Cemburu

1043 Kata
Satu bulan berlalu, tidak ada yang berubah dari hubungan Galih dan Viona keduanya sama sama menjaga jarak. Hanya Viona yang menjauh, sementara Galih tetap berusaha mencari kabar mantan kekasihnya itu lewat Fanika. Selama mereka tidak pernah bertemu, Alan selalu datang menemui Viona setiap hari. Alasannya selalu sama, ingin mengantarkan makan siang untuk gadis itu. Tidak ada yang berubah dari Viona, meskipun terlihat cuek pada Galih dan tidak pernah mencari keberadaan laki laki itu tetapi Viona masih mencintai Galih sepenuhnya. Bertemu setiap hari dengan Alan, tidak membuat Viona merasakan apapun. Seperti biasa, gadis itu tidak pernah peka dengan keadaan sekitar. Kebaikan Alan selalu di anggap wajar oleh Viona, ia berfikir mungkin Alan melakukan itu semua karena laki laki itu dulu pernah menjadi bosnya. Galih tau semuanya, tau apa niat Alan yang setiap hari datang menemui Viona. Sebenarnya Galih cemburu, tapi merasa jika Viona tidak memberikan tanggapan apapun atas sikap Alan selama ini membuatnya sedikit tenang. Lewat Fanika, Galih bisa mendapatkan informasi tentang Alan maupun Viona. Suara ketukan pintu, membuat Galih cepat cepat menyimpan sebuah album foto. Album foto yang berisi semua kenangannya bersama Viona. Dulu, setiap bertemu dengan Viona gadis itu jarang sekali mau berfoto dengannya karena itu diam diam Galih menyimpan semua foto Viona di album kecil miliknya. Galih berdehem pelan, tau siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Malas mengatakan apapun, akhirnya Galih berjalan membuka pintu kamarnya. Ada Fika yang berdiri di depan pintu dan terlihat Gelisah, bahkan gadis itu tidak menyadari jika Galih sudah membuka pintu kamar. "Kenapa?" Suara berat Galih membuat Fika menoleh, gadis itu terlihat begitu pucat. Meski terlihat pucat, tapi Fika masih berusaha tersenyum di depan majikannya. "Tuan, saya mau minta izin ke rumah sakit boleh?" tanya Fika, biasanya dirinya jika ingin pergi kemanapun selalu meminta izin pada Bu Farah atau pak Haris. Tapi kali ini, kedua majikannya itu sedang berada di luar kota. Mau tidak mau, Fika harus meminta izin pada Galih. "Teman kamu sakit?" Disini Fika tidak memiliki sanak saudara, gadis itu pergi merantau sendirian. Maka dari itu, Galih menebak mungkin ada teman Fika yang di rawat di rumah sakit. Mendengar pertanyaan Galih, Fika menggeleng kecil. Pikiran Galih terlalu jauh, selama bekerja dirinya jarang keluar rumah meski pak Haris dan Bu Farah selalu mengizinkannya untuk pergi di saat hari libur. Jadi gadis itu tidak memiliki teman, meminta izin ke rumah sakit untuk berobat. Sejak tadi pagi Fika merasa pusing yang tidak biasa, badannya juga lemas. "Saya tidak punya teman." "Lalu?" Fika menghela nafas, sebenarnya Galih hanya perlu mengatakan iya atau tidak. "Dari pagi, saya merasa pusing. Sudah minum obat, tapi tidak ada perubahan." Ucap Fika, berharap Galih tidak terlalu lama mengintrogasi dirinya. Sebelum dirinya pingsan tidak sadarkan diri disini. Tidak mau menanggung risiko, akhirnya Galih mengangguk. Melihat Fika yang semakin pucat, Galih meminta supir pribadinya untuk mengantar gadis itu. Namun, Galih baru ingat jika supirnya sedang mengantarkan orang ke luar kota. Merasa iba, akhirnya Galih masuk kedalam kamarnya untuk mengambil kunci mobil. "Ayo, saya antar." Ajak Galih, di balik sikapnya yang dingin dan tidak tersentuh tapi melihat Fika seperti ini dirinya jadi teringat Viona. Fika mengangguk, ingin menolak tapi dirinya sudah terlalu lemas. "Apa tidak merepotkan?" tanya Fika, gadis itu berhenti sebelum masuk kedalam mobil. "Saya lebih repot, kalau kamu pingsan di rumah." Baru saja Fika hendak duduk di belakang, suara Galih membuatnya mengurungkan niatnya. "Saya bukan supir kamu Fika." "Maksud tuan?" Galih menghela nafas, "duduk di depan." Jawab Galih tidak menerima bantahan lagi, tidak mau orang lain menganggapnya seperti supir pribadi pembantunya sendiri. Suara Galih yang terlalu datar, akhirnya Fika menurut. Gadis itu masuk, dan duduk di kursi depan. Dan Galih duduk disampingnya sedang mengemudikan mobil, jika di lihat dari dekat anak majikannya itu memang terlihat tampan hanya saja terlalu cuek dan dingin. "Kenapa? Apa kamu melihat hantu?" Galih tidak suka jika ada yang memperhatikannya secara terang-terangan, merasa risih. "Maaf," ujar Fika. Berada satu mobil dengan Galih tidak baik untuk kesehatannya, apalagi hari ini Galih begitu baik padanya tidak seperti biasanya. Fika baru tau, di balik sikap dinginnya Galih ada hati yang mulia. Mereka akhirnya sampai di rumah sakit terdekat, dengan cepat Fika turun terlebih dahulu sebelum di usir oleh majikannya. Merasa khawatir dengan keadaan pembantunya, akhirnya Galih ikut turun dan masuk ke dalam rumah sakit. Fika terlalu terburu buru, hingga gadis itu hampir terjatuh jika Galih tidak cepat menahan tubuhnya. "Kamu bukan anak kecil Fika, untuk apa berlari? Ada yang kamu kejar?" "Eh, makasih tuan. Maaf sudah merepotkan." "Ck, selalu merepotkan. Ayo masuk." Galih dan Fika berjalan beriringan, jika ada yang melihat keduanya sudah seperti pasangan kekasih. Apalagi pakaian Fika yang tidak menunjukkan jika dirinya seorang pembantu. Galih dengan sabar menunggu Fika yang sedang menjalani pemeriksaan, bosan sebenarnya tapi kasihan jika Fika harus pulang sendiri. Cukup lama, hingga akhirnya pintu ruangan terbuka. Fika berjalan pelan menghampirinya, masih terlihat pucat mungkin memang gadis itu perlu istirahat. Yang Galih tahu, selama ini pekerjaan rumah selalu di kerjakan sendiri oleh Fika. Mungkin faktor utamanya adalah kelelahan. "Udah?" Fika mengangguk, dirinya merasa lapar. "Tuan, em boleh kita mampir beli bubur ayam sebentar?" Mata Galih menyipit, apa gadis itu sedang ngidam? Jangan sampai ada yang berpikiran jika dirinya adalah suami Fika. "Kamu enggak ngidam kan?" Fika cukup terkejut mendengar pertanyaan Galih, apa katanya? Ngidam? Jika bukan anak dari majikannya sudah pasti Fika akan memaki Galih sekarang juga. Dirinya perempuan baik baik, tidak mungkin hamil di luar nikah. Selain pendiam, jika berbicara ternyata Galih cukup membuat Fika geram. Sepertinya sekarang, lebih baik Galih diam. "Saya perempuan baik baik tuan, maaf tapi saya tidak suka jika ada yang berkata buruk tentang saya." Ucap Fika, tidak peduli jika Galih semakin membencinya. Harga diri sebagai seorang perempuan selalu Fika pertahankan, dan tiba tiba Galih berkata seperti itu seolah olah dirinya sudah melakukan hal yang menentang norma agama. Galih menggeleng tidak percaya, kenapa Fika terlalu mudah terbawa perasaan. Padahal dirinya hanya menebak, bukan menuduh. "Kamu terlalu mudah terbawa perasaan, saya cuma bertanya." Galih langsung pergi meninggalkan Fika menuju mobil, membiarkan perempuan itu. Tanpa Galih sadari, Viona melihat Fika masuk kedalam mobil Galih. Meskipun sikap Galih masih tergolong dingin dengan Fika tapi sebelumnya tidak ada yang boleh duduk di bangku depan selain dirinya. Viona tersenyum getir, hatinya terasa begitu nyeri. "Baru satu bulan, kamu udah sama yang lain." Lirih Viona, mulai sekarang dirinya harus benar-benar merelakan Galih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN