Aldo menatap Viona iba, perkara bekal yang kemarin di berikan pada Alan gadis itu harus terpaksa resign dari pekerjaannya. Tapi mau bagaimana lagi, jika Galih bisa memberikan pekerjaan yang lebih baik daripada pekerjaan sebelumnya dan gaji yang lebih besar tentunya.
Tadi pagi, Aldo tidak sengaja mendengar obrolannya dengan Galih saat Viona baru saja masuk ke dapur. Gadis itu berbicara sangat pelan, mungkin takut teman temannya yang lain tahu. Cukup mengejutkan, ia pikir Galih sangat percaya pada Viona mengingat hubungan mereka yang sudah di jalin beberapa tahun. Ternyata apa yang Aldo pikirkan salah, hubungan yang sudah lama tetap bukan tidak percaya pada pasangannya tapi karena memang takut kehilangan. Mungkin, jika dirinya berada di posisi Galih juga akan melakukan hal yang sama.
"Lo serius?" Aldo yang memang sudah dekat dengan Viona merasa tidak rela jika sahabatnya itu harus resign, bagaimana tanggapan Alan jika tahu hal ini?
Viona mengangguk mantap, ini adalah keputusannya. Galih berjanji akan mencarikan pekerjaan untuknya, tapi Viona tidak mau bekerja di perusahaan kekasihnya itu. Hanya menjaga agar orang tua Galih tidak semakin membencinya karena menjadi beban untuk sang anak.
"Serius, Mas Galih enggak pernah main main sama ucapannya. Aku enggak enak sama pak Alan kalau gara gara masalah ini mereka berdua salah paham, aku cuma mau hidup tenang Al. Hidupku udah cukup rumit, dan aku enggak mau jadi alasan dari masalah orang lain." Jawab Viona, setiap orang selalu mempunyai masalah dalam hidupnya sendiri lebih baik mengalah daripada menambah masalah.
Apa yang di katakan Viona tidak sepenuhnya salah, lagipula siapa yang mau menjadi alasan dari masalah orang lain? Tidak ada. Tapi apa harus resign dari pekerjaannya seperti ini? Apa setelah gadis itu resign, tidak akan ada lagi laki laki yang tertarik pada Viona?
Siapa yang tidak akan tertarik dengan gadis cantik seperti sahabatnya ini, selain cantik Viona juga baik. Jika mereka tidak memandang kekayaan seperti yang di lakukan keluarga Galih pasti mereka akan senang bisa mendapatkan Viona.
"Coba lo pikirin sekali lagi Vi."
"Enggak cuma sekali atau dua kali Al, aku udah terlalu sering mikirin ini. Bahkan, sebelum kemarin mas Galih emang udah minta aku resign."
"Alasannya?" tanya Aldo, tidak mungkin jika Galih meminta Viona untuk resign jika tidak ada sebab dan akibat.
Viona menghela nafas sebentar. "Mas Galih enggak tega liat aku setiap hari pulang malam, aku enggak masalah sebenarnya karena emang keadaannya kayak gini. Pernah beberapa kali, mas Galih nyuruh aku kerja di kantor dia sendiri tapi aku enggak mau, kamu pasti tahu kenapa aku nolak padahal gaji disana jauh lebih besar. Bukan perkara gaji, tapi aku enggak mau nambah beban pikirannya. Setiap hari aku bakal ketemu orang tuanya, kalau aku udah dapat restu aku pasti mau. Tapi ini beda, jangankan restu ketemu aku aja mereka enggak mau." Viona tersenyum tipis, kenyataan hubungannya dengan orang tua Galih memang sepahit ini. Jika saja Viona terlahir dari keluarga kaya, mungkin akan sangat mudah mendapatkan restu. Namun, Viona tidak pernah menyesal karena terlahir dari keluarga sederhana. Justru gadis itu bersyukur memiliki seorang ibu yang kuat seperti ibunya.
Penjelasan Viona cukup masuk akal, tidak perlu di ragukan lagi ketulusan gadis ini pada Galih. Aldo hanya berharap, semoga sahabatnya itu secepatnya mendapatkan restu dari orang tua Galih. Jika memang mereka tidak berjodoh, mungkin perjalanan cinta dengan Galih akan memberikan sebuah pelajaran untuk Viona. Cinta memang perlu di perjuangkan, tapi sekuat apapun kita berjuang jika tidak di takdirkan bersama tetap saja akan di pisahkan.
"Gue tau ini berat buat lo, tapi pas gue tau perjuangan lo selama ini bertahan sama Galih cukup besar. Dan kenapa orang tuanya enggak pernah liat perjuangan lo sedikit pun? Apa mereka enggak pernah mikirin kebahagiaan anaknya? Heran gue," apa yang di katakan Aldo memang benar, tapi sekali lagi Viona hanya seorang gadis biasa. Jika mereka selalu mencari pasangan untuk anaknya yang sama sama kaya, Felly adalah pilihan yang tepat.
"Aku pernah mikir gitu Al, tapi emangnya aku siapa? Aku bukan Felly, jadi sampai sini cukup jelas kalau mereka enggak akan pernah bisa terima aku."
"Lo udah tau akhirnya kayak apa, masih mau bertahan? Please Vi, kalau bertahan buat lo sakit jangan terlalu lama lagi. Gue enggak bermaksud nyuruh lo putus sama Galih, tapi gue cuma enggak mau lo selalu di rendahin sama mereka." Aldo mencoba membuka jalan pikiran Viona, takut jika suatu saat nanti perjuangan gadis itu akan berakhir sia sia.
Mendengar ucapan sahabatnya, yang di lakukan Viona hanya tersenyum. Tidak ada yang harus di lepas atau di tinggalkan, Viona dan Galih sudah pernah berjanji untuk tidak pernah meninggalkan apapun yang akan terjadi nantinya. Mereka saling mencintai, saling menguatkan dan yang paling penting mereka saling percaya jika semua akan indah pada waktunya. Orang lain boleh memintanya mundur, tapi Viona tidak akan pernah melakukan hal itu.
"Aku enggak apa apa Al, aku masih bisa bertahan. Aku yakin, semua ini akan berakhir dengan baik. Kalau akhirnya aku harus melepaskan mas Galih untuk yang lain, itu berarti perjuangan kami sudah selesai. Berpisah itu mudah Al, tapi melupakan kenangan yang udah kami lewati enggak semudah itu." Ungkap Viona, tidak ada yang perlu disesali.
Jika yang menjalani sudah memilih bertahan, Aldo tidak bisa berbuat apa-apa.
"Semoga kalian mendapatkan akhir yang bahagia."
--
Viona mengetuk pintu ruangan Alan dengan perasaan cemas, takut jika bosnya bertanya macam macam kenapa dirinya memilih resign padahal tidak ada masalah sebelumnya.
Suara Alan dari dalam ruangan terdengar cukup tenang, setelah mendapat izin masuk ke dalam ruangan bosnya gadis yang sejak tadi berdiri di depan pintu itu akhirnya masuk ke dalam ruangan.
Melangkah pelan tapi pasti, sekarang Viona sudah ada di depan meja Alan. Laki laki itu cukup terkejut, tidak biasanya Viona datang ke ruangannya seperti hari ini.
"Maaf pak, saya ganggu waktunya sebentar." Ucap Viona, gadis itu berusaha untuk tersenyum di hadapan Alan.
Viona memang sudah terbiasa tersenyum di hadapan semua orang, tapi tidak jika sedang bersama Galih. Karena laki laki itu pasti tahu, jika gadisnya sedang berusaha berbohong.
Alan mengangguk, bahkan jika gadis itu mau seharian berada di ruangannya pun tidak menjadi masalah.
"Ada apa Vi?" Sebagai seorang atasan, Alan harus tetap profesional.
"Ada yang perlu saya bicarakan pak,"
"Silahkan." Alan memperhatikan Viona, entah apa hanya dirinya yang menyadari jika gadis di hadapannya itu terlihat gelisah.
"Duduk dulu Vi."
Viona menurut, mungkin mengutarakan keinginannya harus dalam keadaan yang lebih tenang agar semuanya bisa di sampaikan dengan baik.
"Jadi?"
"Saya sebelumnya mau bilang terimakasih banyak atas kebaikan pak Alan selama saya bekerja disini, terimakasih karena sudah memberikan kesempatan saya bekerja disini. Maaf kalau selama ini saya melakukan kesalahan," jujur Viona tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
"To the point Vi." Alan tidak suka jika Viona terlalu berbelit-belit, perasaan Alan mendadak tidak enak. Apa maksud ucapan Viona?
Mencoba untuk tetap tenang, Viona melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti.
"Saya, ingin resign dari restoran ini pak."
Deg
Dunia Alan seolah berhenti saat Viona mengutarakan keinginannya, gadis itu pasti bercanda. Sejauh ini, pekerjaannya baik baik saja tidak pernah ada gosip tentang Viona tapi kenapa?
"Kenapa?" Bahkan, Alan tidak sanggup untuk berbicara banyak pada Viona.
"Maaf pak, untuk alasannya saya tidak bisa menjelaskan semuanya tapi saya mau resign mulai besok." Tidak mungkin jika Alan harus mendengar alasan yang sebenarnya mengapa dirinya harus resign, cukup mengatakan resign dan Alan tidak perlu tahu apa alasannya.
Ingin melarang Viona tapi sadar jika dirinya bukan siapa-siapa, akan terasa aneh jika Alan menahan Viona di sini. Mungkin, gadis itu akan menikah mengingat Galih sudah pasti bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Ada rasa kehilangan saat Viona mengutarakan keinginannya, tapi sekali lagi Alan sangat sadar batasannya. Batasan seorang atasan dan karyawan.
"Apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan baru?" Kemungkinan lain, gadis itu sudah menemukan pekerjaan baru yang gajinya lebih besar. Ayolah, Alan tidak boleh egois. Merelakan Viona pergi dari restoran bukanlah hal yang sulit, lagipula mereka masih bisa berteman setelah ini.
Berteman? Ck, apakah bisa berteman jika sebelumnya salah satu di antara mereka sudah pernah memiliki rasa?
"Sudah pak," bohong, justru Viona akan mengganggur beberapa hari setelah ini. Sampai Galih mendapatkan pekerjaan untuknya.
Viona sendiri belum tahu, nantinya akan bekerja apa dan dimana. Untuk sekarang, menuruti apa yang Galih inginkan terlebih dahulu.
"Kenapa mendadak Vi, bukannya saya melarang kamu untuk resign. Tapi jika kamu langsung resign sebelum saya menemukan pengganti kamu, lalu siapa yang akan menggantikan pekerjaan kamu besok?" Di sisi lain, Alan juga masih membutuhkan tenaga Viona disini sampai mendapatkan penggantian. Karyawan restorannya tidak terlalu banyak, semuanya sudah bekerja di bidangnya masing-masing.
Ini memang mendadak, akan sedikit sulit mencari pengganti dalam waktu dekat. Tapi mau bagaimana lagi? Viona lebih memilih Galih.
"Maaf pak." Sesal Viona, hanya kata maaf yang bisa gadis itu ucapkan.
Alan menyandarkan tubuhnya di kursi, mencoba mencari jalan keluar terbaik tanpa merugikan siapapun.
"Gimana, kalau kamu resign setelah saya mendapatkan pengganti kamu? Cuma tiga hari, kalau dalam waktu tiga hari saya tetap belum mendapatkan pengganti kamu. Saya tidak akan menahan kamu lagi." Tawar Alan, dirinya tidak boleh egois. Viona berhak mendapatkan kebahagiaannya.
Gadis itu tentu saja merasa bimbang dan sekaligus bersalah, jika keputusannya tidak mendadak pasti Alan akan terlebih dulu mencari penggantinya.
Akhirnya Viona mengangguk, membuat Alan sedikit lega dan pasti juga merasa kehilangan. Waktunya bersama Viona hanya tinggal tiga hari lagi, setelah itu Alan akan sangat jarang bertemu gadis pujaannya. Memilih bertahan selama tiga hari bukan hal yang sulit, soal Galih Viona akan menjelaskan pada kekasihnya jika dalam waktu tiga hari lagi Viona akan benar-benar resign dan mengikuti kemauannya.
"Baik pak, saya akan bertahan tiga hari lagi." Ujar Viona, merasa tidak enak jika harus meninggalkan pekerjaannya sebelum mendapatkan pengganti.
"Terimakasih Viona, maaf kalau selama kamu bekerja ada ucapan saya yang buat kamu tersinggung."
"Kalau begitu saya permisi pak."
"Silahkan," Alan mempersilahkan Viona keluar dari ruangannya, dalam waktu tiga hari ke depan Alan akan mencoba menghapus perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
Keluar dari ruangan Alan, Viona di kejutkan dengan Aldo yang sudah menunggunya. Entah sejak kapan, dan apa tujuan laki laki itu.
"Kamu ngapain Al?" Viona menggeleng tidak percaya, apa sejak tadi sahabatnya sengaja berada di dekat pintu agar bisa mendengar pembicaraannya dengan Alan?
Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, jujur Aldo penasaran dengan keputusan yang di pilih Viona.
"Lo jadi resign?" Tanya Aldo, kini mereka sudah duduk di bagian kasir.
Viona mengangguk, lalu mengambil uang untuk di berikan kepada pelanggan yang baru saja membayar makanannya.
"Berarti, hari ini lo terakhir kerja dong?" Tanya Aldo lagi, jiwa keponya selalu ingin di beri penjelasan.
"Enggak, aku masih kerja tiga hari lagi sampai ada yang gantiin aku." Jawab Viona, lalu mengambil gelas yang memang sudah tersedia di atas mejanya. Percakapannya dengan Alan ternyata cukup membuatnya haus.
Aldo mengangguk. "Emang, Galih enggak marah kalau lo masih kerja disini tiga hari lagi?" Aldo memang tidak rela jika sahabatnya tiba tiba memilih resign.
Viona menggeleng, gadis itu juga tidak tahu bagaimana tanggapan Galih jika dirinya harus bertahan selama tiga hari. Mungkin Galih akan dengan mudah mengerti, atau mungkin juga Galih akan kecewa padanya.
"Enggak tau Al, aku belum bilang apa apa ke mas Galih. Kalau dia marah, yaudah aku enggak jadi resign aja. Aku udah berusaha nurutin kemauan mas Galih, tapi kalau dia enggak bisa ngerti ya gimana lagi." Jawab Viona pasrah, semoga Galih bisa mengerti keadaan Viona sekarang.
"Sabar ya Vi, gue enggak bisa bantu banyak."
"Iya Al, aku enggak apa apa kok." Lalu keduanya kembali bekerja, Viona akan memanfaatkan waktunya untuk bekerja dengan baik.
--
"Ngapain kamu kesini?"
Galih menatap gadis di hadapannya itu dengan sorot mata yang tajam, kehadirannya di kantor hanya akan menambah beban pikirannya. Walaupun Galih yakin, yang meminta gadis itu datang adalah orang tuanya tapi tetap saja Galih tidak suka.
"Pengen ketemu kamu." Jawab Felly santai, hari ini Felly mendapatkan shift malam jadi gadis itu menyempatkan waktu untuk bertemu calon tunangannya. Sadar akan penolakan yang Galih tunjukan, Felly sudah mulai terbiasa dengan sikap laki laki itu.
Mendengar jawaban Felly, membuat Galih menghela nafas berat. Sepertinya, orang tua Felly juga sudah tidak memiliki waktu untuk berfikir. Padahal Galih secara terang-terangan menolak perjodohan ini, tapi mereka tetap kekeh melanjutkan perjodohannya.
"Aku enggak ada waktu," sela Galih.
Felly tersenyum maklum, calon tunangannya memang memiliki kesibukan yang luar biasa. Dan itu alasan Felly datang kesini, karena hari ini Felly memiliki waktu luang.
"Karena kamu enggak punya waktu, makanya aku yang datang kesini. Aku bakalan temenin kamu sampe sore kalau kamu mau,"
"Enggak, lebih baik kamu pulang."
"Kenapa?"
"Aku enggak mau di ganggu, dan ingat Fel kita enggak akan bertunangan sampai kapanpun." Tegas Galih, perlu berapa kali dirinya memberitahu bahwa pertunangan mereka berdua tidak akan pernah terjadi. Tapi Felly juga tidak pernah mau mengerti, hal semacam ini membuat Galih semakin malas menghadapi gadis itu.
"Semakin kamu nolak aku, di saat yang sama aku akan ngejar kamu Galih. Aku enggak peduli kalau kamu enggak cinta aku, karena aku tahu kamu cuma cinta sama Viona."