Keputusan Viona

1304 Kata
Malam semakin larut, Bu Sarah mengusap rambut panjang anak semata wayangnya. Keadaan Viona sudah jauh lebih baik dari kemarin, sedikit demi sedikit Viona sudah mau makan. Wanita paruh baya itu sempat di buat khawatir dengan keadaan Viona, gadis itu ketakutan jika mendengar suara laki laki. Hanya Aldo yang bisa menenangkannya, sempat beberapa kali Viona memanggil nama Galih tapi Aldo tidak mengizinkan Bu Sarah untuk menghubungi laki laki itu. "Ibu belum tidur?" Tanya Viona, usapan lembut di kepalanya membuatnya merasa mengantuk. Bu Sarah menggeleng, rasa kantuknya entah menghilang begitu saja. "Ibu mau jagain kamu, nanti ibu tidur kalau kamu udah tidur." Viona merasa tidak enak dengan ibunya, sudah beberapa hari ini dirinya seperti orang yang kehilangan kewarasan. Namun, karena dukungan ibu dan Aldo sekarang Viona sudah jauh lebih baik. Tidak hanya mereka berdua, tapi ada seseorang yang juga ikut memberikan dukungan pada Viona. Dia adalah Alan, mantan bosnya. "Tadi, nak Alan kesini. Tapi kamu masih tidur." Ucap Bu Sarah memberitahu, mantan bos anaknya memang begitu perhatian. Tidak seperti Galih, entah dimana laki laki itu sekarang atau mungkin tidak tau jika Viona sakit. "Kenapa ibu enggak bangunin aku?" "Kamu masih butuh istirahat, nak Alan pasti ngerti. Ayo tidur, ini udah malam. Besok, kita harus pulang." Mereka berdua memang tidak tinggal di rumah untuk sementara waktu, demi kesembuhan Viona bu Sarah mengikuti apa yang di sarankan Aldo. Lagipula ini demi kebaikan anaknya sendiri, apapun asal Viona sembuh akan Bu Sarah lakukan. Perempuan itu tau jika sang anak sempat di culik, tapi tidak tau siapa dalang di balik kasus penculikan Viona. --- Galih berulang kali mencoba memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Bayangan Viona terus saja memenuhi pikirannya, dimana gadisnya sekarang? Galih sangat merindukan Viona. "Kamu kemana Vi? Mas, butuh kamu." Semua cara sudah di lakukan untuk mencari keberadaan Viona, tapi tetap belum berhasil. Kenapa Viona mendadak menghilang? Apa ini ulah orang tuanya? Tapi tidak mungkin, pak Haris mengatakan jika sudah tidak tau dimana Viona. Malam itu, memang pak Haris mengakui bahwa dirinya adalah dalang di balik penculikan Viona tapi setelah acara selesai gadis itu sudah di bebaskan. Tujuan utama penculikan Viona adalah, agar gadis itu menjauhi Galih dan tidak menganggap remeh setiap ancaman yang mereka berikan. Hilangnya Viona, tentu menjadi kabar baik untuk pak Haris dan Bu Farah. Pertunangan Galih dan Felly memang sudah tidak ada harapan, tapi jika Viona sudah pergi menjauh dari Galih semuanya akan kembali seperti semula. Mereka tidak perlu berbuat apapun, gadis itu sudah pergi dari kehidupan Galih dengan sendirinya. Semuanya terjadi begitu cepat, keluarga Felly membatalkan rencana pertunangan secara tiba-tiba. Mereka sempat menolak dan kekeh, ingin mempertahankan Felly tapi semua percuma orang tua Felly sudah mengetahui jika Galih tidak pernah setuju dengan perjodohan ini. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Galih membuka ponselnya. Hari ini, tepat satu minggu Viona menghilang. Kemana lagi, Galih harus mencari Viona? "Selamat malam Viona, mas harap kamu selalu baik baik aja. Cepat pulang, mas kangen kamu." Lirih Galih, berharap jika dalam waktu dekat mereka akan bertemu. Dengan susah payah, Galih tetap berusaha memejamkan matanya. Hingga akhirnya, laki laki benar benar terlelap setelah melihat fotonya bersama Viona. Pagi harinya, Galih berangkat lebih awal ke kantor. Tujuannya masih sama mengunjungi rumah Viona terlebih dahulu, setiap pagi Galih selalu berharap jika dirinya akan di pertemukan kembali dengan Viona. Cepat atau lambat, dirinya harus segera menemukan gadis itu. Dengan terpaksa, Galih harus kembali merasa kecewa saat rumah Viona masih kosong. Pernah beberapa kali, Galih bertanya pada tetangga Viona dimana kita kira mereka pergi tapi tidak ada yang tau. Mungkin, mereka pergi malam hari. Galih mengepalkan tangannya, saat melihat sebuah mobil berhenti tepat di samping mobilnya. Galih tau betul jika ini mobil mantan bos Viona, yang lebih membuatnya merasa kesal Viona dan Bu Sarah berada di dalam mobil itu. Melihat Viona keluar dari mobil Alan, Galih dengan cepat menghampiri gadis itu dan ibunya. Viona sempat terkejut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin ini sudah saatnya mereka bertemu, kondisi Viona sudah lumayan