Belum terbiasa

1030 Kata
Hari hari berlalu begitu lambat, dua orang yang saling merindukan tapi terhalang oleh ego masing-masing. Sampai hari ini, nomor Galih masih di blokir oleh Viona. Alasannya masih sama, agar keduanya sama sama bisa melupakan. Padahal, sampai saat ini baik Viona maupun Galih tidak ada yang berhasil move on dalam waktu dekat. Bagaimana bisa lupa, jika setiap hari semua kenangan yang pernah mereka lalui selalu terbayang. Bahkan, Viona masih ingat kebiasaannya yang selalu mengingatkan Galih saat jam makan siang. Namun, sekarang semaunya tinggal kenangan. Dan Viona, harus membiasakan diri untuk tidak menghubungi Galih. Meninggalkan kebiasaan lama, dan memulai dengan kebiasaan yang baru tidaklah mudah. Semakin memaksa untuk lupa, kenangan itu semakin sulit untuk di lupakan. "Diem aja lo Vi, awas kesambet." Tegur Fanika, melihat Viona hanya diam saat butik sedang sepi membuatnya merasa tidak tega. Viona menoleh, sejak kapan Fanika ada di sampingnya? "Mbak Fanika dari tadi?" "Iyalah, enggak sadar kan lo? Diem aja sih dari tadi." Kesal Fanika, jika memang masih saling mencintai tidak ada salahnya untuk bertahan dan mencoba berjuang sekali lagi. "Emang dari tadi aku diem ya?" Pertanyaan bodoh terlontar dari mulut Viona, raganya memang ada disini tapi jiwanya ingin selalu bersama Galih. Fanika menghela nafas, jangan sampai Viona mengalami depresi karena putus cinta. "Masih belum bisa move on?" "Udah." Jelas Viona berbohong, mana mungkin dirinya bisa melupakan Galih secepat itu? Butuh waktu yang lama untuk move on. Baik itu kenangan, ataupun melupakan Galih. Perihal melupakan, bukan hanya lupa tapi juga harus ikhlas. Ikhlas jika suatu saat orang yang pernah menjadi alasan kita bahagia, akhirnya menemukan kebahagiaan yang lain. "Ck, dari sikap lo akhir akhir ini udah keliatan banget kalau gagal move on." Cibir Fanika, bukan berniat menyingung perasaan Viona tapi semenjak putus keduanya sama sama mengalami perubahan sikap. "Aku cuma pengen mas Galih bahagia sama pilihan orang tuanya mbak," ujar Viona. Fanika mendengus, Viona kelewat tulus atau memang polos? Jika Galih bisa bahagia dengan pilihan orang tuanya, apa dirinya bisa melihat Galih bahagia dengan orang lain? "Terus, gimana perasaan lo kalau tau Galih beneran bahagia sama orang lain? Ikhlas itu enggak mudah Vi, apalagi kalian berdua udah berjuang selama ini. Lo enggak boleh jadi orang munafik, jangan pernah bohong sama diri sendiri." Biasanya Fanika tidak akan pernah peduli dengan urusan orang lain, tapi saat ini Viona sedang dalam kondisi yang buruk. Melamun setiap saat. Viona sendiri juga tidak tahu, bagaimana nasibnya jika memang Tuhan mentakdirkan Galih dengan perempuan lain. Apa dirinya akan ikhlas? "Jalani aja mbak, bisa karena terbiasa. Saat ini aku emang belum terbiasa, tapi suatu saat kalau memang aku dan mas Galih tidak berjodoh setidaknya kami sudah memilih keputusan yang tepat." Viona menjeda. "Keputusan untuk mengakhiri semuanya sebelum cinta ini terlalu dalam," seulas senyum terukir di bibir Viona, tidak ada yang tidak mungkin. "Kalau gue jadi lo, gue bakal bertahan." "Aku udah pernah bertahan, tapi sia sia. Kata orang enggak ada perjuangan yang sia sia, semua pasti ada hasilnya. Tapi kayaknya itu enggak berlaku buat aku, aku sama mas Galih enggak pernah nyerah walaupun seringkali orang tuanya enggak setuju. Lama lama aku sadar, kalau restu orang tua terutama seorang ibu emang penting dan jadi yang utama. Kalau aku tetap bertahan, itu artinya kami akan sama sama merasakan sakit dalam waktu yang lama. Udah cukup mbak, hampir tiga tahun aku berjuang. Semuanya udah selesai. Selesai bukan berarti aku udah enggak cinta sama mas Galih, justru karena aku cinta makanya aku mundur. Karena kalau dia bahagia, aku pasti ikut bahagia." Ucap Viona, mencintai seseorang tidak harus selalu memiliki. Lebih baik mundur, jika memang itu yang terbaik ikhlas adalah jalan yang terbaik. Fanika bukan Viona yang bisa mengerti seberapa besar perjuangannya, bertahan selama ini bukan hal yang mudah. Banyak rintangan yang harus mereka lalui, tidak mudah berada di posisi Viona. Mencintai setulus hati, tapi tidak pernah terlihat oleh keluarga Galih. Berulangkali di rendahkan, Viona selalu diam. Tidak pernah membalas ucapan Bu Farah, karena Viona sadar diri. Tidak ada gunanya membalas setiap perbuatan orang tua Galih, awalnya Viona mengira bahwa mereka hanya menguji seberapa tulus dirinya pada Galih. Namun, dugaannya salah besar. Dari awal memang mereka tidak merestui hubungannya dengan Galih, seharusnya Viona sudah menyerah sejak lama. "Kalau gue di posisi lo, mungkin gue enggak akan sanggup. Saran gue, selama Galih belum menikah dengan siapapun lo masih berhak untuk berjuang buat dapetin restu dari mereka. Percaya aja Vi, kalau kalian berdua sama sama mau berjuang cepat atau lambat mereka bakal restuin lo. Mereka cuma perlu liat kebaikan dan ketulusan lo aja si menurut gue," ujar Fanika, tidak ingin melihat Viona menyesal di kemudian hari jika memutuskan hubungan karena paksaan orang tua Galih. Penyesalan selalu di belakang, untuk itu jangan sampai Viona merasakannya. Selagi ada kesempatan untuk berjuang, jangan di sia siakan. "Kalau nantinya mas Galih nikah sama perempuan lain, itu artinya kami enggak jodoh mbak." Jawab Viona, perkara jodoh adalah urusan Tuhan. Dirinya hanya mencoba memperjuangkan apa yang ingin di miliki, selebihnya jika memang tidak berjodoh berarti Viona akan mendapatkan laki laki yang jauh lebih baik dari Galih. Fanika menghela nafas, lelah menasihati Viona. "Terserah lo deh, capek gue. Yang penting, gue udah pernah bilang kalau masih sayang masih cinta ya berjuang." Viona tersenyum tipis, yang di katakan bosnya memang tidak salah. Tapi untuk kembali berjuang apa masih sanggup, setelah apa yang pernah terjadi. "Makasih sarannya mbak, tapi aku emang udah enggak mau berjuang. Bukannya lelah bertahan, tapi aku enggak mau jadi alasan mas Galih jauh dari orang tuanya. Dia anak laki laki satu satunya, harapan keluarga. Kedua orang tuanya ingin yang terbaik, terutama calon istri. Dan aku, aku enggak masuk dalam daftar menantu idaman mereka. Mau enggak mau, aku harus mundur." "Kalau misalnya mereka yang minta lo jadi istri Galih gimana? Lo masih mau?" tanya Fanika, tidak ada yang tidak mungkin. Hati seseorang bisa berubah kapanpun, tidak ada yang tau kapan. Apa mungkin yang di katakan Fanika jadi nyata, sementara perlakuan mereka sudah menunjukkan bahwa mereka tidak menyukainya apalagi sampai memberi restu. "Kalau mereka minta aku karena mereka benar benar kasih restu tanpa paksaan dari mas Galih, mungkin aku bakalan terima. Tapi kalau mereka terpaksa, aku enggak mau mbak. Hidup dalam kebohongan, aku enggak mau mereka menyayangi aku karena takut kehilangan anak satu satunya." Jawab Viona, tidak mau
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN