Cinta dan materi

1007 Kata
Galih mengerjapkan matanya, kepalanya terasa begitu berat karena pengaruh alkohol. Walaupun menurutnya tidak banyak, tapi Galih memang tidak pernah minum sebanyak itu. Mencari keberadaan ponselnya, tidak kunjung di temukan. Akhirnya Galih memilih untuk kembali tidur, mungkin Viona sudah berangkat kerja nanti saja Galih akan menjemput gadisnya saat sudah pulang bekerja. "Kamu udah bangun? Ayo makan dulu sayang. Papa udah berangkat ke kantor, istirahat dulu ya." Bu Farah menghampiri anaknya yang hendak memejamkan mata, dengan terpaksa Galih kembali membuka matanya. "Mama kenapa?" tanya Galih, kedua mata Bu Farah terlihat begitu sembab pasti sang ibu baru saja menangis. Bu Farah duduk di samping ranjang anaknya, memperhatikan wajah sang anak yang begitu mirip dengan ayahnya. Namun, ternyata hanya fisik yang mempunyai kemiripan sifatnya tidak sama sekali. Pak Haris tidak pernah sekalipun meminum minuman keras, apalagi sampai pingsan gara gara minuman haram itu. Di usapnya rambut hitam Galih lembut, ternyata sang anak memang sudah dewasa. "Masih pusing?" "Masih pusing dikit, Mama habis nangis?" tanya Galih lagi, rasa penasarannya membuat anak tunggal ini merasa tidak tenang. Takut terjadi sesuatu pada sang Mama, walaupun akhir akhir ini banyak masalah yang terjadi karena orang tuanya tapi tetap saja tidak ada yang bisa melihat orang tuanya sedih. Dengan terpaksa, Bu Farah mengangguk. Sejak semalam, melihat anaknya pulang dalam kondisi mengenaskan membuat Bu Farah begitu terpukul. Rasanya sangat kecewa mengetahui anak yang selama ini selalu di banggakan, tiba tiba mabuk. Apa didikannya selama ini tidak benar? "Mama kecewa sama kamu." Deg Sepertinya Galih mengetahui alasan dari tangisan ibunya, pasti karena dirinya yang sudah berani mabuk. "Siapa yang ajarin kamu mabuk Galih? Siapa?" Mama tau kamu udah dewasa, udah bisa cari uang sendiri. Tapi bukan berarti kamu bisa melakukan itu semua, apa kamu enggak sadar siapa yang paling sakit saat tahu kamu menjadi pemabuk seperti ini? Mama yang paling sakit, Mama yang paling kecewa!" "Maaf," "Maaf? Segampang itu? Kamu pikir ini kesalahan kecil?" Galih menghela nafas lalu mencoba duduk walaupun kepalanya begitu berat, wajar saja jika ibunya marah padanya karena ini memang kesalahannya sendiri. "Aku cuma mabuk Ma, bukan pencandu narkoba." Bela Galih, lagipula dirinya tidak sering melakukan hal ini. Hanya di saat dirinya butuh pelampiasan, semalam amarah Galih tidak bisa di tahan lagi oleh karena itu memberanikan diri untuk mabuk menurutnya adalah pilihan yang tepat. "Cuma kamu bilang? Mabuk Galih. Astaga! Gimana kalau orang tua Felly tau calon menantunya berperilaku buruk seperti ini? Mama malu." "Mama malu punya anak kayak aku?" "Lebih tepatnya, Mama malu karena kelakuan kamu. Itu pasti karena Viona, gadis pembawa sial. Kamu harus menjauh dari Viona," itu bukan sebuah permintaan, tapi itu sebuah paksaan. "Apa kalau Galih bunuh diri, Mama juga akan menyalahkan Viona? Viona bahkan enggak tau kalau aku mabuk, dia selalu percaya kalau aku laki laki baik. Tapi ternyata apa? Aku suka mabuk di saat ada masalah Ma. Dan mama tau aku mabuk karena masalah apa? Karena kalian selalu maksa aku untuk tunangan sama Felly. Aku tertekan, pelampiasan terbaik adalah minuman. Aku tau aku salah, tapi aku enggak mungkin marah sama orang tuaku sendiri kan? Apa