Penjelasan Galih

1194 Kata
Sudah berulang kali, Galih mencoba menghubungi Viona tapi tidak berhasil. Viona menghilang tanpa jejak, bahkan sudah hampir satu minggu Viona tidak berangkat kerja. Fanika juga tidak bisa memberikan informasi dimana gadis itu sekarang, setiap Galih datang ke rumahnya selalu terkunci. Saat malam hari, lampu rumahnya juga selalu padam. Sepertinya tidak ada orang di dalamnya. Viona benar benar pintar bersembunyi, satu satunya orang yang mungkin bisa memberikan petunjuk hanyalah Aldo. Untuk bisa bertemu dengan Viona, Galih harus datang ke tempat kerja sahabat kekasihnya. Belum tentu Aldo tau dimana Viona sekarang, tapi Galih tidak punya harapan lain. Hanya Aldo, satu satunya harapan Galih. Setelah mempertimbangkan banyak hal, Galih akhirnya menemui Aldo. Restoran cukup ramai, sudah pasti laki laki itu sedang sibuk. Dengan begitu sabar, Galih menunggu Aldo menyelesaikan pekerjaannya. "Sorry lama, hari ini rame banget." Ucap Aldo tak enak hati, setelah membuat Galih menunggu hampir tiga jam lamanya. Galih memaklumi kesibukan Aldo, disini dirinya yang butuh informasi tentang Viona tidak masalah jika dirinya harus menunggu cukup lama walaupun sebenarnya sangat membosankan. "Enggak apa apa, to the point aja Al. Gue kesini mau cari Viona, em maksud gue apa lo tau dimana Viona sekarang?" Aldo adalah harapan satu satunya yang Galih punya, tidak ada yang bisa membantunya selain Aldo. Tentu saja Aldo tau dimana gadis itu berada, bahkan menghilangkannya Viona juga karena ide Aldo. Bukan karena ingin membuat mereka berjauhan, tapi Aldo hanya ingin menghilangkan sedikit demi sedikit rasa trauma Viona. Viona baik baik saja, tapi semuanya perlu waktu. Waktu untuk sembuh, dan kembali menjalani kehidupannya. "Apa kalian ada masalah?" Tanya Aldo, tidak semudah itu mendapatkan informasi dimana gadis itu berada. Aldo harus tau apa yang sebenarnya terjadi, tidak mau ikut campur. Tapi apa yang sudah Viona alami sudah tidak wajar, Aldo hanya ingin menjaga sahabatnya. Galih berdecak malas, inilah yang terjadi jika dirinya sedang berhadapan dengan Aldo. Selalu ingin tau apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Viona, padahal menurut Galih ini tidak perlu di pertanyakan. Namun, saat ini Viona menghilang tanpa kabar. Tidak hanya Viona, tapi Bu Sarah juga tidak ada di rumahnya. Kemungkinan, ibu dan anak itu pergi ke suatu tempat yang Galih tidak tau dimana. Berbagai pikiran buruk muncul, bagaimana jika Viona tidak akan pernah kembali lagi? "Sedikit." Mendengar jawaban Galih, rasanya Aldo ingin menghajarnya sekarang. Apa Galih benar benar menutup mata, sehingga tidak tau apa yang di alami Viona? Kejadian malam itu tidak bisa dikatakan masalah kecil, apa yang mereka lakukan sudah membahayakan nyawa Viona. Malam itu Viona memang mereka bebaskan, tapi akibat dari semua itu Viona mengalami trauma bertemu orang asing. "Kenapa enggak di telvon aja? Kalau emang, masalah kalian enggak terlalu besar enggak mungkin sampai lo cari Viona kesini." Meksipun tau dimana Viona sekarang, tapi Aldo ingin melihat perjuangan Galih untuk bertemu Viona. Mendengar cerita Viona tentang Galih yang akan bertunangan malam itu, rasanya sangat sulit di percaya. "Enggak bisa, handphonenya mati. Kalau gue tau dimana Viona sekarang, gue enggak bakalan kesini." "Gue enggak tau dia dimana," "Ck, kasih tau gue Al. Lo pasti tau dimana Viona sekarang," paksa Galih. Aldo menatap Galih iba, "gue bener enggak tau, sorry gue enggak bisa bantu." Galih mengangguk, walaupun hatinya tidak percaya tapi Aldo tidak akan mau berkata jujur. "Gue sedikit kecewa, tapi kalau lo enggak tau ya gue enggak bisa maksa. Gue pergi dulu, makasih waktunya dan sorry udah ganggu jam istirahat lo." Terus memaksa Aldo, tidak akan menguntungkan Galih. Melihat Galih seperti ini, Aldo menjadi tidak tega. Namun, ini demi kebaikan Viona. Jika Galih tega meninggalkan gadis itu demi Felly, untuk apa merasa kasihan pada Galih? Ini belum seberapa, jika di bandingkan dengan rasa sakit yang Viona rasakan. "Al." "Ya?" Galih menghela nafas, sudah tidak bisa berfikir dengan baik. "Gue butuh teman curhat, gue lagi ada masalah." Ucap Galih, dan inilah yang Aldo tunggu sejak tadi. Jika Aldo sudah tau dimana permasalahannya, mungkin dirinya akan berubah pikiran untuk membantu Galih bertemu dengan Viona. Namun, jika nanti Galih memang melakukan semua itu bukan karena paksaan sampai kapanpun jika bukan Viona sendiri yang ingin bertemu Galih mereka tidak akan bisa bertemu. Aldo melirik jam tangannya, beruntung ini sudah jam pulang. Tidak ada pekerjaan yang perlu di selesaikan, mereka bisa saling bertukar pikiran. "Masalah sama Viona atau?" "Sama Viona, keluarga gue dan keluarga seseorang." Aldo paham keluarga siapa yang terkahir Galih maksud, mungkin keluarga tunangannya. "Cerita aja, gue mungkin enggak bisa bantu banyak tapi seenggaknya lo bisa cerita apapun sama gue." Untuk sesaat, Galih terdiam. Akhir akhir ini, begitu banyak permasalahan yang datang silih berganti. Dan sekarang, Viona menghilang padahal Galih sedang membutuhkan gadis itu. "Viona sempat di culik sama bokap gue, malam itu gue udah janji mau jemput Viona. Semuanya udah siap, tapi gagal. Gue enggak bermaksud ingkar janji, tapi keadaannya enggak memungkinkan. Gue lebih milih ingkar janji, daripada harus kehilangan Viona selamanya." Sering kali, kita memang harus sedikit berkorban dan bersabar menghadapi setiap ujian dalam hidup. Itu yang Galih alami, bukannya memilih Felly di banding Viona tapi pilihannya hanya satu untuk menyelamatkan Viona. "Apa karena itu Viona hilang tanpa kabar?" "Salah satunya, ada hal yang belum gue jelasin. Gue mau dia tau langsung dari gue, bukan dari orang lain. Tapi sekarang gue kehilangan jejak Viona, gue takut ini karena ulah orang tua gue. Gue udah berkorban banyak hal, dan satu satunya alasan gue mau berkorban cuma Viona." Galih menghembuskan nafas kasar, takut jika dugaannya selama ini memang benar. "Apa yang terjadi sebenernya? Maksud gue, kenapa sampai Viona di culik. Apa karena orang tua lo yang enggak setuju sama hubungan kalian?" Galih mengangguk, semua ini memang karena mereka yang tak kunjung memberi restu. Jika mereka mau mengenal Viona lebih dekat, bukan tidak mungkin mereka akan merubah pola pikirnya tentang Viona. "Tiga hari yang lalu, gue hampir tunangan sama anak teman bisnis bokap gue." Hampir bertunangan berarti? Aldo masih berusaha sabar untuk tidak menyela ucapan Galih. "Semuanya terjadi begitu cepat, Viona di culik dan di saat yang sama tanggal pertunangan gue di umumkan secara langsung tanpa undangan. Gue enggak bisa apa apa, karena saat itu nyawa Viona dalam bahaya. Gue cuma mau Viona selamat, dan gue harus menerima kekalahan. Pagi sebelum pertunangan gue, semua fasilitas yang awalnya di sita di balikin ke gue lagi karena mereka pikir gue udah berubah pikiran dan semuanya bakalan berjalan sesuai rencana mereka. Tapi tuhan masih baik sama gue, keluarga Felly datang dan membatalkan semuanya." Ada rasa lega saat Galih tidak bertunangan dengan gadis lain, karena ibu Felly yang membantunya untuk menyelesaikan semua permasalahan yang ia hadapi. Malam dimana Galih mengantarkan gadis itu pulang, ternyata membawa titik terang. Orang tua Felly bisa memahami dirinya di bandingkan orang tuanya sendiri. "Kenapa? Bukannya dari awal sama sam setuju, kecuali lo?" Galih tersenyum tipis, "gue cerita semuanya, termasuk alasan kenapa gue selalu nolak untuk datang setiap ada pertemuan keluarga. Dan gue juga bilang, kalau gue udah punya calon istri. Mereka bisa menerima dengan mudah, kecuali orang tua gue dan Felly. Gue pengen jagain Viona Al, tapi gue sekarang enggak tau dia dimana." Aldo cukup tenang setelah mendengarkan penjelasan Galih, ternyata Galih memang setia walaupun harus menghadapi dua keluarga sekaligus. "Gue balik duluan, adik gue udah nunggu. Kapan kapan, gue bantu cari Viona." Pamit Galih, malam ini ada hal yang harus Aldo selesaikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN