Damara mengepak satu per satu barang sesuai contoh. Gadis itu menyeka keringatnya berkali-kali karena di ruangan ini tidak ada AC sementara ventilasi juga sangat minim. Beberapa senior di tempat ini juga kurang ramah, mereka tak segan menunjukan muka tidak suka ke Damara, bahkan ada yang memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kalau kerja make-up kamu nggak usah tebel-tebel. Ini PT bukan supermarket,” sindir salah seorang karyawan saat melihat alis Damara yang terlukis rapi. Damara hanya memandangnya sambil bekerja, kemudian diam tanpa menjawab apa pun. “Denger, nggak, anak baru?” tanya senior tadi, nada suaranya naik satu oktaf. “Iya denger, Mbak.” Damara menjawab malas. Gadis itu melirik id card yang menggantung di leher senior tersebut kemudian membaca nama lengkapnya dalam

