01. Seperti Keluarga Sendiri
"Nak Chika mau antar kue yaa?". tanya wanita paru baya yang sedang menyapu halaman rumahnya.
"Ehh iya mbok Darmi". jawab Chika sambil tersenyum pada tetangganya itu.
"Antar kuenya dimana?". tanya mbok Darmi lagi.
"Tempat bu rt, gang depan mbok". sahut Chika.
"Bareng aku aja mbak, sekalian aku juga mau kepangkalan ojek nih". sela pria muda yang baru keluar dari dalam rumah yang tak lain adalah Anton cucu tunggal mbok Darmi.
"Iya nak Chika, bareng Anton aja, gang depankan lumayan jauh kalo jalan kaki". ucap mbok Darmi.
"Gak repotin kamu apa, ton?". tanya chika pada Anton.
"Mbak ini kayak sama siapa aja, aku sudah anggap mbak itu seperti kakakku sendiri, gak usah sungkan gitu. Ayo naik mbak, kalo cuma gang depan mah deket mbak mau antar mbak keliling dunia si black king juga siap mbak asal bensinnya full hehee..". ajak Anton yang sudah duduk dimotor matic hitamnya yang memang sudah terparkir di halaman rumah sambil bergurau.
Motor kesayangan Anton yang diberi nama si black king yang selalu setia menemani Anton mengais rezeki untuk mangkal dipasar sebagai tukang ojek.
"Ada ada aja kamu mah, Ton. Kalo mbak mau keliling dunia mah mending ngajak mas Sandi suruh nemeni biar romantis gitu". timpal Chika membuat mereka tertawa bersama.
Chika segera naik motor dan Anton mulai melajukan motornya si black king sambil terkekeh.
"Tumben baru berangkat mangkal jam segini". tanya Chika.
"Kesiangan bangunnya mbak, tadi malam bergadang gara gara nonton bola tempat teman Anton sampe lupa waktu". jawab Anton.
"Jangan suka bergadang gak baik buat kesehatan". jelas Chika.
"Hehee... iya mbakku, yang mana rumahnya mbak". tanya Anton karena sudah digang depan.
"Itu yang ada motor parkir didepan". ujar Chika sambil menunjuk ke depan.
"Oke... sudah sampai". sahut Anton yang sudah memberhentikan motornya.
"Makasih yaa Ton". ucap Chika.
"Sama sama, tungguin gak mbak". tanya Anton.
"Gak usah nanti lama, mbak juga sekalian mau belanja bahan bahan kue ditoko depan. Kamu pergi mangkal aja nanti malah tambah siang". tolak Chika dengan lembut.
"Yaa sudah, Anton mangkal dulu mbak". pamit Anton.
"Iya hati hati mangkalnya".
"Iya mbak, assalamu'alaikum".
"Waalaikumus salam".
* * * * *
Perkenalan singkat tentang Chika Putriana yang baru berusia 23 tahun, memiliki paras cantik alami, tinggi semapan dengan tubuh ramping padat, berkulit putih bersih dengan rambut panjang hitam sedikit bergelombang. Hidung mancung, mata bulat dengan bulu mata yang lentik dan bibir tipis yang sexy terlihat raum alami membuat para pria yang melihatnya bisa tergoda.
Chika tinggal didesa sebatang kara, tanpa kedua orang tua atau kerabat lainnya. Kedua orang tua Chika sudah meninggal dunia akibat insident kebakaran dipabrik tempat orang tuanya bekerja saat Chika masih berusia 10 tahun. Setelah orang tua Chika meninggal Chika tinggal bersama neneknya, ibu dari ayah kandungnya yang menjadi keluarga Chika satu satunya. Namun saat usia Chika menginjak 20 tahun, neneknya sudah sakit sakitan karena dimakan usia senjanya dan Tuhan menjemputnya menyusul kedua orang tua Chika disurga. Meninggalkan Chika seorang diri, menjalani kerasnya kehidupan dengan berjualan kue buatan tangan Chika sendiri yang diwarisi dari neneknya.
Mbok Darmi adalah tetangganya yang sudah Chika anggap seperti keluarganya sendiri karena kebaikan mbok Darmi pada dirinya. Anton Rikanata adalah cucunya, yang usianya 2 tahun lebih muda dari Chika. Kedua orang tua Anton juga sudah meninggal sama seperti Chika, bedanya mbok Darmi neneknya Anton masih ada sedangkan neneknya Chika sudah meninggal. Anton baru lulus SMA tahun lalu tapi, karena masalah biaya ia tak bisa lanjut kuliah dan memutuskan kerja jadi tukang ojek dipasar.
Sedangkan Sandi adalah kekasih Chika yang memiliki nama lengkap, Sandi Prayono. Pria tampan, baik, pekerja keras, pengertian dan penuh kasih sayang selalu ada untuk Chika. Mereka menjalin hubungan sejak SMA karena satu sekolah bahkan satu kelas, membuat mereka saling dekat menumbuhkan perasaan dihati mereka masing-masing hingga mereka merasa saling nyaman satu sama lain dan saling mencintai.
* * * * *
Setelah mengantar pesanan dan membeli semua bahan bahan kue, Chika berjalan pulang dengan menenteng dua kantong plastik dikedua tangannya. Tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Chikaa..". panggil seorang pria yang sudah menghentikan motornya disamping Chika. Chika langsung melihat kearah suara.
"Mas Sandi". ucap Chika dengan senyum merkah.
"Dari mana?". tanya Sandi.
"Tadi habis antar pesanan kue, dan belanja bahan bahan buat kue lagi mas". jawab Chika sambil mengangkat kedua kantong plastik yang ia pegang.
"Sini biar mas antar kamu pulang". ujar Sandi langsung mengambil kantong plastik ditangan Chika lalu menggantungnya di motornya. Chika segera naik motor bersama Sandi.
"Kenapa gak kasih tau mas, kan bisa mas antar biar kamu gak capek jalan". tanya Sandi sambil menjalankan motornya.
"Mas gak kerja?". bukannya jawab Chika malah bertanya balik.
"Nggak, mas libur hari ini". jawab Sandi dengan santai.
"Aku gak tau kalo mas libur kerjanya, tapi tadi berangkatnya bareng sama Anton kok mas, ketemu didepan rumah sekalian dia mau mangkal jadi ngasih Chika tumpangan". jelas Chika.
"Gimana kamu mau tau dek, wong mas kirim pesan gak dibalas, mas telpon gak diangkat angkat". sahut Sandi sambil memarkirkan motornya dihalaman rumah.
"Ponselku ketinggalan mas lupa dibawa, pagi tadi juga sudah sibuk bikin kue jadi gak sempet liat ponsel". jelas Chika sambil turun dari motor.
"Gak usah biar mas aja yang bawa belanjaannya kamu buka pintu rumahnya aja". tegur Sandi saat Chika ingin mengambil kantong plastik belanjaan yang tergantung didepan motornya. Chika mengangguk lalu segera membuka pintu rumahnya.
"Kamu tuh kebiasaan kalo sudah sibuk sama kue, apa inget sama mas, yoo pasti diduain sama kuemu?". keluh Sandi sambil meletakan kantong belanjaannya dimeja ruang tamu, lalu ia duduk di kursi kayu.
"Masih mending tak duakan sama kue mas, coba kalo sama orang, mas mau". sindir Chika sambil cekikikan melihat wajah Sandi yang cemberut, Chika mengambil belanjaan diatas meja lalu membawanya kedapur.
"Jangan toh dek, kamu tega mau duain mas". gerutu Sandi yang masih terdengar oleh Chika.
Tak lama Chika kembali dari dapur dengan secangkir kopi dinampan kecil.
"Kalo aku tega sudah dari dulu kamu tak duain mas". sahut Chika sambil menaruh kopi dimeja depan Sandi, lalu ikut duduk.
"Sudah jangan cemberut aja tuh muka, mending diminum kopinya". bujuk Chika, Sandi tak mejawab hanya diam saja tapi menuruti, ia mengambil cangkir kopi lalu menyeruputnya, tak lama raut wajahnya tidak cemberut lagi malah menikmati kopi buatan Chika. Iya kata mas Sandi kopi buatan Chika memang enak tak ada duanya. Melihat Sandi sangat menikmati kopinya membuat Chika tersenyum.
"Giman kerjaan baru mas?". tanya Chika.
"Lima bulan ini sih enak-enak aja dek kerjanya, boss sama anaknya juga baik sama mas". jawab Sandi sambil menaruh kembali cangkir kopi dimeja.
"Alhamdulillah kalo gitu, semoga saja mas betah". ucap Chika sambil tersenyum.
"Yaa aaminn, harus dibetah betahin toh dek biar bisa cepet lamar kamu. Cari kerjakan susah apa lagi mas cuma lulusan SMA". ujar Sandi.
Sudah lima bulan Sandi bekerja didealer motor didesa tetangga. Sebelumnya ia kerja serabutan, hingga suatu hari ia dikabari temannya kalau ada lowongan kerja didesa tetangga. Ia pun segera memberikan lamaran perkerjaan kesana, dan alhamdulillah ia di terima karena menangani motor salah satu keahlihannya.
Chika dan Sandi sudah merencanakan untuk menikah, bulan kemarin Sandi resmi mengikat Chika dengan cincin sederhana yang sudah melingkar manis dijarinya. Mereka juga sudah diskusi dengan kedua orang tua Sandi tentang pernikahan mereka dan orang tua Sandi sangat setujuh malah ingin agak Sandi dan Chika segera menikah saja.
Chika juga tidak menuntut pesta mewah untuk pernikahannya, cukup acara sederhana, ijab dan syukuran biasa. Tapi, Sandi ingin walaupun hanya acara sederhana setidaknya ada moment yang terkesan dihari pernikahannya. Ia ingin melihat Chika bisa memakai baju pengantin dan bisa foto bersama.
"Sudah sore mas pulang dulu yaa dek". pamit Sandi sambil menghabiskan sisa kopinya, lalu berdiri.
"Iya, mas hati hati pulangnya". ucap Chika sambil mencium punggung tangan Sandi.
Hanya cium tangan tidak lebih karena memang selama mereka pacaran Chika tidak mau terjadi yang aneh aneh lebih dari gandengan tangan saat mereka jalan berdua, itupun tidak berlangsung lama. Dulu saat SMA Chika tanpa sengaja pernah mendengar teman temannya berbicara kalau ciuman itu enak saling menyesap dan bertukar liur bikin ketagihan. Chika yang mendengar itu malah merasa jijik. Ia selalu berusaha menjaga dirinya dengan baik, untuk suaminya kelak. Walaupun hanya sekedar ciuman yang menurut anak jaman sekarang sudah biasa. Tapi, tetap saja Chika tidak mau melakukannya dan Sandi menghargai keputusan Chika. Walau terkadang Sandi harus menahan diri saat melihat bibir Chika yang sangat menggoda, karena bagaimanapun ia pria normal.
"Iya sayang, mas pulang. Assalamu'alaikum".
"Waalaikumus salam".