Jam makan siang hampir terlewatkan, Viona dan Aldo baru saja beristirahat. Keduanya sama sama lelah, dan tentunya perut mereka meronta ronta minta di beri makan.
"Lo, bawa dua bekal? Tumben banget Vi." Di hadapan Viona, memang ada dua kotak bekal makanan. Yang satu, Viona sendiri yang memasak tadi pagi. Jangan tanya kenapa ada dua, karena Alan memberikannya sebuah kotak makan tadi pagi.
Baru saja Viona akan memberikan kotak makanan yang berasal dari Alan, tapi gadis itu mengurungkan niatnya saat Alan tiba tiba duduk di dekat Aldo. Tatapan laki laki itu tertuju pada kotak makan yang ada di depan Viona.
"Tumben bos, jam istirahat kesini. Enggak makan?" Tanya Aldo sembari menyantap makan siangnya, jika sudah terlalu lapar Aldo memang tidak perlu repot-repot menawarkan makanannya pada orang lain. Karena dirinya sendiri juga lapar.
"Pak Alan enggak makan?"
Alan meletakkan ponselnya, lalu tersenyum lembut pada Viona.
"Saya tadi lupa enggak bawa bekal," alibi Alan padahal Viona tahu betul bahwa laki laki itu membawa bekal tapi malah memberikannya pada Viona.
"Lah gimana ceritanya? Ini restoran punya situ ya kalau lupa, misalkan lupa enggak bawa makan ya tinggal minta aja." Aldo menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Alan, sungguh tidak masuk akal.
Aldo mengambil gelas yang masih terisi air, lalu dengan cepat menandaskan minumnya. "Vi, kayaknya pak Alan hampir bangkrut makanya sampai enggak mau makan siang di restorannya sendiri. Pasti alasannya karena bosan sama menunya, padahal cuma mau hemat." Cibir Aldo, laki laki itu memang suka sekali menghujat bosnya. Tidak ada rasa canggung sedikitpun, karena mereka sudah kenal lama. Cukup dekat, walaupun hanya sebatas bos dan karyawan.
"Al, jaga omongan kamu." Peringat Viona, menurutnya apa yang di katakan Aldo sangat keterlaluan. Seharusnya, Aldo bisa menjaga ucapannya.
"Yang mana? Soal pak Aldo mau bangkrut atau pak Aldo yang mulai hemat?" Kekeh Aldo, pasti Viona sangat tidak nyaman berada di antara dua laki laki ini.
Viona berdecak, tidak enak dengan Alan. Apa sebaiknya, Viona memberikan salah satu bekalnya?
"Pak, ini saya kebetulan bawa dua bekal. Kalau bapak mau, ambil aja satu pak. Tapi maaf, kalau ada menu yang mungkin bapak enggak suka." Ucap Viona hati hati, berharap jika Alan menolak tawarannya.
Tanpa di duga, Alan mengambil salah satu kotak makan milik Viona. Ya, mana mungkin Alan memilih kotak makan yang tadi pagi di berikan langsung untuk Viona?
"Saya ambil ya, makasih sebelumnya." Ucap Alan tulus, apapun yang Viona masak pasti Alan akan menyukainya apalagi ini pertama kali merasakan masakan Viona. Gadis pujaan hatinya.
Aldo melongo melihat Alan memakan bekal dari Viona, bahkan laki laki itu tidak terlihat ragu sama sekali. Ingatkan Aldo, jika Alan memang sudah lama menyukai gadis itu. Bukankah hari ini, Alan sedang bahagia? Atau jangan jangan, bosnya sengaja tidak mau makan di restorannya sendiri karena tahu Viona membawa dua bekal? Lalu, kenapa bisa Viona membawa beka? Ada apa dengan mereka berdua, padahal Aldo tahu betul bahwa ada Galih yang masih berjuang untuk mendapatkan restu dari orang tuanya.
"Laper apa doyan?"
"Al," lirih Viona.
Aldo mengangguk, membiarkan Alan tetap menyantap makanan dari Viona. Bahkan, Alan terlihat sangat menikmati makanan itu.
