Waktu sudah larut. Seno, Siti, dan Deon sudah pulang ke rumah masing-masing. Hanya tersisa aku dan Sita di sini, di kamar Sita. Aku masih enggan untuk pulang ke rumah Galaksi, lantaran merasa bersalah karena sudah menamparnya. Juga, karena perasaanku pada Galaksi berubah menjadi semakin kuat. Wajah tampan dan sikap uniknya membuatku terbuai. Bahkan, aku lupa bahwa saat ini statusku masih berpacaran dengan Andra.
“Lo beneran nggak mau pulang?” tanya Sita yang baru beres video call bareng pacarnya. Dia duduk di atas ranjang sementara aku duduk di sofa yang menghadap langsung ke televisi.
“Nggak. Gue males ketemu Galaksi.”
“Kalian ada hubungan apa, sih? Kok gue kayak ngeliat sesuatu yang lebih dari sekadar asisten dan majikan?”
“Nggak ada apa-apa. Gue cuma kesel karena dia suka bentak-bentak gue.” Aku berbohong. Padahal alasanku lebih dari sekadar dibentak-bentak. Kami habis berciuman, bahkan sudah dua kali. Apa kami masih pantas disebut majikan dan asisten?
“Beneran? Gue nggak percaya, lho.”
“Serius.”
Sita cekikikan sementara aku hanya memandang kosong layar televisi. Di luar hujan rintik-rintik. Kupandang jarum jam, dan waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari. Lantas kumatikan televisi dan merebahkan diri di atas sofa.
“Tidur di sini aja, Ra.” Sita menepuk ruang kosong di sampingnya, aku menggeleng pelan meresponnya.
“Enakan di sini, ah.”
“Beneran?”
“Iya.”
Tok. Tok. Tok.
Suara pintu rumah diketuk membuat Sita dan Aku sama-sama bangkit dan saling bertukar pandang. Siapa yang bertamu tengah malam begini? Sita turun dari atas ranjang, lantas bergegas ke luar untuk membuka pintu.
Kembali merebahkan badan, aku mencoba untuk memejamkan mata ketimbang menunggu Sita kembali. Mungkin itu tamu pentingnya Sita, dan aku merasa tak perlu tahu.
Terdengar suara Sita sedang bercengkrama dengan seseorang di luar sana. Aku nggak bisa mendengarnya dengan jelas, tapi masih bisa menebak bahwa tamu Sita adalah seorang cowok. Mungkin pacarnya, tapi bukannya Sita habis video call bareng pacarnya barusan?
“Eh, Eh, di sini nggak ada Damara, Bang. Jangan main slonong aja!” kata Sita. Kali ini suaranya terdengar jelas.
Merasa namaku disebut, aku kembali bangkit dan mengerjapkan mata mirip manusia bodoh. Siapa yang mencariku tengah malam begini? Andra? Nggak mungkin. Galaksi? Duh, jangan sampai, deh.
“DAMARA!”
Itu suara Galaksi. Dari mana dia tahu kalau aku sedang berada di rumah ini, coba?
“Nggak ada Damara di sini!” kata Sita berbohong demi menyelamatkanku. Duh, Sita, kamu memang temanku yang paling pengertian.
“Bohong, lo. Gue tahu Damara di sini,” jawab Galaksi percaya diri.
Buru-buru aku bangkit dan mondar-mandir nggak jelas di dalam kamar, saking bingung. Aku harus sembunyi di mana? Di kolong ranjang?
Ah, benar.
Brak!
Pintu terbuka saat aku masih mematung di pinggir ranjang. Aku meringis melihat Galaksi terdiam di ambang pintu. Dia berdiri sambil memasang wajah lempengnya, melihatku yang mengerjap bagai gadis kurang tidur. Aku telat bersembunyi darinya dan harus menerima nasib bahwa malam ini Galaksi menang atasku. Sita meringis kecil di samping Galaksi karena ketahuan berbohong, dan Galaksi hanya memandang sinis padanya.
“Gue minta maaf untuk yang tadi. Sekarang pulang, yuk!” Galaksi mengulurkan tangannya sambil mendekat. Sita tampak melongo melihat perlakuan manis Galaksi padaku. Lantas dia pergi meninggalkan aku dan Galaksi berduaan di dalam kamar.
“Gue mau di sini.”
“Gue minta maaf soal ciuman tadi, gue cu—” Ucapan Galaksi terhenti saat aku membekap mulutnya agar diam. Kupandang ke luar pintu, berharap Sita tidak mendengar apa yang baru saja diucapkan Galaksi.
“Lo diem!”
Galaksi melepaskan tanganku dari mulutnya kemudian nyengir tanpa dosa. “Pulang atau gue bocorin, nih?”
Kamvret!
***
Sepanjang perjalanan, kami hanya diam tanpa ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. Galaksi memandangku dari samping, kemudian berdeham sekencang mungkin sampai aku terperanjat kaget.
“EKHEM!”
Aku mendelik sinis, memandangnya yang kini cengengesan, lantas kembali bergeming memandang kosong ke luar jendela mobil.
“Ngomong, dong. Kok lo gitu banget, sih, ke gue?” katanya hiperbolis. Kupandang wajahnya yang merengut mirip bocah TK. Galaksi mencolek-colek daguku sambil merajuk jahil. “Ngomong, nggak? Kalau nggak ngomong aku nggak mau mandi,” lanjutnya semakin ngaco.
Aku tergelak, kemudian tertawa hambar sambil memandangnya. “Lo kira gue peduli? Mau lo mandi, kek. Enggak mandi, kek. Bukan urusan gue.”
“Tapi nanti aku bau.”
“Masa bodoh.” Aku melempar poni ke samping. Galaksi mendesis geram memandangku. Dia yang sebelum hanya jahil kini berubah menyeramkan karena tersulut emosi.
“HEH. GUE UDAH BAIK, YA, KE LO. SEPERTI INI BALASAN LO?” teriaknya. Aku terkejut bukan main mendengarnya. Dia memarahiku? Tapi biasanya juga kayak gitu, sih.
Bukankah seharusnya dia membujukku dengan berbagai cara, ya? Beliin aku es krim, kek. Atau cokelat. Apa pun itu, asalkan emosiku reda. Bukan begini. Bukan malah teriak-teriak kesal duluan.
“Mau lo apa, ha?” Aku balik memandangnya geram. “Lo mau jadiin gue bu-dak? Gue nggak sudi. Mending lo pecat gue kalau gitu caranya. Gue udah capek juga.”
“OKE KALAU ITU MAU LO! TURUN LO DARI MOBIL GUE!” Galaksi menepikan mobilnya tepat di depan minimarket tempatku bekerja. Mulutku menganga lebar. Dia beneran mengusirku? Dia setega itu?
“TURUN GUE BILANG!”
Mataku panas. Aku memandang Galaksi dengan tatapan nyalang. Kubuka pintu mobilnya, kemudian keluar dan menutupnya sekasar mungkin.
Brak!
Suara pintu mobil tertutup menggema. Galaksi menarik gas kembali dan berlalu dari hadapanku. Aku memandang mobilnya yang menjauh sambil berderai air mata.
Galaksi. Aku akan pergi jauh dari hidup kamu setelah ini.
***
Aku berjalan dari minimarket menuju rumah seorang diri, pada pukul dua dini hari, dan dipenuhi ketakutan. Sesampainya di rumah, kulihat sikat gigiku berada di tempat sampah. Cangkir-cangkir kesayanganku berada di dalam karton mie instan. Sepertinya Galaksi yang melakukan itu.
“Gue nggak mau liat barang-barang lo. Bawaannya bikin kesel.” Galaksi melipat tangan di d**a, berdiri di pinggir kulkas sambil memandang wajahku dengan ekspresi datar.
Ternyata marah Galaksi semenyeramkan ini. Aku baru tahu kalau dia begitu kekanakan dan sangat arogan.
Aku berjalan cepat menuju kamar dengan emosi yang tersulut. Kuambil koper, lantas memasukan seluruh bajuku ke dalamnya. Aku akan pergi dari rumah ini. Persetan dengan dengan gaji besar dan muka tampan yang memenuhi mimpiku setiap malam. Aku tak akan peduli lagi.
Brak!
Pintu kamar terbuka dengan kasar. Galaksi berjalan dengan cepat ke arahku kemudian menarik tanganku agar menjauh dari koper. Pintu lemari dia tutup agar aku nggak bisa mengambil kembali baju-bajuku. Aku berontak, tapi Galaksi menahanku semakin kuat.
“Lepasin, gue mau pergi!”
“Jangan seenaknya gitu, dong.”
Mendengarnya membuatku tertawa sarkas. “Seenaknya lo bilang?”
“Iya.”
“Lo yang seenaknya, Galaksi. Lo nggak sadar sama kelakuan lo?”
Bersambung...
KESEL GAK? KESEL GAK?!
HAHAHAHA.
Buat yang mau promosiin cerita ini di grup facebik, boleh banget, aku akan sangat senang kalau kalian mau review dan promosiin cerita Galaksi Andromeda-ku.
Salam dari biniknya Jungkook:)