Kendaraan dengan logo perisai dan kuda jingkrak itu melaju dengan sangat cepat seolah berburu waktu yang akan segera habis, selah tak ada kata esok dan kata nanti, hingga kendaraan itu melaju dengan begitu kencangnya ketika memasuki sebuah kawasan yang cukup sepi kendaraan. Akan tetapi ketika pedal gas kembali di injak, bertepatan dengan itu sebuah truk memasuki lajur berkendaranya. Sehingga kecelakaan itu tak terelakan lagi. Bahkan setelah berusaha menghindar, semuanya berakhir dengan sia-sia. Kendaraan itu tetap terhantam hingga akhirnya terguling sebanyak dua kali sebelum akhirnya berhenti setelah menghantam pohon besar di pinggir jalan itu.
***
Michael seketika membuka matanya dengan nafas yang memburu ketika kejadian yang belum genap dua puluh empat jam itu kembali hadir dalam mimpinya. Kembali terngiang-ngiang dalam ingatannya. Ingatan tajamnya benar-benar ingat saat melihat truk itu seolah sengaja mengambil lajur kendaraannya. Truk itu seolah sengaja ingin menghantamnya, lalu menghancurkannya.
“Michael.”
Michael Austin, seorang lelaki yang terlibat dalam kecelakaan hebat malam itu menoleh kearah dua orang yang duduk tepat di samping bangsal pesakitannya. Ia menatap dua orang itu secara bergantian. Dua orang itu, Christian Barker yang merupakan asisten pribadinya dan Maria Jolie yang merupakan kepala rumah tangga dan juga pengasuhnya sejak kecil.
Michael menegakkan meneguk air dari sebuah sedotan yang di arahkan Maria padanya, setelah itu barulah lelaki itu berujar pelan.
“Chris bagaimana? Kau sudah menyelidikinya?” tanya Michael begitu tenggorokannya terasa lebih baik.
“Tak ada yang bisa di selidiki Mike. Rekaman dari kamera pengawas di sepanjang jalan yang merekam kejadian itu mendadak hilang, bahkan hidden kamera yang berada di dalam mobilmu juga raib. Tak tersisa.” Jawab Christian.
“Sepertinya mereka sudah merencanakannya dengan sangat matang.” Ujar Michael.
Christian mengangguk. “Aku juga berpikir seperti itu. Tapi aku tetap curiga pada orang yang sama Michael. Apa kau berpikir hal yang sama denganku?”
Michael mengangguk juga. “Sayang sekali tak ada bukti yang memperkuatnya.”
Christian menganggukkan kepalanya lagi. Lelaki itu kemudian menghela nafas panjang. “Lagipula untuk apa kau bepergian sendiri? Biasanya kau akan memintaku mengantarmu.”
“Hanya ingin, pergi tanpa tujuan yang jelas hanya untuk melepaskan penat.” Michael menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi. Setelah itu ia mengalihkan pandangan pada Maria yang masih menatapnya dengan tatapan yang sangat sendu, tampak sedih dan juga khawatir. Perasaan perempuan yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri itu terlihat begitu jelas, tergambar dalam obsidian yang tergenang air mata itu. Setelahnya ia menarik ujung bibir sesaat sebelum berujar dengan tenang.
“Aku baik-baik saja Maria. Kau tak perlu khawatir.”
Perempuan itu menganggukkan kepalanya seraya menyeka air mata yang mulai menetes dengan kasar, membuat Michael menghembuskan nafasnya lagi. Setelah itu ia mengalihkan pandangan pada Christian lagi. “Chris, kendalikan media. Katakan pada mereka aku baik-baik saja. Aku yakin, saat ini mereka pasti sedang ribut membicarakanku.”
“Narsistik sekali, tapi sayangnya memang benar.” Christian menjeda ucapannya sesaat. “Kau tenang saja, masalah itu aku sudah meminta Kate untuk mengatakannya pada wartawan dan meminta pada mereka untuk tidak mengganggumu selama kau berada masa penyembuhan.”
Michael menganggukkan kepalanya sesaat sebelum menghembuskan nafasnya pelan. Sungguh, sebelumnya ia tidak pernah berpikir bahwa akan terjadi kecelakaan sepreti ini. Apalagi kecelakaan yang terjadi malam tadi seolah kecelakaan yang di sengaja. Bayangan kejadian itu kembali menghampiri ingatannya, Ia masih mengingatnya, ia masih mengingat dengan jelas bagaimana truk yang tiba-tiba ia lihat memasuki area lajur kendaraan yang seharusnya ia lalui, bagaimana kencangnya truk itu begitu sudah lurus dengan kendaraanya, lalu ... dentuman keras itu. Ia masih tetap saja ingat, ia masih mengingat semuanya dengan sangat jelas, padahal ia tidak berusaha melupakan atau mengingat hal tersebut.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu menyadarkan Michael dari lamunan panjangnya. Tak lama setelah itu masuklah seorang dokter dengan dua orang perawat yang mengekor di belakangnya.
“Selamat siang Mr. Austin.” Sapa dokter perempuan itu seraya tersenyum begitu anggun. Ia menatap perempuan itu dalam diam saat melihat senyumannya, mata berbinarnya. Sungguh menarik perhatiannya.
“Ijinkan saya memeriksa anda sebentar.” Ujar perempuan itu seraya memberikan senyuman padanya lagi.
Michael terdiam menatap paras indah yang berada tepat dihadapannya itu. Wajah kecil, mata bulat dengan alis yang menukik tajam dan juga bulu mata lentik sempurna, hidung mancung, serta bibir tipis yang terlihat begitu sensual, sangat menggoda apalagi ketika bibir itu terus bergerak dan menyunggingkan senyuman.
Michael membasahi bibirnya sesat sebelum mengalihkan pandangan pada id card yang bergantung di d**a perempuan itu, menunjukkan sebuah nama yang sudah sangat dipastikan milik perempuan itu. Milla Alexi. Michael menarik ujung bibirnya sesaat sebelum menatap iris mata perempuan yang kini sedang memeriksanya itu. Ia yakin, saat ini perempuan itu dapat mendengar detakan jantungnya yang menggila. Membuatnya menarik ujung bibirnya lagi sebelum menatap perempuan dihadapannya itu kembali dengan intens.
“Sepertinya jantungku tidak normal.” Ujar Michael.
“Sepertinya anda mengkhawatirkan sesuatu Mr. Austin. Apakah anda mengalami mimpi buruk ataukah mengalami suatu ancaman?” tanya Milla seraya berdiri tegak, menatap kearahnya.
“Ya ... mungkin. Tapi rasanya jantungku begini karena melihat paras cantikmu. Kau sangat cantik.”
Michael dapat melihat perempuan itu tersenyum canggung, membuatnya mengulas senyuman sesaat.
“Sepertinya keadaan anda mulai stabil Mr. Austin. Saya lega melihatnya.” Ujar Milla seraya tersenyum tipis. “Kalau begitu saya pamit. Saya harus memeriksa pasien lain. Saya harap anda lekas sembuh dan dapat segera kembali kerumah.” Ujar perempuan itu, lalu beberapa saat kemudian dia pergi untuk memeriksa pasien lain.
“Kau gila Michael. Bagaimana bisa perempuan yang sudah memakai cincin di jari manisnya masih kau goda?” Christian berdecak seraya menggelengkan kepala.
Michael terkekeh pelan setelah mendengar kalimat tersebut. “Memang apa salahnya? Menikah saja ada yang bercerai. Apalagi bertunangan. Semua hal masih bisa terjadi Chris.”
“Jangan macam-macam Michael! Kau sudah berjanji tak akan pernah memperumit keadaan karena seorang perempuan.” Ujar Christian lagi. “Maria, coba kau ingatkan anakmu itu. Jangan sampai dia memperumit dirinya sendiri karena perempuan.”
Michael menatap kearah Maria yang kini sedang tersenyum seraya menggenggam tangannya dengan erat. “Aku akan mendukung apapun yang menjadi kebahagiaanmu Michael.” jawab perempuan itu yang membuat senyuman Michael mengembang, lalu menatap kearah Christian dengan senyuman penuh kebanggan.
“Kau dengan Chris, Maria saja sudah setuju.” Ujarnya.
Christian justru mendesis lagi. “Terserahmu, yang terpenting aku sudah mengingatkan.”
Michael menarik ujung bibirnya. “Kau ingat Chris, aku sudah mengatakan tak akan pernah membuka hatiku lagi pada sembarangan perempuan?”
“Tentu saja. Baguslah kalau juga kau ingat.” Ujar Chris tak acuh. “Jadi jangan pernah berpikir untuk bermain dengan perempuan itu Mike. Aku malas membereskan kekacauan yang kau lakukan.”
Michael menatap Chris seraya menarik ujung bibirnya. “Justru karena hal itulah, maka aku harus mendapatkannya dan memastikan perempuan itu tinggal di sekitarku.” Ujar Michael lagi.
Michael adalah lelaki yang sangat obsesif, dia selalu memiliki tekad yang kuat untuk mendapatkan semua hal yang dirinya inginkan. Tak ada halangan, tak ada pantangan untuknya. Karena bagunya semua hal yang ia inginkan harus ia dapatkan. Sekalipun perempuan yang sudah memiliki tunangan seperti Milla. Apapun ... akan ia lakukan untuk mendapatkan perempuan itu sekalipun ia harus berbuat licik.
“Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak Michael!” tegur Christian lagi yang membuat Michael tergelak.
Christian sahabatnya, dia memang paling mengerti dan paling bisa membaca pikirannya. Maka ia tak heran lagi jika Christian memang sudah bisa membaca rencana yang sudah ia rancang dalam otaknya.
Setelah meredakan tawanya, ia kemudian menatap Christian lagi sebelum berujar pelan.
“Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan perempuan itu. Apapun.” Ujarnya dengan penuh tekanan. Ya ... ia akan melakukan apapun. Ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan perempuan itu. Sekalipun ia harus menggunakan cara yang licik dan juga kotor.
Lihat saja nanti, dia pasti akan menjadi milikku seutuhnya. Batin Michael, seraya menyeringai.