Viona sedikit ragu membuka bekal dari Alan, ini akan menjadi boomerang untuk dirinya jika Galih tahu. Namun, akan semakin salah jika Alan menyadari Viona tidak mau makan bekal darinya.
"Kamu enggak makan?" Sejak tadi, Alan menunggu Viona makan tapi sepertinya gadis itu ragu.
"Makan kok pak," dengan cepat Viona membuka kotak bekal itu.
Alan tersenyum saat melihat Viona mulai menyantap makanannya, tadi pagi Alan sengaja meminta bekal pada ibunya. Tujuannya hanya satu, ingin memberikannya kepada Viona.
"Ekhem, masih ada orang disini..."
--
"Pertunangan kamu dengan Felly akan di percepat." Siapa lagi kalau bukan pak Farhan, laki laki paruh baya itu terus saja mendesak sang anak untuk tetap menerima perjodohan yang mereka lakukan.
Galih yang sejak tadi sibuk menandatangani berkas, dengan kasar meletakkan pulpennya. Apa yang sebenarnya mereka inginkan?
"Aku enggak peduli."
"Persiapkan diri kamu, papa enggak mau menanggung malu untuk kedua kalinya di depan orang tua Felly. Perjodohan ini akan menguntungkan perusahaan kita, perusahaan kita akan semakin kuat dan akan semakin di segani. Apa kamu enggak senang, kalau banyak orang yang akan menjalin kerja sama dengan kita?" Entah apa yang mereka pikirkan, apa mereka tidak pernah memikirkan perasaan Galih. Perasaan anaknya akan di tukar dengan sebuah saham? Lalu, dimana keuntungan yang Galih dapatkan?
"Jadi, perjodohan ini bukan karena kalian ingin menjalin hubungan persahabatan? Tapi karena saham?" tanya Galih tidak percaya, haruskah Galih menyadarkan kedua orang tuanya jika ini sangat tidak benar.
Pak Farhan mengangguk. "Saham dan Felly memang yang terbaik buat kamu, kami melakukan itu semua demi masa depan kamu. Daripada kamu sama Viona, gadis miskin. Enggak berpendidikan, cuma jadi kasir. Apa yang bisa kami banggakan dari pekerjaannya? Enggak ada, lupakan Viona. Dan kamu harus mulai menerima Felly sebagai calon istri kamu." Ucap pak Farhan mutlak, tidak menerima bantahan. Jika Galih berani menentang keputusannya, mereka akan mengambil tindakan yang terakhir. Menghancurkan Viona dan ibunya.
"Kenapa enggak papa aja yang nikah sama Felly? Sampai kapanpun, aku enggak mau. Pernikahan bukan hal yang bisa di paksa, cinta enggak bisa di tukar dengan saham. Sebanyak apapun, harta yang akan kalian tukar dengan Viona, maaf aku enggak tertarik. Kalau papa ngerasa kaya, kenapa sampai tega menukar cinta Galih dengan saham? Apa serendah itu harga diri Galih di banding saham?"
BRAKK
Merasa di tentang oleh anaknya, pak Farhan menggebrak meja kerja Galih. Siapa yang mengatakan jika harga diri Galih lebih rendah dari saham yang akan mereka terima? Pemikiran Galih sangat sempit.
"Jaga ucapan kamu Galih! Kami enggak pernah merendahkan harga diri kamu!"
Galih terkekeh sinis, lalu bagaimana maksudnya? Padahal semuanya cukup jelas, anak mereka di tukar dengan sebuah saham.
"Kalau gitu, batalkan perjodohan ini. Saya bukan sebuah barang yang bisa di tukar dengan uang, saya manusia biasa. Saya punya hati dan perasaan, jika harga diri bisa di ganti dengan uang. Lalu, apa uang bisa menumbuhkan rasa cinta yang sudah mereka rebut?" Kali ini, Galih sudah melanggar janjinya pada Viona. Biarkan saja, ini demi hubungan mereka. Jika Galih terus menerus diam, maka perjodohannya dengan Felly akan di lakukan. Setiap saat di paksa untuk menerima apa yang mereka inginkan, menjadikan Galih sadar. Jika hidupnya benar benar dalam tekanan kedua orang tuanya, memang tidak ada yang salah saat orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Tapi yang terbaik tidak bisa di paksa, mereka harus bisa menerimanya dengan lapang. Jika selalu di paksa, bukannya menurut Galih akan selalu memberontak.
BRAKK
Tanpa pikir panjang, laptop Galih di lemparkan begitu saja ke lantai. Pak Farhan sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak memberikan pelajaran pada Galih, semenjak mengenal Viona anak itu semakin kurang ajar. Tidak mengerti sopan santun, ini karena pergaulannya dengan Viona.
"Lempar aja, papa masih sanggup beli lagi. Tapi, papa enggak akan pernah sanggup beli harga diri Galih. Enggak akan pernah." Tegas Galih.
PLAK
Galih memejamkan matanya, menikmati rasa nyeri sekaligus perih karena tamparan ayahnya. Sangat kuat, hingga wajah tampan laki laki itu sedikit lebam. Untuk kesekian kalinya, pak Farhan berhasil menambah luka di hatinya. Jika luka fisik, Galih akan mudah melupakan. Lukanya akan kering, dan rasa sakitnya akan perlahan menghilang. Namun, luka yang Galih dapatkan tidak bisa sembuh dalam waktu singkat. Hati dan perasaannya yang terluka, untuk kesekian kalinya semua itu karena harta. Bukankah keluarga adalah harta yang paling berharga? Dan anak termasuk salah satunya.
"Jauhi Viona, atau kamu harus menyesal seumur hidup karena membiarkan gadis itu dalam bahaya." Setiap ancaman pak Farhan, tidak ada kata main main. Semuanya selalu dilakukan dengan cepat, ini menyangkut masa depan anaknya. Sudah lama mereka ingin menyingkirkan gadis miskin itu dari kehidupan Galih, tapi mereka masih merasa kasihan dan memberikan Viona peringatan. Namun, gadis itu ternyata tidak pernah menganggap serius ucapannya. Jika perlu, ibu Viona juga akan di singkirkan. Agar mereka, bisa hidup tenang.
Galih mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, pengorbanan mereka sudah terlalu jauh. Menyerah dengan keadaan bukan pilihan yang benar, keadaan bisa saja berubah termasuk restu dari orang tuanya.
"Aku bukan anak kecil yang takut gertakan, aku cinta Viona. Aku egois? Iya. Aku melakukan ini demi kebahagiaan aku sendiri, karena kalian sudah cukup bahagia dengan harta."
Ucapan Galih tentu saja membuat pak Farhan mengeraskan rahangnya, tidak percaya jika sang anak yang selama ini di banggakan dengan sengaja memilih gadis yang di cintainya. Apa Galih pikir, cinta adalah segalanya? Tidak. Uang adalah segalanya, untuk itu mereka harus menjodohkan Galih dengan Felly apapun yang akan terjadi. Jika memang Viona tetap menjadi pilihan anaknya, maka jalan keluarnya adalah menyingkirkan gadis itu dari kehidupan Galih selamanya.
"Lancang sekali kamu, sudah berani menentang keputusan papa."
"Aku selalu jadi anak yang penurut, tapi hari ini aku berusaha mempertahankan apa yang aku punya. Aku punya Viona, sebanyak apapun harta kalian enggak akan pernah cukup untuk menggantikan Viona." Balas Galih, harta bisa saja membuat seseorang bahagia tapi tidak untuk Galih. Di tuntut menjadi anak yang penurut bukanlah hal yang mudah, di saat dirinya sudah menuruti keinginan orang tuanya sekarang mereka meminta Galih untuk meninggalkan gadis itu.
"Ingat ini, suatu saat kamu akan menyesali keputusanmu hari ini. Entah karena kami atau pilihannya sendiri, Viona akan tetap pergi dari kehidupan kamu. Yang pasti, kamu akan menyesal dan pada akhirnya kamu akan tetap menikah dengan Felly." Ucap pak Farhan, lalu pergi meninggalkan Galih yang sedang menahan amarahnya.
Galih tahu, jika apapun yang ayahnya ucapkan tidak pernah main main. Tugasnya sekarang tetap memastikan Viona baik baik saja, bila perlu akan menjaga gadis itu selama 24 jam. Galih akan meminta orang orang yang sudah lama bekerja dengannya untuk turut membantu menjaga Viona, dan Viona jangan sampai tahu kalau dirinya di jaga oleh orang suruhan Galih. Gadis itu pasti akan merasa tidak nyaman, karena setiap gerak geriknya selalu berada dalam pengawasan. Galih yakin, semuanya akan baik-baik saja.
Galih meraih ponselnya, untungnya hanya laptop yang menjadi pelampiasan amarah pak Farhan. Jika ponselnya, Galih tidak bisa menghubungi Viona sekarang.
"Masuk ke ruangan saya, ada yang perlu kamu kerjakan."
"......."
"Baik, saya tunggu." Setelah itu, Galih kembali duduk. Perkara sebuah restu, jangan sampai membahayakan nasib orang lain. Ini salah, kenapa mereka terlalu terobsesi dengan Felly?
--
Di lain tempat, di rumah yang sederhana dua orang perempuan sedang berbicara serius. Mereka adalah Farah dan Sarah, orang tua Galih dan Viona.
Farah memperhatikan rumah yang menurutnya sangat tidak layak di huni, mungkin jika ini milik mereka akan di jadikan gudang. Ya, seperti itulah kesombongan Farah.
"Mau minum apa bu Farah?" sejak tadi mereka hanya terdiam.
Farah menggeleng, tidak mungkin dirinya harus minum dari rumah yang yang tidak layak di huni ini.
"Saya alergi air biasa, bisa bisa saya ketularan miskin!" Ketus Farah, menjadi tamu di rumah sederhana membuatnya lupa ada bertamu tidak boleh seperti ini.
Sadar jika keluarga mereka sangat berbeda dengan keluarga Galih, bu Sarah hanya tersenyum tipis. Tidak ada raut wajah terkejut karena ucapan ibu Galih itu, yang ada pikirannya sekarang hanyalah apa yang membuat orang kaya ini mau datang ke rumahnya.
"Jadi, apa tujuan Bu Farah datang ke rumah saya?" Walaupun nantinya Farah akan memberikan jawaban yang menyakitkan tentang hubungan anaknya dan Galih, Sarah akan berusaha untuk bersabar. Menjadi orang kecil memang selalu di rendahkan, tidak masalah.
"Saya enggak mau terlalu banyak basa basi, bilang ke anak kamu untuk pergi dari kehidupan Galih. Kamu pasti tahu, mereka berdua seperti langit dan bumi. Perbedaannya terlalu jelas, Galih anak kami satu satunya. Kami tidak mau jika Viona tetap mendekati Galih. Kami enggak sudi punya menantu miskin, apa kamu pikir saya suka sama Viona? Tidak sama sekali, anak kamu seharusnya sadar diri. Galih terlalu berharga untuk gadis seperti Viona, sekali lagi saya tekankan bilang ke Viona kalau kami tidak akan pernah merestui hubungan mereka."
Jadi masalah kasta? Hanya masalah harta sang anak harus di paksa melepaskan Galih? Apa mereka fikir, Viona gadis yang hanya mengincar harta mereka? Padahal, selama ini mereka tidak pernah mau saat Galih akan membantu perekonomian keluarga mereka.
"Saya akan berusaha untuk mengatakan bahwa Viona tidak pantas untuk Galih, tapi anda harus ingat. Terlalu sering meminta mereka berpisah, belum tentu mereka akan berpisah. Selama ini, kalian selalu menekan Viona untuk menjauh dari kehidupan Galih. Viona dan Galih saling mencintai, kami memang miskin tapi cinta Viona untuk Galih benar benar tulus. Tidak ada kebohongan disana, mereka saling mencintai."
"Viona hanya menginginkan harta kami, bukan mencintai Galih." Tegas Bu Farah.