Pintu hotel otomatis terbuka, menghembuskan udara dingin yang menusuk kulit. Semarang masih menyisakan hangat pagi, tetapi di dalam hotel ini, udara terasa terlalu bersih—terlalu sunyi—seolah gedung ini sengaja menyediakan ruang kecil untuk cinta yang tidak boleh terlihat dunia. Bramasta berjalan di depan, menuruni anak tangga menuju lobi, menarik koper kecil Inari tanpa melepaskan genggaman tangannya. Genggaman itu kokoh, hampir gelisah, seperti ia takut perempuan itu akan menghilang jika ia melepaskan sedetik saja. “Check-in dulu, sayang,” katanya rendah. Inari mengangguk pelan. Matanya mengikuti setiap gerakan Bramasta: cara laki-laki itu menunjukkan KTP, cara ia bicara dengan suara terkontrol, juga cara ia sesekali menoleh—memastikan Inari ada di dekatnya. Tidak ada kecurigaan kare

