"Uda punya pacar belum?" tanya siswi berponi.
"Kenapa pindah? Biar bisa move-on dari pacar lama, ya?" lagi, kali ini giliran teman satu bangku siswi berponi itu yang bertanya.
"Kok baru pindah sekarang, sih? Sudah lama tahu menunggu jodoh, gue."
"Hey ... ganteng gitu resepnya apa, sih?"
"Ayo pulang aja ayo ... kita nikah sekarang aja ayo! Lo jadi imamnya, gue jadi makmumnya."
Sorakan demi sorakan terdengar kala beberapa siswi memberikan pertanyaan random kepada Brian. Tak ketinggalan mereka juga saling melempar senyum genit ke arah pria itu. Dia jadi kikuk, apalagi saat guru di sebelahnya bukan menenangkan para siswinya, tetapi malah juga ikut tersenyum simpul mendengar celoteh murid didiknya.
Brian ibarat makhluk dari planet asing di sini. Satu pun, ia tidak pernah sekalipun melihat wajah-wajah yang ada di depannya. Mereka semua benar-benar orang baru yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Lucu sekali. Sekarang dia benar-benar kehilangan dirinya yang dulu. Teman-teman, keluarga, rumah, lingkungannya, semua hilang digantikan sesuatu yang asing dalam sekejap.
Kalau saja Bu Aryani tidak berinisiatif memotong pertanyaan mereka, Brian pasti bakalan tetap di sini sampai bel istirahat berbunyi. Beliau menyuruh Brian untuk duduk di bangku yang beliau tunjuk. Untuk beberapa waktu, sepertinya dia bisa menghela napas lega. Pria itu menatap siswi yang duduk di sebelah bangku yang ditunjuk bu Aryani tadi sebagai tempat duduknya.
Terlihat tidak asing. Apakah, Brian pernah melihatnya?
Tadinya, Brian sudah memikirkan bermacam cara untuk setidaknya tidak harus meladeni kelakuan aneh yang akan gadis itu lakukan kepadanya, seperti teman-temannya tadi yang membuat dirinya tidak nyaman. Namun, sepertinya dugaannya meleset. Gadis itu terlihat biasa saja, dan hampir seolah tidak tertarik kepadanya.
"Aku Brian." Brian mengulurkan tangan kanannya.
"Masha," balas gadis itu singkat hampir tidak menatapnya. Bukan hanya tidak membalas tatapan Brian, Masha bahkan membiarkan tangan pria itu hanya melayang di udara.
Bukankah, ini pertama kali mereka bertemu? Mengapa seolah Masha anti pati kepadanya? Bukannya Brian terlalu banyak mau, hanya ... ini aneh saja. Gadis di sebelahnya bahkan tidak sedikit pun bersusah payah bersembunyi dari ketidak sukaannya kepada dirinya.
"Ingat Masha, ya Bri ... gak pakai Bear," celetuk seorang siswa yang duduk tepat di depan Brian. "Gue Randy, gak pakai Pangalila. Meskipun tampang gue sebelas dua belas sama dia, sih. Sayangnya, orang tua gue lebih memilih nama belakangnya sebagai nama gue ... kenalin, gue Randy Atmaja," lanjutnya.
Brian menoleh sekilas kepada perempuan di sebelahnya. Pria itu baru menyadari ternyata nama yang sempat ia anggap familiar, adalah nama salah satu tokoh kartun yang kadang sempat ia tonton, jika sedang bosan dan tidak tahu harus melakukan apa. Memang apa lagi? Dia berpikir apa? Nama Masha kan memang banyak yang menggunakannya. Apalagi wajah gadis itu? Mungkin, hanya kebetulan dia pernah bertemu dengan wajah yang mirip dengan gadis itu. Katanya, manusia memiliki tujuh kembaran, bukan? Meskipun, dia sendiri pun tidak tahu, jika teori itu benar atau hanya sekedar mitos semata. Brian kemudian buru-buru menjabat tangan Randy yang sudah dari tadi mengayun di udara.
"Apa!" sinis Masha saat perempuan itu sadar Brian tidak sengaja menatapnya lagi.
Brian buru-buru menggelengkan kepala sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, saking bingungnya.
"Heh, bisa lihat depan aja enggak sih, Rand? Sepet gue tu liat muka lo!"
"Dih ... makanya berteman itu jangan hanya sama beruang aja! Sama manusia juga, Sha ... biar gak gampang menggigit! Ti-ati ya, Bri!" Randy bergidik sembari menyipitkan matanya.
Masha berancang-ancang hendak melempar Randy dengan kotak pensil, namun buru-buru pria itu memutar tubuhnya menghindar. Setelah berhasil menghindar dari serangan Masha, kembali Randy memutar kepala ke belakang sambil menjulurkan lidahnya, kemudian berbalik lagi memperhatikan bu Aryani seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Bel pulang sebenarnya sudah berbunyi dari beberapa waktu yang lalu, namun Brian masih belum memiliki niatan beranjak dari kursinya. Pria itu ingin diam sejenak saja sembari mengamati lingkungan barunya. Brian tertawa getir, mengingat masa-masa dulu dia berada di kelasnya yang lama.
Ponselnya bergetar. Tertera ada sebuah nama yang berperan besar pada hidupnya di sana. Om Javas, yang saat ini berperan menjadi papanya. Bukan pengganti kedua orang tuanya, beliau pasti juga akan sedih jika mendengarnya. Mungkin lebih tepatnya adalah penolongnya.
Beliau menanyainya tentang kepulangannya. Agak miris sebenarnya, karena sebelumnya hal seperti ini hampir tidak pernah dilakukan oleh ayah kandungnya. Boro-boro mengirim pesan, mengobrol saja hampir bisa dihitung dengan hitungan jari. Selalu ada cekcok di antara Brian dengan ayahnya. Tidak ada obrolan ringan yang nyaman, sehingga Brian lebih sering menghindarinya.
Brian, menatap pias papan tulis di hadapannya. Harusnya dulu dia lebih berusaha agar bisa lebih dekat dengan kedua orang tuanya. Khususnya, ayahnya. Tidak perlu menunggu atau berharap, jika ayahnya terlebih dulu yang merangkulnya.
"Mau nginep?" Tanya Masha yang tiba-tiba sudah ada di sebelah bangkunya. Gadis itu sibuk merogoh sesuatu entah apa itu yang ada pada kolong mejanya. Begitu mendapat apa yang dicari, gadis itu kembali menatap acuh Brian. "Terserah, sih kalo mau nginep. Lagi pula, gue juga cuma basa-basi doang," katanya asal kemudian berlalu.
Brian mengernyit. Tadinya pria itu cukup bersyukur dengan sikap cuek dari teman sebangkunya itu. Sehingga pikirnya dia akan bisa belajar dengan nyaman. Namun, sepertinya Masha terlalu berlebihan dan itu malah sedikit mengganggunya.
Membuatnya jadi bertanya-tanya. Apa, memang Masha selalu bersikap dingin kepada semua orang? Atau hanya kepada dirinya?
Brian, kemudian memutuskan keluar dari kelas. Berjalan menunduk, dengan pikiran yang meracau ke mana-mana. Hingga tiba-tiba sepasang kaki menghentikan langkahnya. Pria itu mendongak dan seketika bertemu tatap dengan Masha yang tengah melipat tangan di d**a sambil menyipitkan mata ke arahnya.
"Penguntit."
"Ha? Maksudnya?"
"Lo penguntit. Lo sengaja diam di kelas dan menungu kesempatan buat ngikuti gue, kan?"
"Hidupmu drama banget, ya?"
"Aku kamu, aku kamu! Lo suka sama, gue?"
"Hah?"
"Hah heh hoh hah heh hoh!"
Brian masih akan bersuara, namun Masha sudah buru-buru memotongnya. "Udah deh!" serunya sambil mengibaskan tangan. "Jangan dekat-dekat gue pokoknya! Gue ada alergi!"
Alergi? Masksudnya? Brian sempat akan protes, namun gadis itu malah mendorong dan mengacungkan jari tengah sebelum benar-benar pergi meninggalkannya.
"Ahahhaaa!"
Brian menoleh. Dilihatnya, seorang pria tengah mendekat sembari memutar-putar bola basket di atas telunjuknya.
"Masha memang gitu anaknya, jangan kaget. Lo anak baru, ya? Gak pernah lihat, soalnya." Pria itu menunjuk Brian dari atas sampai bawah.
Brian hanya mengangguk saja sambil menatap punggung Masha yang semakin menjauh di depannya.
"Gue, Leo." Leo menarik paksa tangan Brian untuk dijabatnya. "Nama lo siapa?Bukan anak Jakarta, ya? Asal mana?"
"Brian. Aku dari Surabaya."
"Oh, pantes. Di sini kalau pakai aku kamu aku kamu emang bikin salah paham, sih. Lama-lama lo juga terbiasa. Oh, iya
jangan sungkan-sungkan kalau butuh sesuatu. Sepertinya, nanti kita bakalan jadi teman, deh. Gue duluan." Leo menepuk bahu Brian dan berlari kembali ke tengah lapangan.
Sepertinya para siswa di sini lebih terlihat manusiawi dari pada para siswi.
Entah ini takdir atau sekedar kebetulan yang tidak masuk akal. Karena lagi-lagi harus dipertemukan dengan gadis yang jelas-jelas alergi terhadap dirinya. Namun, bagaimana lagi Brian juga tidak tahu harus menunggu jemputan di mana. Dia terlalu malas untuk balik lagi masuk ke dalam sekolahnya. Untuk itu Brian berlagak tidak menyadari ada Masha di sebelahnya lalu mengeluarkan ponsel dan mengutak-atiknya.
"Kayaknya, lo emang beneran suka sama gue, ya? Sorry, gue enggak tertarik sama wajah lo itu. Nyebelin!"
"Hah?" Brian buru-buru mengecek wajahnya dengan ponsel miliknya. Tidak ada yang salah menurutnya.
"Maksudmu apa, sih? Orang-orang pada suka lho sama wajah yang kayak gini. Kamu aneh."
Brian kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celana abunya. Pria itu mendekat lalu menatap Masha. Kali ini tidak peduli dengan penilaian gadis itu tentang Brian nantinya.
"Kita pernah ketemu, sebelumnya?" Jika dilihat dengan seksama, sepertinya Masha memang terlihat tidak begitu asing.
Tidak sesuai dugaannya Masha malah tersenyum mengejek. "Trik lama tau ... udah basi!"
Brian mengusap dagunya. "Ngomong-ngomong, Sha. Ini aneh, sih. Jangan-jangan kamu bersikap kayak gini cuma buat menarik perhatian? Ini yang paling masuk akal, sih. Nggak mungkin kamu nggak suka sama wajah yang kayak gini." Pria itu menunjuk wajahnya. "Ehm, itu mungkin sih kalau kamu emang nggak suka sama cowok. Kamu suka cewek? Gak ada masalah sih, zaman sekarang kan me-"
"Apa lo bilang!" Bola mata Masha seolah hampir copot saat mendengarnya.
Brian menahan tawanya. Mudah sekali memancing amarah manusia di hadapannya.
Masha hendak akan memberondong Brian dengan ketidaksukaan mengenai asumsi tidak masuk akalnya. Namun, ia urungkan saat melihat Brian tiba-tiba melambikan tangan ke arah range rover hitam yang berhenti tepat di depan mereka. Seorang pria paruh baya muncul dari balik kaca tersenyum mengangguk ke arah Masha.
Masha melirik Brian yang naik ke dalam mobil tanpa menoleh lagi ke arahnya. Ini sungguh janggal. Kenapa rasanya ia tidak terima dengan tindakan sederhana pria itu yang seolah mengabaikannya?