Laki laki posesif

2030 Kata
Galih menggenggam erat ponselnya, seseorang mengirimkan sebuah video singkat. Dimana Viona sedang membawakan sarapan untuk Alan ke dalam ruangannya, d**a Galih bergemuruh. Rasa cemburunya, sudah tidak bisa di tahan lagi. Dan Viona malah tidak bisa di hubungi, hal itu semakin membuatnya gelisah. Jika saja pekerjaannya sudah selesai, bisa di pastikan laki laki itu sudah sampai di tempat gadisnya bekerja. Pintu ruang kerjanya terbuka, seorang perempuan masuk ke dalam ruangannya. Saat mengetahui siapa yang datang, Galih cukup terkejut. Darimana gadis itu tahu tempatnya bekerja, jika bukan dari mamanya? Gadis itu adalah Fika. Tadi pagi, karena terburu-buru Galih melupakan sebuah berkas yang akan di gunakan untuk meeting siang ini. Galih meminta sang mama, untuk mengantarkan berkas itu ke kantornya tapi kenapa malah Fika yang datang? Pelan tapi pasti, gadis itu melangkah mendekati meja kerjanya. "Permisi tuan, ini berkasnya. Tadi nyonya sedang sibuk, jadi saya yang di suruh datang." Ucap Fika sopan, rasanya sangat canggung berada satu ruangan dengan Galih. Galih mengangguk, tidak perlu marah. Seharusnya ucapan terimakasih yang lebih pantas Galih berikan pada Fika. "Makasih, silahkan pulang." Deg Fika mematung mendengar nada datar anak majikannya, bahkan saat mengucapkan terima kasih laki laki itu tidak menampilkan senyum sedikitpun. Perlahan Fika melangkah mundur, gadis itu langsung keluar dari ruangan Galih. Jika berlama-lama, mungkin Fika akan merasa takut dengan sikap dingin Galih. Setelah Fika keluar, ingatannya kembali pada saat Viona mengantar makanan untuk Alan. Sial, padahal itu tidak menunjukkan jika Viona ingin berpaling darinya. Namun, Galih benar benar sudah tidak bisa menahan rasa cemburunya terlalu lama. Sekali lagi, Galih mencoba menghubungi gadis itu. Panggilan terhubung.... 1 detik Belum ada jawaban dari Viona 2 detik Galih menghela nafas berat, sebenarnya kemana gadis itu? Detik berikutnya, Galih mampu bernafas lega saat panggilannya di angkat oleh Viona. "Hallo mas, kenapa sih nelvon terus dari tadi? Aku tadi sibuk banget." Ujar Viona, mendengar jawaban gadis itu Galih menggenggam ponselnya semakin erat. Sejak tadi sibuk? Sibuk bersama Alan maksudnya? Ck, alasan! "Sibuk selingkuh?" Sudah cukup, laki laki itu sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak mengungkapkan kegelisahannya. Lebih baik di ungkapkan sekarang, daripada harus menahan diri dan berujung pada rasa penasarannya karena menunggu Viona menjelaskan semuanya nanti malam. Di sisi lain, gadis itu terkejut mendengar pertanyaan Galih. Memangnya siapa yang selingkuh? Sejak tadi, Viona sibuk bekerja. Pengunjung restoran cukup ramai, tidak mungkin jika Viona langsung menerima panggilan telepon dari Galih. "Aku kerja, kamu kenapa sih? Ngawur banget omongannya. Udah dulu, ini rame banget. Kamu jangan lupa makan ya, love you mas." Baru saja Viona ingin mematikan sambungan teleponnya, suara Galih berhasil mengejutkan perempuan itu. "Kamu cuma ingetin aku makan Vi, sedangkan disana kamu bawain Alan makan? Ada hubungan apa kalian?" Hening, otak pintar gadis itu sedang mencerna pertanyaan dari Galih. Dari mana laki laki tahu jika Viona tadi pagi sempat membawakan Alan makanan? Makanan itu juga berasal dari dapur restoran, bukan dari rumah Viona. Tadi pagi, Alan benar benar pucat. Bukankah bersikap baik, itu sangat wajar? Viona menghela