Sebuah pengharapan

1041 Kata
Viona menatap ragu kekasihnya, tidak mungkin jika Galih tidak marah. Oke, mungkin memang benar Galih bisa mengendalikan amarahnya tapi pasti ada rasa kecewa walaupun hanya sedikit. Jalanan masih sepi, Viona mengeratkan genggaman tangannya pada Galih. Membuat laki laki itu tersenyum kearahnya. "Kenapa sayang? Mau sesuatu?" tanya Galih, pasti Viona merasa bersalah dan Galih bisa melihatnya hanya dari raut wajah gadis itu. Viona menggeleng, tidak menginginkan apapun selain Galih yang selalu bersamanya. "Jangan marah ya, aku takut kamu marah terus pergi dari aku." Ungkap Viona, rasanya begitu menakutkan membayangkan laki laki yang selama ini sudah bersamanya akan pergi meninggalkan dirinya karena sebuah kesalahan atau karena sebuah paksaan. Galih tersenyum, mana mungkin dirinya bisa hidup tanpa Viona. Gadis itu adalah segalanya bagi Galih setelah kedua orang tuanya. Tidak ada yang akan bisa menggantikan Viona, hidup tanpa gadis itu adalah sebuah kemustahilan bagi Galih. Mereka berdua sudah saling menyayangi, cinta mereka murni karena memang sayang bukan karena adanya maksud lain. "Enggak Vi, semarah apapun mas sama kamu. Mas, enggak akan pernah ninggalin kamu." Ucap Galih. Dirinya pernah berjanji untuk tidak pernah meninggalkan Viona, kecuali takdir berkata lain. Viona merasa lega. "Kamu udah makan?" Mereka sebentar lagi sampai di rumah Viona. Galih menggeleng, tidak sempat memikirkan makan disaat pekerjaannya banyak. "Belum Vi," jawab Galih. "Mampir ke rumah dulu ya. Aku mau masakin kamu." "Enggak enak sama ibu." "Ibu di kamar biasanya, aku selalu minta ibu buat istirahat. Enggak boleh kecapekan," apa yang di katakan Viona memang benar, sang ibu akan kelelahan jika terlalu banyak melakukan kegiatan. Mungkin karena faktor usia juga, dan Viona meminta ibunya untuk istirahat. Agar penyakitnya tidak kambuh lagi. Karena Galih juga merasa lapar, laki laki itu dengan senang hati mengangguk. Kebetulan mereka juga sudah sampai, seperti biasa Galih selalu keluar mobil lebih dulu untuk membukakan pintu mobil Viona. "Seharusnya kamu enggak perlu kayak gini mas, aku bisa buka pintunya sendiri." Ujar Viona setelah keluar dari mobil, kebiasaan Galih yang satu ini membuatnya merasa begitu di hargai. Galih merapikan rambut Viona, melakukan hal ini sangat menyenangkan. Bisa melihat senyum Viona dari dekat adalah sesuatu yang Galih sukai. "Enggak apa apa, mas suka kok." Malas berdebat, akhirnya mereka jalan beriringan memasuki rumah sederhana milik Viona. Rumah yang beberapa hari yang lalu pernah di anggap gudang oleh Bu Farah, padahal di rumah ini Viona selalu mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. "Ibu mana?" Tanya Galih, seperti berada di rumahnya sendiri saat datang yang pertama kali di cari adalah calon mertuanya. "Kamu duduk dulu, aku coba ke kamar ibu." Galih menurut, laki laki itu duduk di sofa ruang tamu sembari menunggu gadisnya dan calon mertuanya keluar. Namun, hanya Viona yang keluar dari kamar mungkin sang ibu sedang istirahat. "Ibu masih tidur, nanti aja ya aku bangunin kalau aku udah selesai masak. Kamu disini aja, kalau ikut ke dapur pasti ganggu aku masak." "Mas bisa bantu kamu masak," bantah Galih, padahal laki laki itu hanya akan menjahili Viona saja. Dengan cepat, Viona menggeleng. Sangat tidak setuju jika Galih ikut ke dapur untuk membantunya memasak. "Enggak, pokoknya kamu duduk aja disini." "Bosen yang," rengek Galih. Melihat tingkah laki laki itu Viona hanya mampu menghela nafasnya, inilah sisi lain seorang Galih. Yang selalu terlihat dingin, saat bertemu perempuan lain tapi akan berubah sifatnya saat bertemu Viona. "Diem disini, aku mau ganti baju dulu." Baru saja Viona melangkah ke kamar, suara Galih membuatnya melotot tajam mendengar ucapan laki laki itu. "Boleh ikut kan?" Tanya Galih dengan menampilkan senyum polos dan wajah tanpa dosa sedikitpun, seolah mereka sering melakukan hal itu padahal tidak pernah sekalipun. Viona menoleh, sorot matanya sangat jelas jika gadis itu tidak mau menuruti keinginan Galih. "Mas, jaga ya ucapannya!" Sementara itu, Galih malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena melihat ekspresi Viona yang tidak terduga. Padahal Galih hanya bercanda, kenalan gadisnya terlalu serius. "Hehe, bercanda sayang. Iya iya, enggak ikut. Udah sana, kamu masak. Mas udah laper," Tanpa mengatakan apapun, Viona masuk ke dalam kamarnya dan tidak lupa juga menutup pintu. Tidak membutuhkan waktu lama, Viona sudah keluar dari kamarnya. Lalu menuju dapur, sore ini Viona hanya akan memasak capcay dan ayam goreng. Bagi mereka ini sudah cukup mewah, tapi jika di bandingkan dengan makanan di rumah Galih pasti akan menjadi ejekan Bu Farah. Orang kaya memang berbeda, sesekali Viona memang pernah membelikan makanan mewah untuk sang ibu tapi hanya setelah gadis itu gajian. Yang artinya hanya satu bulan sekali, tidak masalah Viona tetap merasa bersyukur. Bersyukur karena masih bisa makan dengan hasil jerih payahnya sendiri, dan mereka masih mempunyai tempat tinggal. Saat Viona tengah memasak, Galih yang sudah bosan menunggu akhirnya menyusul ke dapur. Jika sedang memasak, entahlah kecantikan Viona semakin bertambah. Galih merasa sudah beristri jika seperti ini, bahagia itu sederhana. Cukup bersama Viona, mereka merasa bahagia. Galih berjalan pelan mendekati gadis itu, setelah berada tepat di belakang Viona kedua tangannya melingkar di pinggang ramping gadis itu. Viona cukup terkejut dengan perlakuan Galih, tapi dengan cepat Galih mengeratkan pelukannya dari belakang. "Mas mau kayak gini setiap hari sama kamu," ucap Galih, tentu saja Viona mengerti maksud ucapan kekasihnya. Galih akan melakukan hal ini setiap hari setelah mereka menikah tentunya, bicara soal pernikahan nyatanya selalu berhasil membuatnya merasa sesak. Bagaimana mereka bisa menikah sebelum mendapatkan restu? Dan bagaimana jika setelah perjuangan yang akan mereka lewati tetap saja mereka tidak mendapatkan restu? Apa mereka akan langsung menyerah? "Berdoa aja, semoga kita secepatnya mendapatkan restu mas." Ucap Viona penuh harap, walaupun mereka tidak pernah tahu akan berakhir seperti apa tapi mereka yakin usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. "Kamu lanjut masak, mas bakalan peluk kamu gini terus sampai kamu selesai masak." "Yang ada aku malah lama masaknya mas," geram Viona, ini akan semakin lama jika Galih terus memeluknya. Ck dasar, sepertinya Galih sengaja memanfaatkan keadaannya yang sedang memasak. Galih tertawa lalu melepaskan pelukannya dengan berat hati, daripada Viona marah padanya. "Enggak boleh galak galak sama suami yang, enggak baik." Cup Dengan cepat, Galih kembali ke ruang tamu setelah mencium pipi Viona. Gadis itu merasakan debaran yang tidak biasa, hubungan mereka memang cukup lama tapi ciuman seperti ini sangatlah jarang atau bisa di katakan tidak pernah terjadi. Hanya waktu tertentu, setelah Galih kembali ke ruang tamu akhirnya Viona bisa melanjutkan kegiatan memasaknya. "Aku berharap, sebuah restu memang akan kita dapatkan. Bukan hanya sekedar angan, tapi menjadi sebuah kenyataan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN