Rencana awal

1299 Kata
Viona tengah di sibukkan dengan banyaknya pekerjaan, karena hari ini weekend seperti biasa restoran selalu ramai. Dan seperti biasanya juga, jika restoran begitu ramai Alan ikut turun tangan membantu para karyawannya termasuk Viona juga. Walaupun Alan adalah pemilik restoran, tapi laki laki itu tidak pernah merasa malu karena membantu pekerjaan karyawannya. Saat ini, Alan dan Viona sama sama sibuk. Bahkan, keduanya sampai lupa jam makan siang. Untungnya, tadi sebelum berangkat kerja Galih sudah memintanya untuk sarapan terlebih dahulu. Bicara soal Galih, laki laki itu mulai posesif pada gadisnya. Bukan tanpa alasan, sebagai laki laki pasti tahu betul bagaimana tatapan Alan pada kekasihnya. Rasanya, ingin sekali Galih meminta Viona untuk resign dan mencari pekerjaan lainnya. Namun, Galih yakin Viona tidak akan pernah mau dan akan berfikir jika dirinya mengekang gadis itu. Tidak hanya Galih yang sudah menyadari jika Alan menyukai Viona, Aldo yang lebih dulu mengetahui kebenaran itu. Tapi, Aldo tidak pernah memberitahukan hal itu pada Viona. Aldo takut jika Viona akan merasa canggung pada Alan, dan akhirnya resign. Mencari pekerjaan cukup sulit, dan gadis itu juga membutuhkan uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari bersama ibunya. Sejak laki laki mendengar obrolan Felly dan tante Sarah, sepertinya jika Galih melepaskan Viona bersama Alan bukanlah suatu hal yang buruk. "Ini sudah jam makan siang, kamu sebaiknya istirahat dulu Vi. Saya enggak mau, kamu sakit." Ucap Alan tiba tiba, laki laki itu tidak sadar jika kalimat terakhirnya menunjukkan bahwa dirinya memberi perhatian pada Viona. Viona menoleh, cukup terkejut saat mendengar Alan yang tidak mau dirinya sakit karena telat makan. Namun, Viona mencoba bersikap biasa. Tidak boleh terlalu percaya diri, Alan memberikannya perhatian karena jika dirinya sakit itu berarti Viona tidak bisa bekerja besok. "Saya udah makan pak," balas Viona. Alan berdehem pelan, sejujurnya berada di dekat gadis ini membuatnya sedikit gugup. Astaga, Alan sudah seperti orang yang pertama kali mengenal cinta. Tapi sayang, orang yang saat ini Alan cintai sudah mencintai laki laki lain. "Bagus." Alan merutuki mulutnya, seharusnya Alan tidak mengatakan hal itu. "Gimana hubungan kamu sama Galih? Sejauh ini, sepertinya dia benar benar serius sama kamu." Sudah terlihat jelas, jika selama ini Alan juga ikut memperhatikan perkembangan hubungan Viona dan Galih. Rasa cemburu saat melihat Viona di jemput oleh Galih setiap hari selalu membuatnya sadar, Viona terlalu sulit untuk di gapai. Dan sialnya, Alan sudah mulai menyukai Viona sejak gadis itu bekerja di restoran ini untuk pertama kalinya. Viona menghela nafas panjang, topeng mana lagi yang harus Viona gunakan untuk menutupi kesedihannya saat banyaknya orang menganggap hubungannya dengan Galih baik baik saja. Sebenarnya, Viona sudah terlalu lelah harus berpura pura baik baik saja padahal hati dan pikirannya selalu di selimuti rasa gelisah. Perempuan mana yang tidak gelisah saat laki laki yang di cintainya, selalu di jodohkan dengan perempuan lain? Walaupun selama ini, Galih selalu menolak tapi orang tua laki laki itu selalu membuatnya sadar diri dan posisi. "Kalau enggak serius, enggak mungkin bertahan selama ini kan?" Lanjut Alan, salahkah jika dirinya berharap bisa menggantikan posisi Galih di hati Viona? Viona mengangguk, Galih selalu menunjukkan keseriusannya. "Mas Galih, serius sama sama." Kecuali orang tuanya, lanjut Viona dalam hati. Tidak ada yang bisa Alan katakan, jika Galih memang serius dan Viona bahagia bersama laki laki pujaannya. Sudah seharusnya, Alan tidak menjadi orang ketiga. Rasa cintanya pada Viona, sama besarnya dengan rasa cinta Galih pada Viona. Bedanya, Galih mendapatkan balasan. Sementara Alan, jangankan balasan gadis itu tidak bahkan menyadari jika dirinya selalu memperhatikan setiap gerak geriknya di restoran. Keduanya kembali di sibukkan dengan pekerjaan, hal semacam ini sudah biasa. Dan Viona masih terus berharap, jika suatu saat nanti orang tua Galih akan memberikannya restu. Tidak tahu kapan hal ini akan terjadi, menjadi kenyataan atau hanya sebatas harapan kecil Viona akan tetap berharap. -- "Papa mau bicara sama kamu." Pak Haris duduk di hadapan Galih, laki laki paruh baya itu seperti menahan emosi. Galih menghentikan pekerjaannya, menyadari bahwa pembicaraan ini tidak akan jauh jauh dari perjodohannya dengan Felly. Ck, membosankan. Harus dengan cara apalagi, Galih menjelaskan semuanya. Galih tidak mau di jodohkan dengan gadis manapun, selain Viona. "Kenapa?" Tanya Galih. "Dimana letak sopan santun kamu? kenapa kamu usir Felly dari sini." Pak Haris tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya, di berikan berlian malah tetap memilih Viona. Jelas jelas, Felly lebih punya semuanya di banding gadis itu, harta, gelar dan nama baik keluarga. Cinta memang sudah berhasil membutakan Galih sepenuhnya, pak Haris tidak pernah kehabisan akal untuk membuat keduanya berpisah. Namun, sebanyak apapun cara yang di lakukan selalu saja gagal. Viona terlalu pintar bersandiwara menurut pak Haris, memang selama ini di keluarganya tidak pernah ada yang menikah dengan orang biasa. "Dia ngadu?" Sudah pasti gadis itu mengadu pada orang tuanya, jika tidak darimana pak Haris bisa tahu? "Dia nelvon papa, sambil nangis. Kenapa kamu kasar sama perempuan? Hargai dia sebagai calon istri kamu Galih. Kelakuan kamu benar-benar sudah keterlaluan." Ucap pak Haris yang tidak suka dengan sikap sang anak pada calon menantunya, apalagi penyebab perubahan sikap Galih karena ada Viona disini. Gadis itu benar-benar sumber masalah. "Aku enggak pernah anggap dia sebagai calon istri sampai kapanpun, dan aku enggak pernah merasa bersikap kasar. Kalau dia enggak keterlaluan sama Viona, aku pasti enggak akan usir dia. Felly cuma akan jadi penghalang di hubungan kami, dan aku enggak akan biarkan dia tenang." Galih tidak pernah main main dengan ucapannya, Viona hanya melarangnya untuk tidak bersikap kasar pada orang tuanya. Jadi, bersikap seperti itu pada Felly bukanlah sebuah kesalahan. "Sekarang kamu pilih Viona atau Felly." "Viona." Jawab Galih tanpa ragu, untuk apa memilih perempuan yang sama sekali tidak ia cintai? Memaksa diri untuk mencintai orang lain bukanlah hal yang tepat. Pak Haris sudah menduga jika jawaban Galih akan tertuju pada Viona, dan itu sangat memuakkan. "Viona atau mama kamu?" Pilihan terakhir, jangan lupa pak Haris selalu punya banyak cara untuk membuat lawan bicaranya kalah. Tidak mungkin jika Galih akan memilih Viona di banding ibunya, orang yang sudah merawat dan membesarkannya sejak kecil. Galih tidak bisa memilih, pilihan macam apa ini? Ini bukan pilihan, tapi jebakan. Mereka berdua, adalah perempuan yang paling berharga dalam hidupnya. Keduanya memiliki tempat masing-masing di hati Galih, sampai kapanpun tidak akan ada pilihan yang lebih sulit dari ini. Jika pilihannya warisan atau Viona, tentu saja Galih akan memilih Viona asal mereka mendapatkan restu. "Ini bukan pilihan, papa sengaja jebak aku dengan pilihan enggak masuk akal ini kan?" "Kamu harus pilih, Viona atau mama kamu. Kalau kamu milih mama, berarti kamu harus jauhi Viona jangan pernah bertemu gadis miskin itu lagi. Dan jika kamu pilih Viona, kamu enggak akan pernah bisa ketemu mama kamu. Ini pilihan dari mama kamu sendiri, dia hanya mau yang terbaik buat kamu. Tapi, ternyata niat baik kami sebagai orang tua tidak pernah kamu anggap." Orang tua mana yang tidak mau memberikan yang terbaik untuk anaknya, tidak terkecuali bagi pak Haris dan Farah. Mereka menganggap Viona sangat tidak pantas untuk Galih, dan mereka hanya menginginkan Felly untuk jadi menantunya. Galih terdiam, sekali lagi ini bukan pilihan yang harus di pilih. Dan Galih sudah tau, ini pasti merupakan salah satu rencana baru mereka untuk membuat Galih bimbang dan akhirnya menerima perjodohan dengan Felly. Galih menegakkan tubuhnya, jalan kehidupannya bersama Viona memang tidak pernah mudah. Semua selalu melewati masa masa sulit, dan Galih tidak akan pernah menyerah untuk memperjuangkan cintanya untuk Viona. "Kalau cuma itu pilihannya, aku enggak akan pernah memilih. Mama adalah perempuan pertama yang aku sayang dari kecil, aku selalu berusaha jadi anak yang baik. Tapi Viona, dia perempuan kedua setelah mama yang berhasil buat aku jatuh cinta. Alasannya terlalu klasik, tapi kami sama sama tulus. Jadi, Galih enggak akan milih salah satu di antara mereka. Mereka sama sama berarti di kehidupan Galih, sebanyak apapun usaha kalian untuk memisahkan kami itu enggak akan ada artinya, kalau kami di takdirkan bersama. Galih mohon, hentikan perjodohan ini. Karena kalian enggak akan berhasil sampai kapanpun."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN