Hari sudah mulai sore, Galih sudah menyelesaikan pekerjaannya. Kini tujuannya ingin menjemput Viona, gadis itu pasti sudah mengatakan pada Alan bahwa hari ini terakhir bekerja disana. Kebetulan, Galih memiliki teman yang sedang membutuhkan karyawan baru untuk bekerja di butiknya. Bekerja disana, Galih akan merasa lebih tenang. Tidak akan ada gangguan dari Alan, laki laki itu pasti terkejut saat Viona resign.
"Kamu udah selesai?"
Galih menghela nafas panjang, bahkan dirinya sampai lupa jika masih ada Felly disini. Terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaannya, hingga lupa jika ada perempuan yang sejak tadi pagi menunggunya. Apa Felly tidak bosan?
"Hm, pulang sana. Aku mau jemput Viona."
"Anterin aku dulu ya ke rumah sakit, aku enggak bawa mobil soalnya." Pinta Felly, gadis itu memang sengaja tidak membawa mobil karena ingin di antarkan oleh Galih. Laki laki yang di gadang gadang sebagai calon tunangannya.
"Enggak bisa, kamu pulang sendiri." Tolak Galih, mana mau dirinya repot repot mengantarkan Felly pulang.
Felly berdecak lirih, sulit sekali ternyata membujuk Galih. "Sekali aja kenapa sih? Anterin aku sekali aja." Felly tidak akan mudah menyerah sebelum mendapatkan apa yang di inginkan.
"Aku enggak minta kamu kesini, jadi kamu pulang sendiri. Jangan manja!" Tegas Galih, seharusnya gadis itu tau diri.
Seulas senyum licik muncul dari wajah cantik Felly. "Secara enggak langsung, kamu bilang Viona manja."
Sorot mata Galih berubah tajam saat mendengar Felly mengatakan Viona manja.
"Asal kamu tahu, aku jemput Viona tanpa di minta. Karena aku enggak mau dia kenapa-kenapa, kalau kamu sih terserah aku enggak peduli."
"Jahat." Ujar Felly, memang apa kelebihan Viona di banding dirinya?
Galih tersenyum sinis, dirinya tidak jahat sama sekali. Namun, Galih tidak suka jika ketenangannya di ganggu oleh Felly.
"Cepat pulang Fell." Ucap Galih dengan nada serius, kenapa gadis itu sangat keras kepala? Menyebalkan!
Felly menyilangkan kedua tangannya di d**a, bagaimana agar Galih mau mengantarkannya pulang? Jangan sampai, usahanya sejak pagi tidak membuahkan hasil.
"Enggak mau, aku mau kamu anterin aku dulu baru aku pulang."
"Keras kepala, terserah ya kamu mau pulang apa enggak. Bukan urusan saya, tapi awas kalau kamu mengadu pada orang tuamu dan mengarang cerita. Saya bisa berbuat apapun yang saya suka." Ucap Galih, lalu pergi meninggalkan Felly yang tetap kekeh tidak mau pulang.
Galih keluar dari ruangannya, tadi pagi Galih sudah memberitahu bahwa dirinya akan menjemput Viona. Gadis itu pasti sudah menunggunya. Baru saja Galih akan membuka pintu mobilnya, Felly sudah berada di sampingnya hendak ikut masuk kedalam mobil tapi Galih tahan. Ya Tuhan, si gadis keras kepala sepertinya tidak mengerti jika Galih tidak bisa di bantah.
"Mau apa kamu?"
Bukannya takut, Felly malah tersenyum lebar. "Ikut pulang, kan aku pengen pulang bareng kamu." Jawab Felly santai, gadis itu lalu masuk kedalam mobil.
Ck, jika harus mengantarkan Felly terlebih dahulu berarti harus membuat gadisnya menunggu. Setelah mendapatkan cara untuk menghindari Felly, laki laki itu meraih ponselnya yang ada di saku celana lalu menelvon seseorang.
Gadis itu tidak curiga, buktinya masih diam saja di dalam mobil. Sampai datang seorang supir pribadi Galih, biarkan saja supir itu yang akan mengantarkan Felly. Sementara dirinya akan mencari taksi untuk menjemput Viona.
"Antar gadis gila itu ke rumah sakit, saya bisa pesan taksi." Titah Galih, lalu menyerahkan kunci mobilnya pada supir pribadinya.
Supir itu mengangguk patuh, mana mungkin menolak perintah bossnya. Apalagi, mengantarkan gadis cantik seperti Felly. Kesempatan yang tidak akan datang kedua kali.
"Antarkan Felly ke rumah sakit, pastikan gadis itu sampai rumah sakit dalam keadaan baik baik saja." Walaupun sikapnya kepada Felly begitu dingin, tapi Galih tidak sampai hati melihat gadis itu dalam bahaya. Peduli pada Felly, bukan berarti Galih mulai membuka hati untuk gadis itu.
Felly yang sudah berada di dalam mobil tetap setia menunggu Galih, tapi raut wajahnya berubah saat supir pribadi Galih yang masuk.
Dengan cepat, Felly membuka kaca mobilnya.
"Loh Galih, kita mau duduk di kursi belakang ya kok kamu pakai supir?" tanya Felly gadis itu tidak menyadari jika mobilnya sudah mulai berjalan.
Galih menggeleng pelan. " Aku pesan taksi." Jawaban dari Galih tentu saja mengejutkan Felly, hendak turun tiba tiba mobilnya sudah melaju meninggalkan Galih yang masih berdiri di parkiran.
Gagal lagi, Felly tersenyum hambar. Harus dengan cara apa dirinya mendapatkan perhatian dari Galih? Cantik, kaya dan bergelar. Itu semua ada pada diri Felly, jika menikah dengan Felly sudah pasti mereka langsung mendapatkan restu.
"Berhenti di depan pak, saya bisa cari taksi." Untuk apa di antarkan oleh orang lain, yang Felly inginkan hanya Galih.
Supir itu menoleh, tidak mungkin menurunkan teman bosnya di jalan.
"Maaf mbak, saya akan antarkan sampai rumah sakit."
Felly menghela nafas berat, beruntung sekali Viona bisa selalu di jemput Galih. Gadis itu terlalu sederhana untuk bersanding dengan Galih, tapi nyatanya bersama Viona Galih menjadi orang yang sangat hangat. Sangat berbeda jika bersama dirinya.
--
Galih sampai di tempat kerja Viona, ralat yang benar adalah tempat kerja Viona yang terakhir kalinya karena setelah ini gadisnya tidak akan kembali lagi ke tempat ini.
Setelah melihat Viona keluar dari restoran bersama Aldo, Galih langsung ikut keluar dari mobil. Seharian tanpa kabar, dirinya sudah sangat merindukan Viona. Pastinya mereka juga sama sama merindukan.
"Eh mas Galih, mau jemput gue ya?" Aldo memang cukup akrab dengan Galih, sebelum mereka berpacaran Aldo terlebih dahulu mencari informasi tentang Galih. Apakah laki laki itu tulus pada Viona atau tidak, dan ternyata Galih bisa menerima Viona dengan tulus.
"Males, gue kesini jemput calon istri." Jawab Galih sambil membuka pintu mobilnya, setelah itu Viona masuk kedalam mobil.
Aldo berdecak kagum, pasangan ini terlalu sayang jika tidak secepatnya mendapatkan restu dari orang tua Galih. Aldo hanya berharap semoga mereka selalu bersama.
"Vi, kok lo masuk sih. Tega lo, harusnya lo ajak gue dong." Cibir Aldo, padahal laki laki itu selalu membawa motor kesayangannya.
Viona hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya. "Males ah, nanti kamu iri liat aku sama mas Galih pacaran." Ejek Viona, berusaha untuk tidak gugup jika nanti Galih bertanya bagaimana tanggapan Alan saat dirinya ingin resign.
"Jahat lo, ngambek gue. Awas ya, gue tikung mas Galih dari lo."
Viona tertawa, tentu saja Aldo tidak akan bisa merebut Galih darinya karena mereka sama sama lelaki.
"Udah Al, gue mau pacaran dulu sama Viona. Makanya cari pacar, biar hidup lo enggak ngenes ngenes banget." Sahut Galih dari dalam mobil, lalu menyalakan mobilnya.
"Sorry ya mas, walaupun gue jomblo yang ngantri banyak." Bela Aldo, tidak ada sejarahnya Aldo merasa kesepian walaupun menjadi jomblo.
"Terserah lo, yaudah gue sama Viona duluan." Pamit Galih.
"Aku duluan ya Al, kamu hati hati."
Aldo mengangguk, lalu mengambil kunci motornya yang berada di dalam tas.
"Kalian juga hati hati, awas kebablasan."
Galih mulai menjalankan mobilnya, tidak ada tujuan lain selain mengantarkan Viona pulang. Hari ini memang Viona bisa pulang lebih cepat dan itu akan di manfaatkan Galih agar lebih lama bersama Viona.
"Gimana?"
Deg
Viona tidak tahu harus mengatakan apa pada Galih, apa Galih akan marah jika tau Viona masih harus bertahan selama tiga hari lagi?
"Sayang, kok ngelamun. Ada masalah?" Tanya Galih, sambil meraih tangan Viona. Di genggam erat tangan lembut kekasihnya.
"Aku udah bilang ke pak Alan, tapi aku harus nunggu tiga hari lagi karena belum ada penggantinya mas. Kamu marah sama keputusan yang aku ambil, cuma tiga hari kok. Setelah itu aku beneran resign."
Galih menghela nafas, ini pasti cara Alan untuk menahan Viona disana.
"Mas enggak marah, kamu jangan khawatir."