Di sebuah ruangan yang sudah tidak pernah di gunakan, atau mungkin lebih tepatnya gudang seorang laki laki mengeluarkan sebatang rokok, ini adalah salah satu tempat yang jarang ia kunjungi. Tempat yang selalu menjadi saksi betapa hancurnya Galih. Laki laki itu adalah Galih, saat dirinya merasa hancur rokok dan beberapa minuman keras menjadi teman setianya.
Orang tuanya, tidak pernah mengetahui kelakuan Galih yang satu ini. Laki laki itu sangat rapi menyimpan perbuatannya selama ini, jangankan orang tuanya Viona juga tidak pernah tahu jika Galih merokok bahkan sampai menghabiskan beberapa botol minuman keras. Tidak terlalu sering, semua itu hanya bentuk pelampiasan amarahnya yang sudah tidak dapat di tahan lebih lama. Hari ini cukup berat bagi Galih, orang tuanya terus memaksa menerima perjodohan dan Viona yang semakin dekat dengan Alan.
Kejadian tadi siang saat Viona memberikan bekal untuk Alan, tentu saja Galih mengetahuinya dengan begitu mudah. Meskipun kekasihnya terlihat terpaksa, tapi Alan terlihat begitu bahagia.
"Enggak perlu takut Viona berpaling, tapi Alan bisa saja berbuat nekat." Gumam Galih, menahan diri untuk tidak cemburu bukanlah hal yang mudah. Ada ego yang harus di paksa untuk mengalah, dan ada hati yang harus terluka melihat itu semua.
Galih mulai menghidupkan rokoknya, lalu mengambil sebuah foto. Terdapat dua orang disana, seorang laki laki bersama seorang Gadis cantik. Siapa lagi kalau bukan, Galih dan Viona. Jika saja tidak perlu restu untuk menikah, mungkin mereka sudah menikah sejak tahun lalu. Pernah sekali, Galih mengajak Viona pergi dari kota ini tentunya mengajak ibunya. Tujuannya hanya untuk menjauh dari orang orang yang tidak menyukai hubungan keduanya, seperti orang tuanya. Namun, Viona tidak pernah setuju. Sejauh apapun mereka akan pergi, pada akhirnya orang tua Galih akan berhasil menemukan mereka. Jadi tidak ada gunanya. Lagipula, menikah tanpa sebuah restu bukanlah hal yang benar.
Tangan Galih mengusap wajah cantik Viona yang ada di dalam foto tersebut, gadis itu sudah banyak menerima hinaan dari orang tuanya. Tidak hanya Viona, Bu Sarah juga ikut di hina. Galih tidak mengerti, apa perbedaan kasta sampai membuat orang tuanya tidak memiliki perasaan?
Jam alarm Galih menandakan bahwa satu jam lagi adalah saatnya menjemput Viona, dengan cepat laki laki itu mematikan rokoknya. Menghela nafas dalam-dalam, lalu bergegas menuju kamar mandi. Galih tidak ingin Viona curiga, gadis itu sudah pasti akan curiga dengan bau rokok dan alkohol jika tidak mengganti pakaiannya. Selama ini, jika pikirannya sedang kacau Galih selalu melakukan hal yang sama setiap saat. Bukannya tidak mau mengatakan yang sebenarnya pada Viona, tapi menurut Galih tidak perlu.
Setelah membersihkan diri, Galih kembali terlihat segar. Kemeja putih yang Galih gunakan sangat cocok dengan warna kulitnya, semoga saja kali ini Viona tidak curiga padanya.
--
Viona baru saja menghidupkan kembali ponselnya, membuka aplikasi chat ternyata tidak ada pesan apapun dari Galih. Sedikit kecewa, tapi tidak masalah mungkin seharian ini Galih tidak sempat membuka ponselnya. Bukankah setiap orang juga memiliki kesibukan masing-masing?
Pekerjaannya sudah selesai, sekarang waktunya pulang. Apa Viona mengharapkan bertemu Galih? Tentu saja. Merindukan Galih adalah salah satu hal yang sering ia alami.
"Pulang sendiri?"
Langkah Viona terhenti, gadis itu sebenarnya enggan menatap Alan. Tapi dengan terpaksa Viona mengangguk dan tidak lupa tersenyum.
"Iya pak." Jawab Viona singkat.
Keduanya sudah berada di luar restoran, Alan tidak tega melihat Viona pulang malam menggunakan ojek langganannya. Angin malam, tidak bagus untuk kesehatan gadis itu.
"Ayo saya antar," ujar Alan. Bukan bermaksud mencari kesempatan dalam kesempitan, Alan hanya tidak tega melihat Viona pulang malam setiap hari. Tidak hanya Alan yang merasa kasihan dengan Viona, Galih sudah sering mengingatkan agar Viona resign. Tapi gadis itu tetap ingin bekerja, dan akhirnya Galih memilih untuk menjemput gadisnya saat pulang bekerja. Tidak ingin terjadi apa apa pada Viona.
Refleks Viona menggeleng, bisa menjadi masalah besar jika Alan mengantarkannya pulang. Apa yang akan Galih katakan jika tahu dirinya di antarkan pulang laki laki lain? Tidak. Viona tidak mau membuat kekasihnya marah. Bukannya takut pada Galih, mereka sedang berusaha memperbaiki keadaan. Jika orang tua Galih melihatnya pulang bersama Alan menggunakan mobil, pasti mereka akan semakin yakin jika Viona hanya mengincar harta Galih saja.
"Enggak perlu pak, saya masih nunggu ojek. Lebih baik, pak Alan pulang duluan aja." Tolak Viona sopan, gadis itu kembali menatap sekitar berharap jika Galih tidak menjemputnya. Akan semakin rumit jika laki laki itu melihatnya bersama Alan, walaupun mereka hanya mengobrol.
Alan menghela nafas, niatnya hanya ingin memastikan bahwa Viona sampai rumah baik baik saja. Namun, jika gadis itu sendiri yang menolak tawarannya dia bisa apa? Tidak pernah ada keinginan untuk memaksa Viona, lebih baik Alan menemani gadis itu sampai ojek langganannya datang.
"Saya temani ya, kali ini kamu enggak boleh nolak. Saya enggak ada niatan untuk macam macam Vi, semuanya udah pulang. Kalau ada yang macam macam sama kamu gimana?"
Viona bergidik ngeri membayangkan ucapan Galih, apa saja bisa terjadi tanpa di duga. Akhirnya dengan terpaksa Viona mengangguk, bukankah seharusnya berterimakasih?
"Terimakasih pak, seharusnya pak Alan enggak perlu repot-repot nunggu saya." Ucap Viona tidak enak.
"Enggak apa apa, kamu karyawan saya. Keselamatan karyawan sudah menjadi tanggung jawab saya, mungkin untuk besok akan ada satpam yang mulai berjaga." Alan melakukan itu bukan hanya untuk selalu memastikan bahwa
Viona baik baik saja, tapi karena ingin menjaga keamanan restorannya.
"Loh, kenapa pak?" Viona tidak mengerti, padahal selama ini yang ia tahu semuanya selalu aman terkendali. Tidak pernah ada kejadian apa-apa.
"Kemarin malam, ada orang yang mau mencoba masuk."
"Pak Alan tahu dari mana?"
"Cctv, makanya saya langsung cari satpam. Cuma buat malam aja Vi, menjaga sebelum semuanya terlambat enggak ada salahnya. Enggak semua orang punya niat jahat sama kita, tapi menurut saya lebih baik antisipasi dari sekarang aja." Jelas Alan, memang ada yang mencoba masuk kedalam restorannya di saat semua orang sudah pulang. Dan Alan tidak ingin hal buruk terjadi padanya.
Apa yang dikatakan Alan memang benar. Baru saja Viona akan berbicara, sebuah mobil berhenti tepat di depan keduanya. Cukup terkejut, karena Galih ternyata menjemputnya.
Mengetahui siapa yang datang, Alan hanya mampu menghela nafas. Sepertinya kehadirannya disini, sudah tidak lagi di butuhkan. Pemeran utamanya sudah datang, Alan yang hanya sebagai pemeran pengganti cukup sadar diri untuk secepatnya pergi.
Galih keluar dari mobil, pandangannya tertuju pada Alan. Untuk apa laki laki itu bersama Viona?
"Galih udah datang, kalau gitu saya permisi Vi. Galih, gue duluan." Pamit Alan, mereka sempat bertemu beberapa kali dan Alan sangat tahu jika kekasih Viona tidak suka jika perempuan yang di cintainya berdekatan dengan laki laki lain.
"Thanks, udah nemenin Viona." Ungkapan terimakasih itu hanya sebatas formalitas, Galih tidak perlu repot-repot mengucapkan terimakasih pada Alan.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil, keduanya juga sama sama diam. Viona tahu betul, kekasihnya itu marah karena melihatnya bersama Alan tadi. Berusaha memecahkan keheningan, Viona memulai pembicaraan. Meskipun takut jika Galih marah, tapi setidaknya Viona harus tetap berusaha memberikan penjelasan.
"Mas, tadi pak Alan cuma nemenin aku nunggu ojek. Aku enggak tahu, kalau kamu bakalan jemput aku."
"Cuma? Apa kamu enggak bisa nolak dan minta dia pulang duluan? Enggak bisa?" Siapa yang tidak cemburu jika perempuan yang selama ini sudah bersamanya, di dekati laki laki lain?
Viona meneguk ludahnya kasar, nada bicara Galih sangat berbeda dari biasanya.
"Mas aku,"
"Kasih makan ke Alan jam makan siang, itu biasa?"
Deg
Dari mana Galih tahu semuanya? Apa ada yang sengaja melaporkan pada Galih? Bahkan, saat berbicara dengan Viona laki laki itu tidak menatapnya sama sekali.
"Kamu tahu dari mana mas? Kamu punya mata mata di tempat kerjaku?" Viona menggeleng tidak percaya, jika memang benar ada orang yang sengaja melaporkan apa saja yang Viona lakukan di tempat kerjanya.
"Kalau iya, kenapa?" Galih memang mempunyai mata mata disana, semenjak dirinya mengetahui jika Alan menaruh hati pada gadisnya mana mungkin Galih bisa tenang begitu saja. Sebisa mungkin, Galih akan menjaga apa yang sudah mereka miliki sejak lama.
"Siapa? Aku enggak nyangka kamu tega ngelakuin itu sama aku. Sama aja kamu enggak percaya sama aku selama ini, seharusnya kamu percaya sama aku mas. Ternyata aku salah, hubungan bertahun tahun enggak menjamin sebuah kepercayaan." Desak Viona, Galih sudah sangat keterlaluan.
Galih menghentikan mobilnya, padahal perjalanannya masih cukup jauh.
"Kamu enggak perlu tahu dia siapa? Mas, cuma mau yang terbaik buat kamu."
"Yang terbaik menurut kamu, belum tentu itu baik menurut aku mas."
"Kamu suka Alan deket sama kamu?"
Viona menghela nafas, sebenarnya ini pembicaraannya karena Alan yang menyukainya. Jika memang benar, itu sama sekali tidak berpengaruh padanya.
"Enggak mas, aku enggak suka sama pak Alan. Tapi aku juga enggak suka kalau kamu terlalu posesif," ucap Viona, dulu Galih tidak pernah posesif. Tapi sekarang, laki laki itu berubah entah apa alasannya.
"Kalau gitu, resign dari sekarang. Kerja di kantor mas."
Ini permintaan Galih untuk kesekian kalinya, dan tentunya Viona tidak akan pernah bisa menuruti perintah laki laki itu.
"Maaf, aku enggak bisa." Jawab Viona, sebelum restu orang tua Galih di dapatkan. Viona akan tetap bekerja di tempat lain, mungkin gadis itu akan resign dari restoran milik Alan setelah mendapatkan pekerjaan di tempat lain.
"Kenapa? Alasan apalagi, karena Mama sama Papa belum bisa terima kamu?"
Viona mengangguk, karena memang itu alasannya. "Aku, bakal cari kerja di tempat lain." Final, tidak mau kehilangan Galih setelah perjuangannya selama ini Viona memilih melepaskan pekerjaannya.
Galih tersenyum puas, tidak apa jika kali ini sedikit egois. Ini semua, demi kebaikan mereka berdua.
"Mas akan bantu kamu cari kerja, sekarang kita pulang. Kamu harus istirahat."