“Ini rumahku.” Ujar Michael seraya memasuki rumahnya yang sudah terbuka oleh salah satu pengurus rumahnya. “Bukan benar-benar rumah yang aku beli. Tapi peninggalan kedua orangtuaku.” Lanjut Michael. Setelah itu tersenyum, begitu melihat Milla yang ikut memasuki kediamannya itu. Milla mengamati seluruh ruang tamu itu. Matanya terus menyisir setiap sudut ruangan itu dengan tatapan tajam layaknya sensor pendeteksi, mencari foto yang di maksud oleh perempuan yang kemarin mendatanginya. Setelah tidak menemukan foto berbingkai besar di samping foto keluarga Michael, ia kemudian mengamati ke bagian lain secara hati-hati. Ia benar-benar meneliti satu persatu. Bahkan memeriksa foto-foto yang berjajaran di sebuah bufet. Ia tahu yang ia lakukan memang terkesan tak sopan. Namun ia tak peduli karena i

