Setelah puas memesan beberapa jenis makanan dan seporsi besar bebek panggang, Daria melirik Ray sekilas dengan matanya yang indah. Sepasang bola mata itu bening dan bersinar nakal, sementara bertanya, "Okay, Bos, kapan kau kenal Anne ini sebenarnya? Jangan jawab seperti yang lalu, wanita itu sudah jelas menyukaimu."
Sambil tertawa keras-keras, Ray diam-diam berpikir bagaimana sebaiknya menjawab pertanyaan itu — dan heran, mengapa Daria bisa menebak ada sesuatu di balik hubungan antara dirinya dengan Anne, yang sebenarnya terlihat biasa bagi orang-orang lain. "Kau pikir begitu?" katanya, "Tapi jawabannya memang seperti tadi — memang awalnya dari baca tulisan dia, online. "
"Awalnya," ulang Daria. "Dan sekarang jadi agak lain, kan?"
"Tidak juga," jawab Ray.
Daria tersenyum, menyandarkankan ponselnya ke dinding, dengan kamera depan menghadap ke arah mereka, lalu menyandarkan dirinya ke bahu Ray. Tiga detik kemudian kamera ponsel itu bersuara, sebagai tanda sebuah foto baru saja dibuat.
Menyadari apa maksud Daria, Ray mencoba merebut ponsel itu, tapi ia kalah cepat. Dengan senyum kemenangan masih menghias wajahnya, Daria segera mengunggah foto itu ke akun Instagramnya, tertawa riang. "Kita buktikan saja, siapa yang akan marah melihat foto itu." Ia jelas menambahkan beberapa tag yang pasti akan menarik perhatian sebanyak mungkin kalangan, termasuk Anne.
"Percuma," kata Ray tanpa emosi, "Semua orang tahu, orang yang kau maksud itu jelas sudah menikah."
Daria tertawa dengan bebas. "Ray, Ray — 'sudah menikah' dan 'marah' itu sama sekali lain."
Detik berikutnya, ia tampak mencari-cari ke sekeliling ruangan, dan menggelengkan kepala dengan kecewa ketika tidak menemukan apa yang dicarinya. "Kalian di sini agak payah. Tempat ini mewah, tapi tidak punya smooking area. "
"Rasanya sejak tadi kau sudah terlalu banyak merokok," kata Ray, tersenyum, "sebentar lagi pesanan kita datang. Lupakan dulu soal rokok."
Seolah baru menyadari teguran itu, Daria menatap Ray sambil tersenyum, berkata dengan tenang, "Ini tetap tidak sebanyak di lokasi syuting." Tepat pada saat itu seorang pelayan datang mengantarkan kopi yang dipesannya. Minuman itu sebenarnya tidak umum untuk tempat ini, tetapi rupanya mereka tetap bisa menyediakannya. Dengan gembira Daria meraih cangkir kopinya dan meletakkannya di atas meja, melanjutkan kalimatnya sambil menambahkan gula ke dalam kopi itu, "Aku tahu, kebiasaan ini membuatku jadi kurang cantik, tidak seperti Anne..."
"Aku tidak bilang begitu," sela Ray. "Dan kita tidak sedang membicarakan Anne di sini. Tidak ada kaitannya dengan aku."
"Masa?" goda Daria.
Melihat Ray tidak bermaksud menanggapi, ia pun tidak melanjutkan topik itu. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing sampai semua pesanan mereka datang. Selanjutnya kesibukan pun beralih ke bebek panggang dan Wonton. Mereka berlomba-lomba menghabiskan bebek panggang itu sampai ke potongan terakhir.
Agak bertentangan dengan potongan tubuhnya yang kecil, selera makan Daria membuat beberapa orang yang duduk di dekat meja mereka tercengang. Mengabaikan tatapan orang-orang di sekitarnya, Daria tetap menikmati makanannya dengan santai, diselingi gurauan tentang hal-hal kecil yang terjadi di proyek terakhir mereka sebelum ini.
Mereka masih tetap di Jakarta sampai beberapa hari berikutnya. Daria menginap di hotel, sementara Ray pulang ke rumah kontrakannya sendiri. Tak ada reaksi dari pihak Anne, hingga tiga hari setelah pertemuan itu.
Daria, yang terbangun dari tidurnya ketika ditelpon oleh Anne, buru-buru duduk tegak di pembaringannya, mencoba fokus dan mengusir sisa kantuk, sementara seteguk kopi pun belum diminumnya.
"Ah, akhirnya..." katanya, "Jadi kapan aku bisa memesan tiket untukmu, atau kita bisa berangkat bersama dari sini?"
Anne tertawa. "Baiklah, kalian menang. Aku makin tertarik setelah membaca lebih teliti uraianmu. Ray ada di situ? Aku ingin bicara."
Berdehem, Daria menjawab secara sambil lalu, "Sayangnya tidak. Ray tentu saja di rumahnya sendiri. Aku menginap di hotel." Ia kemudian melontarkan sepotong kalimat dengan nada agak lain, "Bukankah kau bisa meneleponnya?"
"Sayangnya aku tidak punya nomornya," jawab Anne. Tentu saja Anne berbohong, dia hanya ingin terlihat tidak kenal dekat Ray.
"Oh," kata Daria, "Surprise, kupikir kau punya..." Nadanya agak berubah ketika melanjutkan, "Setelah ini akan kukirim nomornya..."
Tetapi Anne cepat-cepat menyela, "Kurasa tidak perlu. Tolong sampaikan saja, aku memutuskan untuk mengikuti anjurannya di bagian terakhir novel itu. Jadi kita akan membuat sedikit revisi untuk keperluan film ini."
"Revisi?" kata Daria, "Mengapa... Bagaimana kalau... Ah, tapi ini bisa kita bicarakan dalam perjalanan. Menurutku sih sebaiknya jangan terlalu berbeda dengan cerita yang sudah dibaca banyak orang."
"Nanti kujelaskan mengapa ini perlu," sela Anne lagi. "Kalian bisa memesan tiket kapan saja, aku pada dasarnya sudah siap. Kuala Lumpur kan tidak terlalu jauh." Ia tertawa kecil, "Ini bukan ke Eropa atau Amerika."
Dengan kalimat itu ia mengakhiri pembicaraan.
Masih termangu-mangu sambil memegang ponselnya, Daria berusaha memahami apa yang baru terjadi. Ada beberapa hal yang terasa aneh di sini. Jika hanya revisi cerita, betapa pun juga hal itu bisa dimengerti. Banyak penulis yang melakukannya justru pada saat cerita mereka akan diadaptasikan menjadi sebuah drama televisi atau film layar lebar. Tapi mengapa ia jadi merasa bahwa semua itu hanya alasan yang dikarang Anne? Tujuan sebenarnya adalah ingin bicara dengan Ray, atau memancing jawaban apakah Ray menginap di sini, di tempat yang sama dengan dirinya — Daria.
Merasa umpan yang dilemparkannya ketika mengunggah foto mereka ke i********: mengena dengan telak, Daria tersenyum sendiri. "Lucu," pikirnya, "Kalau hanya ingin menanyakan hal ini, mengapa harus berbelit-belit?"
Sayangnya dugaan Daria ini hanya sebagian kecil yang benar. Di tempat yang agak jauh dari kamar hotelnya, Anne juga sedang tersenyum sendiri setelah mengakhiri pembicaraannya, tetapi dengan alasan yang sama sekali lain. Ia tahu jelas bahwa Ray tidak akan menginap di tempat yang sama dengan wanita cantik yang baru dihubunginya ini. Tapi hanya dengan mendengar setiap kalimat Daria, ia tahu pasti bahwa tujuan Abigail yang sebenarnya adalah untuk bisa mendekati dirinya, bahkan dengan sukarela membiayai semua pengeluarannya selama di Malaysia nantinya. Hal inilah yang ingin dipastikannya. Mendengar cara Daria menanggapi rencana revisi itu, sudah jelas Abigail terkesan tidak akan keberatan sama sekali.
Di satu pihak, hal ini membuat Anne merasa bangga dengan kemampuannya sendiri. Jadi semua tebakannya semakin mendekati kebenaran. Tetapi di pihak lain hal ini justru membuatnya sedih, karena dengan begitu apa yang pernah dikatakan Mora ternyata memang benar. Jadi selama ini Stefan sudah punya anak sebelum mereka berdua menikah. Jika nantinya terbukti bahwa Abigail adalah 'wanita lain' yang disembunyikan Stefan, ia tidak akan kaget lagi. Hanya saja, selain harus menerima kenyataan pahit ini, ia masih harus menerima kenyataan pahit lainnya, yaitu bahwa yang bermasalah selama ini sebenarnya adalah _dirinya_ — Anne, dan bukan Stefan. Entah harus disebut anak haram ataukah tidak, yang jelas Stefan memang punya anak!
Saat ini, tiba-tiba saja, Anne merasa sangat membutuhkan kehadiran Ray di sisinya. Ia merasa seekor gajah raksasa sedang melangkahkan kaki kanan depannya ke atas kepalanya. Kaki itu dengan gampang berhasil membuat dirinya tenggelam di jalanan beraspal sampai ke leher, lalu gajah itu mulai melangkahkan kaki kiri depannya untuk menginjak punggung Anne, sementara kedua kaki belakangnya siap menyusul. Ia ingin berteriak keras-keras, tetapi tak ada suara keluar dari mulutnya.
Dulu ia pernah bermimpi dikejar-kejar raksasa yang menyeramkan, lalu Stefan membangunkannya di saat yang tepat. Sayangnya, saat ini ia tahu pasti bahwa Stefan atau siapa pun tidak akan membangunkannya, karena ini sama sekali bukan mimpi. Ini sangat nyata.
Melangkah pelan-pelan ke arah balkon sambil menyalakan sebatang rokok, Anne berpikir, "Aneh, mengapa aku tidak merasa panik. Hanya sedih, pahit." Di balkon, ia memandang ke kejauhan. "Yang jelas, Ray pasti sudah lama menduga apa yang terjadi," katanya dalam hati, melanjutkan lamunannya sendiri. "Tapi sungguh lucu, mengapa dia masih juga ingin mendekatiku? Kalau sudah tahu tentang anak Stefan, bukankah berarti dia tahu aku tidak bisa punya anak?" Lalu, detik berikutnya, sebuah kalimat melintas di benaknya, membuat bibirnya tersenyum seperti sebelumnya, "Setidaknya masih ada hal yang menghibur. Masih ada orang yang menganggapku wanita seutuhnya, bukan sekedar pabrik anak."
Ia tertawa pahit, bertanya-tanya dalam hati. "Entah apa yang dipikirkan Ray ini? Padahal sudah jelas dia tidak bodoh."
Setelah agak lama melamun di situ, ia kemudian bertanya kepada dirinya sendiri, "Lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya? Apa yang akan kulakukan di Malaysia nanti?"