Perhatian kecil

1127 Kata
Sejak pertemuannya semalam dengan Viona, hari ini Galih merasa lebih baik. Rasa gelisah yang sejak lama ia rasakan, kini perlahan mulai berkurang. Hatinya sedikit tenang, saat mengetahui bahwa Aldo tidak memiliki perasaan apapun pada gadisnya. Aldo memang sejak awal tidak mencurigakan, tetapi kehadiran Alan masih menjadi rasa takut dalam hati Galih. "Kamu kenapa senyum senyum?" Suara Farah, ibu Galih membuatnya tersadar. Galih berdehem pelan, paginya akan menjadi buruk jika orang tuanya tahu alasan di balik senyumnya pagi ini. Tidak, mereka tidak boleh merusak moodnya pagi ini. "Enggak apa-apa, aku biasa aja." Elak Galih, sebisa mungkin merubah raut wajahnya agar tidak terlalu mencurigakan. "Mama mau kenalin kamu sama asisten rumah kita yang baru, namanya Fika." Galih memperhatikan seorang gadis dengan pakaian sederhana, tidak lama Galih langsung melanjutkan makannya. "Dia mulai kerja hari ini, sebelumnya mama mau tanya. Apa Fika boleh membersihkan kamar kamu?" Bukan tanpa alasan Galih mendapat pertanyaan seperti itu, sejak dulu tidak ada yang boleh membersihkan kamarnya. Galih sendiri yang selalu membersihkannya, baginya orang lain tidak boleh masuk ke kamar. Kamarnya merupakan privasi. Dan selama ini juga, kamar Galih selalu bersih dan rapi tanpa bantuan orang lain. Galih menggeleng, tandanya tidak memperbolehkan Fika masuk kedalam kamarnya. "Enggak perlu, aku bisa bersihin kamarku sendiri." Ucap Galih cepat, entah mengapa melihat Fika untuk pertama kalinya Galih merasa ada niat buruk pada gadis itu. Mendengar jawaban anak majikannya, Fika sedikit tertegun. Apa memang sejak dulu Galih bersikap dingin dengan orang baru? Tapi Fika tidak perlu khawatir, mungkin Galih akan terbiasa jika dirinya sudah lama bekerja disini. "Baik tuan." Jawab Fika dengan sopan. Sebagai seorang ibu, Farah tentu tahu jika Galih tidak akan langsung akrab dengan orang baru. Anak tunggalnya tidak bisa dekat dengan orang asing, sebenarnya Fika hanya bekerja menggantikan saudaranya yang sedang cuti karena baru melahirkan. "Kamu boleh kembali kerja." Fika mengangguk patuh, gadis itu sedikit kagum dengan paras tampan dari anak majikannya itu. Andai saja Fika bukan pembantu di rumah ini, pasti akan mudah mendapatkan Galih. Namun, Fika cukup sadar jika Galih tidak akan pernah mau berkenalan dengan seorang pembantu di rumahnya sendiri. "Sadar Fika, kamu cuma pembantu. Kisah majikan menikah dengan pembantu hanya ada dalam novel." Batin Fika, lalu melangkah pergi menuju dapur. Pekerjaannya baru saja akan di mulai, gaji yang cukup menjanjikan membuatnya mau menggantikan posisi saudaranya di rumah ini. Walaupun hanya sebagai pembantu, tidak masalah. Setelah Fika kembali, Galih langsung menatap perempuan paruh baya itu meminta penjelasan. "Kenapa cari pembantu yang masih muda, aku enggak mau kejadian dulu terulang lagi." Ujar Galih, dulu pernah ada kejadian di rumah ini karena asisten rumah tangga mereka yang masih muda. Dulu, Galih hampir di jebak karena pembantu mereka tiba tiba berniat jahat pada Galih. Padahal, sejak awal bekerja selalu bersikap baik. "Enggak semua orang jahat." Galih berdecak kagum, jika bisa bersikap baik dengan pembantu di rumah ini lalu kenapa tidak bisa menerima Viona? Padahal, jika mereka melihat seseorang dari status ekonomi Viona mungkin jauh lebih baik. "Dan enggak semua orang yang dekat sama Galih selalu ingin harta kita, ada yang tulus. Viona." Tandas Galih, ingin sekali menyadarkan kedua orang tuanya. Namun, semakin Galih berusaha mereka selalu bersikap semaunya. Raut wajah yang sejak tadi berusaha untuk tersenyum, saat mendengar nama Viona kini berubah datar. Tidak semua, dan tidak juga Viona. Hatinya terlalu keras, hingga tidak dapat melihat sebuah ketulusan yang ada pada gadis itu. "Tidak semua orang, memang benar. Dan Viona tidak termasuk salah satunya, ingat Galih perjodohan kamu dengan Felly masih di lanjutkan. Kemarin, mungkin terlalu terburu-buru. Tapi kami sudah sepakat, untuk tetap melanjutkan perjodohan ini." Egois bukan? Mereka bahkan tidak pernah bertanya sedikitpun apakah Galih bahagia mendapat paksaan dari orang tuanya? Tidak mau ambil pusing, Galih cepat menyelesaikan sarapannya. Biarkan saja, mereka tetap kekeh menjodohkan dirinya dengan Felly. Galih tidak akan pernah mau, jika mereka tetap memaksa mari kita lihat siapa yang akan menanggung malu. "Terserah, aku enggak mau banyak omong. Siapapun gadis itu, jika bukan Viona. Aku enggak mau," setelah sarapannya selesai, Galih menandaskan minumnya. Lalu berdiri menghampiri sang mama. Cup Galih mengecup sekilas, pipi perempuan paruh baya itu. Walaupun Galih ingin marah, tapi pesan Viona padanya masih teringat jelas. "Aku berangkat Ma, Assalamualaikum." Setelah berpamitan, Galih langsung berangkat ke kantor. Meninggalkan sang mama yang masih terdiam melihat kelakuan anaknya, sifat keras kepala anak itu memang sama seperti ayahnya. Dan pada akhirnya, Galih tetap harus menikahi Felly. Menurut mereka, hanya Felly yang pantas dan bukan Viona. "Cepat atau lambat, kamu akan tahu kenapa mama enggak suka sama Viona. Karena dia selalu ingin harta kamu, dan Felly yang terbaik." -- Di restoran pagi ini masih sepi, hal ini membuat Viona masih bisa sedikit bersantai karena pengunjung masih sedikit. Gadis itu melihat Alan masuk kedalam restoran, jika tidak salah lihat laki laki yang notabenenya adalah bosnya sepertinya sedang sakit. Terbukti dari wajahnya yang pucat, Viona ingin bertanya tapi tadi gadis itu mengurungkan niatnya, tidak baik jika seorang karyawan menghampiri bosnya. Jika biasanya Alan langsung masuk ke dalam ruangannya, entah kenapa laki laki itu malah duduk di kursi pengunjung. Sesekali Alan memijat pelipisnya, mungkin karena merasa pusing. Viona menghela nafas, lalu berdiri menghampiri Alan. Tidak lucu jika bosnya pingsan disini, apalagi Aldo belum berangkat. "Pak Alan." Sapa Viona. Alan yang mendengar suara gadis pujaannya lalu mendongak, kenapa Viona menghampiri dirinya? Pasti ada sesuatu yang ingin gadis itu sampaikan. "Iya Vi, kenapa? Perlu bicara sesuatu?" Tebak Alan, yang langsung mendapat gelengan kecil dari Viona. Tanpa perlu meminta izin, Viona duduk di kursi depan Alan yang masih kosong. "Pak Alan sakit? Pucat banget soalnya." Alan berdehem, debaran di hatinya tiba tiba membuatnya tidak bisa bereaksi apapun. Apa Alan tidak salah dengar? Viona sejak tadi memperhatikan dirinya? "Saya baik baik aja, cuma sedikit pusing." Jawab Alan, memang benar sejak semalam Alan merasakan pusing yang tidak biasa, dan laki laki itu sempat muntah beberapa kali tadi pagi. "Bapak udah sarapan?" Bukannya ingin memperhatikan Alan, tapi rasa kemanusiaan yang ada pada diri Viona membuatnya tidak tega melihat orang lain sakit. Bayangan ibunya yang kemarin sakit, dan tidak ada yang menjaga membuat Viona ingin berbuat baik pada orang lain. Alan terdiam, apa Viona ingin mengambilkan makan untuknya lalu memberikan Alan obat. Sepertinya Alan tidak perlu obat, Viona akan menjadi obat bagi Alan. Refleks Alan menggeleng, dirinya memang belum sarapan. Viona menghela nafas panjang, mungkin Alan terlalu lelah dan sering telat makan. Gadis itu berdiri. " Saya permisi dulu pak, nanti saya ambilkan bapak sarapan. Mungkin, pak Alan sakit karena terlalu banyak kerjaan sampai lupa kalau belum sarapan." Ucap Viona, lagi lagi tindakan gadis itu tidak baik untuk kesehatan jantung Alan. "Enggak perlu Vi, saya bisa minta Aldo yang ambilin saya sarapan. Lebih baik, kamu kembali bekerja." Walaupun Viona sendiri yang menawarkan bantuan, tapi Alan bukan laki laki yang senang memanfaatkan keadaan. "Aldo belum berangkat pak, enggak apa apa saya ambilkan. Pak Alan disini saja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN