisa pesan antar sesuatu nanti. Aku hanya menggodamu saja!” ujarnya tanpa merasa bersalah setelah menyingkirkan bantal itu dari wajahnya.
“Awas saja kau minta yang lebih menyebalkan, ya! aku akan meninggalkanmu.”
Lagi, dia tertawa. Tawa yang membuat wajahnya terlihat lebih … menarik? Astaga, dia memang sudah tampan sejak kecil tapi kenapa sekarang dia terlihat berbeda. Segera aku memejamkan mataku dan menghilngkan pikiran anehku tentang wajahnya yang menjadi lebih menarik daripada sebelumnya, sembari mengingatkan diriku bahwa dia adalah Nathan yang sama, sahabatku yang bila tidur selalu mendengkur keras seperti suara babi.
“Oiya, malam ini ada perayaan di Chuck’s, mungkin kau mau menemaniku ke sana?” tanyanya setelah tawa di bibirnya itu berhenti. Aku mengerti sekarang, dia tidak ingin aku membeli makan ke Chuck’s tapi ingin aku menemanimya ke sana.
“Bagaimana caranya kita ke sana? Taxi? Jika kau lupa, akan kuingatkan, saat ini mobilmu dan milikku sedang terparkir di kampus.” Dia harus tahu jika kami tak memiliki kendaraan sampai besok atau bahkan mungkin sampai lusa.
“Taxi adalah pilihan yang bagus, tapi Steffan akan menjemput kita, dia menghubungiku tadi saat di rumah sakit,” balasnya. Aku tak mengenal banyak teman satu tim Nathan, tapi Steffan aku sering mendengar namanya walau tak pernah bertemu dengannya secara langsung, seringkali aku melihatnya ketika sedang menonton Nathan berlatih, itu pun kalau mataku tak hanya fokus pada Nathan saja.
“Maka kau tidak membutuhkanku, kau bisa pergi dengan Steffan, aku lebih baik di rumah saja.” Aku bersungguh-sungguh mengatakannya, tapi seketika itu juga raut wajah Nathan menjadi lebih buruk daripada memelas, keningnya berkerut, bibirnya mencebik, cemberut, tak ada lagi yang menarik dari wajah cemberutnya itu. Dasar bocah raksasa manja!
Sebenarnya aku tak memiliki alasan untuk tidak ikut dengannya, hanya saja aku sungguh tak ingin pergi ke manapun hari ini. Cukup bagiku berlarian sepanjang kampus, aku hanya ingin membuat makan malam dan kemudian tidur. Membosankan? Begitulah hidupku, dan aku lebih suka seperti ini. Sungguh, kegiatan di luar rumah itu sepertinya tidak tercipta untukku, jika aku bisa bersenang-senang di dalam rumah, mengapa aku harus pergi ke luar?
“Kalau begitu aku pun tak akan pergi,” ujar Nathan tiba-tiba dengan nada suara merajuk. Sebenarnya aku lebih suka begitu, namun, aku mengenalnya lebih baik dari dirinya sendiri. Dia menyukai pergaulannya dengan teman-temannya, terkurung di dalam rumah bukan untuk Nathan. Dan Nathan adalah orang yang keras kepala, lebih batu dari pada batu paling keras dan lebih manja dari anak usia enam tahun. Kadang aku bingung, bagaimana bisa aku memiliki sahabat sejak lahir seperti ini. dari sekian banyak orang di dunia ini, mengapa Nathan? Haha.
“Jangan mulai, Nathan!” peringatku padanya dengan memutar bola mata kesal. Heran rasanya, saat keadaannya buruk dia selalu menjadi jauh lebih manja, mungkin 100 hingga 500 persen lebih manja dari biasanya. Aku mengubah posisi dudukku, menghadap dia yang masih menyandarkan punggungnya di sofa. “Ini adalah pesta kalian, tentu kau harus datang,” ucapku, dia memalingkan wajahnya tak ingin mendengar ucapanku. “Steffan akan membantumu,” aku meyakinkannya.
“Aku. Tidak. Akan. Pergi. Tanpamu.” Tanganku sudah terkepal ingin memukul kepalanya yang sekeras batu karang paling tua di dunia. Aku duduk tegak menatapnya, sambil melipat tangan di depan d**a. Sekarang aku mendapatkan perhatiannya, dia menatapku.
“Beri aku satu alasan, mengapa aku harus ikut denganmu, dan apa untungnya bagiku?” AKu membuat perhitungan agar dia tahu, bahwa aku tidak akan mengikuti semua akal bulusnya dengan Cuma-Cuma.
“Karena banyak temanku yang akan datang, dan mungkin kau ingin berkenalan dengan salah satu dari mereka,” ujarnya asal dan ragu-ragu.
Ya. memang akan banyak pria di sana, itu hanya menjadi salah satu alasan aku tak ingin ikut dengannya. Aku bukan orang yang akan dengan mudahnya berbaur dengan orang lain, apalagi berkenalan dengan orang baru secara pribadi pula. Ikut dengannya hanya akan membuatku terasingkan. Nathan pun pasti akan lebih sering bersama dengan temannya, dan aku … aku mungkin hanya akan berakhir membantu Chuck menyiapkan kebutuhan mereka, mengingat aku pekerja part time di sana.
“Oh,Ayolah Mary, please! Ini akan sangat menyenangkan, aku jamin!” Nathan masih berusaha untuk membujukku. “Ikutlah, sekali saja, demi aku? Oke?” permintaannya diikuti dengan wajah melasnya. Dia sangat pintar membujukku ‘kan? atau aku yang terlalu bodoh dan selalu menurutinya? Entahlah!
“Sialan,” umpatku sambil beranjak dari sofa. “Baiklah! Aku ikut.” Terpaksa aku menuruti permintaannya itu.
“Cool! Bagus sekali!” Nathan berseru antusias. “Aku akan beritahu Steffan untuk datang jam tujuh malam, jadi kau bisa bersiap-siap.” Melihatnya begitu antusias, kurasa dia sudah melupakan kakinya yang terluka, dia benar-benar senang.
“Lalu … bagaimana denganmu? Kau bisa bersiap sendirian?” tanyaku dengan alis yang terangkat. Wajahnya yang bahagia itu menatapku penuh makna, pasti ada maksud tersembunyi dari tatapannya itu.
“Tentu saja ….” Ada jeda dari ucapannya, membuatku menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya, “Tentu saja dengan bantuanmu, Marienne!!” lanjutnya dengan bahagia. Dasar bocah konyol aneh dan manja!
“SIAL!” pekikku disusul tawa oleh Nathan.
Tak lama kemudian terdengar dering ponsel Nathan berbunyi, itu menghentikan tawanya. Dia mengambil ponsel di saku celananya. Dari percakapan itu kutahu, Steffan berada di ujung saluran. Sembari dia menelepon aku kembali membantunya berjalan untuk menaiki tangga menuju ke kamarnya, membantunya duduk di atas ranjangnya dengan ponselnya masih menempel di telinga. Setelahnya aku membantunya mengambil beberapa pakaian ganti, T-shirt putih, lalu celana jeans hitam dan juga … tunggu, aku melihat sesuatu yang aneh dan sangat menarik perhatianku. Sesuatu dengan motif spoengbob, perlahan aku menariknya dan mendapati sebuah boxer berwarna kuning dengan motif bergambar spongebob … haha, aku tak bisa menahan tawaku, SPONGEBOB!
“HEY!!” Sebuah pekikan menggema di kamar Nathan, aku berbalik sembari memicingkan boxer itu tepat di depan wajahnya. Sungguh, tawaku akan meledak sebentar lagi.
“Sungguh, Nat? Kau masih terobsesi dengan Spongebob?” tawaku pun meledak, aku terbahak sembari memegangi perutku. Aku yakin sekali, sepertinya bukan hanya boxer ini yang terdapat motif spongebobnya. Pasti masih banyak koleksi pakaian atau barangnya dengan motif serupa. aku ingat dia bahkan pernah memberikanku satu kaos yang serupa denganna bergambar spongebob.
“Kembalikan, Mary, kau ini!” Wajah Nathan memerah menahan malu. Ini mengingatkanku bahwa sudah lama sekali sejakaku masuk ke dalam kamarnya ini. padahal dulu, aku hampir menghabiskan seluruh waktuku di sini, di kamar ini.
Di pintu kamar itu, Nathan pernah memberi sebuah plakat yang bertuliskan ‘Nathan & Mary’s land’. Di sini biasanya aku mengerjakan pekerjaan rumahku, bermain monopoli, mendengarkan musik dan menari dengan gila dengannya, kadang-kadang kami membangun tenda di dalam kamar ini, berimajinasi seolah-olah kami berada di alam terbuka, telentang bersama menatap langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang dan berbagi mimpi, ada situasi yang cukup aneh di antara kami berdua, Nathan sering bercerita jika dia selalu mendapatkan mimpi aneh, kadang dia menjadi sebuah kunci, atau kadang dia menjadi sepasang sepatu yang mengelilingi kompleks perumahan kami. Lalu, ada saatnya kami bercerita mengenai rumah kosong yang ada di ujung jalan. Aku mengingatnya, bagaimana kami menceritakan bahwa rumah itu berhantu dan Nathan selalu mengatakan jika hatu di rumah itu hanya mengganggu anak perempuan saja. Sejak dia mengatakan hal itu, aku tidak pernah melalui rumah itu jika sendirian. Tapi pada akhirnya aku tahu, semua itu hanya akal-akalan Nathan saja, dia memang sejahil itu.
“Mary, kembalikan!” Nathan memecah lamunanku, dia berusaha berdiri dengan sebelah kakinya yang sehat dan mencoba untuk merebut boxernya dari tanganku. Secara refleks aku pun mundur selangkah, Nathan terhuyung ke depan. Rasa cemasku mengalahkan pikiran jahilku, akhirnya aku kembali maju ke depan dan menangkap tubuhnya yang bagai raksasa itu, yang ada kami berdua malah terjatuh di lantai dengan posisiku di bawahnya.
Wajah Nathan begitu dekat denganku, aku bisa merasakan dadanya naik-turun seiring dengan nafasnya yang berhembus tak karuan. Aroma mint mengurar dari bibirnya, yang aneh aku merasa detakan jantungku berdebar begitu cepat sampai aku takut jika dia mungkin akan mendengarkannya. Nathan menatapku, menatap mataku dan tatapannya yang penuh emosi itu perlahan turun ke … bibirku? Tanpa sadar aku memejamkan mataku, menunggunya.
TUNGGU! Untuk apa aku memejamkan mata?! Menunggunya menciumku?! Mary sadarkan dirimu! Sadar Mary, jangan gila!!! Ini sungguh gila!
Secepat kilat aku membuka mataku, dan Nathan masih berada di tempat yang sama hanya saja kini emosi di matanya terlihat tampak jelas, seperti seorang yang sedang frustrasi. Tapi kenapa? Dia bahkan menghela nafas dengan berat seolah-olah beban di dadanya begitu besar. Nathan menarik boxer dari tanganku dan berguling di sampingku.
“Kau memang sesuatu, Mary Poppins!” suara Nathan begitu serak. Aku menghembuskan nafasku perlahan, nafas yang sudah aku tahan sejak tadi, mengatur ritmenya agar tak menyesakkan.
“Apa kau masih menyimpan semua koleksi spongebobmu, dan kaos yang sama dengan milikku itu?” tanyaku, berusaha untuk mencarikan keadaan yang terasa begitu canggung ini.
“Sssshhh!” Nathan menggunakan telapak tangannya untuk menutup mulutku. “Jika kau membocorkan rahasia ini, aku bersumpah kau tidak akan pernah tidur nyenyak!” Nathan mengancamku dengan tatapan memohon.
“Seorang Nathan takut jika dunia tahu dia sangat terobsesi dengan spongebob?” aku melepaskan tangannya dari mulutku, lalu terkekeh.
“Kumohon, Mary?”
Kesempatan. Aku akan memanfaatkan situasi ini agar dia menuruti perkataan juga.
“Baiklah, dengan satu syarat tentunya.”
“Apapun.” Lihat, betapa mudahnya dia menyetujui ucapanku, “Apapun itu asal kau tidak membocorkannya.” Sebenarnya aku tidak mengerti mengapa dia tak mempercayaiku sebagai sahabatnya, dan berpikir aku mungkin akan membocorkan rahasianya. Tapi, sudahlah, dengan begini aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.
“Apa yang kau inginkan,Mary?” Aku menahan tawaku karena dia tampak begitu serius.
“Kau harus membelikanku satu kaos spongebob.”
“DEAL!” tanpa berpikir Nathan seketika menyepakatinya. Aku tersenyum puas bisa membalasnya seperti ini. dia benar-benar sahabatku yang agak bodoh karena dengan mudahnya dimanipulasi olehku, sahabatnya sendiri.
“Baiklah, sekarang ayo bangun, aku akan membantumu ke kamar mandi.” Aku bangkit lebih dahulu, dia mengulurkan tangannya dan aku membantunya bangkit.
Sampai di kamar mandi, aku membantunya duduk di atas kloset, “Aku tidak harus memandikanmu ‘kan?” pertanyaanku disambut sebuah kerlingan mata dari Nathan dan senyum jahilnya itu. aku tahu saat ini otaknya pasti dipenuhi oleh rencana busuk.
“Jangan bercanda denganku!” aku mengangkat tanganku dan memukul pundaknya pelan. Nathan hanya tergelak.
“Tenang saja, Mary, aku bisa melakukannya sendiri jadi kau pulanglah dan bersiap,” ujarnya sembari mengacak-acak rambutku. Tapi aku masih tak tega jika meninggalkannya begitu saja, pasti sulit baginya untuk berdiri.
“Kau yakin bisa membuka pakaianmu sendiri?” tanyaku memastikan.
“Ingin membantu?” godanya dengan menyeringai jahil.
“Gila!” aku segera menghentakkan kaki dan melangkah pergi dari sini sebelum dia membuat ulah yang lain lagi.
Setelah selesai dengan ritual mandiku, mengeringkan rambut cokelat gelapku, lalu menggulungnya asal, aku memakain t-shirt navy dengan menggunakan skinny jeans, setelah mengoleskan lip gloss, aku langsung berlari kembali ke rumah Nathan.
Seseorang sudah memarkikan mobil AMC Eagle di depan rumah Nathan. Aku berjalan mendekatinya, dan seseorang berdiri bersandar di depan mobil itu. Seorang pria, tinggi dengan rambut merah tembaga dengan mata biru tersenyum ke arahku. Dia adalah Steffan, aku melihatnya beberapa kali ketika menunggu Nathan berlatih.pemuda yang cukup atraktif karena banyak sekali penggemarnya. Dia seperti bintang di kampus kami.
"Hai!" sapaku, setelah jarak kami cukup dekat.
"Hai." balasnya, dia terlihat agak terkejut dengan kedatanganku.
"Kau pasti Steffan??" tanyaku dengan membuat senyum di wajahku agar tampak ramah.
"Yeah, ba-" ucapan Steffan terpotong saat pintu rumah Nathan terbuka. Nathan berdiri di ambang pintu, dan ia menggunakan pakaian yang kuambilkan untuknya. Sial, dia berjalan sendiri? Bagaimana jika kakinya tambah parah? Kenapa dia ceroboh sekali.
"Sial." Umpatku, aku berlari kearahnya, begitu juga dengan Steffan. Kami berdua menahan tubuh Nathan.
"Kalian berdua kompak sekali!" celetuknya, kemudian memandangi kami bergantian dan tertawa.
"Kau bisa saja terjatuh, kenapa tidak menungguku?!" protesku, atau jika dia tidak sabar bisa memanggil Steffan untuk membantunya kan. Nathan hanya mengangkat bahunya. Steffan masih membantuku dan Nathan untuk masuk ke dalam mobilnya.
Setelah Nathan masuk, aku pun mengikutinya dan duduk di belakang. Sesaat kemudian, Steffan masuk ke kursi pengemudi.
"Aku tidak tahu kakimu terluka parah." kata Steffan sembari menyalakan mesin mobilnya.
"Hanya dislokasi, bukan masalah besar," jawab Nathan, "Ohya, kalian sudah saling mengenal atau?"
"Kau bisa memanggilku Mary." Aku memotong ucapan Nathan dan berbicara pada Steffan. Dia tersenyum, dan seperti dugaanku, senyumnya juga menawan.
"Seperti yang sudah kau tahu, namaku Steffan."
Setelah menaikan volume speakernya dan terputar lagu Bruno Mars di sana, aku tak mengerti dari sekian banyak pilihan lagu dia memilih Bruno Mars. Tidak sesuai dengan penampilannya. Steffan menjalankan mobilnya. Mereka berdua banyak bicara soal pertandingan, kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan. Dimana aku tidak mengerti sama sekali, jadi aku memilih untuk menatap keluar jendela, sambil menikmati 24K lagu Bruno Mars.
"Kau mengambil jurusan apa, Mary?" Suara Steffan mengacaukan kedamaian anganku.
"Sastra Inggris, bagaimana denganmu??"
"Sama, tapi aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," balasnya. Ini agak mengejutkan, jika dia mengambil jurusan yang sama denganku seharusnya kami sering bertemu. Jika tidak, berarti dia banyak melewatkan kelas kami.
"Mungkin kau terlalu sibuk berlatih,” jawabku asal, dan Steffan tidak mengelaknya. Ia malah tertawa mendengar jawabanku.
"Yea, kau benar. Aku hanya sesekali masuk kelas." Kenapa membolos terdengar lucu untuk Steffan? Ini kuliah, dan dia mengentengkannya? Sepintar apa dia sebenarnya?
Beberapa saat kemudian, kami sampai di Chuck's Lit. Aku melihat banyak kendaraan yang terparkir di halaman Chuck's. Hari ini adalah hari keberuntungan Chuck's pastinya, dan beruntungnya aku karena hari ini bukan hari kerjaku.
"The Roaxen juga datang," Kata Steffan
"Roaxen??" tanyaku, memastikan bahwa yang aku dengar bukanlah apa yang aku kira.
"Yea, tim sorak universitas, kau tidak mengenal mereka?" Steffan tampak heran.
"Haruskah???" Steffan dan Nathan tertawa. Aku serius, haruskah aku mengenal tim pemandu sorak di universitas kami? Maksudku, kampus kami sangat luas, tidak mungkin jika aku mengenal seluruh orang yang di kampus.
Atau mungkin aku yang terlalu tertutup?