Galih ada hak untuk itu?" Ternyata mengungkapkan apa yang selama ini kita pendam mampu melegakan hati dan pikiran, walaupun setelah ini masalah belum tentu bisa di selesaikan. Bu Farah benar benar geram, ingin sekali memaki Viona sekarang. Namun, dirinya harus menahan Galih agar tidak keluar sampai malam. Agar suaminya bisa bertemu dengan Viona. "Tentu saja Mama akan tetap menyalahkan Viona karena udah buat kamu berubah, kamu harusnya sadar. Dia itu bawa pengaruh buruk untuk kamu, manfaatin kamu. Cuma mau uang kamu," "Kalau emang Viona gadis seperti itu, aku sama sekali enggak keberatan asal dia Viona. Harta bisa di cari Ma, tapi cinta yang tulus enggak akan datang dua kali." Balas Galih, memang tidak masalah jika Viona menginginkan hartanya. Di saat mereka sudah menikah nantinya, Viona yang akan mengatur keuangan di keluarga kecil mereka. Jadi, memang sudah seharusnya apapun sifat Viona harus Galih terima. Namun, sejauh ini gadis itu tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada harta Galih. Bu Farah menggeleng, Galih memang benar benar sudah di pengaruhi oleh Viona. "Kamu udah keterlaluan Galih," keluh Bu Farah, ternyata anaknya sudah sedalam itu mencintai Viona. Lagi lagi, Galih hanya mampu menghela nafas. "Aku minta maaf Ma, tapi Viona emang bukan gadis seperti itu. Kalau Mama bandingkan Felly sama Viona jelas mereka berbeda, dan Galih sadar perbedaan antara mereka terlihat jelas. Tapi satu hal yang harus Mama tau, cuma Viona yang Galih mau. Jadi, aku mohon restui kami." Ucap Galih lembut, sampai saat ini sebuah restu masih Galih harapkan. "Jangan berharap lebih, karena ekspektasi kamu terlalu tinggi. Orang yang tidak sederajat sama keluarga kita, enggak akan bisa bersanding dengan kamu sampai kapanpun. "Mama egois." "Demi kebaikan kamu sendiri, masa depan kamu dan Felly lebih menjanjikan daripada dengan Viona. Dia miskin Galih, dia enggak pantas bersanding dengan kamu." Galih muak dengan perdebatan ini, tidak akan habisnya bicara soal uang. "Uang kalian enggak akan bisa menggantikan Cinta Viona," sela Galih. Entah karena apa, Bu Farah tertawa mendengar jawaban Galih. "Kamu pikir, cinta aja cukup? Galih Galih, kamu salah. Di saat kalian berumah tangga, rasa cinta akan tumbuh dengan sendirinya karena terlalu sering bertemu. Dan soal uang, itu hal yang paling penting untuk berumah tangga. Menikahlah dengan perempuan yang enggak akan membuat kamu susah." -- Viona menatap pak Haris penuh keraguan, untuk apa laki laki paruh baya itu mendatanginya ke restoran. Untung saja Alan mengizinkannya untuk bertemu pak Haris, jika tidak pasti akan menjadi masalah baru. "Jauhi Galih." Tanpa basa basi, pak Haris langsung mengutarakan keinginannya. Viona menelan ludahnya kasar, tenggorokannya terasa begitu kering. Ternyata tujuan pak Haris datang kesini tidak lain hanya untuk memaksa Viona menjauhi Galih, gadis itu merasa telapak tangannya begitu dingin. Tentu saja Viona gugup, nada bicara pak Haris seperti tidak mau di bantah. Tipe seorang ayah yang tegas dan bijak sana. "Maaf Om, saya..." "Butuh banyak uang? Jangan khawatir, saya akan kasih berapa yang kamu minta. Asalkan, mulai besok kamu pindah dari rumah yang lama. Jangan pernah temui Galih lagi, saya muak liat kamu bareng Galih setiap hari, gara gara kamu anak saya jadi pemabuk. Puas kamu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN