Obrolannya dengan Bu Sarah membuat Galih semakin tidak tenang, jika masalah pertunangannya sudah di ketahui orang tua Viona ini pasti menjadi alasan kenapa dirinya diminta untuk menjauhi gadis itu. Hal yang tidak bisa Galih penuhi, menjauh dan melepaskan Viona dari kehidupannya adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Galih mengacak rambutnya frustasi, semua semakin rumit. Masalah perjodohan tidak kunjung selesai, bukannya selesai orang tuanya sudah menentukan tanggal pertunangannya dengan Felly.
Galih berhenti di sebuah club, ini pertama kali dalam hidupnya datang ke tempat ini. Sekacau apapun Galih, biasanya tidak sampai datang ke tempat ini. Namun, malam ini Galih butuh ketenangan walau hanya sesaat.
Pelan tapi pasti, Galih melangkahkan kakinya masuk menuju bar. Meminta dua botol minuman yang mengandung alkohol, setelah mendapat apa yang di inginkan Galih langsung membayarnya dan keluar dari club. Tidak mau terlalu lama berada di tempat itu, tapi langkah Galih terhenti saat sebuah tangan mencekal lengannya.
Galih menoleh, mendapati seorang perempuan berpakaian seksi menatap dirinya.
"Buru buru banget, mau aku temenin minum enggak?"
Galih menyentak tangan perempuan itu, tujuannya kesini sudah selesai tidak ada rencana untuk mencari teman.
"Jangan sentuh gue!" Malas menanggapi rayuan perempuan itu, Galih melanjutkan langkahnya menuju mobil.
Masuk kedalam mobil Galih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak ada tujuan. Sebelum pulang ke rumah, minuman ini harus habis terlebih dahulu. Dirasa menemukan jalan yang cukup sepi, Galih menghentikan mobilnya. Meraih satu botol tersebut, lalu membukanya.
Glek
Galih menandaskan satu botol tanpa tersisa, nafasnya tersengal saat mengingat beberapa kejadian yang sudah terjadi akhir-akhir ini. Di paksa kuat oleh keadaan, dan di minta mundur oleh kenyataan.
"Apa kita emang enggak bisa bersama lagi Vi, mas capek sama semuanya. Apa kamu juga akan nyerah?" Racau Galih, kini tangannya meraih botol kedua.
Hampir tiga puluh menit, Galih sudah menghabiskan tiga botol minuman yang tadi ia beli dari club.
Galih mabuk. Ini semua terpaksa dilakukan untuk melupakan masalahnya.
Drtt drtt drt
Dengan malas, tangan Galih mencari cari keberadaan ponselnya.
"Hallo."
"Mas kamu dimana? Udah sampe rumah kan?" suara Viona terdengar begitu khawatir. Biasanya jika sudah sampai di rumah Galih selalu menelvonnya, atau hanya sekedar mengirimkan pesan. Tapi malam ini, Viona tidak bisa tidur karena memikirkan laki laki itu yang tidak ada kabar sama sekali.
"Mas lagi di jalan." Jawab Galih, tidak mau berbohong pada gadisnya. Karena Viona tidak mau ada kebohongan diantara mereka, sekali saja Galih berbohong gadis itu akan terus mengingatnya.
"Kamu kemana aja? Seharusnya kamu udah di rumah." Viona tidak mengerti maksud Galih, apa laki laki itu ada keperluan mendadak sehingga mengharuskannya pulang malam. Jika memang benar, seharusnya tadi Galih tidak menjemputnya.
"Mas ada keperluan dulu, maaf ya enggak sempat ngabarin. Tumben belum tidur hm?" tanya Galih, cepat cepat laki laki itu mengalihkan pembicaraan agar Viona tidak bertanya terlalu jauh dan juga agar Galih tidak perlu mencari cari alasan.
Setiap melakukan kesalahan, Galih selalu berusaha mengalihkan pembicaraan. Tapi Viona mengenal Galih tidak hanya satu bulan atau dua bulan, gadis itu sudah hafal dengan segala sikap kekasihnya yang mencurigakan.
"Aku enggak bisa tidur karena nunggu kamu ngabarin aku, kamu ada keperluan apa sampai jam segini? Penting banget emangnya?"
"Em, aku." Galih tidak tahu harus mengatakan apa pada Viona, gadis itu pasti tahu jika dirinya sedang berbohong.
"Kamu pasti bohong kan? Yaudah, kalau emang sekarang lebih milih bohong daripada jujur sama aku. Tapi kalau suatu saat nanti aku bohong sama kamu, jangan pernah tanya kenapa aku bohong. Yang perlu kamu ingat, semua itu belajar dari kamu."
Bip
Viona mematikan sambungan teleponnya, kecewa saat Galih mulai tidak jujur padanya. Ia pikir, setelah menjalin hubungan bertahun tahun membuat mereka saling terbuka. Ternyata Viona salah, hanya dirinya yang selalu terbuka pada Galih tapi laki laki itu tidak.
Yang lebih mengecewakan lagi adalah di saat orang yang sudah berani untuk berbohong tidak ada usaha untuk menjelaskan apapun, Galih tidak menelvonnya lagi. Terlanjur kesal, Viona mematikan ponselnya. Lebih baik tidur karena besok masih harus bekerja, tiga hari lagi Viona harus terpaksa berhenti bekerja di restoran milik Alan. Itu Viona lakukan demi Galih, berusaha menuruti keinginan kekasihnya. Namun, apa yang Viona dapatkan sebuah kebohongan. Mungkin ini adalah kebohongan kecil bagi orang lain, tapi bagi Viona besar atau kecilnya sebuah kebohongan tetap saja tidak benar.
"Apapun yang terjadi, seharusnya kamu enggak perlu bohong sama aku mas." Lirih Viona, terasa begitu menyesakkan tapi Viona harus menunggu penjelasan dari Galih secara langsung.
---
Galih kembali melajukan mobilnya saat rasa pusingnya sudah mulai reda, menjelaskan semuanya pada Viona sekarang bukanlah hal yang tepat. Gadis itu pasti akan merasa bersalah jika mengetahui semuanya, dimana sang ibu yang meminta Galih untuk memutuskan hubungan mereka dan Galih yang harus bertunangan dengan Felly. Masalah pertunangannya bisa Galih gagalkan, untuk apa bertunangan karena paksaan?
Tapi bagaimana jika Bu Sarah melarangnya untuk bersama Viona? Galih harus kembali mendapatkan restu dari orang tuanya dan juga restu dari Bu Sarah, membayangkan harus menghadapi dua keluarga yang tidak merestui hubungan mereka akan semakin membuat Galih dan Viona saling menguatkan.
Sesampainya di rumah, Galih langsung masuk ke dalam kamarnya. Namun, suara pak Haris menghentikan langkahnya.
"Bagus, keluar dari kantor jam tiga sore. Sampai rumah malam. Gara gara gadis itu kamu jadi anak yang liar."
Galih menghela nafas panjang, jika mereka tidak pernah ikut campur dalam hubungannya dan mempermudah semuanya hal ini tidak akan pernah terjadi. Memang dulu Galih adalah anak yang selalu menuruti kemauan orang tuanya, tapi sekarang anak laki laki yang dulu penurut menjadi seorang yang jauh dari mereka. Tinggal satu atap tapi merasa asing dengan keluarga, bukan karena Viona tapi karena mereka yang selalu menginginkan Galih menuruti keinginannya. Padahal, setiap anak memiliki keinginan untuk menentukan pilihan hidupnya masing-masing.
"Bukan karena Viona, tapi karena Galih sendiri." Bantah Galih, tidak semua keburukan yang kini sering dilakukannya gara gara Viona. Bahkan, gadis itu tidak tahu apa apa jika sudah banyak perubahan yang terjadi padanya. Menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya, dan waktunya bukan sekarang.
Melihat ada yang aneh dari anaknya, pak Haris mendekati Galih. Dan benar saja, bau alkohol berasal dari tubuh Galih.
Anaknya mabuk?
"Kamu mabuk?" tanya pak Haris tidak percaya, sejak kapan Galih mengenal minuman harama itu? Pasti ini gara gara Viona, gadis itu memang membawa pengaruh buruk bagi Galih. Ini tidak bisa di biarkan, jika terus bersama Viona semakin lama Galih akan menjadi anak yang liar. Selalu membantah orang tua, dan akan kencanduan minuman keras.
Galih mengangguk, tidak ada gunanya berbohong. Biarkan saja ayahnya tahu kelakuannya yang sekarang, asal Galih merasa puas karena sudah melampiaskan amarahnya pada minuman itu.
"Ini murni keinginan Galih, bukan karena Viona. Apapun yang Galih lakukan, bukan karena Viona. Jadi, stop salahin Viona karena dia enggak tau apa apa. Sebelum menyalahkan orang lain, coba sekali kali papa introspeksi diri. Galih berubah karena siapa? Karena kalian. Kalian yang terus memaksa tunangan sama Felly, Galih capek Pa. Galih pengen kalian ngerti keadaan Galih," ujar Galih, kemudian laki laki itu terjatuh di depan pintu karena mabuk.
Melihat anaknya pingsan, pak Haris langsung mendekati anaknya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Galih memang sudah dewasa, dan sudah saatnya untuk menikah. Namun, pilihan mereka tetap pada Felly. Hanya gadis itu yang pantas untuk anaknya, di banding Viona yang tidak mungkin bisa bersanding dengan Galih sampai kapanpun.
Pak Haris melangkah keluar dari kamar Galih, tapi terpaksa menghentikan langkahnya karena mendengar suara Galih.
"Maafin aku Vi."
Lagi lagi Viona, sepertinya yang ada di pikiran Galih hanya gadis miskin itu. Pak Haris harus mendapatkan cara untuk memisahkan keduanya, jika melakukan perjodohan gagal berarti Viona yang harus pergi dari kehidupan Galih. Tidak hanya sementara, tapi selamanya.
"Galih udah tidur Pa?" tanya Bu Farah, mendengar suara mobil sang anaknya Bu Farah keluar dari kamar. Niatnya ingin bertemu Galih karena seharian ini anak itu sibuk bekerja, tapi anehnya Galih kenapa langsung tidur?
"Anakmu mabuk berat, tepar dia sekarang. Ini pasti karena Viona, dasar gadis miskin pembawa sial!" Ucap pak Haris, sungguh kekesalannya pada Viona sudah tidak bisa di tahan lagi.
Siapa yang tidak terkejut mendengar anak semata wayangnya pulang dalam keadaan mabuk? Bu Farah juga setuju dengan apa yang di katakan suaminya, ini pasti ulah Viona dan ibunya. Kedua perempuan itu sudah mempengaruhi anaknya, mereka berdua harus diberikan pelajaran.
"Sekarang kita harus gimana Pa? Galih makin susah di atur. Usianya memang sudah dewasa tapi pemikirannya tentang cinta nol besar, apa Galih enggak pernah mikir hidup tanpa uang bisa menyebabkan hancurnya rumah tangga mereka nantinya? Padahal, kalau Galih menikah dengan Viona mereka sama sama terjamin kehidupannya. Masalah cinta, akan tumbuh dengan sendirinya." Bu Sarah memijat pelipisnya, memikirkan Galih memang selalu membuatnya sakit kepala.
Pak Haris menghela nafas panjang, tidak ada pilihan lain.
"Besok Galih tidak mungkin bekerja karena kondisinya belum stabil, anak itu pasti akan bangun siang. Tugas mama, jangan biarkan Galih keluar rumah sampai malam. Biar Papa yang urus Viona dan ibunya, jika tidak segera di singkirkan mereka akan menjadi penghalang tersebar di pernikahan Galih dan Felly. Kalau dengan cara halus mereka tetap tidak bisa mengerti apa yang kita inginkan, terpaksa kita harus berbuat nekat. Galih adalah anak semata wayang kita, pewaris tunggal keluarga ini. Papa enggak sudi punya menantu miskin dan tidak berpendidikan."
Mendengar keputusan suaminya, Bu Farah mengangguk setuju. Ini memang harus di lakukan sejak dulu, tapi mereka ingin Viona pergi dengan cara baik baik dari Galih. Namun, gadis itu tidak pernah mengerti jika bertahan dengan Galih berarti harus rela kehilangan sesuatu yang penting dari hidupnya. Cinta dari Galih.
"Mama setuju, biar mereka ngerti kalau kita enggak pernah main main sama ucapan kita selama ini. Sarah juga terlalu sombong, padahal Mama menawarkan uang agar mereka bisa pergi dari kehidupan Galih tapi perempuan itu menolak dengan alasan cinta anaknya tulus bukan karena harta. Semua orang pasti tahu, Viona hanya mengincar harta Galih."