Raisa menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol kirim. Ia sudah menulis ulang kalimat itu tiga kali. Menghapus kata-kata yang terdengar terlalu tajam. Menambahkan sapaan agar tidak terdengar menuduh. Mengurangi tanda tanya agar tidak terlihat agresif. Ia tidak ingin terlihat sebagai istri posesif—atau lebih buruk, istri yang sudah lebih dulu curiga tanpa bukti. Padahal jantungnya berdegup jauh lebih kencang dari yang ingin ia akui. Raisa tahu, ini mungkin adalah tindakan yang gegabah. Namun, apa boleh buat. Dia sudah kehilangan cara. Bramasta tidak dapat dihubungi dan selama dua hari ini, Langit terus merindukan ayahnya. Itu sebabnya, meski penuh keraguan, Raisa memberanikan dirinya. Dia mengirim pesan pada Inari Handayani. Wanita yang menurutnya berpotensi menjad