membaik. "Kamu enggak apa-apa?" Tanya Galih, rasa senang bercampur kesal saat melihat Viona kembali. Gadis itu hanya mengangguk, tau jika Galih seperti sedang menahan amarahnya. Ya, penyebab kemarahan Galih adalah melihat Alan mengantarkannya pulang pagi ini setelah satu minggu dirinya pergi tanpa kabar. "Ayo masuk." Ajak Bu Sarah, Alan yang menyadari jika Galih dan Viona butuh waktu akhirnya memutuskan untuk langsung pamit pulang. "Alan langsung pamit Bu, maaf enggak bisa lama lama." Pamit Alan dengan sopan, Bu Sarah hanya mengangguk Alan memang cukup sibuk. Satu minggu hampir selalu bertemu Alan, membuat bu Sarah mengerti jika mantan bos Viona itu memang orang baik. "Hati hati ya nak, dan terimakasih untuk semuanya. Maaf, kalau kami sempat merepotkan kamu." Ucap Bu Sarah tulus, berharap semoga kebaikan Alan benar benar ikhlas pada Viona bukan karena adanya maksud lain. Alan tersenyum, lalu menatap Galih dan Viona bergantian. "Saya pulang dulu Vi, nanti kalau ada waktu saya mampir lagi. Cepat sembuh, jangan banyak pikiran." Berada di posisi seperti ini tentu saja Viona merasa bersalah, Alan begitu baik padanya tapi disisi lain ada Galih yang pasti sedang menahan ras cemburu. Ingatan Viona kembali pada saat malam itu, Galih menggenggam tangan Felly tanpa Ragu dan senyum yang mengembang. Viona baru ingat, mungkin Galih sudah bertunangan dengan Felly. Bisa saja sebentar lagi, Galih akan meninggalkan dirinya dan secepatnya menikah dengan Felly. Kenyataan pahit yang harus Viona terima, dirinya sudah kalah. Tapi Viona sudah ikhlas, perjuangan mereka selama ini sia sia. Mungkin memang benar, cinta butuh perjuangan walaupun akhirnya belum tentu bisa bersama. "Hati hati mas, makasih ya udah bantuin aku sama ibu." Hati Galih semakin bergemuruh mendengar Viona memanggil Alan dengan sebutan mas. Apa apaan ini, apa mereka sudah sedekat itu? Satu minggu berlalu, apa Viona sudah melupakan dirinya dan berpaling? Secepat itu? Galih menggeleng pelan, berusaha menghilangkan berbagai macam pikiran buruk yang akan semakin mengusik ketenangan hatinya. Alan tersenyum, Viona tidak sudah bukan karyawannya. Panggilan mas, memang Alan yang meminta. Dan Alan senang, karena gadis itu mau menurutinya. Setelah berpamitan, Alan masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumah Viona. Disinilah mereka berdua, setelah Alan pulang Galih mengurungkan niatnya untuk kembali ke kantor Bu Sarah masuk kedalam rumah tak lupa juga mengajak Galih. Tidak sopan rasanya jika ada tamu di biarkan di luar rumah, sebenarnya ini masih terlalu pagi untuk menerima tamu. Namun, Bu Sarah juga tidak mungkin mengusir Galih. Mereka berdua mungkin butuh waktu untuk menyelesaikan semua permasalahannya. Galih berdehem pelan, Viona hanya terdiam jika Galih tidak mengajaknya berbicara gadis itu seperti malas bertemu dengannya. "Seberapa dekat kamu sama Alan sekarang?" Tanya Galih, rasa penasarannya begitu besar. Pertanyaan ini sudah Viona duga, Galih akan bertanya kenapa Alan bisa mengantarkannya pulang pagi ini. "Enggak begitu dekat," jawab Viona pelan, memang dirinya dan Alan tidak ada hubungan apapun dan tidak terlalu dekat. "Terus, kenapa kamu panggil dia mas? Kamu tau? Aku cemburu Vi, kamu cuma boleh panggil aku mas. Bukan laki laki lain," Hanya karena sebuah panggilan, bisa membuat Galih cemburu. Lalu, apa Galih pernah berfikir bagaimana perasaan Viona saat mengetahui jika dirinya dan Felly bergandengan tangan atau mungkin sekarang keduanya sudah resmi bertunangan? "Enggak perlu berlebihan, aku cuma panggil dia mas." "Kamu punya mas Vi, panggilan itu khusus buat mas." Viona tersenyum hambar, " status kita sekarang apa?" "Maksud kamu?" Galih sama sekali tidak mengerti maksud Viona, status mereka masih sama tidak ada yang berubah. "Aku mau hubungan kita cukup sampai disini, aku nyerah mas." Cobaan apalagi ini, satu minggu hilang tanpa kabar. Setelah kembali, Viona memutuskan hubungannya dengan Galih. Apa ini karena mereka yang tidak bisa mendapatkan restu dari orang tua Galih, atau karena Viona sudah mulai menyukai Alan? "Sekuat apapun kita berjuang untuk mendapatkan restu, kalau kita enggak pernah di takdirkan bersama ya percuma. Kita terlalu percaya diri kalau suatu saat akan mendapat restu, tapi kita lupa restu dari orang tua kamu terlalu sulit untuk di gapai. Aku emang harus sadar, kalau kita enggak akan pernah bersama."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN