Sepulangnya Galih dari kantor, laki laki itu seperti biasa selalu menjemput Viona. Jika di tanya, apa Galih tidak lelah? Jawabannya adalah, justru Viona adalah obat terbaik untuk mengobati semua rasa lelahnya. Saat bertemu Viona, rasa lelahnya lenyap begitu saja.
Saat ini, mereka sedang berada di sebuah tempat yang biasa mereka kunjungi. Tentu saja Viona sudah meminta izin pada ibunya, walaupun sudah pasti di izinkan tapi mereka berdua selalu meminta izin jika akan pulang malam. Sebagai seorang ibu, yang paling penting anaknya bisa menjaga diri dan tidak berbuat macam-macam.
"Gimana hari ini?" Tanya Galih, pertanyaan itu selalu Galih tanyakan setiap malam. Sudah menjadi pertanyaan wajib bagi Galih, menanyakan apakah hari ini Viona bahagia? Atau gadis itu sedang mengalami hal buruk. Galih hanya tidak ingin, Viona memendam semuanya sendiri.
Viona menoleh, jika sedang bekerja gadis itu berusaha untuk selalu menutupi apa yang sedang ia rasakan. Namun, saat sedang bersama Galih seperti sekarang ini Viona kembali menjadi gadis pada umumnya. Gadis yang selalu ingin di perhatikan oleh laki laki yang sudah lama bersamanya, bukan manja tapi sebagai tempat keluh kesah saat dirinya ingin mencurahkan isi hatinya.
"Capek." Keluh Viona, walaupun pekerjaannya tidak terlalu menguras tenaga tapi banyak hal yang harus di pikirkan. Tidak selalu tentang Galih, ibunya di rumah yang sering sakit sakitan juga membuat Viona merasa khawatir dan selalu ingin cepat pulang agar segera menjaga ibunya.
Mereka hanya tinggal berdua, jika Viona bekerja tidak ada yang menjaga perempuan paruh baya itu. Dan jika Viona tidak bekerja, Viona tidak bisa menebus obat untuk sang ibu. Seringkali, Galih menawarkan bantuan untuk mencarikan orang untuk merawat ibunya agar Viona tidak perlu khawatir saat bekerja tapi dengan halus Viona menolak tawaran Galih. Kadang, Galih juga meminta Viona untuk merawat ibunya saja di rumah daripada harus bekerja sampai malam. Urusan biaya hidupnya, Galih yang akan menanggung semuanya. Namun, berbagai macam tawaran yang Galih berikan kepada Viona tidak pernah di terima. Bukannya tidak merasa bersyukur karena memiliki calon suami yang baik, tapi Viona tidak pernah menginginkan harta Galih. Gadis itu ingin membuat orang tua Galih mengerti, jika dirinya ingin bersama anaknya karena cinta bukan karena harta. Mustahil memang bagi mereka, tapi Viona memang begitu tulus pada Galih.
Dengan sabar, Galih mengusap rambut gadisnya. Tentu saja laki laki itu paham, apa yang Viona rasakan.
"Mau resign aja? Kerja di kantor mas."
"Jadi apa? OB?" tebak Viona, gadis itu hanya bercanda menebak jika Galih akan memberikan pekerjaan OB padanya. Tidak mungkin juga, bukannya malu jika calon istrinya bekerja sebagai OB di perusahaannya sendiri. Tapi Galih, tidak akan tega.
"Kamu cukup semangatin mas setiap hari, setiap saat."
"Makan gajih buta maksudnya? Itu sama aja aku enggak kerja mas, seharian cuma duduk itu juga capek." Ucap Viona, jika selalu berada di kantor Galih gadis itu takut jika orang tua Galih akan semakin membencinya. Bukan tidak mungkin, mereka akan berfikir jika Viona berada di kantor agar Galih mau menyerahkan hartanya untuk Viona.
Galih menghela nafas, memang sulit untuk membujuk Viona agar mau bekerja bersamanya. Mungkin jika perempuan lain, akan menerima tawaran Galih dengan senang hati tanpa perlu berfikir. Dan semua itu, tidak berlaku untuk Viona.
"Mau mas pijitin?"
"Enggak, kamu pasti juga capek."
Mereka akhirnya sama sama terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Viona dengan semua masalah di hidupnya, dan Galih yang selalu memikirkan bagaimana caranya agar mendapatkan restu dari orang tuanya dalam waktu dekat. Rasa khawatir jika Viona akan berpaling pada Alan begitu kuat, mengingat mereka lebih sering bertemu. Dan Alan yang memang menyukai Viona sejak lama, ingin sekali Galih meminta Viona menjauhi Alan tapi itu tidak mungkin. Alan adalah bos Viona di restoran, satu satunya cara adalah meminta Viona untuk mencari pekerjaan lain.
"Kalau mas minta kamu buat resign, apa kamu marah?" Tanya Galih hati hati, tidak mau jika gadisnya marah.
Galih memecahkan keheningan dengan pertanyaan yang membuat Viona terkejut, ini bukan kali pertama laki laki itu memintanya untuk resign dari pekerjaannya. Jika ditanya kenapa selalu bertanya seperti itu, Galih tidak pernah mau memberikan alasan yang jelas. Tidak mau jika Viona selalu pulang malam, jawaban yang setiap hari Galih berikan.
"Kalau aku enggak kerja, aku tebus obat ibu gimana? Aku enggak marah, tapi aku mikir ke depannya gimana. Kamu tau sendiri, setiap bulan aku harus tebus obat ibu. Sekarang emang udah satu bulan sekali, ada perubahan. Aku enggak bisa mas," tentu saja berat, Viona menjadi tulang punggung keluarga. Gadis itu mempunyai tanggung jawab atas orang tua tunggal yang ia miliki. Apapun akan Viona lakukan, asal sang ibu kembali sehat.
Galih menggenggam tangan Viona. "Kamu bisa kerja di kantor mas, kalau kamu keberatan mas bakalan kasih kamu modal buat usaha. Ayolah Vi, mas enggak mau kamu kerja disana."
Viona menautkan kedua alisnya, selalu seperti ini. Memang Galih bisa memberikannya banyak modal untuk membuka usaha barunya, tapi itu sangat tidak baik jika orang tuanya tahu. Mereka akan semakin memandang buruk Viona, dan Viona tidak mau hal itu sampai terjadi.
"Aku masih nabung buat buka usaha kecil kecilan, nanti kalau tabunganku udah cukup aku bakalan resign kok. Tapi untuk sekarang, aku belum bisa." Ujar Viona, sejak pertama bekerja rencana untuk memulai usaha memang sudah Viona pikiran. Tabungannya masih belum cukup, hal itu sangat wajar. Mengingat setiap bulan gajinya harus di bagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masih bisa menabung saja Viona sudah bersyukur. Selain untuk membuka usaha, tabungan itu akan Viona gunakan jika sang ibu membutuhkan uang untuk menebus obat obatan. Viona akan mengutamakan, kepentingan sang ibu terlebih dahulu daripada kepentingan pribadinya.
Galih hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Viona, apapun yang gadis itu ingin lakukan pasti akan Galih dukung. Kerja keras Viona, membuatnya begitu ingin membuktikan pada orang tuanya jika Viona tidak pernah tertarik dengan hartanya.
"Kamu enggak perlu terlalu capek kerja Vi, mas enggak mau kamu capek kerja dan akhirnya kamu sakit. Kamu pikirin lagi ya, mas bakalan kasih tambahan kamu modal buat usaha. Lebih baik, kamu buka usaha sendiri daripada kerja sama orang lain. Disini, mas enggak mau maksa kamu Vi. Mas cuma mau yang terbaik, kalau kamu enggak setuju sama saran mas ya enggak apa apa. Setiap orang berhak menentukan apa yang mereka inginkan,"
Viona mengangguk dan tersenyum, pola pikir Galih yang begitu terbuka mampu membuatnya tenang. Salah satu hal yang membuatnya merasa nyaman saat bersama Galih ialah, sikap laki laki itu yang cukup dewasa. Tidak ada keraguan sedikitpun untuk memperjuangkan cintanya untuk Galih, semoga semesta merestui hubungannya dengan Galih. Begitu juga dengan orang tuanya.
"Mas." Panggil Viona, sejak pagi gadis itu sudah sangat merindukan laki laki yang kini duduk di sampingnya.
"Iya sayang, kenapa hm?"
"Mau peluk." Lirih Viona, inilah sisi manja Viona yang tidak banyak orang tahu. Atau mungkin, hanya Galih yang tahu. Di luar sana, gadis itu selalu berusaha untuk terlihat baik baik saja setiap harinya. Viona mencoba membangun benteng pertahanannya begitu kuat, sehingga banyak orang yang tidak sadar jika itu semua palsu.
Galih terkekeh melihat Viona saat ini, gadisnya kembali menunjukkan sifat manjanya. Dengan lembut, Galih merengkuh tubuh gadis itu. Pelukan hangat dari Galih, membuat Viona merasa nyaman.
"Manja hm?"
Viona mengangguk, hanya Galih yang boleh tahu sifatnya yang satu ini.
"Kangen kamu, seharian kamu sibuk. Enggak sempet ngabarin, aku khawatir."
"Maaf ya, bukannya mas lupa. Tapi emang lagi banyak kerjaan, enggak sempet main handphone."
"Kamu boleh sibuk, tapi enggak boleh lupa makan ya. Aku juga enggak bisa setiap saat nelvon kamu pas istirahat." Biasanya, di saat restoran tidak terlalu ramai gadis itu akan selalu menghubungi Galih di jam makan siang. Namun, akhir akhir ini Viona tidak sempat.
Hal ini tidak menjadi masalah bagi Galih, setiap orang pasti juga mempunyai kesibukan masing-masing. Yang penting, di tengah kesibukan mereka masih bisa meluangkan waktu sedikit saja untuk memberi kabar.
"Iya, mas pasti inget kok."
"Gimana keadaan ibu, udah sehat? Mas belum sempet datang ke rumah. Malam ini kalau mas, mampir pasti ibu juga udah tidur." Lanjut Galih, hubungannya dengan calon mertuanya memang terjalin dengan baik. Perempuan paruh baya itu, mempunyai sifat yang sama dengan Viona. Lemah lembut, dan tidak pernah mengincar hartanya. Banyak orang yang salah paham, termasuk orang tuanya sendiri.
Mengingat kesehatan ibunya yang sudah mulai berangsur membaik, Viona tersenyum. Di usia seperti sekarang, sang ibu memang harus benar benar istirahat. Viona hanya hidup bersama ibunya, tidak ada yang lebih penting dari kesehatan sang ibu.
"Udah baikan kok, ya kadang masih kambuh karena ibu enggak mau istirahat. Tapi enggak kayak dulu, yang tiap hari kambuh. Aku selalu bilang sama ibu, enggak perlu beresin rumah walaupun berantakan. Kadang ibu enggak bisa liat rumah yang enggak rapi, akhirnya capek." Viona menyandarkan tubuhnya di d**a bidang Galih, bercerita dengan Galih selalu bisa membuatnya merasa tenang.
Laki laki itu mengusap rambut Viona dengan sayang.
"Bilang sama ibu, besok sore kita cek up ke dokter ya. Mas usahain pulang cepat, kamu bisa minta izin kan? Kalau enggak mas aja, yang minta izin sama bos kamu." Galih sengaja tidak menyebutkan nama Alan, nama itu selalu berhasil membuatnya cemburu. Untuk sekarang, rasanya tidak pantas membahas masalah Alan dengan Viona.
"Vi."
"Iya, kenapa?" Viona mendongak, memperhatikan wajah Galih dari dekat. Tidak terasa, hubungan mereka sudah lama. Namun, lamanya sebuah hubungan belum bisa menjamin sebuah restu bisa di dapat dengan mudah dan cepat.
Galih berfikir sebentar, apa sebenarnya Viona sudah tahu jika Alan menaruh harapan padanya? Atau memang benar, Viona sama sekali tidak mengetahui apapun.
"Di tempat kamu kerja, ada enggak karyawan laki laki yang sering ngajak kamu ngobrol?" Galih harap, Viona menjawab pertanyaannya dengan jujur.
Viona mengangguk, tentu saja ada. Melihat gadis yang ada di pelukannya mengangguk, membuat Galih merasa hatinya begitu panas. Dalam hati Galih, pasti laki laki itu adalah Alan. Jika begini, pilihan terbaik adalah Viona secepatnya resign dari pekerjaannya.
"Siapa?" tanya Galih.
Tanpa berfikir lama, Viona langsung memberikan jawabannya.
"Aldo, dia hampir setiap enggak ada kerjaan ngajak aku ngobrol. Ya wajar sih, dia teman aku dari SMA. Kamu kan tau, aku sama dia udah akrab banget." Jelas Viona, membuat Galih menghela nafas lega. Jika seperti ini, apa Galih perlu menjadi mata mata untuk mengawasi gerak-gerik Alan saat berada di dekat Viona? Tiba tiba, pikiran buruk kembali Galih rasakan. Bagaimana jika, Aldo juga menyukai Viona? Sial, kenapa malah serumit ini?
"Menurut kamu, apa ada kemungkinan kalau Aldo suka kamu?" Pertanyaan bodoh itu terucap begitu saja, sekarang Viona malah menarik gemas hidung kekasihnya. Apa sekarang, Galih sedang merasakan cemburu?
"Mungkin." Jawab Viona asal, gadis itu menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi Galih.
"Tau dari mana?"
"Dari kamu," ujar Viona. Sekarang gadis itu melepaskan pelukannya dari Galih, ingin melihat ekspresi laki laki itu saat sedang cemburu. Menggemaskan.
"Aku enggak pernah bilang, kamu dia suka kamu Vi."
Cukup. Viona sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak tertawa, melihat gadisnya tertawa Galih merasa bingung. Memang apa yang lucu?
"Kenapa? Kamu cemburu sama Aldo?" Tebak Viona, setelah tawanya reda.
Galih mengangguk, tidak hanya dengan Aldo tapi juga Alan. Keberadaan mereka yang setiap hari bersama Viona harus di batasi, bila perlu Galih akan selalu datang ke restoran itu untuk memberikan mereka peringatan agar tidak mendekati gadisnya lagi.
"Jangan bicara lagi sama Aldo, mas enggak suka. Jauh jauh dari dia, jangan sampai kamu suka sama dia. Mas enggak rela Vi," ucapan Galih, lagi lagi membuat gadis itu hampir tertawa. Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi Galih di hatinya, tidak akan pernah ada. Jika mau, mungkin Viona sudah berpaling sejak lama. Namun, kenyataannya sebanyak apapun laki laki yang ingin menggantikan posisi Galih di hatinya mereka tidak pernah berhasil.
"Enggak bisa dong mas, masa orang suka di jauhin." Viona hanya ingin menguji kesabaran Galih saja, tidak ada maksud lain. Detik berikutnya, Galih menunjukkan ekspresi yang berbeda. Tidak boleh ada yang merebut Viona darinya, tidak ada!
Sebelum Galih salah paham, Viona segera meluruskan semuanya. Jangan sampai, laki laki itu berfikir macam macam.
Cup
Galih mematung, tidak biasanya Viona melakukan ini. Sangat jarang.
"Aku becanda mas, Aldo enggak mungkin suka sama aku. Kami udah berteman lama, dia udah anggap aku sebagai adiknya. Jangan cemburu, enggak ada yang perlu di cemburui. Aku sama Aldo real berteman, enggak akan ada yang bisa gantiin posisi kamu di hatiku mas. Aku cuma mau kamu bukan yang lain." Jelas Viona, gadis itu mengatakan yang sejujurnya.
Galih akhirnya tersenyum. " Mas percaya sama kamu Vi." Balas Galih.