Chapter Four: Her Laugh

2167 Kata
 Dia tertawa, tawa yang buat duniaku berwarna. Tawa yang begitu mempesona. Dan tawa itu akulah sebabnya -          Nathan –  ___ NATHAN   Café kecil itu lebih ramai dari biasanya, tempat favoritku dan Mary untuk sekedar menikmati milkshake andalannya. Hampir setiap pulang sekolah, kami akan mampir ke mari, sekarang saat Mary bekerja part time di sini, aku jadi semakin sering ke mari hanya untuk melihatnya bekerja. Mary bekerja sangat giat, dia pun ramah terhadap semua pelanggan. Kurasa  Mary memang baik pada semua orang.   Suara terompet terdengar cukup keras ketika kami—aku, Mary, dan Steffan—berjalan memasuki café. Ruangan penuh dengan manusia yang bersorak kegirangan karena kemenangan tim kami tadi siang.   “SELAMAT!!” mereka bersorak dengan lantang.   Aku menoleh pada Steffan, dia masih membopongku, aku bertanya padanya, “Selamat untuk apa?” Karena jelas sekali, kemenangan itu bukan hanya karena aku. Kami bekerja sama dengan sangat baik. Steffan tak memberi jawaban, dia hanya tersenyum sambil mengendikkan bahunya. Yang jelas, dia tahu mereka menyiapkan kejutan tak terduga ini.   “Mereka benar-benar memujamu,” bisik Mary tidak sungguh-sungguh, dia mendongakkan kepalanya yang terhimpit oleh ketiakku. Aku tersenyum bangga padanya, tapi sorot matanya mengatakan hal lain. Acara malam ini tidak seperti yang aku bayangkan, kupikir kami hanya makan bersama di Chuck’s, tapi mereka malah membuat kejutan daaaaaan mengundang The Roaxen. Tampaknya ini akan membuat Mary tidak nyaman. Bukan, bukan karena ada The Roaxen, melainkan pesta yang meriah seperti ini. Bagaimana cara dia menyindirku dengan ucapannya sudah mengungkap semuanya.   “Ini akan sangaaaat menyenangkan, Natty,” ucapnya penuh sarkasme. Aku hanya bisa meringis canggung, tak mungkin juga aku mengusirnya dari sini. Dia akan marah berbulan-bulan dan melakukan silent treatment jika aku melakukannya.   “Bagaimana keadaanmu, Boy?” Mr. Dunken, pelatihku. Dia sudah ada di depan kamu, menepuk pundakku. Perlahan-lahan aku melonggarkan lenganku dari Steffan dan Mary. Berusaha untuk berdiri sendiri, cukup menyakitkan di pergelangan kakiku, tapi ini sepadan dengan yang tim kami dapatkan.   “Luar biasa, coach, tak pernah sebaik ini,” balasku dengan sungguh-sungguh.   “Baguslah, tapi sungguh bagaimana keadaan kakimu?” Mr. Dunken meralat pertanyaannya.   “Oh,” sahutku yang baru memahaminya, “Ini baik-baik saja, hanya terkilir saja, beberapa hari akan membaik,” jelasku padanya, tak ingin membuat pelatihku cemas dengan masalah kecil ini.   “Baguslah, karena setelah ini kau harus mengemban tugas sebagai kapten tim.”   Tunggu … apa kalian mendengarnya dengan jelas? Mr. Dunken mengatakan aku akan jadi kapten tim? Ini … sungguh, aku tidak tahu bagaimana harus mengekpresikannya. Aku ingin melompat, tapi kakiku masih cedera. Jadi yang bisa aku lakukan hanya memeluk Mr. Dunken dengan sangat erat karena telah memberikanku kesempatan ini.   Sekali lagi, teman-teman se-timku bersorak, satu persatu dari mereka memberikan selamat padaku. Setelah selesai dengan mereka, aku menyapu seluruh ruangan, mencari sosok Mary. Aku ingin memberikan senyum banggaku sekali lagi padanya. Dia tak jauh dariku, mengacungkan dua jempolnya padaku sambil berbicara tanpa suara, “Kau hebat!”   “Selamat, mate!” Steffan menepuk pundakku dan memelukku sebentar. Setelah itu, seorang gadis dengan warna rambut strawberry blonde mendekat padaku, dia mengulurkan tangan sembari tersenyum ramah ke arahku. Sekilas aku memperhatikan penampilannya, pakaiannya sangat menempel pada tubuhnya, hingga membuat seluruh lekuk tubuhnya tercetak sangat jelas. Aku mengenalnya, gadis populer yang digilai banyak teman setimku. Mimpi apa aku semalam sampai aku menarik perhatiannya.   “Dia mengulurkan tangannya padamu, Nat!” seru Steffan, aku terkesiap, kulihat tangannya masih terulur menunggu balasan dariku. Akan tetapi ini aneh, aku malah kembali menoleh ke tempat Mary sebelumnya berada. Gadis dengan rambut cokelatnya itu hanya tersenyum samar, senyuman yang kurasakan cukup janggal, dan mengangkat kedua bahunya, tidak acuh sepertinya, dan aku tidak menyukai reaksinya yang seperti itu. akan lebih baik jika dia mengangguk atau apapun lah yang bisa dia lakukan, tapi bukan tersenyum aneh seperti itu.   “Jadi, selamat untukmu, Nathan.” Suara merdu gadis di depanku menarik kembali perhatianku padanya, aku menatapnya lalu buru-buru menjabat tangannya. Lembut sekali telapak tangannya.   “Ya, terimakasih, itu berkat kerja keras kami semua,” jawabku canggung.   Mendadak gadis itu menaik pergelangan tanganku, mau tak mau aku pun mengikutinya walau harus merasakan nyeri dan berjalan tertatih ke salah satu meja. Dia duduk di depanku, dia memesan milkshake strawberry, itu mengingatkanku pada Mary. Sahabatku yang unik itu membenci s**u dengan rasa strawberry, dia mengatakan jika s**u strawberry itu rasa menjijikkan seperti kau memakan makanan basi.   “Apa rencanamu setelah menjadi kapten tim?” tanya gadis itu.   Aku bahkan belum memikirkan apa rencanaku setelah menjadi kapten tim, yang jelas dengan begini beasiswaku aman dan yang paling jelas aku harus berlatih lebih keras lagi. Tidak ada rencana yang spesifik.   “Aku juga tidak tahu, ini seperti mimpi yang menjadi nyata ….” Aku menatapnya, ingin memanggil namanya, tapi tak mengingat satu pun nama yang cocok untuk wajahnya yang cantik itu.   “Brienne, kau bisa memanggilku demikian.” Dia mengerti, lalu mulai bicara lagi, “Sekali lagi, aku mengucapkan selamat, kau pasti senang sekali sekarang, ya ‘kan? kira-kira apa kau punya rencana minggu ini?”   “Akhir pekan ini? entahlah, ada apa?” tanyaku penasaran sekaligus merasa itu bukan ide yang bagus, dengan kondisi kakiku yang seperti ini. Naik tangga saja aku butuh bantuan, dan dia ingin mengajakku pergi. Tapi mengingat, Brienne, gadis populer ini mengajakku mungkin kaki ini bukan masalah yang besar.   “Louis mengadakan pesta di rumahnya, ingin datang?” pertanyaan itu terasa seperti sebuah tantangan bagiku.   Tanpa berpikir lagi aku segera menjawab, “Ya, tentu saja.”   “Oh, Great, akan sangat menyenangkan jika kau datang.” Brienne terlihat girang sekali, aku bisa memastikan jika dia tidak berusaha menjaga imagenya mungkin dia akan melompat. Apakah aku begitu penting baginya sampai dia ingin aku datang?   Itu tidak penting untuk saat ini, kurasa.   Tak berapa lama kemudian seorang pelayan Chuck’s membawa pesanan kami, aku melihat ada onion rings, makanan favorit Mary. Oh, crap! Aku melupakannya sejak tadi. Dimana dia sekarang ini? Bagaimana jika teman-temanku mengganggunya?   “Kau mencari teman kecilmu?” Brienne menyadari jika aku sedang gelisah melihat-lihat ke sekeliling untuk mencari keberadaan Mary.   “Ya, dia agak tidak menyukai keramaian,” balasku, dan aku masih celingukan untuk mencarinya.   Mary, oh Mary! Dia selalu saja berhasil membuatku waspada dan khawatir padanya.   “Sepertinya tidak seperti yang kau katakan,” ucap Brienne. Apa sih maksudnya? Aku tidak berbohong soal Mary yang tak menyukai keramaian. Akan tetapi segera Brienne menunjuk suatu tempat dan aku mengikuti arah pandangnya.   Sosok Mary akhirnya terlihat, aku menghembuskan nafas lega. Setidaknya dia menikmati keberadaannya di sini, dia bahkan tertawa. Eh, tunggu … tertawa? Apa aku salah lihat, Mary tertawa dengan Steffan, sepertinya kawanku satu itu membuat sebuah lelucon hingga Mary tertawa begitu lepas dengannya.   Namun, ada yang aneh denganku … ada rasa sakit bagai dicubit disekitar dadaku, tempat jantungku berada. Aku tak tahu kenapa, hanya saja tak biasanya Mary mudah melepaskan tawanya yang begitu menawan itu pada orang lain, apalagi seseorang yang  baru saja dikenal olehnya. Biasanya dia tertawa karena aku membuat lelucon yang konyol.   Sial! Kenapa aku harus merasa seperti ini, seolah-olah aku tidak rela jika Mary bisa tertawa karena orang lain? Bukankah ini perkembangan yang bagus, dia membuat pertemanan, dan hidup lebih normal lagi? Tapi … ah sudahlah aku tak ingin memikirkannya lebih jauh. Lagipula dia terlihat lebih cantik saat tertawa, ini adalah hal yang baik ‘kan?   Waktu berlalu begitu cepat, dan pesta kemenangan itu pun akhirnya berakhir. Brienne pun sudah kembali dengan teman-temannya. Susah payah aku berjalan ke tempat Mary dan Steffan berada, mereka tampaknya memiliki waktu bersama yang cukup bagus. Dan itu cukup mengusik benakku.   “Pulang sekarang?” tanyaku pada Mary. Dia menoleh padaku, dia yang awalnya tersenyum, saat melihatku senyum itu lenyap dan berganti dengan kerutan. Demi Tuhan, bisakah dia menghilangkan kerutan dikeningnya itu? jika tidak aku akan menyarankannya untuk operasi botox, sehingga dia tidak akan dengan mudah mengerutkan keningnya lagi.   “Selesai dengan kencanmu, mr. Captain?” sebuah sindiran lagi. dia sepertinya marah,   “Bagaimana denganmu?” Tidak semudah itu dia akan mengalahkanku dalam sindiran demi sindiran sepanjang malam ini. Lihat, dia memutar matanya karena kesal, lalu berdiri dan melangkah pergi, sepertinya dia pun tak berpikir untuk membantuku.   “Bagus, kau membiarkanku menderita,” ujarku.   “Tenang saja, aku tidak akan membiarkanmu menderita.” Steffan menyahut. Itu merupakan hal terakhir yang aku ingin dengar. Dia bahkan langsung menahan tubuhku, tapi sekilas aku bisa melihat senyum geli di wajah Steffan. Sepertinya dia sedang menertawakanku. Aku ingin keras kepala malam ini, jadi kudorong Steffan pelan ke samping dan berjalan mengejar Mary, menariknya dekat padaku agar aku bisa merangkulnya. Tapi itu hanya ada dalam anganku saja. Aku tak akan mempermalukan diriku sendiri dengan bertingkah kekanakan di depan banyak orang. Tidak malam ini.   Mary dengan tenang sudah duduk di kursi penumpang, aku melihat matanya menatapku sekilas tapi kemudian berpaling dengan cepat dan menatap ke luar jendela. Sepertinya dia memang marah padaku, dan jika dugaanku benar mungkin dia akan benar-benar menerapkan silent treatmennya.   “Lagu yang bagus, tidak kusangka kau menyukai lagu seperti ini,” aku memberikan komentar pada Steffan. Terputar lagu Shane Fillan, Make You Feel My Love. Aku hanya berpikir Steffan tak terlihat seperti pria yang romantis.   “Aku hanya suka nadanya,” balasnya singkat.   Tapi lagu ini terlalu melankolis kurasa. Jika aku mendengarnya lebih lama, bisa jadi aku akan tertidur dalam perjalanan ini. Sesekali aku melirik Mary di kursi belakang, dia bahkan diam saja. Apa dia benar-benar marah? Tapi dia tertawa ‘kan? dia bersenang-senang dengan Steffan sepanjang malam tanpa aku.   Beberapa saat kemudian, kami sampai di depan rumah ‘kami’. Rumah Mary hanya berada di seberang rumahku. Gadis itu tertidur dengan kepalanya bersandar pada jendela mobil. Mary tampak begitu damai dan aku tak tega untuk membangunkannya.   “Boleh aku minta nomornya?” Steffan bertanya dengan suara lirih.   “Apa?!” tanpa sadar suaraku meninggi, aku menoleh ke belakang, berharap Mary tak terbangun. “Maaf,” aku berbisik pada Steffan. “Nomor siapa yang kau maksud?”   “Marienne, memangnya siapa lagi?”   Marienne? MARIENNE?!!!!! Berani-beraninya dia memanggil nama lengkap Mary di depan wajahku! ah, sudahlah, dia tidak tahu jika Mary tak akan suka seseorang memanggilnya seperti itu kecuali orang-orang yang memang dekat dengannya, dan siapa lagi yang dekat dengannya? hanya aku, ibuku, dan keluarganya saja.   “Kenapa kau tiba-tiba tertarik padanya?” aku berusaha menutupi rasa jengkelku. Bukan karena aku cemburu, aku mengenal Steffan, dan aku tidak ingin Mary didekati oleh orang-orang yang terindikasi bisa melukai dirinya. Aku tak akan mengijinkannya. Tidak perlu menanyakan apa otoritasku, aku sudah melakukannya sejak kami masuk TK.   “Dia cantik, dan menarik. Hanya orang buta yang tidak akan tertarik padanya.”   Steffan benar, SANGAT benar. Mary cantik, bahkan sangat cantik. Dia memiliki mata hijau yang sejuk dan paling indah yang pernah kulihat sepanjang hidupku. Bibirnya secara alami berwarna pink sangat cantik, rambutnya brunette berombak dan menawan, selain itu tubuhnya berlekuk dengan cara yang seksi dan pasti disukai oleh semua pria.   SIAL. SIAL. Pikiran apa yang baru saja terlintas dipikiranku ini! bagaimana bisa aku memikirkan betapa seksinya dia? Aku pasti sudah berubah dari sahabat yang baik menjadi sahabat yang m***m hanya gara-gara kata-kata Steffan.   “Kau tidak cemburu atau semacamnya ‘kan? aku dengar kalian bersahabat dan sangat dekat.”   “Hah?!” Aku menatap Steffan tak percaya, kenapa dia tidak segera pulang saja?   “Tidak, aku akan memberikanmu nomornya.”   Dalam hati aku terus mengulang kata-kata, “dia sahabatku, hanya sahabatku!”   “Bagus sekali, terimakasih banyak. Kalau begitu aku akan membangunkannya.” Steffan bergerak ke belakang, ingin membangunkan Marry. Buru-buru aku menahannya dan membuat Steffan menatapku penuh tanya dengan satu alis yang terangkat.   Aku tak akan memuaskan rasa ingin tahunya, segera aku turun dan kemudian membuka pintu kemudi belakang. Perlahan aku menarik tubuh Mary dan membawanya keluar. Gadis ini, dia tidur dengan sangat pulas. Jika saja ada kebakaran atau apapun tidurnya tak aka terusik.   “Kau yakin bisa menggendongnya sendirian? Aku bisa membantumu.” Steffan menawarkan.   “Tolong buka saja pintu itu, kuncinya ada di saku,” balasku.   Steffan hanya mengangguk, dia melakukan apa saja yang aku katakan. Mengambil kunci di saku celanaku, lalu membuka pintu rumahku. Dengan menahan rasa nyeri aku berjalan tertaih dengan Mary di punggungku, aku tak bisa membayangkan diriku melihat Mary ada di atas punggung Steffan.   “Kau yakin kakimu baik-baik saja?”   “Never been better.” Aku membalas singkat kemudian melewatinya yang berdiri di samping pintu. “anyway, terimakasih tumpangannya.”   Steffan hanya melambaikan tangannya, dia kemudian keluar dari rumahku.   Satu-satunya rintanganku sekarang adalah tangga. Aku menoleh untuk melihat wajah Mary yang begitu pulas, sepertinya aku tak akan bisa naik ke tangga itu. Jadi aku memutuskan untuk berjalan pelan ke sofa dan membiarkannya berbaring di atas sofa itu. Setidaknya dia tidak tidur di lantai.   Setelah selesai mengatur bantal untuknya, aku berhenti sejenak untuk memandangi wajahnya sekali lagi, benar-benar terlihat begitu damai. Kira-kira apa yang dia mimpikan sampai tidurnya sangat nyenyak? Di sampingnya, aku duduk dilantai, menyandarkan pinggangku di sofa. Begitu hening, hingga aku bisa mendengarkan deru nafas Mary yang lamban yang bagaikan pengantar tidur bagiku, aku sangat menikmatinya hingga tak sadar aku  pun ikut tertidur.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN