Chapter Five: First Lies

2675 Kata
“Suaranya memenuhi relung dalam ruang kosong otakku, Dia memastikan bahwa aku hanya mendengar suaranya. Aku … aku pun memastikan hal yang sama, hanya aku suara yang dia dengar.”   ___ MARIENNE  Aroma khas telur goreng dan bacon panggang berhasil menarikku dari dunia mimpi, tapi tentu saja aku masih enggan bangun. Sepertinya seseorang datang berkunjung, mungkin ibuku. Tak ingin repot-repot memastikan siapa itu yang jelas dia pasti seseorang yang dekat denganku. Tidak ada orang asing yang akan masuk ke dapurmu dan memasakkan sarapan untukmu ‘kan?   Perlahan aku bergerak, pegal-pegal di leherku memaksa untuk menggeliat dan akhirnya aku terduduk sembari membuka mata lebar-lebar dan meregangkan tangan. Ini bukan di kamarku, itulah yang pertama aku sadari. Ini di ruang tamu, dan sofa cokelat ini menjelaskan alasan leherku menjadi pegal tapi aku belum menyadari di mana aku berada sampai rasa panik menyerang pikiranku.   Seketika itu aku celingukan dan … kuhembuskan nafas lega ketika melihat Nathan sedang berada di dapurnya menggunakan apron biru muda yang kelihatannya kekecilan untuk ukuran tubuh raksasanya. Di tangannya terdapat pan dan spatula, berarti bukan ibuku yang berkunjung ke rumahku, tapi aku yang ketiduran di rumah Nathan. Ya, setidaknya aku tidak tidur sembarangan di rumah orang asing, iya ‘kan?   Eh… tapi mengapa aku bisa tertidur di sini?   “Sudah bangun?” Suara Nathan mengejutkanku hingga tubuhku tersentak pelan, aku menatapnya bertanya-tanya kemudian beranjak melangkah ke arahnya. Aku mengingat semuanya kecuali satu hal, kenapa aku tertidur di sini, di rumah Nathan. Dan … dia masih bisa basa-basi denganku setelah mengabaikanku semalaman di pestanya yang tidak meriah itu? Dia pasti bercanda!   Sengaja aku tidak menjawab pertanyannya, biar dia rasakan kemarahanku yang paripurna ini.   “Kau masih marah padaku?” tanyanya lagi dengan memasang wajah polosnya, hah! Tidak akan mempan! Aku akan tetap marah.   Aku hanya mengangkat bahuku acuh tak acuh melewatinya untuk melihat sarapan apa yang telah dia buat, marah juga butuh tenaga. Saat aku berada di sampingnya, tangan Nathan menahan pinggangku lalu mengangkat tubuhku seperti anak kecil dan mendudukkanku di atas meja. Kedua tangannya terlepas dari pinggangku, dia menumpukannya di samping tubuhku, matanya menatapku dengan seksama. Apa yang dia pikirkan sebenarnya? ada banyak emosi yang bercampur di sana yang tak aku pahami. Tanpa aku sadari, wajahnya menjadi begitu dekat denganku, nafasnya menyapu seluruh wajahku. aku sungguh tidak mengerti keadaan ini.   “Jangan marah padaku, please?” pintanya, matanya melebar sambil berkedip beberapa kali lalu bibirnya mulai terbuka lagi, “Sebagai gantinya aku akan membelikanmu kaos spongebob yang banyak, bagaimana?” Dia berusaha membuat negosiasi denganku. Nathan oh Nathan, it will never get to work.   Aku menggelengkan kepalaku perlahan sambil menutup mata.   ‘Ck!” Dia berdecak kesal, lebih pada dirinya sendiri karena usahanya gagal. Seandainya saja dia mendengar jantungku yang berdegup dengan kencang, pasti dia akan menertawaiku. Aku ingin mendorongnya menjauh, sampai dia kembali berucap, “Oh, c’mon, Mary, aku sangat-sangat tidak tahan jika kau tidak bicara padaku,” suaranya terdengar seperti rengekan.   “Ya, ya, ya, tapi kau tahan mengabaikanku sepanjang malam,” jawabku spontan. Menyadari apa yang telah aku lakukan, aku pun menggigit bibirku. Mengapa aku harus mengatakan hal yang demikian, itu perkataan terbodoh yang pernah aku ucapkan padanya. Bahkan di telingaku sendiri terdengar sangat mengerikan, seperti aku ini gadis manja yang selalu ingin menempel padanya. Memangnya aku siapa? Pacarnya? Aku. Hanya. Sahabatnya.   “Oh, Thank God!” Nathan menghela nafas lega, aku hanya menatapnya sambil menyilangkan tangan di depan dad4. “Baiklah, kau boleh mengomeliku sepanjang waktu atau sampai kau puas, asal aku kau tidak bertingkah seperti orang bisu,” katanya lagi.   “Oh, jadi kau berpikir aku ini orang bisu?” mataku tajam menatapnya. Dia menggeleng cepat menyadari kesalahannya sendiri.   “Tidak, tentu saja tidak, aku hanya tidak tahan melihat bibirmu terus tertutup seperti itu.”   Tawaku hampir saja meledak, memangnya aku harus membuka mulutku sepanjang waktu seperti sebuah terowongan? Kadang-kadang aku sungguh tidak mengerti mengapa aku memiliki sahabat yang pikirannya aneh.   “Jadi, jangan mendiamkanku, aku tidak tahan.”   “Aku tidak mau,” balasku sembari memalingkan wajahku, bertindak keras kepala seperti biasanya. Mendadak Nathan menunduk, aku bisa merasakannya. Sesaat kemudian kurasakan jari telunjuknya meraih daguku dan mengangkat wajahku agar pandangan kami bertemu. Dia mendekatkan wajahnya padaku, dan semakin lama semakin dekat saja.   Sial, Apa ini? Apa dia akan menciumku?!!   Satu detik … Dua detik … Tiga detik … Empat detik … Lima detik …   Bod0hnya aku, mengapa aku harus menutup mataku dengan menunggunya?! Bahkan selama itu juga aku tidak merasakan apapun menempel pada bibirku ini. Astaga, aku harus berhenti memikirkan hal-hal tidak berguna ini. kalimat, two bestfriends in the room they might kiss adalah mitos paling buruk yang pernah aku dengar. Aku dan Nathan tidak akan pernah melakukannya. TIDAK AKAN.   “Aku berjanji tidak akan pernah mengabaikanmu lagi,” bisiknya membuat sebuah janji tepat di telingaku. Seketika itu juga aku membuka mataku. Ini sangat memalukan, aku yakin wajahku pasti sudah seperti tomat matang saat ini.   Perlahan aku mendorong tubuh raksasa Nathan, berada di dekatnya membuatku bisa menghirup aroma tubuhnya yang membuatku ingin memeluknya dengan erat. Segera aku turun dari meja sebelum keinginan bodoh itu mendorongku melakukan hal-hal konyol lainnya dan mempermalukan diriku sendiri.   “Marienne, please?” dia meminta lagi dengan memanggil nama lengkapku.   “Marienne, please.” Aku menirukan gaya bicaranya sengaja mengejeknya. Nathan tertawa, padahal tidak ada yang lucu sama sekali. Aku mengabaikannya kemudian beralih pada telur dan bacon yang sudah dipindah ke piring. Dari aromanya saja aku tahu ini bisa memanjakan lidahku dan menahan rasa laparku.   “Jam berapa kau akan pergi ke Chuck’s?” tanya Nathan yang merusak imajinasiku tentang makanan itu memenuhi ruang di lambungku.   “Tidak ada kacang merah?”   “Sepertinya ibuku lupa untuk belanja,” balasnya cepat sembari mengambil piring lain untuk makanannya sendiri. “Jadi jam berapa kau akan pergi bekerja, Mary?” tanyanya lagi.   “Jam sepuluh, ini jam berapa?” lihat betapa mudahnya aku melupakan kemarahanku dan kembali menjadi Mary sahabat Nathan yang baik hati.   Nathan hanya mengangkat bahunya, dia berjalan ke arah meja makan. Ada satu hal yang mengusikku saat dia beranjak pergi. Sepertinya pincang kakinya lebih parah daripada kemarin. Sepanjang malam dia memang tidak berjalan ke mana-mana, hanya duduk dan ngobrol dengan si Miss pirang populer  itu. Apakah memang lukanya bisa jadi tambah parah hanya karena duduk berjam-jam?   “Apa kakimu baik-baik saja? Kenapa sepertinya itu tidak membaik?” tanyaku sembari mendekatinya di meja makan dan duduk di seberangnya. Nathan menatapku sesaat kemudian mengambil s**u di sampingnya dan meminumnya sampai ke dasar gelas.   “Tidak pernah lebih baik,” balasnya setelah menghabiskan satu minumannya. “Ini hanya terkilir Mary, jangan terlalu cemas.”   