"Sampai kapan, kamu menjauh dari aku Vi?"
Viona menoleh, ini masih terlalu pagi dan Galih sudah lebih dulu masuk ke dalam butik. Mungkin Galih dan bosnya sudah bekerja sama, jadi laki laki itu memiliki akses masuk kapanpun kedalam butik. Mereka berteman, sementara dirinya hanyalah karyawan. Bukankah sangat jauh berbeda?
"Aku enggak pernah menjauh," ujar Viona. Gadis itu mengambil sapu di gudang belakang, lalu di ikuti Galih. Semakin lama, Viona semakin acuh padanya. Galih tidak bisa jauh dari Viona, tapi kenapa Viona malah terlihat baik baik saja tanpa dirinya.
"Kalau gitu, buka blokiran nomor mas Vi. Hampir dua bulan, kamu menjauh." Galih tetap mengikuti langkah Viona, tidak peduli jika gadis itu akan marah padanya.
Untuk apa membuka luka lama yang masih membekas di hati, cukup melihat gadis lain berada di mobil Galih sudah berhasil membuatnya merasa sakit.
"Untuk apa?"
"Untuk apa? Kamu masih bisa bertanya untuk apa?" Galih ingin memperbaiki semuanya, ingin berjuang sekali lagi bersama Viona.
"Untuk apa mengulang kembali di saat kamu udah punya orang baru mas? Aku baru tau, ternyata kamu enggak pernah cukup sama satu perempuan."
Siapa yang tidak terkejut mendengar tuduhan Viona terhadap dirinya? Selama ini, Galih selalu setia menunggu Viona mau kembali padanya. Jadi, perempuan mana yang Viona maksud?
Galih menarik lengan Viona pelan, laki laki itu membawanya ke gudang.
"Lepas, kamu mau apa?" Bayangan Viona di sekap beberapa bulan lalu kembali teringat, tapi bedanya sekarang Galih yang membawanya ke gudang. Dirinya tidak perlu khawatir, Galih tidak akan berbuat nekat padanya.
Viona kembali diam, saat Galih menutup rapat pintu gudang dan menyalakan lampu. Bahkan, sepertinya Galih hafal setiap sudut ruangan itu.
"Mas, cuma mau kamu jelaskan tuduhan kamu."
Mereka duduk di sebuah kursi panjang yang cukup bersih, sepertinya gudang ini sering di bersihkan tanpa sepengetahuan Viona. Tangan Galih meraih tangan Viona, dan menggenggamnya erat. Sudah lama, mereka tidak seperti ini. Dulu, hampir setiap hari bertemu. Tapi sekarang, Viona sibuk menjauhi dirinya dan tidak mau bertemu Galih lagi.
"Itu bukan tuduhan, tapi fakta."
"Apa buktinya?" Galih sampai saat ini belum bisa melupakan Viona, selama ini Galih selalu berpura pura tegar tanpa Viona. Tidak ada yang bisa masuk dan merubah sikap dinginnya seperti sekarang, Galih yang sedang bersama Viona sekarang tidak akan di temui jika bersama perempuan lain.
Gadis itu diam, kembali mengingat kejadian beberapa minggu lalu. Dimana Galih keluar dari rumah sakit, bersama seorang perempuan cantik. Meksipun sikapnya masih dingin, tapi perempuan itu berhasil membuat Galih perhatian padanya. Wajahnya terlihat tidak asing, tapi Viona lupa apa mereka pernah bertemu atau saling mengenal.
"Kenapa diam? Ayo jelaskan, kamu udah berani nuduh mas Vi. Itu artinya, kamu enggak percaya kalau mas masih setia sama kamu sampai sekarang."
"Kamu emang udah punya orang baru, dia berhasil gantiin posisi aku di hati kamu." Jawab Viona, dirinya mengatakan apa yang terjadi bukan hanya sebuah tuduhan.
"Siapa?" Galih sendiri tidak pernah merasa sedang dekat dengan siapapun, hanya Viona yang berhasil meluluhkan hatinya.
"Aku enggak tau, yang aku tau. Waktu itu, kamu antar dia ke rumah sakit. Bahkan, kamu enggak larang dia duduk di bangku depan. Padahal, dulu kamu pernah bilang cuma aku yang boleh duduk disana. Itu artinya, kamu udah dapatin pengganti aku kan?"
Galih mencoba mengingat siapa yang Galih antar ke rumah sakit. Hanya ada satu nama, yang langsung terlintas di pikiran Galih. Fika, hanya pembantunya yang saat itu sakit dan tidak ada yang bisa mengantarkannya ke rumah sakit. Galih melarangnya duduk di belakang, karena malas di anggap supir oleh orang lain. Karena terlalu banyak pikiran, Galih tidak berpikir bagaimana jika Viona melihatnya satu mobil dengan Fika.
Mereka berdua memang belum di saling mengenal, "dia pembantu mas." Jawab Galih jujur, Viona tidak mudah percaya begitu saja. Setelah dirinya melihat Galih bersama perempuan lain, laki laki itu tidak pernah lagi berusaha menemuinya di butik.
"Tapi dia lebih pantas terlihat jadi calon istri kamu."
Pakaian Fika memang tidak menunjukkan jika gadis itu bekerja sebagai pembantu, wajar jika Viona tidak percaya. Dan Galih akan memakluminya.
"Enggak ada yang lebih pantas jadi istri mas selain kamu, mas cuma mau kamu. Bukan yang lain, ingat Vi kita emang udah selesai. Tapi bukan berarti mas bisa dengan cepat buka hati, untuk apa mas buka hati untuk orang lain. Sementara yang mas mau, cuma kamu."
Mendengar penuturan Galih, tentu saja membuat Viona terharu. Tapi lagi lagi, dirinya sadar jika mereka tidak mungkin mendapat restu.
"Maaf, kita udah enggak ada hubungan apa apa. Lebih baik, kamu lupain aku dan cari perempuan lain yang lebih pantas sama kamu. Kamu ngomong kayak gini karena kamu belum mencoba buka hati," ujar Viona.
Walaupun sulit untuk menerima kenyataan, tapi Viona sudah berhenti berharap. Harapan akan membuatnya jatuh semakin dalam, harapan mendapat sebuah restu malah berakhir dengan kekecewaan. Viona tidak marah saat di hina dan di maki oleh Bu Farah, tapi lama lama mereka memperlakukan Viona seenaknya. Menculik gadis itu dan berusaha membahayakan nyawa Viona, itu sudah keterlaluan.
"Buat apa buka hati, enggak akan pernah berhasil. Mas cuma mau kamu, itu udah jelas."
"Tapi itu bakalan sia sia."
"Enggak ada yang sia sia, semuanya pasti ada hasilnya. Kita cuma perlu bersabar dan berusaha lagi, ayo Vi kita mulai semuanya dari awal." Pinta Galih, sudah cukup selama dua bulan Viona menjauhi dirinya. Sekarang, mereka harus memulai semuanya dari awal.
Viona menghembuskan nafas lelah, gadis itu tidak tau bagaimana cara untuk menghadapi Galih dan membuat laki laki itu mengerti. Sesuatu yang di paksakan, itu tidak baik. Dan melawan restu orang tua juga tidak baik, tapi laki laki ini tidak mau mengerti.
"Kita enggak perlu kembali, kamu cuma perlu buka hati untuk yang lain begitu juga aku."
Galih menahan diri untuk tidak berbicara buruk, bayangan Viona bersama Alan sudah membuatnya geram. Apalagi harus melihat Viona bersama laki laki lain selain dirinya, apa Galih sanggup? Jawabannya sudah pasti Galih tidak akan sanggup.
"Ingat ini baik baik, kamu cuma punya satu pilihan. Memulai semua dari awal sama mas, kita akan kembali berusaha mendapatkan restu Mama sama Papa."
Viona menggeleng, itu tidak benar.
"Kamu egois."
"Kali ini biarin mas jadi laki laki egois demi kamu, demi masa depan kita. Mas enggak mau kehilangan kamu Vi, kamu mau kan?"
Lagi, Viona menggeleng. Tidak setuju dengan pilihan Galih, mereka tidak di takdirkan bersama walaupun mereka sudah berusaha sebisa mungkin jika Tuhan yang tidak memberi restu hasilnya akan sama. Jangan pernah berharap lebih, karena kadang harapan indah yang kita bangun justru akan menyebabkan kekecewaan yang tidak pernah kita duga.
"Aku enggak bisa."
Baru kali ini, Galih merasakan sakitnya penolakan dari Viona. Dirinya selalu ingin berjuang, tapi baru saja Viona memintanya untuk menyerah sebelum memulai.
"Karena Alan?" tanya Galih. Selama Viona menghindari Galih, Alan selalu berusaha mencari celah di hubungan mereka. Bukan tidak mungkin jika Viona mulai tertarik dengan Alan, meksipun Alan tidak sekaya dirinya tapi Viona bukan gadis yang melihat laki laki dari hartanya.
"Jangan nyalahin orang lain mas, hubungan ini emang salah. Akan semakin salah kalau di teruskan, yang udah selesai akan tetap selesai. Kamu udah aku lepas, enggak akan aku genggam lagi. Sejatinya, anak laki laki itu milik ibunya sampai kapanpun. Aku sadar, kita emang enggak bisa bersama. Makasih udah mau berjuang selama ini, aku cinta kamu tapi aku enggak bisa berjuang lagi. Kita, cukup sampai disini." Tak sanggup lagi menahan diri, Viona berusaha melepaskan genggaman tangan Galih. Tapi genggaman tangan Galih begitu kuat.
"Kalau kamu enggak mau berjuang, biarin mas yang akan berjuang sendirian."