Curhatan Viona

1219 Kata
Sudah dua hari, Viona tidak berangkat kerja. Rasa traumanya masih belum hilang, gadis itu masih terus saja melamun. Bayangan pisau tajam menempel di wajah cantiknya, membuat Viona bergidik ngeri. Takut jika laki laki asing itu bertemu dengannya di tengah jalan, atau bisa saja datang ke rumahnya. Selama dua hari pula, ponsel Viona mati. Atau lebih tepatnya, gadis itu sedang menghindari Galih. Laki laki itu pasti akan menelvonnya dan meminta maaf karena sudah membuatnya menunggu, dan Viona tidak ingin bertemu Galih untuk sementara waktu. Galih mungkin sudah bertunangan dengan Felly, membayangkan kekasihnya memasangkan cincin di jari manis perempuan lain membuatnya merasa sesak. Tapi Viona tidak bisa melakukan apapun, takdir berkata lain. Galih hanya sekedar singgah, bukan sungguh. Atau mungkin, laki laki itu sudah berusaha tapi mereka tidak di takdirkan untuk bersama. "Ngelamun aja lo, gue dateng kesini buat ngehibur lo ya." Ucap Aldo, tadi pagi Viona menghubunginya untuk datang ke rumah. Karena hari ini Aldo mendapatkan cuti, laki laki itu dengan senang hati menuruti permintaan Viona. Viona memaksakan senyumnya, beruntung masih ada Aldo yang selalu ada untuknya. Meksipun mereka hanya teman, tapi hubungan keduanya sudah seperti saudara. "Kamu udah dari tadi?" Tanya Viona, gadis itu terlalu sering melamun sampai tidak sadar jika Aldo sudah datang satu jam yang lalu. Aldo mengangguk, "dari subuh gue disini, sampe lumutan nih kaki." Kesal Aldo, siapa yang tidak merasa kesal jika Viona malah asik mengurung diri di kamar? Untungnya mereka sudah berteman cukup lama. Viona terkekeh, Aldo memang selalu berlebihan. " Al." Panggil Viona, dirinya butuh teman untuk berbagi keluh kesah selama beberapa hari. Viona butuh Aldo, untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapinya saat ini. "Kenapa Vi? Lo lagi ada masalah?" Viona langsung mengangguk, permasalahannya adalah Viona harus melawan rasa trauma yang terjadi kemarin. "Ibu kemana?" Sebelum memulai cerita, Viona harus memastikan bahwa ibunya tidak ada di dekat mereka. Viona takut, jika sang ibu merasa khawatir dengan keadaannya. "Lagi nyiram bunga di depan, gue boleh enggak nyiram lo? Gue takut lo kesurupan dari tadi diem aja." Ujar Aldo dramatis, tapi dirinya memang merasa kasihan melihat Viona yang hanya diam melamun. Gadis itu mencubit perut Aldo, ciri ciri teman laknat. Bukannya menghibur malah membuatnya semakin kesal. "Awww, ganas banget anjir!" Cubitan Viona di perutnya tidak main main, dasar perempuan meskipun terlihat lemah tapi tenaganya begitu kuat. "Eh, sakit ya Al?" Tanya Viona, dengan wajah polos tanpa dosa. Entah dari mana dirinya mempunyai keberanian untuk melakukan hal itu pada Aldo. Aldo hanya memutar bola matanya malas, sudah menyakiti dirinya tapi masih sempat bertanya sakit atau tidak? Dasar. "Hm, tapi enggak apa apa. Kalau itu bisa buat lo seneng, by the way lo kenapa? Cerita sama gue." Melihat Viona kembali murung, Aldo semakin merasa iba. Viona menghela nafas, dirinya harus berani bercerita pada Aldo tentang kejadian mengerikan malam itu. "Dua hari yang lalu, aku sempet di sekap Al." Lirih Viona, tidak mau jika sang ibu mendengar suaranya. Aldo cukup terkejut, biasanya permasalahan Viona tidak jauh dari Galih dan keluarganya. Namun, kali ini Viona mengalami masalah lain. "Siapa yang lakuin itu?" "Aku enggak tahu pasti, tapi aku enggak pernah punya masalah sama siapapun Al. Dia sendirian, tapi yang buat aku takut dia bawa pisau tajam banget." "Lo masih ingat wajahnya?" Viona menggeleng, laki laki itu menggunakan topi dan masker berwarna hitam. "Enggak, dia pakai masker." Jawab Viona, ketakutannya masih ada sampai sekarang. "Jadi ini, yang buat lo sering melamun?" Aldo berfikir, apakah Galih tidak tahu apapun? Ada hal lain yang mempengaruhi Viona, tapi apa juga harus di ceritakan pada Aldo? Tapi cepat atau lambat, semua orang pasti akan mengetahui pertunangan Galih termasuk Aldo dan ibunya. "Mas Galih." Menyebutkan namanya saja sudah membuat Viona takut, gadis itu takut jika Galih memang sudah bertunangan dengan Felly. Aldo tidak mengerti, apa Galih hanya diam saja saat mengetahui kekasihnya berada dalam kesulitan. Aldo terlalu sibuk menerka sampai akhirnya, Viona sendiri yang melanjutkan ucapannya. "Mas Galih, tunangan sama Felly kemarin malam." Ucap Viona dengan senyum yang mengembang, senyuman penuh kepalsuan. Siapa yang tidak terkejut mendengar ucapan Viona? Gadis itu sedang mengalami trauma, bukannya berada di samping sahabatnya Galih malah bertunangan dengan perempuan lain. Miris, Aldo tahu ini semua terjadi karena paksaan orang tuanya. Jika sudah seperti ini, kemungkinan Viona sekarang sedang mengalami dua hal. Pertama Viona sedang berusaha melawan rasa traumanya, dan yang kedua gadis itu sedang berusaha untuk terlihat tegar, Aldo saja tidak menyangka jika Galih akhirnya menuruti keinginan orang tuanya untuk bertunangan dengan Felly. Apalagi Viona, pasti hatinya begitu sakit. "Lo, tau dari mana? Jangan cepat percaya sama berita yang enggak bener. Bisa jadi, lo salah paham." Saat ini, bukan waktunya untuk membuat Viona menjauh dari Galih setelah laki laki itu bertunangan dengan perempuan lain. Aldo ingin, Viona mengetahui apa yang sebenarnya terjadi agar tidak ada penyesalan setelahnya. Ingatan Viona kembali pada saat dirinya di sekap, dan sebuah foto yang membuatnya semakin percaya jika semua ini bukan sepenuhnya paksaan pak Haris dan Bu Farah. Galih sebenarnya menyukai Felly, jika tidak kenapa laki laki itu memeluk Felly dalam keadaan terlelap? Berbagai macam pikiran buruk, membuatnya merasa tidak mengenal Galih. Jika Galih yang Viona kenal, tidak akan mudah jatuh kedalam pelukan perempuan lain. Galih begitu dingin jika bersama orang baru, tapi sekarang mereka seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Mungkin Galih sudah sadar, jika dirinya memang seharusnya menerima Felly sebagai calon istri dan bukan malah memilih Viona. Karena sampai kapanpun, Galih dan Viona seperti langit dan bumi. Bersama tapi tidak bisa bersatu. "Orang yang culik aku, dia kasih tau semuanya Al. Dan dia juga kenal om Haris, malam itu seharusnya mas Galih jemput aku. Tapi aku terlalu berharap, pertunangan mereka di umumkan langsung selama acara berlangsung, apa jadinya kalau aku datang?" Mungkin, jika malam itu Viona datang bersama Galih dirinya malah akan mengacaukan acaranya. Jadi apa Viona harus bersyukur? Aldo terdiam, mencoba memahami apa yang terjadi. Bagaimana orang yang menculik Viona bisa mengenal pak Haris? Dan kenapa Viona di culik saat Galih ingin menjemputnya? Apa pak Haris dalang di balik semua ini? Tidak ada yang tidak mungkin, mengingat orang tua Galih sangat membenci Viona dan hal yang paling mereka inginkan adalah menjauhkan Viona dari Galih. "Kira kira, lo bisa nebak enggak siapa yang ngelakuin itu sama lo?" Tanya Aldo, seharusnya Viona bisa menyimpulkan semua ini terjadi pasti ada maksud dan tujuan tertentu. "Aku enggak tau Al." Ucap Viona bohong, jelas Viona tahu jika orang asing itu adalah orang yang di bayar untuk menculik dirinya. Tidak mungkin jika bukan pak Haris yang menculiknya, karena laki laki asing itu tahu dimana Galih berada dan meminta Viona untuk menjauhi Galih. "Salah enggak sih, kalau gue bilang orang tuanya mas Galih yang udah nyekap lo? Soalnya, enggak mungkin kalau itu bukan mereka." Viona tau, apa yang di katakan Aldo memang benar. Tapi, Viona juga tidak ingin orang lain mempunyai pemikiran buruk pada keluarga Galih. Cukup dirinya yang tau apa yang sebenarnya sudah terjadi, karena selama ini sikap dan perlakuan mereka sudah cukup meyakinkan Viona. "Aku enggak punya bukti Al, aku enggak mau ibu tau kalau aku di culik malam itu. Aku takut, ibu jadi ngelarang aku buat ketemu mas Galih." Meksipun Viona sudah merasa kecewa, tapi entah kenapa gadis itu tidak bisa membenci Galih. "Tunggu Galih datang buat jelasin semuanya Vi, kalau lo ngerasa udah enggak ada yang bisa di pertahankan. Cukup sampai disini aja perjuangan lo, karena sampai kapanpun kalian berdua enggak bisa melawan takdir."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN