Harapan memang tidak selalu sama dengan apa yang terjadi, kadang terlalu berharap pada manusia akan berakhir dengan kekecewaan. Sebaik baiknya berharap lebih baik berharap pada sang pencipta.
"Kusut banget muka lo, kayak baju enggak di setrika dua tahun." Celetuk Fanika, sekarang keduanya sedang berada di cafe dekat dengan Butik. Karena kasihan melihat Galih yang terpaksa menerima kekecewaan, dengan baik hati Fanika berniat menghibur Galih. Terlihat jelas jika mereka memang masih saling mencintai, tapi Viona tetap bertahan dengan keputusannya. Menjauh dari kehidupan Galih, meksipun tidak mudah tapi gadis itu tidak mau menyerah. Yang Viona inginkan hanyalah kebahagiaan Galih bersama keluarganya, tapi Viona lupa jika tanpa dirinya Galih tidak akan bahagia.
Galih tersenyum hambar, tidak hanya wajahnya yang terlihat murung tapi hatinya begitu nyeri melihat sang mantan yang semakin akrab dengan Alan. Laki laki itu semakin gencar mendekati Viona setelah mengetahui keduanya resmi berpisah, padahal Galih sedang berjuang tapi Alan sudah mulai merusak semuanya.
"Gue pengen berjuang lagi, tapi gue liat Viona udah mulai bisa nerima Alan."
"Pesimis? Ck, Alan baru sekali ini datang ke Butik. Kalau Viona duduk bareng Alan, bukan berarti mereka pacaran." Ucap Fanika, terlalu geram dengan sikap Galih yang masih terbilang labil. Jika memang masih ingin berjuang Galih harus siap dengan segala konsekuensinya, di terima atau di tolak lagi itu akan menjadi pilihan Viona. Yang paling penting, berjuang.
Galih menghembuskan nafas kasar, melirik kopi yang sudah mulai dingin karena tidak tersentuh sama sekali.
"Menurut lo, Viona masih cinta gue enggak?" tanya Galih, keraguan untuk kembali berjuang mulai muncul saat melihat keakraban keduanya. Bukan pesimis, tapi Galih tidak ingin memaksa Viona untuk kembali bersama dengannya. Perasaan seseorang tidak bisa di paksakan.
"Kok nanya gue? Mana gue tau."
"Apa Viona enggak pernah curhat tentang gue Fan?"
Jika di ingat ingat, Viona tidak pernah sekalipun curhat dengan Fanika tentang Galih. Gadis itu terlalu rapi menyimpan semua permasalahan dalam hidupnya. Selalu tersenyum di saat dirinya sedang terpuruk, Fanika salut dengan Viona.
"Enggak deh kayaknya,"
"Terus, dia Deket sama Alan enggak sih menurut lo Fan?"
"Enggak astaga, udah gue bilang Viona enggak deket sama siapapun. Dia cuma baik ke Alan bukan berarti dia suka sama Alan, dan bisa juga dia cuek sama lo padahal dia masih cinta banget. Kan hati seseorang enggak ada yang tau." Lama lama, Fanika juga kesal dengan Galih kenapa menjadi lemah seperti ini. Jika memang masih ingin berjuang tidak perlu bertanya tanya lagi, pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya. Justru, Galih yang perlu bertanya pada dirinya sendiri sanggupkah berjuang sendirian?
"Tau ah, pusing gue." Keluh Galih, dirinya hanya ingin Viona kembali bersama dengannya. Kembali sama sama berjuang untuk mendapatkan restu, dan menikah.
"Lemah, lo seharusnya tetep berjuang. Jangan malah kayak gini, percaya sama gue Viona cuma butuh bukti bukan sekedar omongan."
"Gimana gue mau kasih bukti, sementara dia enggak pernah mau ngomong sama gue lagi."
Fanika berdecak sebal, yang perlu Galih lakukan adalah kembali berjuang bukan mengeluh.
"Bentar lagi jam pulang, mendingan lo sekarang pergi samperin Viona. Lupain masalah yang tadi, itu sama sekali enggak penting. Ajak Viona pulang bareng, tapi jangan lo paksa. Kalau di mau ya syukur, kalau nolak namanya juga usaha. Enggak selalu mulus jalannya," saran Fanika pada Galih, hari ini Fanika ada acara keluarga maka dari itu mereka bisa pulang lebih awal.
Walaupun sedikit ragu, tapi Galih tetap mengangguk. Mencoba melakukan apa saran Fanika, mereka sama sama perempuan mungkin apa yang di rasakan Viona saat ini Fanika bisa sedikit memberikannya solusi.
"Thanks, gue cabut duluan." Dengan cepat Galih keluar dari cafe dan menghampiri Viona yang ternyata sudah berada di luar butik, debaran jantung Galih begitu terasa. Bayangan penolakan Viona membuatnya takut untuk mendekati gadis itu, tapi Galih harus mencobanya terlebih dahulu.
"Udah mau pulang?"
Suara berat Galih tampaknya berhasil mengejutkan Viona, gadis itu mengangguk sedikit canggung berada di dekat Galih padahal dulu mereka selalu bersama.
"Mau pulang bareng? Mas pengen ketemu ibu, lama banget enggak ketemu. Em, tapi kalau kamu enggak kasih izin enggak apa apa mas ngerti." Seperti apa yang Fanika katakan, Galih tidak boleh memaksa Viona biarkan gadis itu berfikir dengan sendirinya mau pulang bersama Galih atau tidak. Namun, Galih berharap Viona mengizinkannya mengantarkannya pulang. Sudah lama mereka tidak berbicara berdua, walaupun sekarang bukan sebagai sepasang kekasih tapi sebagai teman.
Teman? Ck, Galih bahkan tidak akan pernah menganggap Viona sebagai temannya. Walaupun mereka sudah berpisah tapi Galih akan tetap menganggap Viona kekasihnya, biarkan saja hubungan mereka berjalan layaknya teman tapi Galih akan kembali berusaha untuk meluluhkan hati kedua orang tuanya.
"Apa aku enggak ngerepotin mas Galih?" tanya Viona, gadis itu sangat merindukan Galih tapi sadar dirinya sudah memutuskan hubungannya dengan laki laki itu. Apa masih pantas jika dua orang yang sudah tidak memiliki hubungan apapun berada di mobil yang sama? Apa nantinya tidak akan menjadi masalah baru untuk Galih dan orang tuanya?
Galih sontak menggeleng, ternyata Viona masih sama seperti dulu takut jika merepotkan orang lain padahal Galih selalu suka jika Viona memintanya untuk selalu ada si saat gadis itu butuh seperti sekarang.
"Enggak, ayo mas antar kamu pulang."
Viona mengangguk, lalu mereka berjalan beriringan menuju mobil Galih. Canggung? Tentu saja. Tapi Viona berusaha menepis segala perasaan itu. Mereka memang sudah putus tapi hubungan keduanya harus tetap baik baik saja, bukankah berteman baik dengan mantan bukan sebuah kesalahan?
"Mau makan dulu?" tanya Galih, kebiasaan saat bersama Viona dulu masih di lakukan oleh Galih. Laki laki itu tidak akan membiarkan Viona pulang dalam kondisi lapar, kesehatan Viona adalah hal utama bagi Galih.
"Enggak perlu mas, ibu pasti udah masak." Jawab Viona, kerinduannya pada Galih sedikit terobati. Apapun yang akan terjadi setelah ini, Viona akan menerimanya. Jika mereka ketahuan pulang bersama oleh pak Haris mungkin akan kembali menjadi masalah, tapi Viona siap menerima semua konsekuensinya.
Galih menghela nafas panjang, sikap Viona tiba tiba menjadi dingin.
"Kamu tau? Mas kangen banget sama kamu. Tapi mas sadar kalau sekarang kita udah berubah, sebenernya enggak ada yang benar-benar berubah. Hanya status, mas yakin perasaan kita berdua masih sama. Sama sama saling cinta, satu hal yang harus kamu tau. Walaupun mas udah enggak punya hak untuk cemburu, tapi liat kamu deket sama Alan mas enggak suka. Maaf, mas tau ini salah dan buat kamu risih tapi mas cuma nyampein apa yang mas rasakan," ujar Galih. Tidak peduli jika setelah ini Viona marah yang penting Galih sudah berani mengutarakan isi hatinya pada Viona.
Apa yang di katakan Galih memang benar, tidak ada yang benar benar berubah kecuali status. Mereka yang dulunya sepasang kekasih, kini menjadi teman. Berteman dengan mantan memang sulit, terlebih mereka masih saling mencintai.
"Aku tau ini enggak mudah, tapi enggak ada yang enggak mungkin. Lama lama kita akan terbiasa, dan akhirnya kamu dan aku nantinya bakalan ketemu orang yang benar-benar tepat." Dalam kondisi apapun, Viona tidak boleh membiarkan hatinya kembali di sakiti oleh harapannya sendiri.
"Ya, apa yang kamu katakan emang benar. Tapi kita juga enggak tau gimana perkembangan hubungan kita ke depannya, kalau kita emang di takdirkan bersama mas yakin kamu bakalan balik lagi. Sejauh apapun kamu berlari, aku adalah tempat terbaik untuk kamu pulang."
Siapa yang tidak luluh mendengar ucapan Galih? Perempuan mana yang tidak bahagia mendapatkan perlakuan manis dari laki laki yang di cintai? Viona yakin, orang yang nantinya akan menikah dengan Galih akan menjadi perempuan yang beruntung. Galih itu setia, dan selalu ada di setiap Viona butuh. Namun, takdir berkata lain. Dirinya dan Galih tidak akan pernah bisa bersama lagi. Mereka hanya kesenangan sesaat, tidak abadi.
"Kita emang enggak pernah tau, gimana akhirnya. Tapi puncak tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan dia pergi," ujar Viona.
Apa yang di katakan Viona sudah pernah Galih lakukan, mencoba untuk ikhlas pun Galih tidak mampu.
"Kamu salah, Puncak tertinggi mencintai itu menikahi bukan mengikhlaskan dia pergi."
Viona di buat bungkam oleh ucapan Galih, tidak salah tapi juga tidak benar.
"Itu akan mudah jika keduanya saling mendapatkan restu, tapi kita beda." Sahut Viona, harus dengan cara apa membuat Galih sadar bahwa dirinya dan Viona terlalu jauh untuk bersama.
Apapun yang terjadi, Galih selalu tidak peduli. Hatinya sudah terlanjur mencintai Viona, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Viona sampai kapanpun.
"Itu akan mudah kalau kita sama sama mau berusaha, tapi kamu jangan khawatir. Pasti mas bakalan datang ke rumah kamu, suatu saat nanti kalau emang kita jodoh pasti akan di permudah segalanya."
Viona tersenyum tipis, lagi lagi Galih memberikannya harapan kosong.
"Kamu harus menjadi anak yang penurut mas, lupain aku. Kita hanya di takdirkan sebagai teman," ucap Viona walaupun dirinya tidak sanggup menganggap Galih sebagai teman.
Sampai kapanpun, Galih tidak akan mau menganggap Viona teman. Hubungan keduanya tidak ada yang berubah.
"Teman? Apa mungkin dua orang yang saling mencintai selalu bersama tapi hanya menjadi teman?"