Menolak

1049 Kata
Pertemuan keluarga yang bertujuan untuk mengenalkan anak anak mereka berlangsung lancar, Galih sudah berkenalan dengan Felly dan mereka sempat berbincang singkat. Para orang tua tersenyum senang saat melihat respon Galih, mereka mengira bahwa Galih juga menyukai Felly. Padahal, Galih bersikap baik karena menghargai perasaan orang tuanya. Pasti mereka akan kecewa jika dirinya menunjukkan sikap yang di luar ekspektasinya. Felly yang mendapatkan respon baik dari Galih langsung salah tingkah, gadis itu tentu saja tidak mengelak jika Galih memang tipe suami idaman. Pasti banyak perempuan yang menyukai laki laki itu. "Aku enaknya, panggil kamu apa ya?" Tanya Felly, entah nanti hubungan mereka akan seperti apa gadis itu akan berusaha mengikuti takdirnya. Jika memang Felly dan Galih di takdirkan untuk bersama, berarti mereka jodoh. Jika tidak, mungkin itu yang terbaik. "Panggil aja Galih." Laki laki itu kembali menatap ponselnya, menunggu kabar dari Viona. Ini sudah jam sembilan malam, seharusnya Viona sudah sampai di rumah dan biasanya gadis itu akan memberikan kabar setelah sampai di rumah. Melihat Galih yang gelisah, Felly jadi Ragu untuk bertanya lagi. "Kamu udah punya calon istri?" Walaupun Felly sudah tau dari tante Farah, tapi ingin sekali mendengar langsung dari Galih. Galih yang sejak tadi melihat ponselnya, lalu mengangguk. Ada Viona, gadis itu yang akan menjadi Istrinya. "Namanya Viona." Felly tersenyum tipis, padahal dirinya tidak bertanya siapa nama gadis itu tapi Galih dengan gampang memberitahu bahwa calon istrinya bernama Galih. Sepertinya, Viona akan menjadi gadis yang beruntung karena di cintai oleh laki laki seperti Galih. "Kalau kamu udah ada calon, kenapa kamu mau datang kesini?" Felly tidak mau menaruh harapan besar karena Galih datang malam ini, untuk itu Felly banyak bertanya. "Di paksa." Deg Di luar ekspektasinya, Galih terlalu jujur dengan jawabannya. Tadi sewaktu masih di cafe, Tante Farah mengatakan jika Galih tidak mau datang mereka akan tetap memaksanya. Dan jawaban Galih benar benar membuat Felly diam, ia pikir laki laki itu akan berbohong untuk menyenangkan hatinya tapi ternyata salah. Dengan lantang, Galih mengatakan dirinya terpaksa datang karena orang tuanya. Lagipula untuk apa berbohong demi menyenangkan hati orang lain? Tidak menguntungkan sama sekali. "Kalau kamu merasa terpaksa dengan Perjodohan ini, seharusnya kamu tadi enggak datang. Aku enggak mau calon suamiku, terpaksa menikah karena paksaan orang tuanya." "Perjodohan? Maksud kamu?" jujur saja, Galih tidak tau tentang perjodohan yang di katakan Felly barusan. Kenapa tadi dirinya mau datang, itu karena ibunya mengatakan bahwa pertemuan keluarga ini untuk merayakan kelulusan Felly sebagai dokter. Bukan perjodohan, jika tau begini lebih baik Galih menjemput gadisnya pulang. Lebih bermanfaat, gara gara perjodohan ini sekarang Viona tidak ada kabar. Semoga saja gadis itu baik baik saja. Viona tau jika Galih tidak mengerti maksud dari pertemuan ini, apalagi sudah ada Viona. Si gadis beruntung yang bisa meluluhkan hati Galih. Mereka memang sejak tadi berbincang, tapi semua itu Felly yang memulai. Jika tidak, Galih akan diam saja. Rasa penasaran tiba tiba muncul, bagaimana sikap Galih saat bersama gadisnya? "Kamu dan aku, akan di jodohkan. Dan pertemuan malam ini, mereka sengaja duduk terpisah sama kita untuk melihat apa kita cocok." Papar Felly, membuat emosi Galih memuncak. Kenapa orang tuanya bisa begitu tega padanya, padahal Galih sudah berulang kali mengatakan hanya akan menikah dengan Viona. "Dan kamu diam saja saat di jodohkan sama aku?" "Kenapa enggak, kamu sesuai laki laki idaman aku. Enggak ada alasan untuk menolak perjodohan ini," ujar Felly, seandainya mereka menikah mungkin Felly akan menjadi wanita beruntung itu. Galih berdecih, pemikiran Felly sangat tidak masuk akal. Ini sudah bukan jaman perjodohan, lagipula menikah tanpa cinta resiko kegagalan sangatlah besar. Dan dirinya tidak mau mengalami kegagalan dalam rumah tangga, menikah sekali dalam seumur hidup. Dan Galih hanya ingin, bersama Viona. Bukan Felly, ataupun perempuan lain. "Tapi aku ada alasan untuk menolak." "Karena Viona?" "Bukan." "Lalu?" "Karena kamu bukan perempuan yang aku idamkan menjadi seorang istri, kamu jauh dari kata itu. Maaf, aku dengan terang terangan menolak perjodohan ini. Viona alasan pertama, aku enggak mungkin milih orang yang baru hadir di kehidupanku dan meninggalkan Viona. Kedua, kalau kamu mencari calon suami selalu berpatokan dengan kata tipe suami idaman. Sebaiknya pola pikir kamu di rubah, karena pada akhirnya kata idaman enggak akan ada gunanya. Semakin kamu menggunakan kata itu sebagai tolak ukur pasangan, maka kamu akan sulit mendapatkan pendamping." Tolak Galih, untuk apa mempunyai kriteria pendamping hidup jika nanti yang mendampingi kita lebih bisa menerima apa adanya. Sebuah ketulusan lebih cukup. Felly bungkam, memang apa yang salah? Setiap orang, berhak menentukan tipe suami idamannya masing masing. "Lagipula, perjodohan ini akan gagal." Felly berdecak lirih, sepertinya Galih adalah salah satu laki laki yang memiliki sifat pesimis. Belum mencoba tapi sudah takut gagal. "Kita bisa mencoba terlebih dahulu," tawar Felly, langsung mendapatkan gelengan dari Galih. Galih tidak suka di paksa, apapun pilihannya itulah yang akan di pilih sampai akhir. Jika nanti usahanya tidak berhasil, dan dirinya tidak berjodoh dengan Viona maka Galih akan mengikhlaskan gadis itu bersama laki laki lain walaupun akan terasa sulit. Cinta memang tidak harus selalu memiliki, tapi setidaknya Galih akan berjuang sampai akhir. Entah akan berakhir seperti apa, semoga hasilnya akan menjadi yang terbaik untuk keduanya. "Untuk apa di coba, kalau kegagalan sudah terlihat jelas di depan mata." Galih berdiri, berjalan ke arah orang tuanya dan orang tua Felly yang tidak jauh darinya. "Loh nak Galih kok Felly enggak di ajak kesini, gimana ngobrolnya? Kalian cocok banget, jadi kapan mau tunangan dulu? Masalah pernikahan, urusan kami. Yang penting, tunangan dulu." Kepala Galih terasa pening, pembicaraan ini sangat menyiksa dirinya. Galih tidak mau menikah dengan Felly, malam ini semuanya harus selesai. Keputusannya sudah bulat. Galih duduk di sebelah ayah Galih, mengabaikan orang tuanya yang menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Sebelumnya saya minta maaf." Ucapan Galih terhenti, saat ibu Felly memotong ucapannya. "Kami tau, Felly emang sulit di ajak bicara kalau sama orang baru. Apalagi kamu, pasti dia gerogi." Galih tersenyum tipis, ada ada saja memang. Kenapa orang tua Felly begitu ambis memuji sang anak? Padahal sejak tadi Felly yang mengajaknya berbicara terlebih dahulu. "Saya enggak bisa menerima perjodohan ini, saya sudah punya calon istri. Sebenarnya, ini bukan kali pertama saya di jodohkan dengan anak teman orang tua saya. Tapi hasilnya sama, saya menolak. Ini terlalu buru buru untuk mengatakan bahwa kami tidak cocok, tapi perasaan seseorang tidak bisa di paksakan. Saya mewakili keluarga saya meminta maaf, Felly pasti bisa mendapatkan yang lebih baik dari saya. Saya pamit dulu, Assalamualaikum."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN