Usaha Galih

1010 Kata
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, tapi tidak ada tanda tanda Galih ingin keluar dari rumah Viona. Entah apa yang laki laki itu tunggu, padahal Viona sudah berulangkali menyuruh Galih pergi ke kantor atau pulang. Bukannya pulang, Galih malah tertidur pulas di sofa. Viona tidak mau membangunkan laki laki itu, biarkan saja dirinya harus istirahat agar kesehatannya cepat pulih. Hubungan mereka berdua sudah selesai, meskipun Galih sudah berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan mengatakan jika pertunangannya dengan Felly gagal tapi Viona tidak tetap ingin mengakhiri semuanya. Sejak kejadian itu, Viona harus berfikir dua kali untuk bertahan. Bukan karena takut, tapi Viona memikirkan bagaimana jika ibunya tahu bahwa dirinya di perlakukan seperti itu oleh orang tua Galih. Mungkin, Bu Sarah akan meminta dirinya untuk menjauhi Galih. Menjauh dari Galih, sangat sulit untuk Viona. Mereka sudah terbiasa bersama, jika Viona menjaga jarak dengan Galih setidaknya mereka masih bisa menjadi teman. "Vi, Galih masih tidur?" Tanya Bu Sarah, mereka sedang membersihkan jendela. Viona hanya mengangguk, sedang tidak ingin membicarakan Galih. "Pasti Galih belum makan, bangunin Galih. Pasti dia laper," Viona menoleh, sekarang dirinya sedang berusaha untuk tidak memberikan perhatian pada Galih. "Biarin aja, ini udah siang. Bentar lagi pasti dia pulang." Ujar Viona, mencoba tidak peduli pada Galih. Bu Sarah menghela nafas, ada apa dengan Viona? Jika mereka sedang ada masalah seharusnya di selesaikan dengan baik baik. Mereka pasti sedang salah paham, "ya udah, nanti kalau Galih sakit karena telat makan biarin aja ya." Bu Sarah kembali masuk ke dalam rumah, sulit sekali membuat Viona sadar bahwa sebuah hubungan jika terjadi salah paham itu hal biasa. Membayangkan Galih sakit, Viona merasa tidak tega. Dengan terpaksa, Viona masuk kedalam rumah dan membangunkan Galih. Dan benar saja, laki laki itu masih tertidur pulas. Viona menepuk pelan wajah Galih, berharap laki laki itu cepat terbangun. "Mas, bangun." Tidak ada pergerakan apapun dari Galih, "mas Galih." Panggil Viona, tapi Galih tetap diam. Merasa kesal karena Galih tak kunjung membuka mata, sementara itu Galih mati matian menahan diri untuk tidak tertawa. Kalau tidak seperti ini, Viona tidak mau berdekatan dengannya. Ingin sekali Viona memeluk tubuh Galih, tapi sekarang keduanya sudah tidak memiliki hubungan apapun. Mereka putus hanya sepihak, karena Galih belum menyetujui keputusan Viona. Terlalu terburu-buru, Galih tidak mau menyesal karena mengambil keputusan yang salah. Akhirnya Galih membuka matanya, dengan cepat menahan tangan Viona agar tidak pergi. "Mas masih mau ngomong sama kamu." "Semuanya udah selesai mas, sekarang mas pulang aja." "Enggak ada yang selesai, hubungan kita masih sama. Kamu punya mas selamanya, jangan berharap kamu bisa lepas dari mas." Sampai kapanpun, Galih tidak bisa melepas Viona hanya karena mereka salah paham. Viona tersenyum pahit, "jangan terlalu sering kasih aku harapan, aku enggak suka. Aku enggak suka kalau harapan yang kamu kasih akhirnya nyakitin diri kita sendiri, stop mas. Kita udah selesai." "Kita cuma perlu berusaha sedikit lagi Vi, aku yakin orang tuaku pasti bakalan luluh." "Kita udah usaha dari dulu, tapi hasilnya apa? Enggak ada. Yang ada aku selalu diam karena orang tua kamu selalu rendahin aku, mungkin aku udah terbiasa soal itu. Tapi, terakhir kali mereka culik aku itu udah keterlaluan mas. Dan yang lebih menyakitkan di saat aku butuh kamu, kamu malah sama Felly. Dari situ aku akhirnya sadar, sekuat apapun kita berjuang kalau kita enggak pernah di takdirkan bersama enggak akan pernah bisa bersama." Bantah Viona, gadis itu merasa sudah cukup perjuangannya selama ini. Viona dan Galih di takdirkan untuk bertemu tapi tidak untuk bersama. "Jangan nyerah Vi, ayo kita berjuang sekali lagi." Pinta Galih, Viona langsung menggeleng. Merasa lelah, bertahun tahun berlalu tapi tidak berhasil. Menyerah bukan karena sudah tidak memiliki rasa cinta untuk Galih, justru karena Viona sangat mencintai Galih dan ingin laki laki itu bahagia dengan pilihan orang tuanya. Jika tidak dengan Felly, masih ada gadis lain yang pasti tidak akan menolak Galih. Cukup sampai disini dirinya merasa menjadi beban bagi Galih, semuanya selesai. "Jika orang tuaku tidak merestui, aku masih bisa berjuang. Namun, jika orang tuamu yang tidak merestui aku mundur. Hakikatnya anak laki laki adalah milik seorang ibu selamanya." Galih tidak menyangka jika Viona benar benar menyerah untuk berjuang, padahal Galih sudah berusaha untuk memulai semuanya dari awal lagi. Tapi dengan mudah, gadis yang sudah menemaninya bertahun tahun itu mundur. "Kamu pasti bercanda," lirih Galih. Bagaimana hari harinya tanpa Viona? Pasti ini akan menjadi kabar bahagia untuk orang tuanya, tapi kabar buruk untuk Galih. Kehilangan seseorang yang kita cintai, memang sulit. Terbiasa bersama, sampai kita berfikir apa kita mampu memulai hari esok sendirian? Viona tau, ini tidak mudah. Dirinya sendiri tidak yakin dengan keputusan yang di pilih. Tapi semakin Viona mencoba bertahan dengan semua sikap dan perlakuan orang tua Galih, justru itu akan membuat mereka berdua sama sama tersakiti. Layaknya langit dan bumi, mereka tidak akan pernah bisa menyatu. Viona harus tau, mereka berdua berbeda. Ada batasan yang tidak bisa Viona lewati, sebuah restu. "Masalah serius, enggak bisa di buat bercanda mas. Sekarang kamu pulang, mungkin hari ini kita terakhir ketemu. Karena mulai besok, aku enggak akan kerja di GAVI BUTIK lagi. Aku semalam udah nelvon mbak Fanika, kalau aku resign." Galih terkejut mendengar keputusan Viona, jadi benar Viona memang berniat menghindari Galih? "Kasih mas kesempatan. Mas akan buktiin, kalau orang tua mas pasti akan kasih kita restu." Galih tidak akan pernah melepas Viona hanya karena mereka belum bisa mendapat restu, ini ujian dalam hubungan keduanya yang harus di perjuangkan. Jika salah satu dari mereka menyerah, perjuangan yang mereka lakukan selama ini akan sia sia. Untuk apa memberi kesempatan kedua, jika Galih tidak pernah melakukan kesalahan apapun? Ini bukan karena kesempatan kedua atau karena Viona menyerah. Ini karena, Viona sadar bahwa dirinya dan Galih sampai kapanpun tidak bisa bersatu. Terlalu lama bertahan, mungkin akan membuat keduanya semakin kuat untuk mempertahankan hubungannya. Namun, semua itu terasa percuma jika pada akhirnya perjuangan mereka terhalang restu. "Enggak ada kesempatan kedua, kecuali orang tua kamu memberi restu. Aku masih Viona yang sama, tapi sekarang kita bukan lagi sepasang kekasih. Kita hanya teman, dan teman tidak akan pernah bisa dipisahkan. Mungkin, kamu akan benci sama aku setelah ini. Tapi ini keputusanku, kita selesai."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN