Dikursi kayu yang sudah tua, namun masih terlihat kokoh. Chika menyandarkan kepalanya, melepas rasa lelahnya karena seharian ia harus membuat kue pesanan dari desa tetangga. Sebelumnya Chika sudah konfirmasi dengan orang yang memesan kuenya bahwa ia tidak bisa mengantar sendiri karena jaraknya yang memang jauh, dan untungnya orang yang memesan kue bersedia mengambil sendiri kerumah Chika.
Chika melihat jam yang ada didinding sudah jam 5:30 sore. Ia baru ingat kalau ia harus menghubungi Sandi bahwa mereka tidak bisa pergi jalan-jalan besok karena tiba tiba saja tetangga yang memesan kue padanya dimajukan yang harusnya lusa, jadi maju besok. Ia merasa tidak enak jika menolak karena yang memesan kue tetangga dekat. Jadi ia yang harus mengalah menunda jalan jalannya dan membujuk Sandi.
"Mas Sandi pasti sudah pulang jam segini". gumam Chika sambil menghubungi nomor Sandi.
Biasanya deler tempat Sandi bekerja jam 4 sudah tutup dan jarak tempu dari tempat kerja kerumah sandi 1 jam, otomatis jam segini ia sudah dirumah. Semalam saat Chika dan Sandi sedang telponan. Sandi ingin mengajak Chika jalan jalan, mereka sudah lama tidak jalan berdua karena saling sibuk. Chika sibuk membuat kue karena hampir setiap harinya ia mendapat pesanan kue. Sedangkan Sandi juga sibuk bekerja untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Besok adalah hari libur Sandi, itu sebabnya ia berniat mengajak Chika jalan-jalan untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan pujaan hatinya.
Beberapa kali Chika menghubungi nomor Sandi tapi tidak bisa malah nomornya tidak aktif.
"Kenapa tidak aktif? Apa ponsel mas Sandi mati? Yaa sudahlah nanti saja habis magrib kerumah mas Sandi sekalian ketemu sama bapak dan ibu, sudah lama tidak bertemu mereka". gumam Chika, meletakan ponselnya diatas meja lalu segera pergi mandi karena badannya sudah sangat lengket.
Chika sudah rapi dan tampil cantik dengan penampilan sederhana, ia memakai sweeter lengan panjang warna dasty dan jeans panjang. Ia meraih ponselnya diatas meja, lalu segera keluar dan mengunci pintu rumah.
Dengan hati senang dan senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya, Chika berjalan santai menuju rumah Sandi. Rumah Sandi tak terlalu jauh dari rumah Chika hanya beda gang saja. Karena hari ini ada tetangganya yang mempunyai acara hajatan, jadi jalanan tidak terlalu sepi banyak motor belalu lalang. Jadi, tidak membuat Chika merasa takut atau khawatir ada orang jahat dijalan yang mengganggu dirinya.
"Pasti mas Sandi akan ngambek dan cemburu lagi saat tau alasan kita gagal jalan besok karena orderan kueku, merasa diduakan lagi deh". batin Chika terkikik sendiri membayangkan wajah mas Sandi saat merajuk.
Saat Sandi libur kerja dan saat Chika mempunyain pesanan kue Sandi pasti selalu membantu Chika, yang akan membuat dapur Chika berantakan setiap Sandi membantunya, pasti kami akan berakhir dengan main tepung, dan Chika suka moment moment kebersamaannya dengan Sandi.
"Nak Chika". panggil wanita paru baya membuat Chika sadar dari lamunannya.
"Ibu.. Bapak...". teriak Chika yang melihat orang tua Sandi yang masih duduk diatas motor yang berhenti di seberang jalan dengan penampilan rapi.
Chika segera menyebrangi jalanan lalu mencium punggung tangan kedua orang tua sandi sambil tersenyum ramah.
"Ibu, bapak mau kemana rapi sekali". tanya Chika.
"Ibu sama bapak mau kondangan, nak Chika mau kemana jalan sendirian malam malam gini?". tanya Minah, ibu Sandi.
"Chika mau kerumah, ada perlu sama mas Sandi". jawab Chika.
"Kenapa gak telpon Sandi saja, kan capek jalan kaki kerumah apa lagi malam gini gak baik anak gadis jalan sendirian". ucap Minah yang khawatir padanya.
"Tadi Chika sudah telpon mas Sandi tapi nomornya gak aktif, mungkin ponsel mas Sandi mati bu" jelas Chika.
"Dirumah juga ada Amira, anak bossnya Sandi, tadi sore dia diantar pulang gara gara motornya mogok bilang". ucap ibu.
Degg... Mendengar mas Sandi sampai diantar anak bossnya, membuat Chika tiba tiba merasa gelisah.
"Kenapa anak bossnya sampai mau repot repot antar mas Sandi pulang". batin Chika.
"Yaa sudah, nak Chika hati hati jalannya. Nanti kalo pulang Sandi suruh antar yaa jangan pulang sendirian". pinta Hadi, bapak Sandi.
"Iya Pak". sahut Chika sambil senyum canggung.
Chika jalan sedikit terburu buru menuju rumah Sandi yang sudah dekat ia bisa melihat mobil bagus terparkir dihalaman rumah itu. Perlahan langkah kakinya melambat saat melihat pintu rumah yang tidak tertutup rapat. Ia ingin mengucapkan salam saat sudah didepan pintu tiba-tiba saja ia merasa ragu karena terasa sepi sekali.
Dengan perlahan ia membuka pintu rumah hingga lebar dan tidak melihat mas Sandi ada di ruang tamu hanya ada tas wanita saja. Hati Chika mulai gelisah.
"Apa mereka keluar, tapi tadi ibu bilang mas Sandi ada di rumah, apa mas Sandi ada di dapur?". batin Chika sambil berjalan pelan menuju dapur.
Tiba-tiba Chika berhenti melangkah saat mendengar samar samar suara wanita, suara aneh yang lama kelamaan jadi terdengar suara desahan dari arah kamar Sandi.
"Aahhh... ahh aahhh". suara wanita yang menikmati itu terdengar ditelinga Chika.
Dengan gemetar Chika lebih mendekat di depan kamar Sandi untuk memastikan.
"Aahhh..enak Sandi aahhh lagi". suara wanita itu lagi dan Chika bisa medengar jelas wanita itu memanggil Sandi.
"Punyamu juga terasa nikmat sayang". terdengar suara pria dan Chika tau betul itu jelas suara Sandi.
Chika semakin gemetar, kakinya terasa tak bertenaga, dan air matanya sudah mengalir begitu saja dipipinya saat mendengar suara Sandi yang memanggil wanita itu dengan sebutan sayang.
"Aahh..aahhh aaahhh lebih cepat lagi, aku ingin keluar aahhh..". ucap wanita itu dengan suara terengah menikmati.
"Aahhh sabar sayang aku juga ingin keluar aahh aahhh". suara Sandi yang memburu.
Chika yang sudah tidak bisa menahan lagi, dengan sisa tenaganya memegang hendel pintu kamar Sandi lalu membukanya lebar yang ternyata tidak dikunci. Seketika hati Chika merasa hancur berkeping keping tak tersisa, merasa sakit, sesak, kecewa dan menahan emosinya saat melihat pemandangan di hadapannya yang sangat menjijikan baginya.
Wanita yang terbaring diatas ranjang dan Sandi di atasnya tanpa ada sehelai benangpun di tubuh mereka yang sedang bercinta. Melihat pintu di buka secara tiba-tiba membuat Sandi terkejut apa lagi melihat Chika yang sudah berdiri didepan pintu dengan tatapan tajam.
"Chika..". guman Sandi dengan muka terkejut dan takut.
Sandi dengan gerakan cepat segera berdiri memakai asal celananya dan mengambil selimut yang tergeletak dilantai untuk menutupi tubuh Amira yang tanpa busana.
"Chika... mas bisa jelasin semuanya". ucap Sandi dengan napas yang masih terengah.
Hening... Chika hanya diam menahan emosinya yang ingin meledak, melihat tajam kearah wanita yang sudah duduk disamping Sandi lalu melihat kearah Sandi secara insten, menghapus air matanya lalu tersenyum mengejek sambil melepas cincin dijari manisnya lalu menjatuhkannya kelantai dihadapan Sandi hingga suaranya memecah keheningan dikamar itu. Tanpa berkata apapun Chika segera pergi dengan terburu buru dengan air mata yang mengalir deras dipipinya, mengabaikan panggilan Sandi yang berkali kali memanggilnya.
Chika berlari meninggalkan rumah Sandi, melewati kedua orang tua Sandi begitu saja yang baru datang dan mengabaikan panggilan ibu Sandi.
"Nak Chika...". panggil Minah yang khawatir karena melihat Chika pergi begitu saja sambil menangis.
"Pak, nak Chika kenapa pergi sambil menangis begitu? Perasaan ibu gak enak pak, apa terjadi sesuatu?". ucap Minah dengan panik.
"Bapak juga gak tau bu, lebih baik kita lihat kedalam". ajak Hadi dengan cemas.
Sandi tergesah gesah keluar dari kamarnya untuk mengejar Chika, tapi langkahnya terhenti saat ia melihat kedua orang tuanya berdiri didepan pintu dengan tatapan tajam kearahnya.
Hadi yang melihat penampilan Sandi yang kacau berantakan hanya memakai celana pendek selutut tanpa memakai baju dan rambutnya yang berantakan.
Hadi menatapnya dengan insten, pasti terjadi sesuatu apa lagi saat ia melihat Amira baru keluar dari kamar Sandi sambil merapikan rambutnya yang berantakan. Amira terkejut dan takut saat melihat tatapan tajam dari orang tua Sandi.
"Apa yang kalian berdua lakukan, dan kenapa kamu keluar dari kamar Sandi dengan penampilan kacau seperti ini". tegas Hadi menahan emosinya, Minah langsung memegang lengan suaminya yang mulai emosi. Hadi sudah bisa menebak apa yang terjadi antar mereka. Tapi, Hadi ingin tau langsung dari mulut anaknya itu.
"Jawab bapak Sandi" bentak Hadi.
"Maafkan aku pak.. kami sudah ber...". jawab Sandi dengan gugup dan tertunduk.
"Kalian berzina dirumah ini". potong Minah yang sudah terisak. Sandi tak menjawab hanya diam dengan wajah bersalah.
Hadi langsung menampar pipi Sandi dengan emosi hingga sudut bibir Sandi sudah mengeluarkan darah. Sandi meringis kesakitan sambil memegang sebelah pipinya yang terasa panas akibat tamparan ayahnya yang begitu keras. Amira yang melihat langsung memegang lengan Sandi dengan erat dan menatap bibir Sandi yang berdarah.
"Bu, pak, maafkan Sandi, Sandi khilaf". mohon Sandi sambil berlutut dikaki orang tuanya.
"Harusnya kamu berlutut bukan pada kami tapi pada Chika, dia yang lebih terluka karena kelakuan b***t kamu, kalian akan menikah bulan depan tapi kenapa kamu malah menghancurkan hidupnya? Apa kamu tidak berpikir bagaimana perasaan Chika melihat calon suaminya telah menghiyanatinya dengan perempuan lain?". bentak Hadi meluapkan rasa emosinya.
"Sandi khilaf pak". ujar Sandi yang mulai terisak, meratapi kebodohannya karena nafsunya ia sampai tergoda dengan wanita lain dan menghiyanati Chika wanita yang ia cintai.
"Pak, bagaimana dengan Chika yang mengetahui kelakuan anak kita yang tidak tau diri ini, pasti dia hancur, ibu takut terjadi sesuatu padanya pak apa lagi dia sendirian pak". ucap Minah yang sudah menangis histeris, hingga tiba-tiba ia jatuh pingsan dan Hadi yang mengetahuinnya langsung menangkap badan istrinya itu agar tak jatuh kelantai.
"Ibu...". panggil Sandi dengan panik begitu juga Amira.
"Sandi lebih baik kamu cepat pergi cari Chika, minta maaf padanya kalo perlu berlutut didepannya dan sujud padanya agak ia mau memaafkan kamu". suruh Hadi dengan tegas dan emosi.
"Dan kamu Amira, sebaiknya cepat angkat kaki dari rumah saya". usir Hadi sambil mengangkat badan istrinya dan membawanya kekamar mereka.
Karena takut Amira langsung mengambil tasnya lalu pergi. Sandi kembali kekamar memakai bajunya lalu dengan buru-buru pergi mencari Chika kerumahnya. Sedangkan Hadi membaringkan badan istrinya diranjang lalu mengambil minyak kayu putih, menempelkankannya pada hidung istrinya agak sadarkan diri. Minah mulai menggeliat perlahan membuka matanya.
"Pak, Chika dimana, bagaimana keadaan dia sekarang, ibu ingin ada disampingnya dan memeluknya hiks.. hikss...". ucap Minah yang mulai menangis lagi.
"Tenang bu, Chika anak yang kuat, dia pasti baik baik saja". hibur Hadi sambil memeluk istrinya agak tenang. Walaupun sebenarnya ia juga merasa takut terjadi sesuatu pada Chika. Bagaimanapun mereka sudah menganggap Chika seperti anaknya sendiri dan menyayanginya melebihi rasa sayangnya pada Sandi.