3. Lelaki Gila

1576 Kata
“Apakah dia gila?” Milla mendengus. “Bagaimana bisa dia mengatakan itu padaku? Dia ... benar-benar lelaki b******k, bermulut manis. Memangnya dia tidak lihat aku memakai cincin?” tanyanya dengan nafas yang memburu, sarat akan emosi yang terpendam dalam dadanya. Setelah Milla memeriksa pasien VIP yang malam sebelumnya mengalami kecelakaan. Rahangnya mengatup, nafasnya memberat. Menahan emosi yang meluap-luap setelah mendengar perkataan kurang ajar yang baru saja didengarnya dari pasien itu. Ia tak terima, ia merasa seperti di lecehkan oleh pernyataan lelaki yang sayangnya merupakan pasien yang harus ia rawat itu. Sehingga setelah Milla membuka pintu ruangan kerjanya ia segera menghempaskan dirinya dengan kasar diatas kursi dibalik meja kerjanya. Lalu mendengus dan menggeram sesaat. “Benar-benar lelaki penggoda.” Rutuk Milla lagi. Lilly terkekeh pelan melihatnya yang terus-terus merutuki sikap lelaki gila yang baru saja ia periksa. Ya ... lelaki gila bernama Michael Austin yang ternyata merupakan seorang pengusaha yang sejak empat tahun belakangan ini menjadi pengusaha paling berpengaruh di Florida. “Sepertinya dia benar-benar menyukaimu Dok. Tapi aku setuju jika memang dia menyukaimu. Aku rasa kalian juga cocok. Daripada kau bersama kekasihmu yang sekarang itu. Dia terlihat lebih cocok bersamamu Dokter.” Milla mendelik pada Lilly. Tak terima mendengar kekasihnya dibandingkan dengan orang gila seperti Michael. “Tak ada lelaki sebaik Gary. Tak ada lagi. Gary terbaik. Sekalipun dia terus-menerus menggodaku. Aku tak akan pernah tergoda Lilly, aku tak sudi jika harus jatuh cinta padanya. Aku yakin, dia pasti senang tebar pesona dan bergonta-ganti perempuan, dan aku! Hanya sebagian kecil dari perempuan yang dia goda.” Milla kembali mendengus. “Dia pikir aku perempuan seperti apa? Seenaknya saja menggodaku! Lihat saja, sampai kapanpun aku tak akan pernah tergoda. Aku tak akan terjebak lelaki itu.” Ucapnya diiringi dengusan lagi. Lilly menggelengkan kepala seraya menatapnya. “Jangan berkata begitu Dokter, kau tak bisa mendahului takdir. Kita tak tahu apa yang akan terjadi dalam satu sampai dua bulan ke depan ‘kan? Bisa saja dalam waktu itu kau tiba-tiba dinikahi lelaki yang kau sebut gila itu.” “Lilly! Kau mendo’akan aku putus dengan Gary?!” Milla menatap Lilly yang mengedikkan bahunya. “Aku tidak begitu. Aku hanya berpendapat Dokter.” Lilly menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi, setelah itu menatapnya dengan tatapan yang sangat intens. “Lagipula jika memang dia tidak cukup menarik untukmu, mengapa kau sepanik ini Dok? Kenapa kau semarah ini? Padahal selama ini kau selalu menghadapi hal-hal seperti ini dengan tenang. Tapi mengapa sekarang kau seperti kebakaran jenggot?” Lilly mengulas senyumannya. “Jika dia tidak benar-benar membuatmu tertarik. Kau hanya perlu menganggapnya angin lalu saja Dokter. Seperti yang biasa kau lakukan.”   Deg!   Benar, seharusnya ia biasa saja mendengar lelaki itu mengatakan hal demikian. Karena memang sebenarnya sudah biasa ia mendengar hal itu. Michael pun bukan orang pertama yang mengatakan dirinya cantik. Tapi mengapa dirinya sangat sentimen dengan pernyataan lelaki itu? Bukankah ia hanya perlu bersikap biasa saja? Mengabaikan tingkahnya? Toh dia pasti akan segera pergi dari rumah sakit ini, dan setelah itu ia tak perlu lagi berurusan dengan lelaki gila itu. Seperti yang biasa ia lakukan. “Tapi sepertinya ... dari pengamatanku, pasien itu mendapatkan tempat khusus dalam hatimu ya Dok? Katakan, kau berdebar ‘kan saat dia mengatakan kau cantik?” bisik Lilly seraya menaik turunkan alis, berusaha menggodanya. Mata Milla membulat sempurna. “Tidak! Untuk apa aku berdebar?! Sudah jangan membahasnya! Sebaiknya kau keluar saja sana, makan siang. Jangan membuatku semakin pusing.” Ledakan tawa terdengar setelah ia mengatakan itu. Lilly tertawa dengan puas setelah mendengar ocahannya. Membuat Milla kembali mendengus. Tak lama kemudian Lilly berpamitan padanya sebelum beranjak pergi. Namun ketika sampai di pintu perempuan itu berbalik lagi, menatapnya dengan alis yang naik turun. “Dok ... .” “Apa lagi?!” tanya Milla dengan jengkel. “Coba pegang d**a bagian kirimu, apakah berdebar? Berdebar sangat kencang?” “LILLY!!!!” Perempuan itu kembali tergelak kemudian menutupkan pintu dengan cepat setelah mendengar teriakan penuh kejengkelan itu. Milla menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali, mengatur nafasnya yang memburu karena ledakan emosi akan rasa jengkel yang ia rasakan. Sungguh ia masih merasa dongkol dengan lelaki gila itu, ditambah lagi dengan godaan-godaan perawatnya yang sangat menjengkelkan. Bisa-bisanya dia berpikir ia menempatkan lelaki gila itu secara khusus dalam hatinya? Memangnya ia sudah gila? Milla mengatur nafasnya lagi, kali ini ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kemudian memejamkan mata. Setelah itu tanpa sadar tangan kanannya merambat memegang d**a kirinya yang ternyata benar-benar berdetak lebih kencang daripada biasanya. Mata Milla seketika terbuka, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali. “Tidak. Tidak. Ini pasti hanya karena aku kesal padanya. Ya! Ini hanya kesal. Lagipula aku sudah memiliki Gary, lelaki terbaik yang akan menjadi suamiku. Titik.” Ujar Milla pada dirinya sendiri sebelum mengatur nafasnya lagi, berusaha menetralisir debaran jantungnya yang ternyata justru semakin menggila.   ***   Malam harinya ketika Milla akan beristirahat di kamar yang berada di lingkungan rumah sakit itu, menghentikan langkahnya saat melihat seorang pasien yang berada diatas kursi roda masih berada di luar ruang rawat. Setelah itu ia melangkahkan kaki mendekati pasien tersebut, bermaksud mengantarkan pasien itu kedalam ruangannya kembali. “Sudah malam, sedang apa anda masih berada di luar?” tanya Milla setelah dirinya berdiri tepat disamping pasien tersebut. Pasien itu menoleh, membuat mata Milla mengerjap, begitu menyadari sosok pasien tersebut ternyata sosok lelaki gila yang seharian ini membuatnya berang. Lelaki yang sangat mengganggu pikirannya sekaligus membuatnya jengkel hingga serasa ingin marah secara terus-menerus sepanjang hari ini. Lelaki itu kini menatapnya dengan sebuah senyuman yang terpatri diwajah tampannya. Ia mengerjapkan matanya sesaat setelah sadar atas pikirannya sendiri. Apa? Tampan? Apa-apaan pikirannya itu? Tidak. Tidak. Dia tidak tampan. Dia tidak tampan sama sekali. Gary lebih tampan, Gary lebih segalanya dari lelaki ini. Milla mengalihkan pandangannya kearah kolam yang berada di belakang rumah sakit itu, menghindar dari wajah lelaki gila itu. “Aku hanya merasa bosan. Aku tidak biasa diam terlalu lama, jadi memutuskan untuk keluar sebentar.” Milla meneguk ludahnya sebelum melirik kearah lelaki itu sesaat sebelum menatap kearah kolam lagi. “Oh.” Lelaki itu terkekeh pelan, membuatnya menoleh kembali menatap lelaki itu dengan kening berkerut. “Kenapa anda tertawa? Apakah ada yang lucu? Atau anda benar-benar mulai gila?” Tawa lelaki itu berhenti, kemudian menatap kearahnya dengan sangat intens. “Sepertinya aku memang mulai gila. Karena setiap melihatmu jantungku berdetak dengan sangat kencang, perasaanku pun serasa berbunga, serasa bahagia yang berlebihan hingga ingin terus tersenyum dan ada yang terasa hangat disini.” Lelaki itu menepuk dadanya pelan. “Dalam dadaku.” A-apa? Apa-apaan itu?! Milla mendengus seraya mengalihkan pandangannya lagi kearah kolam. “Anda ingin saya ceburkan kedalam kolam?” Lelaki itu terkekeh pelan sebelum berujar dengan suara bariton yang terdengar begitu seksi. “Dengan senang hati cantik, agar aku semakin lama tinggal disini.” “Gila.” “Memang.” Milla mendelik pada lelaki itu lalu menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya kembali. “Bisa-bisanya kau ... .” Milla mendengus. “Sepertinya aku harus merujukmu kerumah sakit lain. Rumah sakit jiwa.” Ucap Milla seraya menekan kalimat terakhir. “Aku serius.” “Aku juga sangat amat serius.” balas Milla tak mau kalah. Lelaki itu mengulas senyumannya. “Jangan terlalu kesal padaku. Nanti kau jatuh cinta.” Milla mendesis lalu menatap kearah lelaki itu lagi. “Bisakah kau tutup mulutmu itu? Berhentilah beromong kosong karena aku muak dengan omong kosong lelaki hidung belakng sepertimu.” “Kenapa? Apakah dadamu berdebar mendengar ocehanku?” Milla mendelik. “Dalam mimpimu!” “Memang kau tahu apa mimpiku?” tanya lelaki itu, membuat perasaanya tiba-tiba menjadi buruk. “Dalam mimpiku, kita sudah menikah dan memiliki dua orang putera. Kita sudah sangat bahagia, bahkan sedang menantikan kelahiran anak ketiga kita.” Bulu kuduk Milla mendadak berdiri, sekujur tubuhnya mendadak meremang setelah mendengar perkataan lelaki itu. Perkataan omong kosong yang membuat kerja jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Sungguh ... ia tak pernah merasakan perasaan semendebarkan ini sebelumnya. Ia tak pernah merasakan sensasi sehebat ini hanya dengan sebuah kalimat. Namun lelaki itu melakukannya. Dia membuatnya merasakan sensasi aneh yang membuat perutnya bergejolak, hingga serasa ada ratusan kupu-kupu yang berterbangan diatas permukaan perutnya. Sungguh ... serasa menggelikan. Tapi menyenangkan secara bersamaan. Milla mengatupkan rahangnya, menahan semua gejolak aneh yang serasa menghantui dirinya. setelah itu ia menggeram. “Tidak bisakah kau berhenti mengatakan omong kosong seperti itu?! Kau! Kau benar-benar menyebalkan Michael! Apakah kau tak lihat, aku memakai cincin! Aku sudah bertunangan! Tak ada lagi kesempatan untukmu Michael! Tak ada!” Bukannya marah, lelaki itu justru tersenyum setelah mendengar ucapannya. “Ternyata kau ingat namaku? Bagus. Ingatlah terus. Ingatlah terus seperti itu. Jangan sampai kau melupakannya sedetikpun, Milla Alexi.” “Kau! Aku sudah mengatakan padamu! Kau tak akan pernah mendapatkan sedikitpun kesempatan! Tidak! Karena sampai kapanpun aku akan tetap bersama kekasihku. Aku akan tetap bersamanya!” Lelaki itu mendongak, menatap Milla seraya menyeringai. “Milla ... menikah saja masih bisa bercerai. Apalagi hanya sekedar bertunangan? Percayalah padaku. Pada akhirnya kau akan menjadi milikku Milla.” “Terus saja bermimpi sampai kau merasa mimpimu adalah kenyataan.” ujar Milla kemudian melangkah pergi dari hadapan lelaki itu. “Bukan sampai mimpi serasa nyata Milla, tapi ... sampai mimpi menjadi kenyataan.” Oh! Sialan! Lelaki gila sialan! Bagaimana bisa ada lelaki dengan paket komplit seperti itu? b******k, bermulut manis, hingga menjengkelkan seperti itu. Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa Tuhan menciptakan lelaki yang sangat menyebalkan seperti lelaki itu?! Tidak bisakah Tuhan menciptakan lelaki baik-baik saja di dunia ini? Agar tak ada lelaki gila semacam Michael Austin itu. Milla mendengus lagi lalu mengatupkan rahangnya. Lupakan Milla! Lupakan! Jangan mengingat-ingat namanya lagi!   ***   Sementara itu ditempat lain seorang berstelan jas berwarna hitam memasuki ruangan yang ditempati seorang lelaki yang sedang menikmati wine di tangan kanannya. Lelaki yang baru saja datang membungkuk sesaat sebelum berujar, memberikan laporan. “Michael masih hidup, dia selamat dari kecelakaan itu.” “Bagaimana bisa?! Bukankah kau bilang kecelakaannya sangat parah?!” “Ya ... hingga terguling beberapa kali sebelum membentur pohon.”  “LALU BAGAIMANA BISA DIA MASIH HIDUP?!”   PRANG!   Gelas ditangan lelaki itu terhempas begitu saja ke atas lantai, membuat cairan berwarna merah berceceran hingga mengenai pakaian lelaki yang berada dibelakangnya itu. “Maafkan saya Tuan.” “Lakukan apapun! Bunuh dia! Jangan sampai dia berkeliaran lagi!” Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya dengan rahang yang mengatup tajam. “Bisa-bisanya kau masih hidup. Lihat saja, sebentar lagi ... aku pastikan kau akan tamat Michael! Kau akan tamat!” Kau akan menerima pembalasan dendam dariku yang lebih kejam lagi!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN