Inari dan Bramasta sudah duduk di ruang tamu rumah Inari sejak hampir satu jam lalu. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada suara tinggi. Tidak ada benda yang dilempar atau pintu yang dibanting. Justru itulah yang membuat suasana terasa ganjil—tenang yang tidak wajar, seperti laut yang diam terlalu lama sebelum badai datang. Lampu ruang tamu menyala temaram. Tirai jendela tertutup rapat, menyisakan bayangan samar dari lampu jalan di luar. Jam dinding berdetak jelas, seolah sengaja menghitung jarak di antara napas mereka. Bramasta duduk dengan punggung sedikit condong ke depan, kedua telapak tangannya saling bertaut. Sejak tadi ia gelisah. Kakinya beberapa kali bergerak, lalu berhenti, lalu bergerak lagi. Ia tahu ketenangan ini bukan pertanda baik. Ia terlalu mengenal Inari untuk percaya bahwa

