Kepulangan Bramasta ke Gresik, ke rumah tidak terasa seperti pulang. Lebih seperti seseorang yang kembali ke medan tanggung jawab setelah terlalu lama bersembunyi. Raisa berdiri di ruang tamu malam itu. Matanya langsung menelusuri wajah Bramasta, tubuhnya, tangannya—seolah memastikan suaminya benar-benar ada dan utuh. Raisa sengaja tidak bertanya banyak, tapi jarak di antara mereka justru terasa lebih rapat dari biasanya. Protektif. Itulah yang Bramasta rasakan sehari sejak dia kembali. Istrinya seolah terus mengawasinya. Meski tidak secara langsung, tetapi Bramasta dapat merasakannya. Raisa menyiapkan air hangat, obat dan makanan yang lembut. Menyuruhnya tidur lebih awal, menegur dengan nada khawatir jika ia bangun terlalu lama. Bahkan ponselnya beberapa kali dicek dengan alasan sede

