Sumber masalah

1019 Kata
Viona terdiam, otaknya mencerna apa yang di katakan pak Haris padanya. Setelah ayah Galih pulang karena sudah selesai berbicara dengannya, Viona minta tolong pada Aldo untuk menggantikannya berjaga di kasir dengan alasan ke kamar mandi. Berulang kali mencoba untuk menghubungi Galih, tapi nihil laki laki itu tidak mengangkat panggilannya. Viona bertambah khawatir, takut jika apa yang pak Haris katakan memang benar. Semalam kekasihnya pulang dalam keadaan mabuk, dan akhirnya sampai tadi pagi tidak berangkat ke kantor karena kondisinya belum stabil. Pantas saja semalam Galih tidak banyak berbicara padanya saat Viona marah, ternyata ini alasannya? Karena sudah terlalu lama berada di kamar mandi, tidak enak juga berlama lama disini sementara yang lain sibuk bekerja. Akhirnya Viona mengirim pesan pada Galih, semoga saja laki laki itu membacanya ketika sudah bangun. Gadis itu cukup terkejut saat melihat Alan di depan pintu kamar mandi saat dirinya keluar, untung saja sebelum keluar Viona sempat mencuci mukanya jadi tidak terlihat berbohong. "Pak Alan, kenapa disini?" tanya Viona hati hati, takut menyingung bosnya. Alan tersenyum melihat Viona baik baik saja, tadi memang dirinya mencari Viona tapi malah Aldo yang berjaga di kasir. "Kata Aldo kamu enggak enak badan, kamu sakit?" tanya Alan khawatir, tidak tega melihat Viona kesakitan. Apalagi gadis itu terlalu lama berada di kamar mandi. Merasa di khawatirkan, Viona tersenyum canggung. Dirinya ke kamar mandi bukan karena sakit, tapi karena ingin menelvon Galih yang sejak semalam tidak ada kabar. "Saya enggak apa apa kok pak," "Tapi kamu pucat Vi, saya antar ke rumah sakit ya?" Viona menggeleng, terlalu berlebihan sekali bosnya itu. Tidak, ini adalah sebagai bentuk rasa khawatirnya pada Viona karena gadis itu merupakan salah satu karyawannya. "Enggak perlu pak, saya baik baik aja. Maaf, kalau saya udah buat pak Alan khawatir. Tapi saya baik baik aja pak." Ucap Viona. Akhirnya Alan hanya mampu mengangguk, lega saat tahu Viona baik baik saja. "Kalau kamu ngerasa enggak enak badan, saya izinkan kamu pulang duluan. Saya permisi Vi," pamit Alan. Melihat punggung Alan yang sudah menjauh, membuat Viona merasa tidak enak. Alan begitu baik padanya, apa benar yang selama ini Galih katakan bahwa Alan memang menaruh harapan padanya? Mungkin sebelum Viona benar benar resign, gadis itu akan bertanya pada bosnya. "Pak Alan, bisa dapatin perempuan yang lebih baik dari aku." Ucap Viona dalam hatinya, lalu gadis itu kembali ke bagian kasir dan terlihat Aldo sedang duduk menunggu dirinya. Menyadari Viona sudah kembali, Aldo langsung memberikannya banyak pertanyaan. Ternyata Aldo dan Alan sama saja, tidak ada bedanya. "Lo sakit?" tanya Aldo setelah Viona duduk di sampingnya, gadis itu lantas menggeleng. "Enggak kok Al, maaf ya aku jadi ngerepotin kamu." Ucap Viona merasa sudah merepotkan sahabatnya, mendengar permintaan maaf Viona membuat Aldo mengangguk. Tidak apa, asal Viona baik baik saja sudah cukup. " Santai aja Vi, lo beneran enggak apa apa? Soalnya, tadi pas mau ke kamar mandi lo pucat." Viona menoleh, "sekarang masih?" Viona memastikan, apa rasa khawatirnya pada kondisi Galih berdampak pada kesehatannya juga? Sepertinya tidak mungkin. "Masih dikit." "Tapi aku enggak sakit Al, aku baik baik aja." Aldo menautkan alisnya, lalu kenapa Viona selama itu berada di kamar mandi? "Terus? Ngapain lo lama di kamar mandi? Perut lo mules?" Tebak Aldo, bisa saja Viona sakit perut mengingat gadis itu tadi pagi terlalu banyak makan sambal. "Enggak juga, pokoknya maaf ya udah ngerepotin kamu." "Santai aja, eh tapi pak Alan khawatir banget sama lo." Ujar Alan, tadi saat dirinya sedang menggantikan Viona tiba tiba laki laki itu datang dan bertanya kemana Viona? Jadi benar Alan khawatir padanya? Kenapa? Dirinya hanya karyawan biasa, tidak seharusnya Alan khawatir padanya. "Hehe, aku enggak enak udah buat kamu sama pak Alan khawatir." Aldo berdecak, lalu berdiri dari duduknya. "Kalau gue sih khawatir ya wajar, kita sahabatan udah lama. Lah, si bos ngapain dah khawatir sama lo? Gabut amat heran." Sebenarnya Aldo tidak perlu bertanya kenapa Alan begitu khawatir pada Viona, tentu saja karena laki laki itu menyukai karyawannya. Namun, sayang selain sudah memiliki kekasih Viona juga tidak peka terhadap perasaan Alan padanya. Gadis itu selalu menganggap semua kebaikan Alan padanya karena dirinya bekerja pada Galih. Viona mengangguk pelan, heran juga saat mengetahui Alan khawatir padanya. "Pak Alan kan baik ke semua orang Al, jadi wajar aja sih. Apalagi aku karyawannya," balas Viona. Sekali lagi, bersikap baik pada semua orang bukan berarti kita menyukainya tapi karena rasa simpati yang begitu kuat ada dalam diri orang tersebut. "Gue balik kerja, semangat Vi." Aldo menyemangati sahabatnya, sejujurnya laki laki itu tahu betul apa alasan Viona pamit ke kamar mandi. Dan tentu saja itu bukan karena sakit perut, semua itu karena Galih. Aldo tahu semuanya, tapi jika Viona sendiri tidak mau bercerita Aldo tetap berpura pura tidak tahu. "Sekali lagi, thank you Al." "Sok Inggris lo, dah gue mau balik kerja." -- Tepat jam tujuh malam, Galih kembali terbangun. Kepalanya masih sedikit pusing, tapi badannya sudah tidak terlalu lemas. Baru saja bangun, Galih sudah teringat Viona. Pasti gadis itu sudah hampir pulang, Galih segera meraih ponselnya lalu membuka aplikasi chat. Nanti ketemu di cafe bintang, langsung kesana aja enggak perlu jemput aku. Jam 8 ya mas. Galih bernafas lega, sepertinya gadis itu sangat merindukan dirinya sampai mengajaknya bertemu terlebih dahulu. Mengabaikan rasa sakit di kepalanya, Galih segera membersihkan diri terlebih dahulu sebelum datang menemui gadisnya. Tidak hanya Viona, Galih juga sangat merindukan Viona. "Mau kemana? Kamu belum sehat. Jangan bilang, kalau kamu mau ketemu Viona." Langkahnya terhenti, kenapa larangan itu semakin hari semakin terdengar? Galih memang akan menduga, sang ibu pasti melarangnya. "Galih pamit Ma," pamit Galih sopan, dasarnya Galih itu memang tidak suka berbohong. Walaupun tahu mereka akan marah dengan kejujurannya, tapi setidaknya itu lebih baik. "Viona Viona, kamu apakan anak saya." Bu Farah menggeleng, terpaksa mengizinkan Galih menemui Viona. Lagipula, dilarang juga percuma. Takut Galih akan pulang dalam keadaan mabuk. Pak Haris keluar dari kamar, melihat sang istri berbicara sendiri. "Kenapa?" Tanya pak Haris setelah duduk di kursi dapur, mendengar suara suaminya Bu Farah lalu menoleh. "Anakmu, udah tergila gila sama Viona. Aku enggak tau harus berbuat apalagi buat jauhin mereka, semua cara udah aku lakukan tapi tetap aja Viona enggak sadar diri, Upik abu enggak akan bisa bersanding dengan Galih."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN