"Ibu, bangun yuk. Aku udah masak, ada mas Galih juga di rumah. Makan dulu, ibu belum minum obat." Dengan sabar, Viona membangunkan ibunya yang masih tidur.
Perlahan kedua matanya terbuka, Bu Sarah melihat anak gadisnya sudah ada di sampingnya. Bu Sarah tersenyum, ternyata Viona sudah pulang.
"Ada Galih?"
Viona mengangguk, pasti ibunya sangat senang karena bertemu kekasihnya. Sudah lama mereka tidak bertemu, setiap Galih mengantarkannya pulang sang ibu pasti sudah tertidur.
Bu Sarah menghela nafas sebentar, mencoba untuk tetap tenang. Ingatannya kembali pada kejadian itu, dimana dirinya dan Viona di rendahkan karena beda kasta.
"Ayo keluar, pasti Galih udah nunggu." Ajak Bu Sarah, apapun masalahnya harus di bicarakan baik baik.
Mereka berdua keluar dari kamar, berjalan menuju dapur. Pasti Galih sudah menunggunya, dan benar saja saat melihat dua perempuan beda generasi itu Galih langsung tersenyum begitu lega karena ternyata calon mertuanya baik baik saja.
"Maaf ya Bu, Galih malah minta makan disini. Soalnya kangen masakan Viona," Galih memulai pembicaraan, Bu Sarah hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan kekasih sang anak. Laki laki ini begitu baik dan sopan, apa dirinya tega melihat kesedihan pada Galih? Tapi jika Bu Farah tega pada Viona, kenapa dirinya harus memikirkan bagaimana perasaan Galih? Sementara Viona selalu menerima hinaan setiap bertemu orang tua kekasihnya.
"Ayo makan, pasti kalian udah lapar."
Mereka berdua sama sama mengangguk, lalu Viona mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk sang ibu. Setelah itu, Galih memberikan kode pada Viona untuk mengambilkannya makan juga. Karena paham kemauan Galih, Viona juga mengambilkan makan untuk laki laki manja itu. Melihat Viona menuruti keinginannya, Galih tersenyum puas jika sudah seperti ini mereka seperti sepasang suami istri. Ya, walaupun mereka belum menikah anggap saja ini latihan sebelum pernikahan terjadi.
"Maaf ya nak Galih, makanannya sederhana." Ucap bu Sarah, setelah menyelesaikan makannya.
Galih mengangguk, ini tidak menjadi masalah besar. Asal yang memasak Viona apapun itu akan Galih terima, bahkan masakan yang sederhana jika bersama orang yang kita sayangi akan terasa istimewa menurut Galih. Namun, Galih sadar apa yang ada disini tidak sesuai dengan keinginan orang tuanya dan Galih tentu tidak peduli hal itu. Mereka hanya menginginkan uang bukan kebahagiaan anaknya.
"Masakannya enak Bu, Galih suka." Puji Galih, lalu menatap gadisnya yang tengah tersenyum mendengar pujiannya. Apa yang Galih katakan tulus, tidak semata-mata ingin menyenangkan hati Viona saja.
Setelah selesai makan, seperti biasa Viona segera membereskan perlengkapan makannya. Gadis itu langsung mencuci alat makan yang baru saja di gunakan.
"Ibu sama mas Galih di ruang tamu aja, aku mau beres beres dulu."
Mereka berdua mengangguk, tidak mau menganggu Viona. Bu Sarah berjalan terlebih dahulu lalu di ikuti oleh Galih, ini adalah kesempatan untuknya berbicara berdua dengan Galih sembari menunggu anak gadisnya.
"Nak Galih, ibu mau bicara sama kamu." Ucap Bu Sarah, tidak mau menunda kesempatan apa yang dikatakan ibu dari kekasihnya anaknya memang benar mereka sangat tidak pantas. Sebagai seorang ibu, rasanya tidak rela melihat anaknya selalu di rendahkan orang lain. Walaupun mereka saling mencintai, tapi mereka tidak akan pernah mendapatkan restu. Sebuah hubungan jika tidak mendapatkan restu tentu saja akan selalu ada rintangan yang lebih berat.
Galih tersenyum menutupi rasa penasarannya, sepertinya ini akan menjadi pembahasan yang cukup serius. Galih berharap, Viona tidak muncul dalam waktu yang cepat.
"Ibu mau ngomong apa, ngomong aja sama Galih bu." Balas Galih, mungkin ada hal penting yang memang harus di sampaikan.
"Apa kamu bisa putuskan hubungan dengan Viona?"
Deg
Senyuman Galih perlahan memudar, tidak menyangka jika calon mertuanya meminta hal yang tidak mungkin Galih lakukan. Memutuskan hubungan yang sudah lama terjalin, meninggalkan gadis yang selama ini Galih perjuangkan. Perjuangan mereka akan menjadi sia sia jika menuruti keinginan Bu Sarah, Galih menghela nafas sebentar ini pasti ada sesuatu hal yang sudah terjadi tapi Viona belum mengetahuinya. Jika gadis itu mengetahui sesuatu, pasti akan bercerita padalakukan.
"Apa Galih ada salah?" tanya Galih, kesalahan memang terjadi dan siapapun bisa melakukan kesalahan termasuk dirinya. Namun, mengakhiri sebuah hubungan karena kesalahan bukan solusi yang tepat. Kesalahan harus di perbaiki, bukan malah diakhiri.
Perempuan paruh baya itu menggeleng, sejauh ini Galih tidak pernah melakukan kesalahan yang fatal. Bu Sarah tahu betul, hubungan Galih dan Viona berjalan dengan semestinya. Mereka selalu menjauhi apa yang seharusnya tidak boleh di lakukan, Galih sangat menjaga anaknya.
"Kamu enggak pernah melakukan kesalahan nak, tapi kalian harus berpisah." Rasanya sangat menyakitkan melihat anaknya harus terpisah dari orang yang paling berharga dalam hidupnya, tapi bukankah menjaga nama baik keluarga dan tetap mempertahankan harga diri juga sangat penting? Semua itu di lakukan demi kebaikan Viona, Galih akan mendapatkan pengganti Viona dalam waktu singkat sementara sang anak harus menyembuhkan lukanya sendiri.
Ini jelas sangat tidak masuk akal, memintanya untuk memutuskan hubungan dengan Viona tapi Galih tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Tentu saja Galih tidak akan pernah mau melakukan hal ini, jika Galih menuruti perintah Bu Sarah bukan hanya Viona yang terluka tapi dirinya sendiri juga akan tersakiti. Selama ini, mereka sudah cukup bahagia dengan hubungannya walaupun masih menunggu restu dari orang tuanya. Mereka tidak pernah menyerah, karena ada janji yang harus mereka tepati. Janji untuk selalu bersama, dan tidak akan pernah saling meninggalkan.
"Maaf, tapi Galih enggak bisa." Tolak Galih langsung, apapun resikonya akan Galih hadapi. Menyerah bukan pilihan yang tsendiri.
"Ibu enggak minta yang lain nak, ibu cuma minta kamu pergi dari kehidupan Viona. Kalian memang ditakdirkan untuk bertemu, tapi kalian tidak di takdirkan untuk bersama."
Rasanya begitu sakit saat mendengar ucapan bu Sarah yang terakhir, kenapa jadi seperti ini? Padahal, dulu bu Sarah tidak pernah melarangnya untuk bersama Viona tapi sekarang perempuan paruh baya itu secara terang-terangan memintanya untuk menjauhi Viona dengan alasan takdir. Memang siapa yang bisa melihat takdir seseorang? Bukankah mereka hanya perlu berusaha, berusaha untuk tetap bertahan di tengah rintangan yang akan mereka hadapi.
"Kita enggak bisa menentukan takdir Bu, kita hanya bisa berusaha. Berusaha untuk melakukan yang terbaik, dan tidak pernah menyakiti satu sama lain."
"Tapi kalau kamu dan Viona masih bersama, tentu kalian berdua yang paling tersakiti." Ucap Bu Sarah, biarlah kali ini dirinya di anggap jahat tapi ini demi kebaikan mereka berdua. Tidak ada seorang pun yang ingin menyakiti hati sang anak, melihat anaknya selalu di hina oleh orang lain apalagi keluarga Galih perihal harta tentu saja bu Sarah tidak terima. Mereka memang miskin, tapi mereka tidak pernah mengincar harta Galih seperti apa yang Bu Farah katakan.
"Saya akan kasih kalian uang, setelah itu kalian harus pergi dari kota ini. Kalian boleh minta berapapun, asal jangan pernah kembali pada Galih. Viona tidak pantas dengan Galih, saya tidak akan pernah setuju." Bu Farah mengeluarkan cek dari dalam tasnya, meletakkan cek itu di atas meja.
Bu Farah terlalu membanggakan harta keluarganya, sampai mempunyai pemikiran bahwa cinta Viona akan bisa di gantikan dengan uang dan aset lainnya. Padahal, Viona tidak pernah menginginkan itu semua.
"Berapapun uang yang akan Bu Farah berikan, tidak akan pernah bisa membuat Viona menjauh dari Galih." Balas Bu Sarah, harga diri anaknya sedang di tawar dengan uang. Mereka memang miskin, tapi keluarga Galih sudah sangat keterlaluan.
Bu Farah tersenyum sinis, menurutnya perempuan yang ada di hadapannya itu terlalu sombong. Merasa tidak membutuhkan uang, padahal rumahnya sudah tidak layak untuk di huni.
"Kamu bisa ambil cek itu, dan tulis berapa jumlah uang yang kamu inginkan. Lumayan bisa beli rumah yang lebih layak, kamu bisa lihat sendiri kan? Rumah kalian seperti gudang, sudah tidak layak untuk di tempati. Jangan terlalu munafik sampai menolak uang yang kami berikan secara cuma cuma, Viona bekerja seumur hidup tidak akan pernah bisa membangun rumah seperti yang kami punya." Ejek bu Farah, perempuan itu terlihat bahagia saat menghina keluarga Viona.
"Walaupun kami miskin, kami tidak pernah meminta uang pada orang lain. Walaupun rumah kami seperti gudang, tapi ini rumah kami sendiri. Kami bersyukur karena kami tidak tinggal di jalanan, berhenti merendahkan harga diri kami. Roda kehidupan itu berputar, jangan terlalu bangga dengan kekayaan yang kalian miliki."
"Tentu kami bangga, karena bagi kami harta adalah segalanya. Segalanya butuh uang."
Ingatannya kembali pada beberapa hari yang lalu, ibu Galih secara terang-terangan menghina dirinya dan Viona. Inilah alasan kenapa Bu Sarah meminta Galih untuk melepaskan Viona selamanya, mereka akan sama sama tersakiti jika masih bersama. Hubungan yang di paksakan, tidak akan pernah berakhir dengan baik.
"Jauhi Viona ya nak, terimakasih karena sudah menjaga dan menyayangi anak ibu. Kalau kamu masih mau berteman sama Viona enggak apa apa, tapi tolong lepaskan Viona. Semakin cepat kamu mengakhiri semuanya, maka luka yang kalian rasakan selama ini akan lenyap. Ibu tahu, ini akan terasa menyakitkan tapi lama lama kalain akan terbiasa." Pinta Bu Sarah, mereka berdua tidak boleh bersama.
"Maaf, Galih enggak bisa. Galih cinta sama Viona dan sebaliknya Viona juga cinta sama Galih. Bukannya sejak awal ibu selalu mendukung hubungan kami? Lalu kenapa baru sekarang ibu meminta saya melepaskan Viona, di saat kami tengah berjuang mendapatkan restu dari orang tua Galih? Kenapa Bu?" Tanya Galih, rasa penasarannya sangat kuat. Pasti ada alasan kenapa Bu Sarah melakukan itu semua.
Bu Sarah menatap Galih sebentar, merasa kasihan sekaligus terharu melihat ketulusannya pada Viona.
"Karena sesuatu yang di paksakan tidak baik nak, akhiri saja. Lagipula kamu akan di jodohkan dengan seorang dokter, pertunangan kalian akan secepatnya di lakukan. Ini akan semakin menyakiti Viona kalau tahu, laki laki yang di cintainya bertunangan dengan gadis lain. Perempuan itu lebih pantas bersanding dengan kamu, ibu yakin kamu akan bisa menerima semuanya."