Aku tidak khawatir.   Tidak. AKU SANGAT KHAWATIR. Karena kakinya merupakan sebuah aset, apabila itu tak berfungsi dengan baik, maka karirnya pun akan berakhir begitu saja. Hal yang paling buruk, mungkin beasiswanya pun akan dihentikan. Aku hanya menghela nafasku, tahu dia tidak ingin aku cemas berlebihan, jadi aku pun akan menutupi kecemasanku darinya.   “Sepertinya aku akan bersiap pergi ke Chuck’s,” ucapku sembari memasukan satu potongan bacon terakhir ke mulutku dan mengunyahnya dengan lahap.   “Aku tahu suara ini,” ujarnya tiba-tiba saat aku masih sibuk mengunyah bacon di mulutku.   “Shuaraa aphaa?” tanyaku dengan mulut penuh.   “Kau menyembunyikan sesuatu.”   Uhuk, aku terbatuk dan semua bacon yang ada di mulutku bercecer di meja. Ini memalukan, sambil terbatuk aku mengambil tisu untuk membersihkannya. Nathan berdiri di sampingku dan menepuk punggungku lalu menyodorkan segelas air putih padaku.   “Kau tidak perlu mencemaskanku, aku ini lebih kuat dari dugaanmu.” Aku benar-benar tertangkap basah. Kenapa Nathan kadang-kadang seperti seorang peramal tapi kadang tingkat kepekaannya di tidak sampai 0 persen?   “Baiklah, terserah padamu saja,” balasku tak ingin berdebat panjang lebar pagi-pagi. Dia kembali ke tempat duduknya.   “Jadi kau mau naik apa?” dia bertanya lagi. sejujurnya aku tidak begitu memikirkan apa yang akan kugunakan untuk pergi ke chuck pagi ini. Hanya karena Nathan mengungkitnya aku pun jadi memikirkannya. Mobilku dan miliknya sedang terparkir di kampus.   “Kau tidak akan berlari ‘kan?” tanyanya lagi dengan sebuah senyuman jahil yang tersungging di wajahnya.   “Sial, aku tidak akan melakukannya lagi,” aku tertawa pelan diikuti oleh Nathan. Oh Tuhan, entah mengapa menengarnya tertawa sungguh membuatku senang.   “Jangan, kau tidak akan sanggup,” ujarnya di sela tawanya.   “Tapi itu cukup efisien, Mr. Wycliff.”   “Baiklah, aku tidak akan berdebat denganmu masalah efisiensi, Nona gila kontrol.”   “Heiii!!!” seruku membela diri. Aku menatapnya tajam.  “Aku tidak gila kontrol, ya!” Sungguh, aku bukan orang yang gila akan kontrol hanya memastikan jika semuanya, apapun yang berjalan pada kehidupanku sesuai dengan rencana atau sesuai dengan yang aku harapkan. Apabila itu tidak terjadi, setidaknya hasilnya tidak selalu buruk.   “Terserah apa katamu, tapi kau memang gila kontrol.” Aku harap Nathan tak sungguh-sungguh mengibarkan bendera perangnya padaku. Dengan cepat dia kembali berbicara, “Kau bisa pakai sepedaku di garasi.”   “Ya, aku sudah terpikir untuk mengambilnya dan menggunakannya, jadi … terimakasih, setidaknya aku tidak perlu mencurinya darimu,” kataku sambil mengedipkan sebelah mataku padanya.   “Dasar kau ini!”   Aku hanya menjulurkan lidahku padanya, setelah itu aku pun kembali ke rumahku untuk bersiap-siap bekerja.   ** “Kapan kau akan kembali?” tanya Nathan setelah aku mengeluarkan sepedanya dari garasinya. Dia berdiri di pintu garasi dengan tangan terlipat di depan dad4nya.   “Kau ingin kubawakan makan malam, kurasa aku akan kembali pukul delapan malam,” balasku dengan cepat.   “Tidak perlu repot-repot, aku hanya ingin kau kembali dengan selamat.”   “Tenang Wycliff, aku bisa mengendarainya!” seruku sembari melewatinya dan bersiap untuk menaiki sepeda gunung ini.   “Terakhir kuingat tidak seperti itu.”   “Itu sepuluh tahun yang lalu jika kau lupa,”   Dia tergela sesaat, “Hati-hati, jangan sampai jatuh! Aku tidak bisa tiba-tiba berlari dan menolongmu, mengerti?”   “Terserah, see you!” balasku kemudian aku segera mengayuh sepeda ini keluar dari pekarangan rumah Nathan   Sudah lama sekali sejak aku benar-benar menikmati pemandangan di sekitar ini. Aku melewati beberapa tetanggaku, ada seorang yang berteriak menyapaku, seorang wanita berambut putih dengan baju hijau berpola bunga berwarna putih. Nyonya Petterburgh, seingatku. Dulu sewaktu aku kecil, dia sering memberiku dan Nathan cookies Kacang yang rasanya sangat lezat.   "Halo Nyonya Petterburgh!! Semoga harimu menyenangkan!" teriakku.   Aku terus mengayuh sepedaku, beberapa blok, lalu jalanan masih lurus. Melewati dua lampu merah, kemudian belok ke kanan. Papan nama Cafe Chuck's adalah hal yang kulihat pertama kali saat aku berbelok. Aku memarkir sepeda Nathan, kemudian mengunci ban depannya.     Masuk kedalam Cafe, aku disambut oleh Chuck si pemilik cafe  yang sedang membersihkan meja. Chuck adalah pria n***o paruh baya yang gendut, rambutnya sudah memutih di beberapa tempat, tapi percayalah padaku, Chuck sangat baik dalam membuat milkshake, dan onion rings.     "Tidurmu nyenyak, Nona muda?" tanya Chuck dia tersenyum hangat padaku, benar-benar sehangat matahari pagi.     "Selamat Pagi, Chuck!" jawabku sembari masuk ke balik konter untuk meletakkan tasku.     Tugasku di sini tidak banyak, semua yang berkaitan dengan makanan dan minuman adalah tanggung jawab Chuck. Disini, aku hanya menerima pesanan, mengantarkannya ke meja, membersihkan meja, dan lantai juga. Kadang, jika ada pesanan lewat telefon aku juga menerimanya dan mengantarkan pesanan.     Chuck sangat baik padaku, dia memberikanku upah yang lumayan sehingga aku tidak kelaparan saat malam hari. Kadang kala, sehabis kerja dia memberikanku spesial onion rings atau sekedar milkshake.     Sebenarnya aku tidak sendiri, ada pegawai lain Chuck's. Namanya, Vanessa. Dia lebih tua daripada aku, memiliki seorang anak yang usianya 5 tahun, anak laki-laki yang sangat manis. Dia bekerja full time, tapi aku belum melihatnya sama sekali sejak aku datang pagi ini.     "Vanessa tidak bekerja?"tanyaku pada Chuck saat dia sudah selesai membersihkan meja.     "Ohya, Harvey sedang sakit jadi Vanessa harus menjaganya." Ungkap Chuck. Aku sedikit terusik, membayangkan Vanessa mengurusi anaknya sendirian, tanpa bantuan siapapun. Hidupnya pasti sulit. "Kau baik-baik saja??" tanya Chuck padaku saat aku mulai melamun.     "Yeah, oke, aku hanya berfikir betapa sulitnya mengurus anak sendirian."   Chuck mengangguk menyetujui, aku bisa mengatakan dia juga ikut sedih membayangkan sulitnya menjadi Vanessa.     "Mungkin aku harus menaikkan gajinya."     "Oh Chuck, kau tidak akan membuatku iri kan??" Kataku, hanya bercanda. Chuck tertawa mendengarku, kemudian ia mengacak rambutku dan berjalan ke ruang belakang.     Hari ini pelanggan Chuck's cukup banyak. Tentu saja, ini weekend. Beberapa datang untuk menghabiskan hari mereka membaca koran dengan memesan hanya satu makanan. Di tengah hari, sekelompok remaja datang dan mereka merayakan ulang tahun teman mereka dan membuatku bekerja lebih keras untuk membersihkan sisa-sisa pesta mereka. Ada satu pelanggan Chuck's yang selalu datang tiap sore dan dia akan pulang saat cafe tutup. Pria, dengan kacamata yang selalu menghadap laptopnya sepanjang hari. Pelanggan itu selalu memesan hal yang sama, Milkshake vanilla dan onion rings double setelah itu ia akan tenggelam dalam macbooknya.     Saat aku selesai membersihkan meja terdengar suara bell pintu yang menandakan seseorang memasuki Cafe. Aku menoleh, dan sempat terkejut melihat si rambut merah tersenyum kearahku dengan melambaikan tangan. Itu Steffan! Cowok yang baru aku kenal secara langsung tadi malam.     Berbalik, aku menyampirkan kain pembersih di bahuku dan menghampirinya.     "Hai Steff." sapaku     "Hai Mary, kau bekerja disini??"     Aku tertawa kecil, jika dia pelanggan di sini dia pasti akan mengetahui bahwa aku pekerja Chuck's. Aku telah menghabiskan hampir seluruh weekendku saat SMA sampai saat ini. Selama itu pula aku tidak pernah melihat Steffan berkunjung ke Chuck's.     "Ayolah, Steff." Aku memukul bahunya perlahan.     "Apa? Aku ketahuan?" tanyanya. Aku berjalan melewatinya dan kembali ke counter. Steffan mengikutiku, sekarang ia duduk di kursi pelanggan.     "Pesan sesuatu??" Aku menawarkan.   "Ya, aku tidak akan membuat waktumu terbuang sia-sia."     "Baiklah, kau akan jadi pelanggan terakhirku malam ini." ujarku sambil mengangkat alisku     "Jadi?"     "Miklshake?"     "Baiklah, Milkshake special untukmu." Aku berbalik kemudian membuatkan Milkshake coklat, seperti yang ia minum terakhir kali, tepatnya tadi malam.     Aku melepaskan apron putihku, lalu menyimpannya di loker. Setelah itu aku duduk bergabung dengan Steffan yang menikmati milkshake yang kubuat. Aku menopang kepalaku dengan tangan sambil menatapnya, penasaran kenapa dia datang kemari padahal sebelum ini aku yakin ia tak pernah menginjakkan kakinya di Chuck's. Kecuali malan pesta kemenangan timnya itu.     "Kau benar-benar hanya ingin beli milkshake??" Aku tak bisa membantu diriku sendiri karena penasaran.     "Baiklah Mary, aku akan jujur." ujarnya, membuatku agak terkejut. "Aku hanya ingin menemuimu, karena tidak tahu nomer ponselmu, dan kau bercerita kalau kau kerja disini jadi-" dia menggantung ucapannya.     "Jadi kau kemari?" tebakku, dan Steffan mengangguk dengan semburat merah tampak di pipinya. Dia tersipu, sedangkan aku hanya bisa tertawa melihatnya.     "Hey, jangan tertawa aku serius."     Aku menahan perutku yang sakit karena tertawa dengan keras. Steffan benar-benar lucu, di jaman saat ini dia masih malu untuk mengakui apa yang ada di fikirannya.     "Ya, Ya, baiklah,  aku tidak akan tertawa." kataku, tapi aku masih tertawa. Wajah Steffan lebih memerah lagi, dia terlihat menggemaskan jika seperti itu. "Tapi bagaimana kau tahu kalau aku bekerja saat ini, aku tidak ingat memberitahumu jadwal kerjaku?"     "Aku hanya menebak saja." Jawabnya, aku mengangguk saja. "Di pesta aku tidak melihatmu saat Nathan datang, jadi kupikir mungkin kau bekerja jadi-"     "Tunggu, Pesta?" Entah bagaimana aku terganggu dengan ucapan Steffan. Nathan menghadiri pesta, dan ia bahkan tak memberitahuku? Tapi kenapa? Dan kenapa aku butuh diberitahu? Hanya saja ini sedikit tidak biasa, Nathan selalu memberitahuku apa saja rencananya.     "Ya, Louis mengadakan pesta malan ini, kufikir kau akan datang jadi aku kesana, dan kau tidak ada disana jadi aku kemari." jelas Steffan lagi.   "Kenapa kau meninggalkan pestamu?" Aku penasaran, seorang Steffan meninggalkan pesta hanya untuk pergi ke Chuck's? Aku butuh penjelasan, tapi sepertinya aku tidak terlalu peduli dengan alasannya. Fikiranku saat ini begitu jauh memikirkan Nathan. Selama ini dia tidak pernah menyembunyikan sesuatu dariku. Kenapa sekarang?     "Karena pesta bukan untukku," jawab steffan, aku masih bingung.     "Aku harus pulang sekarang," ujarku pada Steffan dan dia tersedak minumannya. Aku membantunya, menepuk-nepuk punggunya sampai ia merasa lebih baik.     "Secepat ini?" tanyanya     "Iya, jam kerjaku sudah selesai dan Chuck mungkin akan segera tutup," balasku.     "Baiklah, mau kuantar?" Steffan menawarkan.     "Tidak, aku menggunakan sepedah, tapi terimakasih." Aku berdiri dan hendak pergi.     "Hati-hati di jalan, Mary!" kata Steffan     Aku akan mengingatnya untuk berhati-hati di jalan. Karena ini cukup malam, biasanya jalanan pun sudah sepi.                
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN