Viona merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya. Saat ia pulang, sang ibu sudah terlelap. Viona sempat masuk ke kamar ibunya, hanya sebentar untuk memastikan bahwa ibunya baik baik saja. Seharian sibuk bekerja, ternyata cukup melelahkan. Di tambah sikap Galih yang menyudutkan dirinya, bagaimana bisa Viona menuruti perintah kekasihnya itu? Rasanya tidak mungkin.
Galih melarangnya untuk menjauhi Alan, mana mungkin? Mereka setiap hari bertemu dan Galih juga tahu jika laki laki itu adalah bosnya. Bukankah akan terasa aneh jika tiba tiba Viona menjauh dari Alan? Padahal mereka tidak ada masalah apapun selama ini.
"Mas, ada alasan kenapa kamu harus menjauh dari Alan. Jika perlu, kamu resign sekarang juga." Ucap Galih serius, sebagai seorang laki laki yang begitu mencintai Viona sudah menjadi sebuah keharusan bahwa tidak boleh ada yang mendekati miliknya.
Viona menghela nafas berat, alasan apa lagi? Rasa cemburu Galih sudah berlebihan, apapun yang berlebihan selalu tidak baik.
"Alasannya apa? Kalau kamu cemburu, aku udah jelasin. Aku sama pak Alan enggak ada hubungan apapun, please aku capek kalau sifat kamu kayak gini terus." Keluh Viona, sejak dulu jika Galih sedang cemburu apapun akan laki laki itu lakukan padahal Viona tidak pernah berbuat macam-macam.
"Alan suka sama kamu, udah lama." Ucap Galih datar, tidak ada ekspresi yang laki laki itu tunjukkan.
"Kamu pasti bohong, pak Alan emang baik sama aku tapi itu sebatas atasan dan karyawan. Enggak lebih, kalau kamu terlalu cemburu bukan gini caranya." Bantah Viona, mana mungkin Alan suka padanya? Ini pasti hanya cara Galih untuk membuat Viona percaya.
Sadar jika Viona tidak percaya, Galih tersenyum sinis. Gadisnya terlalu polos ternyata, sampai tidak sadar bahwa ada laki laki lain yang menyukainya.
"Enggak, mas ngomong apa adanya. Alan emang suka sama kamu, kalau kamu enggak percaya terserah."
Percakapannya dengan Galih tadi, benar benar tidak masuk akal. Viona hanya karyawan di restoran Alan, dan laki laki itu sendiri adalah pemilik restoran tempatnya bekerja. Tidak mungkin jika Alan tertarik padanya, tapi Galih juga tidak mungkin berbohong hanya karena rasa cemburunya pada Alan. Tidak mau larut dalam pikirannya sendiri, lama lama Viona lelah karena terus menahan kantuk. Gadis cantik itu, perlahan memejamkan matanya.
--
Fika sejak jam lima pagi sudah terbangun dari tidurnya, gadis itu sedang sibuk menyiapkan masakan untuk keluarga majikannya. Satu minggu tinggal disini, akhirnya Fika tahu makanan apa yang di sukai dan makanan apa yang tidak boleh dimakan oleh Galih. Walaupun anak majikannya itu masih saja bersikap dingin padanya, tidak membuat Fika menyerah. Gadis itu yakin, jika suatu saat Galih sendiri yang akan mengajaknya berbicara tanpa diminta.
Suara langkah seseorang berjalan ke dapur membuat atensi Fika teralihkan dari masakannya, gadis itu tidak menoleh hanya menebak siapa yang masuk ke dapur. Ini masih pukul enam pagi, pasti bukan Galih.
"Fika, buatkan saya kopi." Suara pak Haris membuat Fika bernafas lega, gadis itu mengangguk lantas mengambil gelas dan membuatkan kopi majikannya. Gadis itu tidak banyak bertanya, di hari pertama bekerja bu Farah sudah memberitahu bahwa suaminya tidak menyukai kopi yang terlalu manis. Setelah selesai, Fika mengantarkan kopi tersebut kepada majikannya. Jika di perhatikan sekilas, Galih hampir mirip dengan pak Haris. Tapi sepertinya, sikapnya menurun dari sang ibu.
"Ini Tuan." Dengan sopan, Fika meletakkan kopi itu di atas meja.
Pak Haris mengangguk, menurutnya Fika gadis yang sopan.
"Terimakasih."
Setelah itu, Fika kembali ke dapur melanjutkan masakannya. Namun, lagi lagi Fika harus menghentikan kegiatannya karena suara bu Farah. Perempuan paruh baya itu memang selalu ke dapur setiap pagi dan sore disaat dirinya tengah memasak, entah apa tujuannya Fika enggan untuk bertanya.
"Kamu sudah selesai masak?" tanya bu Farah.
Fika yang sejak tadi menyiapkan piring untuk majikannya lalu mengangguk, sebenarnya Fika tidak terlalu suka dengan pertanyaan seperti ini. Tapi dirinya hanya pembantu, dan bu Farah majikan. Mau tidak mau, suka tidak suka harus siap mendapatkan pertanyaan itu setiap pagi.
Bu Farah mendekati meja makan, dimana semua masakan sudah tertata rapi. Lalu mengambil sendok dan mencicipi masakan gadis itu.
"Ini terlalu manis, besok-besok kurangin gulanya." Protes Bu Farah, padahal ini sudah sesuai takaran yang bu Farah tunjukkan padanya.
Jika tidak ingat posisinya disini sebagai pembantu, mungkin Fika akan menjawab ucapan majikannya. Gadis itu menghela nafas pelan, lalu mengangguk.
"Baik nyonya."
Kemudian, bu Farah mencicipi masakan yang kedua. Makanan kesukaan Galih. " Ini terlalu pedas, kan saya pernah bilang anak saya tidak suka makanan pedas."
"Maaf nyonya, tapi tadi saya tidak memasukan banyak cabai."
"Kali ini saya maafkan, awas kalau besok di ulangi. Sekarang kamu ke belakang, bersihkan taman belakang. Saya sama keluarga saya mau sarapan, nanti kalau sudah selesai baru kamu bereskan." Ucap bu Farah, perempuan itu tidak suka jika ada orang lain apalagi pembantu yang memperhatikannya saat sedang sarapan.
Lagi lagi, Fika memaksakan senyumnya dan mengangguk. Pantas saja tidak pernah ada yang betah bekerja di rumah ini walaupun gajinya lebih besar, ternyata ini alasannya. Baru satu minggu dirinya berada di rumah ini, Fika sudah tidak tahan dengan sikap majikannya. Untung saja ada Galih yang memiliki paras yang diidam-idamkan, walaupun sikapnya begitu dingin dan tidak tersentuh. Jika tidak ada Galih, mungkin Fika akan benar-benar bosan dan memilih mencari majikan lain.
--
Viona mengernyit heran saat Alan menyerahkan sebuah kotak makan padanya, baru saja semalam Galih memintanya untuk menjauhi Alan dan sepagi ini laki laki yang menjadi bosnya itu malah sudah ada di hadapannya. Sebuah senyuman terlihat begitu indah. Ya, Alan memang cukup tampan di tambah sikapnya yang baik dan ramah pada setiap orang. Namun, hal itu tidak membuat Viona tertarik. Gadis itu sudah memiliki Galih, calon suaminya.
Calon suami? Bahkan sampai saat ini, mereka belum berhasil mendapatkan restu.
"Ini buat kamu." Karena Viona tidak mengerti apa maksudnya, laki laki itu meletakkan kotak makan yang di bawa dari rumah. Itu masakan ibunya, saat sarapan pagi tadi Alan teringat Viona. Pasti gadis itu menyukai masakan ibunya.
Viona menghela nafas, apa maksudnya? Jika ini adalah balasan karena kemarin dirinya sudah membantu Alan, rasanya terlalu berlebihan. Viona ikhlas melakukan itu semua.
"Maaf pak, saya sudah makan." Setiap pagi, sebelum berangkat bekerja Viona selalu sarapan terlebih dahulu. Walaupun masakannya hanya nasi goreng, karena itu lebih praktis untuk sarapan.
Alan tersenyum, kebiasaan Viona yang satu ini memang Alan sudah mengetahuinya.
"Saya tahu, terima aja. Buat makan siang juga bisa, itu masakan ibu saya. Di makan ya, jangan di kasih ke orang lain." Tidak menerima penolakan, Alan memilih untuk cepat pergi dari hadapan Viona. Selain tidak mau jika Viona mengembalikan makannya, Alan juga tidak mau jika Aldo melihatnya berangkat pagi hanya untuk memberikan Viona sarapan.
Menatap punggung Alan yang semakin menjauh, Viona hanya mampu menghela nafas pelan. Lalu meraih kotak makan yang Alan berikan, dan di masukan ke dalam tas.
"Aku harus gimana? Aku enggak enak sama pak Alan. Tapi aku takut, mas Galih berbuat nekat."