nafas sejenak, apa Galih cemburu pada Alan? Jika iya, sangat tidak masuk akal. Kemarin, laki laki itu terus terang menyampaikan bahwa dirinya cemburu pada Aldo yang setiap hari selalu ada di samping Viona. Tentu saja Aldo dan Viona kerap bertemu, karena mereka berada di tempat yang sama setiap hari. Jika bukan karena pekerjaan, tidak mungkin Viona akan bertemu laki laki lain selain dirinya. "Tadi pak Alan sakit, wajahnya pucat banget mas." "Dan kamu takut dia kenapa kenapa?" Sela Galih cepat, perasaan cemburu ini adalah salah satu hal yang paling Galih benci. Sontak Viona terdiam, tidak bisakah Galih mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu? Pasti laki laki itu sedang marah sekarang. "Aku cuma bantu dia ambil makan karena dia belum sarapan, emang itu salah?" tanya Viona, padahal gadis itu melakukannya atas dasar rasa kemanusiaan. Tidak lebih. "Salah, kamu enggak boleh perhatian sama laki laki lain selain mas. Enggak boleh, dan apa kamu sadar? Perhatian kecil yang kamu kasih ke Alan, bisa aja buat dia ngerasa kalau kamu ada perasaan ke dia." Jadi, jika Viona berbuat baik itu sudah menandakan bahwa dirinya memberikan perhatian? Ada ada saja, sikap Galih yang begitu posesif membuat Viona harus extra sabar menghadapi laki laki itu. Jika Viona tidak mau mengalah, mungkin sejak dulu mereka sudah berpisah. "Aku enggak kasih perhatian ke siapa siapa mas, aku cuma kasian..." "Mas enggak mau tahu, mulai sekarang kamu harus jaga jarak sama Alan. Kamu enggak boleh kasih dia perhatian, sekecil apapun itu." Mau tidak mau, Viona harus menuruti keinginan Galih. Tidak sulit bagi Viona, lagipula gadis itu tidak memiliki perasaan apapun pada Alan. "Iya." Jawab Viona, singkat. Untuk apa melanjutkan perdebatan di antara mereka lebih baik mengalah. Untuk beberapa saat, Galih terdiam berusaha mengontrol emosinya. "Nanti malam mas kesana, mas jemput kamu. Love you baby." -- Sambungan terputus, Viona segera meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Kenapa Galih begitu marah? Padahal, ini hanyalah hal sepele dan untuk pertama kalinya. Tunggu, dari mana laki laki itu tahu jika dirinya tadi pagi membawakan makanan untuk Alan? Tidak mungkin, jika tadi pagi laki laki itu berada disini. Lebih baik, Viona menunggu nanti malam untuk bertanya pada Galih. Viona melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda, tapi pergerakannya terhenti kembali karena suara Alan. "Viona." Sontak gadis itu mendongak, sejak kapan Alan ada disini? "Iya pak." Jika di perhatikan, wajah Alan sudah tidak terlalu pucat seperti tadi pagi. "Terimakasih banyak, karena tadi kamu udah bawain saya makan dan kasih saya obat." Ucap Alan tulus, terlalu lelah bekerja tidak ada waktu untuk mengurus kesehatannya. Untung saja ada Viona, jika tidak mungkin sekarang Alan sudah terbaring lemah di rumah sakit. Viona mengangguk, sekali lagi perbuatannya tadi pagi hanya ingin membantu Alan tidak ada maksud lain. "Sama sama pak." Balas Viona, tidak ingin melanjutkan percakapannya dengan Alan tapi bosnya itu malah tidak mau pergi. Alan berusaha untuk tidak terlalu senang karena Viona memperhatikan dirinya tadi pagi, bahkan saat ini laki laki itu sedang menahan diri untuk tidak memeluk Viona. Ya, Alan masih sadar jika gadis sebaik dan secantik Viona sudah ada yang punya. Apa setelah ini Alan ingin bersaing bersama Galih untuk mendapatkan Viona? Tentu saja tidak, dirinya harus bersikap profesional. Tidak boleh mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan, bagi Alan melihat Viona setiap hari sudah cukup membuatnya tenang. Walaupun gadis itu tidak mungkin bersama dirinya, tapi untuk saat ini menjadi pengagum rahasia sepertinya bukan hal yang salah. "Apa nanti malam kamu sibuk? Saya ingin mengajak kamu pulang bersama, tapi biasanya kamu di jemput pacar kamu." Tidak ada salahnya membalas kebaikan Viona dengan mengantarkannya pulang nanti malam. "Pak Alan enggak perlu repot-repot, nanti saya di jemput mas Galih seperti biasanya." Tolak Viona sopan, jika nanti Galih tidak bisa menjemputnya maka Viona akan tetap pulang sendirian. Tidak mau merepotkan Alan atau siapapun, hanya bersama Galih gadis itu merasa nyaman Mendapat penolakan dari Viona, membuat Alan sadar. Sebuah bantuan kecil darinya saja langsung ditolak, apalagi perasaannya? Sepertinya, tidak akan ada kesempatan. "Iya enggak apa-apa, sekali lagi terimakasih atas bantuan kamu tadi pagi. Saya permisi." Pamit Alan, berada di dekat Viona dalam waktu yang lama membuatnya semakin tidak nyaman. Alan tidak mau, jika Viona sadar bahwa dirinya menaruh harapan besar pada gadis itu. Dan sampai kapanpun, biarkan saja Alan memendam perasaannya untuk Viona seorang diri. Lebih baik di pendam, daripada di ungkapkan berujung penolakan. Jika hanya di tolak, tidak masalah. Namun, jika nantinya Viona memilih resign dari pekerjaannya dan meninggalkan restoran ini maka itu juga akan semakin menyulitkan Alan karena tidak bisa bertemu Viona lagi. "Ekhem, gercep banget pak. Inget pak, Viona udah punya calon suami." Alan menoleh, dan sepertinya Alan harus meralat pemikirannya tentang rasa sukanya pada Viona hanya alan sendiri yang tahu. Kenyataannya tidak seperti itu, selain Alan sendiri ada Aldo yang entah kenapa bisa menebak isi hatinya dengan tepat. Namun, selama ini Alan tidak pernah mengatakan yang sebenarnya pada karyawan laki lakinya itu. Alan membiarkan Aldo menebak apa yang ingin dia tebak, dan dirinya tidak akan mengelak atau membenarkan. Langkahnya terhenti, sekarang Alan dan Aldo berhadapan. "Maksud kamu?" tanya Alan pura pura tidak tahu, lebih baik bersikap seperti itu di depan Aldo daripada semuanya semakin rumit. Aldo memperhatikan sekitar, tidak mau ada yang mendengar obrolan mereka berdua. "Udah ada perubahan ya sekarang, yang dulu cuma perhatian dari jauh. Eh, sekarang berani ngajak pulang bareng. Duh duh, saya ngerasa ada rencana tikung menikung." Ejek Aldo, selama ini menurut pengamatan Aldo bosnya hanya berani memperhatikan Viona dari jauh. "Saya cuma mau balas kebaikan Viona." "Saya selama ini juga selalu baik sama pak Alan, tapi kenapa enggak pernah di antarkan pulang? Jangan pilih kasih dong pak, kan Aldo iri." Ujar Aldo, dengan nada bicara yang terkesan dramatis. Alan berdehem, membiarkan manusia satu ini berbicara ternyata malah semakin ngawur. "Pulang sendiri, saya bukan orang tua kamu." "Lah emang sejak kapan pak Alan jadi ayah tiri Viona? Kok berani ngajak anak gadis pulang bareng." --- Galih sudah sampai di depan restoran sejak sepuluh menit yang lalu, ini sudah menjadi kebiasaannya saat menjemput Viona. Tidak mau membuat gadisnya menunggu, maka Galih akan datang lebih awal. Tidak ada kata bosan saat menunggu Viona, banyak hal yang bisa Galih lakukan sembari menunggu gadis itu menyelesaikan pekerjaannya. Cukup lama, hingga pintu mobil Galih terbuka. Viona masuk ke dalam mobil Galih, tidak ada sepatah kata pun yang laki laki itu ucapkan. Rasa cemburunya masih ada, dan saat ini Galih sedang menunggu penjelasan dari Viona. "Maaf ya, kamu pasti nunggu lama." Viona membuka obrolan, karena Galih sejak tadi hanya diam. Diamnya seseorang, pasti memiliki alasan tersendiri dan Viona yang menjadi alasan diamnya Galih. Tidak berniat mengatakan apapun, laki laki itu memilih menjalankan mobilnya. Merasa di abaikan, Viona mengerucutkan bibirnya sebal. Kenapa Galih diam saja? "Mas." Viona kembali mengajak Galih untuk berbicara, jika sedang marah memang selalu seperti ini. "Hm." Viona memutar bola matanya jengah irit bicara sekali Galih malam ini? "Berhenti, aku mau turun disini." Pinta Viona serius, untuk apa berada dalam satu mobil jika Galih hanya diam saja? Apa Galih tidak mau mengajaknya bicara dan berusaha mendengarkan penjelasannya. Mobil berhenti, tepat saat lampu merah. Galih menoleh ke arah Viona, sengaja diam agar Viona terlebih dahulu mempunyai niat untuk menjelaskan tanpa di minta. Bukannya segera memberi penjelasan, gadis itu malah minta turun di tengah jalan. Sungguh, Galih tidak mengerti dengan jalan pikiran Viona. Apa ini cara agar bisa terlepas dari Galih, dan bisa bersama Alan? Hal ini tidak akan terjadi sampai kapanpun. "Kamu enggak ngerasa bersalah?" tanya Galih, entah apa yang terjadi di depan sekarang jalanan malah macet. Viona mengerti, dirinya di tuntut untuk memberikan penjelasan. Padahal, tadi pagi Viona sudah menjelaskan semuanya pada Galih di telepon. "Maaf." "Enggak ada yang minta kamu minta maaf," potong Galih cepat, apa Galih pernah memintanya untuk meminta maaf? Tidak pernah, hanya ingin mendengarkan penjelasan secara langsung. Helaan nafas terdengar, Viona mencoba menambah stok kesabarannya. Malam ini, Viona cukup lelah dengan pekerjaannya. Namun, Galih sepertinya tidak mau mengerti hal itu. "Tadi pagi, pak Alan masuk restoran pucat banget. Awalnya aku cuek, dan enggak peduli. Tapi aku lihat, dia lagi sakit. Aku cuma mikir, gimana kalau seandainya ibu atau kamu yang ada di posisi dia dan enggak ada yang peduli kalau lagi sakit padahal dia di tempat umum." Viona menjeda ucapannya sejenak, memperhatikan Galih yang juga sedang memperhatikan dirinya. "Aku samperin pak Alan, enggak ada maksud apa apa mas. Aku cuma tanya apa dia sakit? Karena emang dia sakit, aku rasa enggak ada salahnya berbuat baik sama bos sendiri. Ya awalnya pak Alan nolak karena enggak mau ngerepotin aku, dan pak Alan lebih milih minta bantuan ke Aldo. Tapi Aldo belum berangkat, jadi aku yang bantu dia. Aku melakukan itu karena aku enggak tega liat orang sakit, kamu tahu kan kalau ibu juga sering sakit. Aku enggak bisa hidup sendiri, suatu saat aku pasti butuh bantuan orang lain. Aku enggak berharap orang lain itu adalah pak Alan, aku cuma mau berbuat baik apa itu salah?" Jelas Viona, gadis itu kembali menatap jalanan yang cukup padat. Bisa di pastikan, malam ini Viona akan terlambat sampai rumah. Untung saja gadis itu sudah menghubungi sang ibu, perempuan paruh baya itu tidak perlu khawatir menunggu anak gadisnya pulang. Alasan Viona cukup masuk akal, tapi rasa cemburunya tetap belum hilang sepenuhnya. Jika laki laki yang di bantu bukan Alan, mungkin Galih tidak akan merasa keberadaannya terancam. "Jauhin Alan, mas enggak suka kamu terlalu baik sama dia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN