Sebuah perintah

1477 Kata
PLAK Galih memejamkan matanya saat sebuah tamparan di wajahnya terasa panas, tidak tanggung tanggung pak Haris ayah Galih menampar anak laki lakinya begitu keras. Galih benar benar sudah membuat keluarganya malu, anak itu selalu ingin mempertahankan Viona. Si gadis miskin! Meski Galih sering menolak perjodohan, tapi mereka tidak pernah mengalah. Mereka selalu ingin memegang kendali atas kehidupan Galih, sampai anaknya terbebas dari jeratan cinta Viona. Sejauh ini, mereka selalu gagal menjodohkan Galih mungkin jika Viona yang di tekan secara terus menerus gadis itu akan sadar jika tidak akan pernah pantas bersanding dengan Galih. "UDAH PUAS?" Nafas pak Haris tidak beraturan, sebagai seorang ayah dirinya hanya ingin sang anak tidak salah pilih calon istri. "Seharusnya aku yang tanya sama papa, kenapa selalu terobsesi buat jodohin aku sama anak temen temen papa dan mama? Apa aku ini kalian anggap barang, yang bisa di tawarkan?" Selama ini, Galih selalu berusaha untuk bersabar. Tapi kenapa sabarnya Galih tidak pernah di hargai? Apa susahnya menyetujui pilihan sang anak? PLAK "JAGA UCAPAN KAMU GALIH! KAMI HANYA INGIN YANG TERBAIK UNTUK KAMU." sentak pak Haris, ini bukan pertama kalinya mereka di permalukan dan semua itu karena Viona. Jika saja, gadis itu tidak datang di kehidupan anaknya tidak akan ada pertengkaran antara ayah dan anak seperti sekarang ini. Helaan nafas berat terdengar dari Galih, apa yang baik menurut mereka belum tentu bisa membuat dirinya bahagia. Mereka berdua selalu mementingkan harta, masalah perasaan bagi mereka tidak ada gunanya. Andai saja Galih memiliki adik, pasti sang adik juga akan merasa tertekan jika harus mencari laki laki yang kaya. Padahal, kebahagiaan seseorang tidak bisa di ukur dari banyaknya materi. "Sebanyak apapun, perempuan yang kalian jodohkan. Jika perempuan itu bukan Viona, enggak akan berhasil. Aku cuma mau Viona, bukan yang lain." Ujar Galih, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Semua itu pasti akan ada hasilnya. Dan Galih tau, semua itu butuh proses. "Nak, dengerin kami. Semua itu kami lakukan, karena kami ingin kamu bebas dari Viona. Dia enggak baik buat kamu, dia selalu bawa pengaruh buruk buat kita. Buktinya, setiap kamu ketemu Viona kita selalu bertengkar. Coba kamu pikirkan masa depan kamu, lupain Viona." Sejak tadi, Farah ibu Galih hanya menyaksikan sang anak dan suaminya tidak ada yang mau mengalah. Farah tentu saja ada di pihak sang suami, menjauhkan Viona dari Galih adalah sebuah keharusan. Galih menggeleng, sampai kapanpun Viona akan tetap menjadi satu satunya perempuan yang Galih inginkan. Bukan gadis itu yang harus pergi dari kehidupannya, tapi orang tuanya yang harus mencoba menerima Viona. "Kalian selalu minta aku buat ngerti, tapi kenapa kalian enggak mau berusaha ngertiin aku?" Sejujurnya, Galih sudah lelah setiap hari harus bertengkar dengan alasan yang sama, demi sebuah restu. "Jika tidak menyangkut Viona, papa pasti ngerti. Tapi kalau sudah tentang Viona, kami enggak akan bisa ngertiin kamu." "Buka mata kamu, jika di bandingkan Felly, Viona tidak ada apa apanya." Ucapan ibunya membuat rahang Galih mengeras, dia tidak suka jika ada seorangpun yang membandingkan Viona dengan perempuan-perempuan lain. Di keluarganya, harta selalu menjadi patokan. Jika selalu seperti ini, jangan salahkan Galih jika laki laki itu akan melakukan hal yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. "Galih tidak suka membanding-bandingkan Viona dengan Felly, atau siapapun itu. Viona adalah Viona, dan Felly tidak akan bisa menjadi Viona. Jika masalah harta selalu di permasalahkan, berarti ini bukan masalah siapa yang jauh lebih baik. Masalahnya, pola pikir tentang harta. Galih ingatkan sekali lagi, enggak akan ada perempuan lain yang bisa masuk ke dalam hati Galih. Dan, aku enggak pernah liat seseorang dari kaya atau miskinnya. Selama aku nyaman, aku jalani." Seandainya Viona tidak pernah melarangnya berkata kasar pada orang tuanya, mungkin saat ini akan terjadi pertengkaran hebat di rumahnya. Namun, Galih selalu teringat ucapan gadisnya. "Mereka orang tua kamu, jangan pernah bicara kasar atau main tangan. Aku enggak suka, inget ya." Galih keluar dari rumahnya, jika tetap di rumah laki laki itu tidak akan yakin apa yang akan terjadi selanjutnya. Kemungkinan, Galih tidak akan bisa menahan emosinya terlalu lama lagi. Siapa yang tahu jika nanti Galih akan kelepasan bicara dan melanggar janjinya pada Viona? Walaupun disini tidak ada Viona, tapi dirinya pernah melanggar janjinya sendiri. Mobil Galih berhenti tepat di depan rumah gadisnya, lampu rumah Viona sudah mati. Mungkin mereka sudah tidur, Viona pernah bilang jika dirinya tidak bisa tidur jika lampu di kamarnya masih menyala. Dengan Ragu, Galih mengambil ponselnya dan menelvon pemilik rumah. Tujuannya datang, bukan untuk menginap. Seharian ini, mereka tidak bertemu dan Galih juga ingin menceritakan apa yang baru saja terjadi. Pasangan ini memang selalu terbuka satu sama lainnya, tidak pernah ada yang mereka sembunyikan. "Iya mas." Begitu panggilan masuk, Viona langsung menerima panggilan telepon dari Galih. Galih menghela nafas sebentar, lalu mencoba berbicara pada Viona. "Udah tidur sayang?" tanya Galih, walaupun ini masih jam delapan malam tapi biasanya setelah pulang kerja gadisnya langsung istirahat. "Belum kok, kenapa?" "Mas ganggu kamu enggak?" "Enggak mas, kenapa emangnya?" "Buka pintunya, mas udah di depan." Disinilah Galih sekarang, setelah Viona membuka pintu rumahnya laki laki itu langsung masuk. Seperti biasanya, ibu dari Viona selalu menyambut laki laki yang sudah bersama sang anak selama ini dengan baik. Sekali lagi, bukan karena harta dan bukan karena berasal dari keluarga kaya tapi karena laki laki itu adalah pilihan putrinya. Selama ini, Galih tidak pernah berbuat macam macam pada sang anak. "Ibu udah tidur? Maaf ya, kalau Galih ganggu malam malam datang kesini." Ucap Galih tidak enak, perempuan paruh baya yang duduk di hadapannya terlihat sedang tidak sehat. Jika tahu seperti ini, Galih akan datang lebih awal dan mengantarkannya ke rumah sakit. Sarah, ibu Viona hanya mengangguk maklum. Tidak masalah baginya, ini masih jam sembilan dan Viona juga belum lama pulang dari pekerjaannya. Perempuan paruh baya itu sudah lama mengenal Galih, tidak biasanya laki laki itu datang malam malam seperti ini. "Enggak apa apa nak, kamu sehat kan? Orang tua kamu gimana kabarnya?" walaupun Sarah tahu, jika hubungan keduanya belum mendapatkan restu tapi Sarah tidak pernah mempermasalahkan hal itu yang menjalin hubungan anak anaknya, bukan orang tuanya. Sarah sangat sadar, dirinya bukan orang kaya dan keadaan perekonomiannya sangat berbanding terbalik dengan keluarga Galih. Namun, jika mereka memang sudah di takdirkan untuk berjodoh mereka berdua akan bisa menerima kenyataan. Kenyataan bahwa, Galih dan Viona tidak bisa di pisahkan. Galih merasa sungkan jika membicarakan orang tuanya, mereka memang baik baik saja. Justru, Galih yang tidak baik baik saja saat ini. Pikirannya kacau, perjodohan yang sering mereka lakukan secara tiba tiba selalu berhasil membuat dirinya khawatir. Galih tidak pernah sekalipun takut untuk menolak perjodohan itu, yang selalu Galih takutkan adalah di saat Viona tahu orang tuanya selalu menjodohkan dirinya dan gadis itu memilih untuk menyerah karena merasa perjuangannya akan sia sia. Tidak, Galih berusaha untuk tidak berpikir macam macam. Semua itu terlalu rumit, jika di hadapi tanpa Viona. "Kami semua sehat, ibu sakit? Ayo Galih antar ke rumah sakit." Ajak Galih, melihat wajah pucat Sarah laki laki itu jadi tidak tega. Sarah menggeleng, keadaannya sudah jauh lebih baik walaupun masih sedikit pucat. "Ibu enggak apa apa, udah mendingan. Kalau gitu, ibu masuk dulu ya. Kamu lanjut ngobrol sama Viona, pintunya jangan di tutup. Maaf bukannya ibu ngusir tamu, tapi ini sudah hampir malam kamu jangan terlalu lama disini ya. Enggak enak sama tetangga." Galih hanya mengangguk dan tersenyum, mendapat calon mertua yang baik dan pengertian seperti ini juga merupakan rezeki bagi Galih. Setelah Sarah masuk ke dalam kamarnya, Galih langsung duduk di sebelah Viona. Tanpa perlu basa basi, laki laki itu langsung memeluk gadisnya. "Kangen." Viona tersenyum masam, apa Galih benar benar merindukannya setelah laki laki itu berhasil berbohong? Kenapa Galih tidak mengatakan yang sebenarnya. Tentang perjodohan, selama perjalanan pulang Viona tidak bisa menghilangkan pikiran dari Galih yang akan di jodohkan dengan Felly. Wajar saja jika nantinya, Galih lebih memilih Felly daripada dirinya. "Gimana perjodohan kamu sama Felly? Lancar?" tanya Viona to the point, jika sedang serius gadis itu tidak pernah mau berbasa basi dengan Galih. Masalahnya harus segera di bicarakan. Galih cukup terkejut mendengar pertanyaan itu, dari mana Viona tau masalah perjodohannya dengan Felly? "Kamu tau?" Viona mengangguk, sakit sekali rasanya mengetahui kebenaran itu dari orang lain. Apa Galih sengaja menyembunyikannya? Pasti ada alasan kenapa Galih melakukan hal itu, dan Viona tidak menerima alasan palsu. Gadis itu hanya ingin kejujuran. "Seperti biasanya, mas selalu menolak. Mas cuma mau kamu," Ada perasaan lega saat mendengar jawaban Galih, ternyata kesetiaan Galih tidak akan pernah goyah hanya karena sebuah Gelar. "Walaupun dia seorang dokter?" Galih mengangguk, baginya Felly tidak akan bisa menggantikan posisi Viona sampai kapanpun. "Mas enggak tau kalau acara pertemuan keluarga bukan pertemuan biasa, mama juga enggak bilang apa apa selain merayakan kelulusan Felly." Jelas Galih, tidak mau gadisnya semakin salah paham. Sebuah hubungan, akan baik baik saja jika mereka selalu jujur dan mau mendengarkan penjelasan dari pasangannya. "Mama kamu pasti seneng banget, kalau dapet menantu dokter." Viona merasa hubungannya dengan Galih memang tidak akan berlangsung lama, restu orang tua Galih semakin sulit untuk di dapatkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN