CIIITTT!
BRAK!
BRAK!
DUG!
Sebuah mobil terguling sebanyak dua kali sebelum akhirnya membentur sebuah pohon besar setelah dihantam sebuah truk tanpa muatan dari arah berlawanan. Satu detik setelah mobil itu berguling, truk tersebut segera meninggalkan tempat kejadian perkara dengan kecepatan penuh, berusaha tidak meninggalkan jejak setelah dengan sengaja memasuki jalur yang tidak seharusnya pengendara truk itu gunakan.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA ... Tolong ada kecelakaan!”
“Cepat panggil ambulan!”
***
Seorang perempuan yang mengenakan stelan jas berwarna putih dan juga sebuah stetoskop yang menggantung di lehernya, berjalan dengan langkah lebar menuju ruang instalasi gawat darurat ketika mendengar ada sebuah kecelakaan hebat yang harus segera mendapatkan pertolongan. Dia kemudian berjalan dengan setengah berlari ketika melihat ambulan berhenti, tak lama setelah itu ia melihat seorang lelaki yang bersimbah darah disebuah belangkar yang baru saja keluar dari dalam ambulan tersebut.
Perempuan itu, Milla Alexi. Seorang dokter cantik yang sangat rupawan berusia tiga puluh tahun yang memiliki ke pribadian lembut dan cukup tenang. Meskipun begitu ia begitu cekatan dan menjadi sangat diandalkan di rumah sakit itu. Rumah sakit kecil yang berada di pinggiran kota.
Seperti sekarang, Milla begitu fokus membersihkan setiap luka yang berada di kepala lelaki itu, kemudian membersihkan luka lain yang berada di lengan dan juga kaki. Banyak sekali luka robek yang mengeluarkan darah segar akan tetapi ajaibnya tak ada luka yang bisa dikatakan sangat parah hingga membuat Milla dapat dengan cepat mememberikan pertolongan pertamanya.
“Segera ganti pakaian pasien ini kemudian hubungi keluarga yang bersangkutan. Lalu hubungi juga bagian radiologi, agar pasien cepat mendapatkan penanganan. Periksa bagian kepala dan kakinya, karena aku rasa kaki pasien sepertinya terhimpit saat kecelakaan tadi.” Ujar Milla sebelum akhirnya meninggalkan pasien tersebut. Membiarkan perawat menyelesaikan sisanya.
Milla merenggangkan jemarinya sesaat seraya berjalan menuju ruangannya kembali.
“Bagaimana bisa seseorang yang mengalami kecelakaan separah itu tidak mendapatkan luka yang sangat parah Dok? Aku masih tidak habis pikir ketika menyaksikannya. Aku pikir setidaknya pasien itu harus di operasi bagian kepala atau kaki, tapi ternyata pasien itu baik-baik saja.” Ujar salah satu perawat yang selalu menjadi asisten Milla, perempuan dengan name tag Lillly.
“Kau harus memahami tentang sesuatu yang bernama keajaiban Lilly. Mungkin dimasa lalu dia menjadi penyelamat bumi sehingga kali ini bumi menyelamatkannya dari kecelakaan sehebat itu.” balas Milla sebelum memasuki ruangannya. “Tapi tetap saja, jangan lupa pesanku tadi, dia harus tetap mendapatkan rontgen dan juga CT scan. Aku khawatir terjadi luka dalam pada pasien itu.”
Lilly mengangguk. “Aku akan segera menghubunginya sekarang juga.”
Milla kemudian mendudukan diri dibalik kursi kerjanya. Sebelum akhirnya ia mendongak kembali menatap Lilly yang masih berdiri disampingnya. “Oh ya ... Lilly jika bisa segeralah hubungi Dokter Indira, katakan padanya jika pelatihan yang di lakukannya bersama Dokter Candra sudah selesai, segeralah kembali. Aku merasa sangat kewalahan dengan pasien yang terus berdatangan, sementara pasienku sendiri sangat banyak.” Ujarnya.
Lilly yang mendengarnya berkata begitu malah mendesis pelan. “Apa yang kau harapkan dari dua orang itu ketika bepergian bersama Dok? Mereka tak pernah pelatihan sebentar, mereka akan selalu menikmati waktu lebih panjang seperti pasangan pengantin baru.” Sindir perawat itu.
Ya ... Indira dan Candra memang dua dokter yang merupakan pasangan kekasih. Namun sayang sekali, mereka terkadang melakukan kegiatan berdua mereka tanpa memikirkan pekerjaan, dengan kata lain mereka tidak terlalu profesional dan bertanggung jawab atas pekerjaan mereka dan juga amanat yang di emban. Padahal mereka merupakan Dokter bersertifikat resmi. Tapi kinerjanya selalu saja dipertanyakan banyak karyawan lain. Tidak memberi contoh sama sekali.
Sementara itu Milla yang seharusnya hanya menangani anak, dia harus menghandle kejadian-kejadian tak terduga selama dua orang itu tak ada. Seperti kejadian kecelakaan yang baru saja terjadi contohnya. Kejadian yang tidak seharusnya ia tangani namun dengan rasa penuh tanggung jawab akhirnya ia tangani juga. Rumah sakit yang ia tempati sekarang memang bukan rumah sakit besar, tapi hanya sebuah rumah sakit kecil yang sebenarnya tidak begitu luas dan tidak memiliki terlalu banyak kamar. Bahkan Dokter yang rela bekerja disana hanya sebagian kecil saja, seperti dirinya, Indira dan Candra. Tak ada yang lain.
Tok tok tok!
“Masuk.” Ujar Milla kemudian menutupkan dokumen yang sejak beberapa saat lalu ia baca. Bertepatan dengan itu pintu ruangannya terbuka, menunjukkan seorang lelaki tampan yang menjulang tinggi memasukki ruangannya.
Senyuman Milla merekah sempurna ketika melihat sosok lelaki yang merupakan kekasihnya itu. Ia bahkan segera berdiri kemudian merentangkan tangannya pada lelaki itu, lalu memeluknya sesaat. “Hai Gary.” Sapa Milla dengan senyuman yang masih merekah. “Apa kabarmu hari ini?”
Lelaki itu, Gary. Kekasih Milla sejak dua tahun yang lalu dan merupakan tunangannya sejak dua bulan terakhir ini. Lelaki tampan yang berhasil meluluhkan hatinya karena kebaikan yang lelaki itu berikan.
“Dokter ... kalau begitu saya keluar.” Pamit Lilly sebelum akhirnya keluar dari ruangan tersebut.
Milla memeluk leher Gary, sementara lelaki itu memeluk pinggangnya. Merapatkan posisi mereka hingga saling berhimpitan. Kemudian setelah itu dia menciumnya, dan melumat bibirnya sesaat.
“Sudah aku bilang jangan memanggilku begitu sayang. Kau tau, jika kau memanggilku seperti itu kau jadi sepersi spons yang berada di bawah laut dan aku siputnya.” Keluh lelaki itu seraya mencubit hidungnya.
Milla tergelak mendengar candaan kekasihnya itu. “Tapi bukankah itu terdengar menggemaskan Gary?”
Lelaki itu mendesis sesaat sebelum akhirnya mengusak pelan kepalanya. “Terserahmu saja, yang terpenting kau suka.”
Milla mengulum senyumannya kemudian mengangguk. Gary memang baik, sangat baik. Lelaki itu bahkan tidak pernah marah padanya, tidak seperti lelaki lain yang mudah terpancing emosi. Gary benar-benar lelaki yang begitu tenang dan juga berbudi luhur. Sangat baik, layaknya suami impian.
“Bagaimana jika kita makan malam bersama? Aku yakin kau belum makan malam ‘kan?” tanya Gary.
Milla merengut lalu menatap kekasihnya itu dengan tatapan penuh rasa bersalah. “Maafkan aku Gary aku tak bisa makan malam bersama, aku harus berjaga karena tak ada Dokter lain.”
Lelaki itu menghela nafas sesaat sebelum memberinya sebuah senyuman. “Baiklah sayang, aku mengerti. Jangan terlalu lelah dan jangan lupa beristirahat kalau begitu.” Ujar Gary seraya mengusak kepalanya sesaat sebelum menciumnya lagi dalam waktu yang cukup lama.
“Sekali lagi maafkan aku. Setelah teman-temanku yang lain datang. Aku berjanji kita bisa makan malam bersama. Bagaimana?” tawar Milla mencoba mencari solusi baik.
Selama ini Gary sangat pengertian akan pekerjaannya. Ketika ia tidak bisa makan malam bersama atau jalan-jalan bersama. Lelaki itu tidak pernah mengeluh atau bahkan mengekangnya. Dia benar-benar pengertian dengan semua konsekuensi menjadi kekasihnya.
“Tak apa sayang, dan oh ya ... maafkan aku. Aku masih belum bisa menemukan informasi apapun tentang Helen. Tapi aku akan tetap berusaha mencarinya.”
Milla menganggukkan kepalanya. “Tak apa Gary ... aku mengerti. Kau pasti kesulitan ‘kan?”
“Sangat. Aku bahkan tidak memiliki petunjuk apapun untuk mengungkapnya.” Gary membelai kepalanya lagi. “Tapi aku yakin suatu saat aku akan menemukannya. Bersabarlah.”
“Iya Gary. Aku akan bersabar. Oh ya ... aku sudah menambah saldo tabungan kita. Kau sudah melihatnya?”
Lelaki itu mengangguk. “Sudah ... tapi maaf aku belum bisa membantumu menambah tabungan kita Milla. Kau tahu ‘kan pekerjaan sepertiku tidak banyak di butuhkan. Karena masih ada agen lain yang lebih terpercaya.”
Milla terkekeh pelan mendengar kalimat tersebut. “Iya Gary ... iya. Aku mengerti. Kau sudah mengatakannya hal itu lebih dari seratus kali sayang.”
“Baiklah kalau begitu, aku pulang sekarang sayang. Sampai jumpa nanti.” Pamit Gary setelah memeluk Milla sesaat, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Milla menarik nafasnya kemudian menghembuskannya kembali. Gary ... dia sebenarnya sebuah detektif rahasia, awalnya karena itulah ia mau berteman lalu menerima ajakannya berkencan namun ternyata lambat laun ia merasa cukup nyaman dengan lelaki itu. Apalagi lelaki itu juga terus-menerus membantunya mencari petunjuk mengenai kematian Helen tiga tahun silam. Helen merupakan kakaknya, keluarga satu-satunya setelah kedua orangtuanya meninggal. Namun naas, kakaknya itu harus meninggal dengan cara keji oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab ketika dirinya masih menempuh jenjang pendidikan spesialis di New York. Kenyataan itu benar-benar memukulnya. Akan tetapi berkat kehadiran Gary semuanya terasa lebih baik. Lelaki itu dengan sabar bisa menerimanya dan juga menangani kasus Kakaknya tanpa ia harus membayar lelaki itu secara lebih. Ia senang, ia bahagia memiliki sandaran yang sangat pengertian seperti Gary. Kekasih terbaiknya.
Tak lama setelah itu Lilly kembali memasuki ruangannya. “Kau masih berhubungan juga dengannya Dok? Padahal sudah hampir sebulan ini aku tidak melihatnya. Aku pikir kalian putus.”
Milla terkekeh pelan lalu menggeleng. “Kami tidak mungkin putus, kami sudah bertunangan Lilly. Lagipula hubunganku dengannya tidak sedangkal itu.”
Lilly menghembuskan nafasnya pelan. “Sebenarnya aku masih menyayangkan hubungan kalian Dokter. Aku berharap kau mendapatkan seseorang yang lebih baik dari lelaki itu, yang bisa benar-benar mencintaimu dengan tulus. Bukan karena sesuatu hal lain, seperti uang contohnya.”
Milla sedikit tergelak. “Uang? Memang aku orang kaya? Lilly penghasilanku tak sebanyak itu.” ujarnya seraya menggelengkan kepalanya pelan.
“Tapi tetap saja uangmu habis karena dipakai lelaki itu ‘kan?” Lilly menghembuskan nafasnya pelan. “Jangan sampai kau tertipu Dok. Aku akan bersedih jika hal itu terjadi.”
Milla menggelengkan kepalanya pelan. “Tak akan Lilly, tenang saja. Aku percaya dia lelaki baik-baik, bukan penipu apalagi hanya memanfaatkan uangku.”
Lilly menatap Milla sesaat sebelum menghembuskan nafasnya lagi. “Ya ... tentu saja kau akan percaya Dok. Cinta itu buta. Kau tak akan pernah bisa melihat kekurangannya atau bahkan sesuatu hal yang sangat mencurigakan dari gerak geriknya.”
Milla mengulas senyumannya. Apakah benar ia memang cinta buta? Karena jujur saja ia tidak pernah berpikir bahwa Gary akan menipunya. Ia tidak pernah berpikir bahwa Gary seburuk itu. Tidak sedikitpun. Tapi ... sudahlah. Bukankah kunci sebuah hubungan memang kepercayaan? Jika ia curiga, bagaimana bisa ia menjalin hubungan bersama lelaki itu dengan baik ‘kan?
***
Keesokan harinya ... dua orang yang mengaku dirinya wali dari pasien yang mengalami kecelakaan datang menemui Milla di ruangannya. Pertama seorang wanita paruh baya dan satu orang lagi seseorang yang mungkin seusia dengan pasien. Kedua orang itu kini sedang menatapnya dengan intens, membuat Milla segera menjelaskan kondisi pasien tersebut.
“Pasien pagi ini sudah sadar, hanya saja kembali tertidur karena efek obat yang diberikan. Anda tidak perlu khawatir tentang kondisi pasien karena setelah mendapatkan berbagai pemeriksaan, pasien tidak mengalami gangguan seperti yang di khawatirkan.” Jelas Milla yang diakhiri oleh sebuah senyuman yang sangat tipis.
“Syukurlah, aku senang mendengarnya. Aku pikir akan terjadi sesuatu yang berbahaya pada Mr. Austin.” Ujar perempuan paruh baya itu.
Milla tersenyum lagi. “Tidak Ma’am. Anda bisa tenang.”
“Permisi ... saya mau bertanya. Apakah anda bernama Milla?” tanya lelaki yang duduk disamping perempuan itu.
Milla terkekeh pelan. “Tentu saja, anda bisa melihat id card saya.”
“Ternyata benar.” Guman lelaki itu.
Kening Milla mengerut. “Maaf? Maksud anda?”
Lelaki itu memberikannya senyuman tipis. “Tidak, saya hanya memastikan saja. kalau begitu saya pamit.”
Milla kembali tersenyum pada lelaki itu kemudian merengut. “Apakah dia berpikir aku Dokter gadungan?”
“Mungkin anda memang sudah saatnya mengganti foto dalam id card anda ini Dok. Karena ... memang sedikit berbeda.” Ujar Lilly menanggapi.
Milla menunduk melihat id card-nya. Ah ... memang. Fotonya memang sudah mulai berbeda. Tapi entah mengapa. Tetap saja ia merasa tersinggung dengan ucapan lelaki itu. Bagaimana bisa dia mengatakan hal demikian? Bukankah itu sangat tidak sopan?