Sadar diri

1444 Kata
Hari ini, jadwal meeting Galih di kantor sudah selesai. Hampir satu jam, tapi akhirnya laki laki itu bisa bernafas lega karena semuanya berjalan dengan lancar. Galih sangat profesional dalam bekerja, sebisa mungkin menyampingkan urusan hati. Di depan umum, Galih selalu berusaha terlihat baik baik saja. Jangan sampai, mereka tau apa yang Galih rasakan terutama kedua orang tuanya. Jika mereka tau, pasti yang akan di salahkan adalah Viona dan Galih tidak ingin hal itu sampai terjadi. Rencananya setelah pulang dari kantor, Galih ingin menyempatkan waktu untuk berkunjung ke Gavi Butik. Tujuan nya selalu sama, bertemu dengan Viona. Walaupun Galih sudah tau jika gadis itu akan mengabaikannya tapi itu lebih baik daripada Galih tidak melihat keadaannya secara langsung. "Malam ini, ada undangan makan malam di rumah Felly. Kamu mau ikut?" tanya pak Haris, mereka baru saja menyelesaikan makan siangnya. Galih menggeleng pelan, ternyata urusan dengan keluarga Felly sampai sekarang belum juga selesai. Bedanya, dulu kedua orang tuanya selalu memaksa tapi sekarang setelah mereka mengetahui bahwa Galih sudah putus dengan Viona mereka sedikit memberikan kebebasan. Walaupun hanya sedikit, tapi sudah membuat Galih merasa betah di rumah. Masih ada paksaan dan tekanan dari keluarga, tapi tidak seperti biasanya. "Aku sibuk." Pak Haris mengangguk maklum, akhir akhir ini sering melihat Galih begadang di depan laptop. Baik pak Haris dan Bu Farah hanya tau jika Galih sibuk bekerja, padahal Galih sedang berusaha menata kembali hidupnya tanpa Viona. Tidak ada niatan untuk benar-benar melupakan, hanya saja untuk sekarang Galih ingin memberi kebebasan pada Viona agar gadis itu mengerti apa artinya bertahan dalam sebuah hubungan. Tidak mudah, tapi lebih sulit jika kita memilih untuk berpisah. Bagi Galih, sebaik apapun cara Viona berpamitan berpisah dengan Viona tetaplah menyakitkan. "Papa enggak maksa, Papa lihat akhir akhir ini kamu sering begadang. Papa sama Mama enggak pernah minta kamu kerja sampai malam, yang penting kamu jadi anak penurut." Menjadi anak penurut yang di inginkan pak Haris adalah dengan cara menjauhi Viona, dan itu juga yang Viona inginkan. Berpisah dengan Galih agar dirinya lebih dekat dengan kedua orang tuanya, andai Viona tau selama ini Galih benar benar tertekan. "Papa enggak pulang?" tanya Galih, jika sang ayah belum pulang terlebih dahulu maka Galih tidak akan bisa menjalankan rencananya untuk menemui Viona sore ini. "Pulang bentar lagi, Mama kamu minta di jemput di salon. Ingat Galih, habis ini kamu pulang langsung istirahat." Pesan pak Haris, sebagai orang tua pak Haris ingin Galih menjaga kesehatannya. Pak Haris harus pulang terlebih dahulu, Bu Farah sudah mengirimkan pesan jika sudah selesai. Setelah sang ayah keluar dari ruangannya, Galih melepaskan jas kantornya. Hari ini begitu melelahkan, tidak ada yang bisa Galih jadikan tempat mencurahkan isi hati. Dulu, saat masih bersama Viona gadis itu dengan senang hati mendengarkan semua keluh kesahnya. Namun, saat ini Viona sendiri yang memintanya untuk pergi menjauhi dirinya. Galih tidak akan pernah bisa, sampai kapanpun. Laki laki memang selalu terlihat kuat dan tegar, tapi di balik itu semua kita tidak pernah tau duka apa yang mereka simpan. Dan beban apa yang sedang mereka tanggung, sejatinya hidup harus tetap berjalan walaupun masalah selalu datang silih berganti. Galih meraih ponselnya, membuka galery. Masih banyak foto Viona tersimpan rapi, bahkan Galih tidak berniat menghapusnya sama sekali. Satu hal yang selalu Galih yakini, mereka berdua akan kembali bersatu. Jika tidak dalam waktu dekat mungkin memang mereka butuh waktu untuk kembali. "Apa kabar?" tanya Galih, sambil memandangi foto Viona. Laki laki itu menghela nafas, rindunya sudah lama tertahan tapi Viona masih tetap memblokir nomornya. Apa Galih pernah membenci Viona karena sudah membuatnya menjadi seperti ini? Tidak, Galih sama sekali tidak pernah membenci Viona. Semua itu terjadi karena mereka yang tidak kunjung mendapat restu, gadis mana yang mau bertahan jika sikap orang tuanya selalu merendahkan Viona. Mereka selalu mengukur ketulusan seseorang lewat harta dan jabatan, padahal semua itu akan kalah dengan kenyamanan hati. Daripada terus menahan diri, lebih baik Galih berangkat ke Gavi Butik untuk bertemu dengan Viona. -- "Mbak Viona, ada yang nyariin di depan." Ucap Riska memberitahu Viona, untuk pertama kalinya ada laki laki selain Galih yang datang mencari Viona. Sudah beberapa hari ini, Galih tidak pernah datang. Viona merasa uring uringan saat tidak melihat laki laki itu sehari saja, tapi setelah mendengar ucapan Riska tiba tiba mood Viona menjadi lebih baik berharap yang mencarinya adalah Galih. Viona berdiri, lalu menemui orang yang mencarinya. "Galih?" tanya Fanika, sementara Riska langsung menggeleng dan duduk di samping Fanika. "Bukan, aku enggak kenal. Baru pertama kali liat," jawab Riska. Fanika terdiam, siapa yang datang menemui Viona? Tadi Galih memberi kabar jika akan datang, bagaimana jika laki laki itu melihat Viona bersama laki laki lain? "Lanjutin kerjaan kamu Ris, mbak mau ke depan dulu." "Ngapain? Kepo ya pasti." Cibir Riska yang sudah tau tabiat atasannya itu, sifat Fanika dan Riska tidak jauh berbeda sama sama penasaran siapa yang datang menemui Viona. Fanika mendengus sebal, "mau ikut?" tanya Fanika, langsung di angguki oleh Riska. "Kuy lah boss." Sahut Riska lalu berjalan mengikuti Fanika dari belakang, tidak heran jika keduanya sangat dekat karena Fanika tidak membedakan antara dirinya dan karyawannya semuanya sama. Fanika selalu bisa berteman dengan siapapun. Viona terdiam melihat Alan yang duduk menunggunya, dalam hati gadis itu benar-benar kecewa ternyata bukan Galih yang datang tapi orang lain. Apa Galih tidak ada niat untuk menemuinya lagi walaupun mereka hanya berteman? Viona menggeleng, jika Galih memang sudah tidak mau bertemu dengannya tidak masalah. "Mas Alan, maaf nunggu lama." Sejak dirinya sudah tidak bekerja di restoran milik Alan, Viona memanggil laki laki itu dengan sebutan pak. Alan mengangguk, Viona tidak perlu merasa tidak enak karena disini Alan yang menggangu jam kerja gadis itu. "Enggak apa apa, duduk Vi. Maaf aku ganggu waktu kerja kamu," ucap Alan tidak enak hati, dirinya juga memiliki tempat usaha pasti tidak suka jika ada salah satu pekerjanya yang kedatangan tamu saat jam kerja apalagi tidak ada tujuan penting. Viona duduk di samping Alan, tidak terlalu dekat. "Ada apa mas?" tanya Viona cepat, tidak mau Alan berlama-lama disini. "Kamu apa kabar?" Viona tercengang mendengar pertanyaan tidak penting dari Alan, hanya ingin menanyakan kabar? Kenapa tidak lewat pesan atau telepon saja? "Aku baik, mas Alan gimana kabarnya?" tanya Viona basa basi, jika di saat dirinya sedang butuh bantuan waktu itu Alan tidak datang mungkin saat ini Viona bisa cepat meminta laki laki itu untuk segera pulang. Alan tersenyum, "aku baik." Jawab Alan singkat. Viona hanya mengangguk, kemudian teringat Aldo. Bagaimana kabar sahabat laki lakinya saat ini, sudah lama Aldo tidak menghubungi dirinya atau berkunjung ke rumah Viona. "Aldo sehat kan? Udah lama enggak main ke rumah soalnya." Alan sedikit kecewa saat Viona malah bertanya kabar tentang Aldo, padahal disini sudah ada dirinya kenapa malah menanyakan laki laki lain? "Udah beberapa hari ini dia sakit." "Aldo sakit? Kok enggak ngabarin aku?" Pantas saja Aldo tidak pernah datang, ternyata sedang sakit. "Kurang tau sakit apa, aku kesini mau ajak kamu jenguk dia nanti malam. Apa kamu bisa?" Tujuan Alan datang memang ingin mengajak Viona menjenguk Aldo, walaupun sikap karyawannya yang satu itu sangat menyebalkan tapi Alan tetap bersikap baik pada Aldo. Apa tidak akan menjadi masalah baru jika Viona menjenguk Aldo bersama Alan? Bagaimana jika Galih tau? "Malam ini aku enggak bisa mas." "Kalau besok?" "Nanti aku kabarin lagi ya." Tidak jauh dari mereka berbincang, Fanika dan Riska menguping pembicaraan keduanya. Tidak sopan memang, tapi mereka sudah terlanjur penasaran. "Itu siapanya mbak Viona?" tanya Riska pelan, takut jika mereka berdua mendengar suaranya. "Mantan bosnya Viona yang dulu, tapi kata Galih dia emang udah lama sih suka sam Viona." Jawab Fanika tak kalah pelan, tidak lama pintu masuk terbuka. Menampilkan seorang laki laki dengan pakaian formal yang menandakan bahwa baru saja pulang dari kantor langsung datang ke butiknya. "Mampus, ada Galih!" Ya, laki laki itu memang Galih. Baru saja masuk sudah di sambut dengan pemandangan Viona yang sedang duduk bersama Alan. Mereka berdua sama sama terkejut, melihat Galih datang dengan tiba-tiba. Yang paling terkejut adalah Viona, tidak menyangka Galih datang sore ini setelah pulang bekerja. Galih tersenyum tipis, hatinya merasa tidak terima jika Viona dekat dengan Alan. Tapi Galih sadar bahwa mereka tidak memiliki hubungan apapun sekarang. "Sorry, enggak tau kalau lagi bicara penting. Lanjutin aja," saat melihat Galih datang keduanya langsung terdiam, tidak mau menambah luka Galih dengan cepat keluar dari Butik. Rasa lelah dan kesal menjadi satu, tapi melihat Viona baik baik saja tanpanya sudah cukup menjelaskan bahwa gadis itu tampak baik baik saja walaupun tidak ada Galih di sampingnya. "Ikhlas itu bohong, yang ada itu terpaksa." Ucap Galih, tidak ada gunanya dirinya datang ke Butik bertemu Viona. Sudah ada Alan yang berhasil menggantikan posisi Galih, dirinya harus sadar Viona sudah melupakannya. Melupakan semua kenangan yang pernah mereka lalui bersama, ternyata lamanya sebuah hubungan tidak menjanjikan seseorang tetap bertahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN