Perjodohan

1184 Kata
Jam kerja Viona sudah selesai, gadis itu tengah bersiap untuk pulang. Malam ini, Galih tidak menjemputnya karena ada pertemuan keluarga tapi sebagai gantinya besok pagi Galih akan menjemputnya saat berangkat kerja. Viona tidak pernah meminta untuk di antar jemput oleh Galih, semua itu kemauan Galih sendiri. "Vi, gue mau tanya. Tapi janji ya jangan marah." Aldo menghentikan langkah Viona, padahal gadis itu tengah menunggu ojek langganannya. Apa pertanyaan Aldo terlalu serius? Sampai berkata jika Viona tidak boleh marah padanya. Viona semakin penasaran, saat Aldo berbicara dengan wajah yang serius. "Bicara aja Al, kenapa?" Viona memasukan ponselnya ke dalam tas, tukang ojeknya sudah membalas pesannya jika akan segera berangkat ke tempat Viona bekerja. Aldo menghela nafas panjang, sebenarnya ini bukan haknya bertanya hal pribadi Viona. Namun, laki laki itu sudah menganggap Viona sebagai sahabatnya. Dengan ragu, Aldo mulai bertanya pada Viona. Semoga saja apa yang Aldo dengar bukanlah suatu kebenaran. "Kenapa lo enggak di jemput Galih?" tanya Aldo, membuat gadis itu menaikkan sebelah alisnya. Hanya itu? "Mas Galih, ada pertemuan keluarga. Bukan keluarga deket sih, katanya teman orang tuanya. Perayaan anak mereka yang baru lulus kedokteran." Jawab Viona, tadi sebelum berangkat Galih sempat mengirim pesan padanya dan menjelaskan semuanya. Kenapa Galih tidak bisa menjemputnya. Aldo menatap Viona iba, apa Galih sudah menjelaskan apa yang akan terjadi dalam pertemuan keluarga malam ini? Dengan hati hati, Aldo kembali bertanya pada Viona. Semoga kali ini, Aldo mendapatkan jawaban yang membuat hatinya lega. "Oh, nama anaknya siapa? Kali aja, gue kenal. Gini gini, temen gue banyak. Ya, walaupun gue enggak kuliah sih." Hening beberapa saat, sampai Viona mengingat nama seorang gadis yang Galih sebutkan tadi. "Felly." Deg Aldo dengan sabar menunggu pelanggannya memilih menu tadi sore, cukup lama. Tentu saja Aldo kesal, tapi ini adalah pekerjaannya. Bukannya segera menentukan apa yang akan mereka pesan, kedua perempuan itu malah asik mengobrol. "Tapi bisa aja, perempuan itu tulus sama anak tante." Ujar Felly, tidak ada yang tidak mungkin. Sesama perempuan, Felly menghargai perasaan perempuan lain. Gadis itu memang tertarik pada Galih, sudah tampan dan pekerja keras. Perempuan mana, yang akan menolak laki laki seperti Galih? Tidak ada. Tante Farah, menggeleng semua hal tentang Viona selalu buruk. Gadis itu sudah pasti hanya mengincar harta keluarganya. Tidak hanya Viona, semua gadis yang tidak selevel dengan Galih pasti harta adalah tujuan utamanya. "Tapi sampai kapanpun, tante enggak akan setuju kalau Galih nikah sama Viona." Deg Aldo membeku di tempatnya, awalnya saat nama Galih di sebut tidak ada rasa curiga sedikitpun. Yang punya nama Galih di dunia ini tidak hanya satu, tapi jika calon yang di pilih anaknya bernama Viona. Aldo yakin mereka adalah orang yang sama. Jadi, apa yang selama ini tidak Aldo ketahui tentang hubungan sahabatnya? Mungkinkah, Galih dan Viona tidak mendapat restu? "Namanya Viona?" "Viona Rosalina, enggak cantik dan miskin. Tante yakin, kalau Galih udah ketemu kamu pasti dia bakal berpaling dari Viona." Jelas Tante Farah penuh kesombongan, apa dia pikir Viona gadis seperti itu? Aldo menahan diri untuk tidak berbicara. Pasti mereka belum tahu jika Viona bekerja di restoran ini, karena jika mereka tahu sudah pasti Viona akan di permalukan oleh mereka. "Kita enggak pernah tau niat orang lain Tante, dan kita juga enggak bisa tau isi hati orang lain. Kenapa tante enggak coba terima Viona aja, aku takut kalau Galih enggak mau terima aku karena dia udah punya Viona." Wajar saja jika Felly punya pemikiran seperti itu, Galih pasti lebih mengenal Viona ketimbang keluarganya. Baik dan buruknya sifat gadis itu, Galih pasti sudah tahu. Untuk itulah, mempertahankan Viona adalah jalan terbaik dan menolak semua perempuan yang pernah Tante Farah kenalkan padanya. Setiap membicarakan Viona, Tante Farah selalu merasa kesal. Gadis itu sudah membuat anak laki-lakinya berubah, dulu Galih tergolong anak yang sangat patuh dan penurut. Tapi sekarang, di minta untuk menjauhi Viona saja selalu menolak. "Tante enggak peduli Fell, Tante cuma mau kamu yang nikah sama Galih. Nanti malam Galih akan datang, kamu dandan yang cantik ya. Pasti dia akan suka sama kamu." Felly menghela nafas berat, tak lama gadis itu mengangguk. "Aku coba dulu ya Tante, kalau Galih suka sama aku pasti nanti aku bakal jadi menantu tante kok." Ucap Viona pasrah, dalam hati gadis itu tidak begitu tertarik pada Galih. Namun, jika kembali di ingat Galih adalah salah satu laki laki yang memenuhi kriteria idamannya. "Tante yakin, Galih akan pilih kamu daripada Viona. Dia cuma gadis miskin, enggak berpendidikan. Sementara kamu, kamu dokter muda. Pasti Galih suka, anaknya kalau sama orang baru sedikit cuek. Tapi sebenarnya, dia suka." Jika ada kesempatan untuk mencarikan jodoh sang anak, inilah saat yang tepat. Menurutnya, Felly perempuan paling tepat untuk Galih. Bukan Viona. Sudah hampir sepuluh menit, Aldo harus mendengarkan obrolan mereka tentang Galih dan Viona. Walaupun dirinya dan Viona hanya sebatas sahabat, tapi Aldo kecewa atas sikap ibu Galih. Pasti dia belum mengenal Viona sepenuhnya, karena jika sudah mengenal Viona perempuan itu akan tahu gadis seperti apa yang baru saja ia hina. Tidak berpendidikan, bukan berarti tidak memiliki sikap dan etika yang baik. Pasti Viona sedih saat mendengar percakapan mereka, apa Viona sudah tau jika ibu Galih datang ke restoran ini? Karena sudah bosan, akhirnya Aldo membuka suara. Ingin sekali rasanya Aldo membungkam mulut mereka yang seenaknya berbicara buruk tentang Viona, tunggu saja waktunya. Pasti mereka akan malu dan menyesal karena sudah menyia-nyiakan gadis sebaik Viona. "Ekhem, permisi kak. Sudah belum pilih pesanannya?" Mereka berdua menoleh, sadar jika tidak hanya mereka yang ada disini. "Udah mas, maaf ya lama." Ucap Felly, gara gara membicarakan Viona pelayan restoran ini harus rela menunggu lama. Dengan senyum terpaksa, Aldo mencatat semua pesanannya. Aldo melihat Viona terdiam, gadis itu mendengarkan ceritanya. Tidak ada raut wajah terkejut dari Viona, terlalu datar. Mungkin Viona sudah sering mengalami hal seperti ini. "Vi, maaf. Harusnya gue enggak perlu cerita, tapi di sisi lain gue perlu tau kebenarannya. Bukan maksud gue ikut campur, gue cuma enggak nyangka aja ibunya enggak suka sama lo." "Enggak nyangka kenapa? Bukannya itu sangat wajar," Viona menghela nafas. "Mas Galih itu anak tunggal, anak orang kaya. Pasti orang tuanya pengen dapet menantu yang sederajat sama keluarga mereka, dan kamu lihat aku kan? Aku cuma lulusan SMA Al. Kalau saingan sama dokter, aku jelas enggak mampu." Tutur Viona, jika bersaing dengan gelar tentu saja Viona kalah sebelum mulai. Namun, jika bersaing untuk mendapatkan hati Galih gadis itu sedikit mampu. Ya walaupun hanya sedikit, tapi melihat bagaimana perjuangan mereka saat ini pasti Viona lebih bisa menerima kurang dan lebihnya Galih. Aldo semakin iba dengan Viona, mereka berdua sama sama orang biasa tapi mereka sangat mensyukuri hidupnya. Tidak ada kata menyerah sebelum kalah dalam hidup Viona, buktinya berjuang mendapatkan restu dari orang tua Galih sampai saat ini masih Viona lakukan. Walaupun, sering kali hinaan dan cacian tidak jarang gadis itu dapatkan. Bukti cinta Viona untuk Galih memang benar-benar nyata adanya, bukan karena harta semata. "Gue salut sama lo Vi, perjuangan kalian belum tentu Felly mampu bersaing sama lo." Viona tersenyum tipis, apa kali ini yang akan mereka lalui. Malam ini Galih akan di jodohkan, jika malam ini Galih menerima perjodohan ini maka semuanya akan benar-benar usai. "Aku duluan ya Al, ojek langganan aku udah dateng. Selamat istirahat Aldo."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN