Galih benar benar menyanggupi permintaan Viona untuk mengakhiri semuanya, tapi Galih mengajukan satu syarat. Viona tidak boleh keluar dari pekerjaannya di Gavi Butik, pekerjaan itu akan menjadi jalan untuk Galih bisa kembali mendapatkan Viona. Lewat Fanika, Galih masih bisa memantau Viona meskipun mereka tidak lagi sering bertemu, Viona sempat menolak tapi di sisi lain dirinya juga membutuhkan pekerjaan ini. Akhirnya, syarat yang Galih ajukan Viona terima walaupun sedikit terpaksa.
Putusnya hubungan Galih dan Viona, sudah di ketahui oleh pak Haris dan Bu Farah. Mereka berdua sangat bersyukur karena akhirnya Galih sadar jika Viona bukanlah perempuan baik baik, mereka juga mengira jika Galih lah yang memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Viona. Padahal, Viona yang memilih melepaskan Galih agar laki laki itu menuruti semua keinginan kedua orang tuanya.
"Mama suka kalau kamu jadi anak penurut," ucap Bu Farah saat mengambilkan nasi di piring Galih, tidak hanya Bu Farah sekarang mereka bertiga sedang sarapan sebelum anak dan suaminya berangkat ke kantor.
Mendengar penuturan sang ibu, Galih hanya diam. Tidak berniat membantah sedikitpun, jika bukan karena Viona mungkin saat ini Galih masih mempertahankan hubungan mereka.
"Apa kamu tidak mau memperbaiki hubungan dengan Felly?" Tanya pak Haris, sepertinya kedua orang tuanya itu masih terobsesi menjadikan Felly sebagai menantu.
Galih meletakkan sendok di atas meja, selera makannya langsung menghilang begitu saja saat mereka kembali membahas Felly.
"Yang lalu biarlah berlalu, hidup harus tetap berjalan. Kalau kamu udah berani ambil keputusan mengakhiri hubungan dengan Viona, bukannya lebih baik kalau perjodohan ini di lanjutkan? Mama janji, enggak akan meminta banyak dari kalian. Soal restu, sudah sejak lama kalian Mama restui."
Pak Haris mengangguk, kini sudah tidak ada penghalang untuk melanjutkan perjodohan ini. Penghalang terbesar adalah Viona, dan sekarang Galih sudah tidak memiliki hubungan apapun dengan Viona.
"Nanti Papa akan ke rumah Felly, kita bicarakan secara kekeluargaan. Pasti mereka ngerti sama keadaan kamu," ucap pak Haris. Perjodohan akan tetap di lakukan, jika nanti tidak dengan Felly. Masih ada rekan bisnis lainnya yang memiliki anak perempuan sesuai Galih yang menikah.
Galih benar benar kehilangan nafsu makannya, jika di perhatikan akhir akhir ini Galih jarang sekali makan. Selain itu, Galih juga kurang istirahat. Untuk melupakan Viona, pulang malam dari kantor adalah jalan yang Galih pilih. Mencari banyak kesibukan, berharap bisa mengalihkan sedikit perhatiannya dari mantan kekasihnya itu. Tapi nihil, sebanyak apapun usaha Galih mencoba melupakan Viona tetap saja gadis itu tidak akan pernah bisa pergi dari pikiran Galih. Bahkan, semakin Galih berusaha melupakan Viona kenangan mereka berdua selalu terbayang.
"Aku duluan." Ucap Galih sambil meraih kunci mobil dan ponselnya, lebih baik cepat berangkat ke kantor daripada harus mendengarkan rencana pertunangan konyol itu.
"Kamu enggak makan? Mama, udah masak banyak." Cegah Bu Farah, sudah lama mereka tidak sarapan bersama.
"Aku sarapan di kantor."
Melihat anaknya sudah keluar rumah, pak Haris melanjutkan makannya. Anak laki lakinya mungkin perlu waktu, kali ini mereka tidak akan memaksa Galih untuk secepatnya menikah dengan Felly. Asal Viona benar benar sudah menjauh dari kehidupan mereka, jangan sampai mereka lengah dan Viona berhasil merebut Galih kembali.
"Kenapa Papa, enggak cegah Galih dan malah diem aja?"
Bukannya tidak ingin mencegah Galih, tapi pasti Galih buru buru karena ada pekerjaan lain dan pasti Galih sudah bisa menentukan mana yang terbaik untuknya.
"Galih udah dewasa, kalau Galih sudah mau melepaskan Viona. Berarti dia udah bisa menentukan mana yang terbaik," ujar pak Haris, menurutnya jika selama ini sifat buruk Galih muncul karena adanya pengaruh dari Viona.
Setiap orang memang berhak menilai orang lain, tapi belum tentu itu benar.
"Sebenernya Mama curiga, kenapa Galih tiba tiba melakukan ini? Apa mungkin, mereka cuma pura pura putus?" Tanya Bu Farah, berbagai macam kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Mereka bisa saja berpura-pura menjauh padahal diam diam masih sering bertemu, semua itu mereka lakukan karena ingin hubungan keduanya tidak mendapatkan ancaman dari pak Haris dan Bu Farah.
Pak Haris tidak pernah berfikir sejauh itu, mana mungkin Galih melakukan itu semua? Tapi mengingat bagaimana cara anak laki lakinya itu membela Viona di depan orang tuanya, sampai nekat mabuk demi menenangkan pikirannya karena masalah Viona pak Haris merasa ini pasti ada yang tidak beres. Galih sangat keras kepala jika di jauhkan dari Viona, apa mungkin mereka hanya berpura pura?
"Selesaikan sarapan dulu Ma, nanti biar Papa yang urus masalah Viona. Kalau anak itu berani berbuat macam-macam, Papa enggak akan ragu untuk menghancurkan hidupnya."
Bu Farah mengangguk, sangat setuju dengan ucapan suaminya. Mulai sekarang, apa yang menjadi penghalang untuk kebahagiaan Galih akan secepatnya di singkirkan. Mereka sudah sering memberikan peringatan, tapi Viona sama seperti Galih. Keras kepala.
"Kita udah terlalu baik, Viona harus tau ancaman kita enggak pernah main main."
--
Jika pak Haris dan Bu Farah selalu menyalahkan Viona karena perubahan sikap Galih yang menurutnya semakin buruk, justru sekarang Galih sedang berusaha menahan diri untuk tidak bertemu mantan kekasihnya.
Sejak Galih menyetujui permintaan Viona untuk mengakhiri semuanya, gadis itu langsung memblokir nomor Galih. Dan sejak saat itu juga, Galih menahan diri untuk tidak datang ke rumah atau ke Gavi Butik untuk menemui Viona. Untuk mendapatkan kabar tentang Viona, Galih menggunakan Fanika. Temannya itu selalu membantunya, dan Galih selalu mengingatkan Fanika untuk menjaga Viona dari laki laki lain salah satunya adalah Alan.
Pada akhirnya, Galih sudah tidak bisa lagi menahan diri. Laki laki itu keluar dari mobil, membawa makanan untuk Viona. Dengan langkah pasti, Galih membuka pintu Butik. Berharap jika Viona mau bertemu dengannya.
Bukannya bertemu Viona, Galih malah bertemu Riska yang sedang sibuk dengan tugas kuliahnya.
"Ris, bisa panggilkan Viona?" Tanpa basa basi, Galih langsung meminta Riska memberitahu Viona bahwa dirinya datang untuk menemui gadis itu.
Riska yang sejak tadi sibuk dengan tugasnya, lalu mendongak. Cukup terkejut saat melihat Galih dengan pakaian kantornya datang ke butik, satu hal lagi sejak kapan Galih tau namanya?
"Eh, mas Galih. Em, mbak Viona ada kok. Bentar Riska ke dalam dulu," ujar Riska, gadis itu buru buru memanggil Viona takut jika Galih marah karena terlalu banyak bicara.
Terlalu cepat berjalan, sambil sesekali menoleh kebelakang untuk sekedar memastikan jika memang itu Galih, Riska tidak sadar jika ada Fanika yang berdiri di depannya sedang berbincang dengan Viona.
"Eh, maaf mbak maaf. Aku enggak sengaja."
Fanika juga terkejut saat Riska menabraknya, "kenapa sih buru buru?" Tanya Fanika, sementara Riska malah menggaruk kepalanya karena bingung bagaimana caranya agar Viona mau bertemu dengan Galih. Baik Fanika maupun Riska, mereka sudah tau jika hubungan Galih dan Viona sudah kandas.
"Kamu kutuan ya? Dari tadi garuk garuk kepala?"
Riska melotot mendengar pertanyaan Viona, enak saja. Dirinya sangat menjaga kesehatan rambutnya mana mungkin ada kutu yang betah di kepalanya.
"Em, itu."
"Itu apa Ris? Kenapa sih kok malah gugup?" Lama lama, Fanika gemas dengan Riska yang mendadak menjadi aneh.
Fanika menghela nafas panjang, lalu menatap Viona ragu.
"Ada mas Galih."
Seketika hening, Viona yang sejak tadi tertawa melihat tingkah Riska kini diam tanpa suara. Kenapa Galih datang? Untuk Viona atau Fanika? Hubungan mereka sudah selesai, mungkin laki laki itu ada perlu dengan Fanika. Mulai sekarang, Viona harus sadar diri.
Dirinya sendiri yang meminta Galih untuk menjauh dari kehidupannya, dan Viona sendiri yang sudah memblokir nomor laki laki itu. Jadi, tidak mungkin tujuannya datang ke butik hanya demi Viona.
"Aku lanjutin pekerjaan dulu ya mbak," ujar Viona. Bukankah lebih baik menghindar daripada harus melihat Galih bersama Fanika? Kemungkinan besar, sekarang Galih datang bersama Felly.
Sebelum Viona pergi, cepat cepat Riska menahannya.
"Mas Galih datang, mau ketemu mbak Viona."
Viona mematung, ada rasa senang tapi juga merasa takut untuk kembali bertemu Galih.
"Jangan terlalu sering menghindar Vi, sana temui Galih. Walaupun kalian udah putus, bukan berarti enggak bisa jadi teman." Fanika tau apa yang Galih inginkan, selama beberapa hari temannya itu sudah menahan diri untuk tidak bertemu Viona. Mungkin hari ini, Galih sudah tidak bisa menahan diri.
Mau tidak mau, akhirnya Viona mengangguk. Lalu berjalan menemui Galih, jujur gadis itu juga sama merindukan mantan kekasihnya. Namun, Viona sadar jika dirinya tidak akan pernah bisa bersama lagi dengan Galih.
Galih yang melihat Viona mau menemuinya mengucap syukur, ia pikir sudah tidak ada kesempatan untuk bertemu Viona lagi.
"Mau bicara disini atau cari tempat lain?" Tanya Viona, tidak enak rasanya jika mereka berbincang tapi masih jam kerja.
"Di mobil gimana?"
"Cari tempat lain, aku enggak enak kalau masuk mobil kamu lagi."
Galih mengangguk, tidak masalah yang penting mereka berdua bertemu. Akhirnya Galih memutuskan untuk mengajak Viona ke tempat yang lebih nyaman, tidak jauh dari butik. Cukup tenang.
"Kamu, apa kabar?" Tanya Galih, miris memang. Dulu mereka selalu bertukar kabar setiap hari, tapi sekarang tidak ada kesempatan untuk sekedar mengirim pesan.
Viona mencoba untuk tetap tenang, "aku baik, mas sendiri gimana?"
"Enggak baik sama sekali, setelah kamu pergi aku kacau." Galih sedikit tertawa, tidak mau jika Viona merasa iba dengan keadaannya saat ini.
Siapa yang tidak menyadari jika Galih memang terlihat kacau? Badannya semakin kurus, dan Galih terlihat kurang istirahat.
"Seharusnya, mas enggak perlu nyiksa diri sendiri. Hidup harus tetap berjalan, walaupun kita udah enggak sama sama lagi."
"Mas udah coba, tapi membiasakan diri tanpa kamu ternyata sulit." Keluh Galih, dirinya seperti kehilangan semangat untuk meneruskan hidup.
Ada rasa bersalah saat melihat Galih seperti ini, apalagi Viona yang menjadi alasan perubahan Galih.
"Ini mas bawa makanan kesukaan kamu, di makan ya jangan di buang. Mas pamit, maaf kalau hari ini mas ingkar janji udah nekat ketemu sama kamu."
Viona tersenyum getir, gadis itu menahan diri untuk tidak menangis di pelukan Galih.
"Makasih, hati hati di jalan mas."