Pagi itu Milla melakukan pemeriksaan pada seluruh pasien seperti kegiatan sebelumnya yang selalu Milla lakukan, senyum santun diringi dengan kalimat sapaan dan penyemangat yang lembut dengan suara yang mendayu terdengar begitu merdu. Begitu menyejukan hati dan meredakan lara dalam jiwa. Semua orang ... semua pasien serasa akan sembuh saat itu juga ketika melihat senyumannya. Apalagi ketika senyuman yang berpadu dengan suara lembut itu secara bersamaan terlihat dan terdengar. Begitu menyejukkan jiwa hingga membuat d**a serasa sejuk, sesejuk awal musim semi.
“Syukurlah Nenek sudah sehat seperti semula. Nenek sudah bisa pulang hari ini, bisa berkumpul segera dengan cucu Nenek lagi.” Ujar Milla setelah selesai memeriksa seorang perempuan paruh baya yang terkena serangan stoke ringan beberapa hari lalu.
“Dokter ... .” panggil nenek itu sesaat setelah Milla mencatat hasil pemeriksaannya.
Milla segera mengalihkan pandangannya menatap Nenek itu lagi. “Iya Nek?”
“Apakah kau sudah memiliki pasangan? Nenek suka sekali padamu, Nenek kebetulan memiliki cucu laki-laki. Sebentar lagi ... dia pasti akan datang.” Ucap nenek tersebut seraya memegangi lengan Milla.
Milla mengulas senyumannya, ia sudah terlalu biasa menghadapi hal-hal seperti ini. Bahkan yang lebihpun sudah. Seperti yang dilakukan lelaki gila itu. Milla menghembuskan nafasnya pelan, membuang eksistensi lelaki yang selalu mengganggunya dua hari ini dari dalam pikirannya, setelah itu ia kemudian melebarkan senyumannya pada sang Nenek sebelum memberikan jawaban. “Terimakasih Nenek, tapi saya sudah memiliki tunangan.”
“Ah ... sudah aku duga, lelaki kemarin itu ‘kan? Aku melihatmu bersama lelaki kemarin, sore hari di halaman belakang.” Ujar Nenek tersebut sarat akan kekecewaan.
Sementara itu Milla hanya mengerutkan keningnya. Lelaki kemarin? Siapa? Padahal kemarin ia tidak bertemu Gary sama sekali. Kemarin ia hanya tinggal di rumah sakit, memeriksa beberapa pasien, istirahat dan memeriksa lagi. Ia tidak bertemu Gary sama sekali. Meskipun begitu, ia tak ingin mengambil pusing, ia kemudian kembali mengulas senyumannya, sebagai jawaban atas ucapan sang pasien. Lalu ia berujar kembali.
“Nenek, sebaiknya Nenek istirahat dulu sementara anak dan cucu Nenek membereskan administrasi.”
“Dokter ... .” Nenek itu menahan lengan Milla lagi.
“Iya Nek?”
Nenek tersebut mengulas senyumannya. Lalu menepuk punggung tangannya beberapa kali. “Kalian terlihat sangat serasi, sangat cocok, Nenek do’akan kalian secepatnya menikah dan memiliki anak. Nenek mendo’akan yang terbaik untukmu. Karena Nenek yakin perempuan baik sepertimu akan bersama dengan lelaki yang tak kalah baiknya.”
Milla mengulum senyumannya kemudian mengangguk. “Terimakasih banyak Nenek atas do’anya. Kalau begitu, saya permisi. Saya harus memeriksa pasien lain.”
Nenek tersebut akhirnya melepaskan genggaman tangannya, lalu mengangguk. “Silahkan. Maaf sudah mengganggumu Dokter. Semoga saat kita bertemu nanti kau sudah menikah dengannya. Atau bahkan memiliki putera?”
Kali ini Milla terkekeh pelan. “Saya do’akan semoga Nenek panjang umur. Sampai jumpa kembali Nek.” Pamit Milla sebelum akhirnya benar-benar berlalu dari ruangan itu.
Tanpa Milla sadari Lilly yang berada di belakangnya tersenyum geli, ia bahkan terkikik ketika mereka berdua sudah berada di lorong menuju ruang rawat terakhir yang belum mereka periksa. Ruang rawat yang sangat amat Milla hindari.
“Kau ini kenapa Lilly terus tertawa?” tanya Milla saat mereka masih berjalan menuju ruangan VIP.
“Lucu saja Dok, kau tak sadar lelaki yang Nenek tadi maksud itu siapa?” tanya balik Lilly disertai tatapan geli dan juga tawa tertahan yang tidak berhenti.
“Siapa?” Kening Milla mengerut sesaat. Ia tidak ingat bersama seorang lelaki kemarin. Kecuali ...
“Michael Austin. Kemarin, kau yang bersamanya ‘kan? Kau yang membawanya dari taman belakang untuk kembali ke kamar saat akan di periksa Dokter. Kau tak ingat?”
Mata Milla membulat sempurna. Ya ... benar, kemarin ia memang membawa paksa Michael dari taman belakang untuk kembali ke ruang rawat inapnya lagi karena saat itu ia harus memeriksanya. Tapi ... bagaimana bisa nenek itu ... .
“Sudah aku katakan, kalian sangat cocok Dokter. Bahkan nenek dengan mata yang sudah rabun saja melihat itu. Apalagi dari pandangan mataku yang masih sangat normal?”
Milla mendesis, “Berhenti berkata omong kosong Lilly. Kau sepertinya mulai ketularan gila oleh pasien itu.” ujarnya, berusaha menghindari percakapan aneh yang selalu mengganggu pikirannya itu.
Ketika sampai didepan ruang rawat itu langkah Milla terhenti ketika Lilly tiba-tiba memberikan sebuah map kepadanya. “Dokter aku ingin ke toilet sebentar, aku ingin buang air kecil, sudah tak tahan lagi.”
“Lilly! Tapi ... .”
“Masuk saja lebih dulu, nanti aku menyusul. Aku berjanji hanya sebentar.” Pamit Lilly seraya berlalu meninggalkan Milla yang masih termangu didepan ruangan itu. Bisa-bisanya dia ingin buang air kecil disaat ia harus memeriksa lelaki gila itu? Milla menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali seraya menutup mata. Ia melakukannya lagi sebelum akhirnya mengetuk pintu ruangan itu sebanyak tiga kali sebelum akhirnya ia memasuki ruangan tersebut.
“Selamat pagi ... .” sapa Milla dengan suara yang berusaha dibuat selembut mungkin. Bukan untuk cari perhatian. Hanya saja ketika berhadapan dengan lelaki ini tiba-tiba sikap manisnya selalu menghilang. Sikap sopan dan lembutnya seakan menguap ibarat air yang di panaskan. Ia tak mau di anggap tidak profesional. Jadi ia barusaha sesopan mungkin, sesopan yang ia bisa lakukan, dengan kesopanan yang tersisa dalam dirinya.
Begitu ia masuk, ia melihat Michael sedang ditemani oleh Maria yan ia ketahui sebagai wali lelaki itu.
Perempuan paruh baya itu mendongak menatapnya kemudian tersenyum. “Kebetulan Dokter sudah sampai, Dokter periksalah Michael, jangan meninggalkannya sampai aku kembali atau setidaknya tunggulah sampai Christian kembali. Aku harus keluar sebentar, karena belum makan sejak malam tadi. Tenang saja, Michael sudah tidur lagi. Dia tak akan mengganggumu.”
Milla yang belum bisa mencerna kejadian mendadak itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Berusaha memahami situsasi yang terjadi. Setelah Maria keluar dari dalam ruangan itu, barulah ia tersadar. Bahwa sekarang mereka hanya ditinggalkan berdua saja.
Milla meneguk ludahnya kasar, jantungnya tiba-tiba saja berdetak dengan sangat kencang ketika kakinya melangkah semakin dekat ke arah bangsal. Ia mendadak gugup, tanpa alasan yang sebab. Padahal ini bukan kali pertamanya ia memeriksa seorang lelaki seusia lelaki dihadapannya ini. Milla menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan, sebelum akhirnya ia memasang earpeaces stetoskop ditangannya itu pada telinganya.
Iris mata Milla menatap paras Michael yang sebenarnya sangat tampan. Alis mata tebal, bulu mata rapih, hidung mancung dan bibir penuh benar-benar menambah kesan macho pada lelaki itu. Apalagi jika ditambah dengan suara bariton yang selalu terdengar sangat jantan itu. Menambah kuat kesan ke laki-lakian yang ada pada lelaki itu. Hanya saja sungguh sangat disayangkan, lelaki itu ... Michael Austin. Dia merupakan salah satu lelaki yang menyebalkan ketika sadar, ketika terbangun. Andai saja dia selalu setenang ini, setenang saat dia tertidur. Pasti kesan ketampanannya akan bertambah sebanyak seratus kali lipat dari yang ia lihat sekarang.
Tap!
Milla terjengit ketika sebuah tangan tiba-tiba meraih tangannya yang sedang memegang bagian ujung stetoskop diatas permukaan d**a Michael. Lalu diiringi sebuah suara bariton yang baru saja ia bayangkan.
“Puas melihat wajah tampanku?” tanya Michael seraya membuka mata, obsidian itu menatapnya dengan intens membuatnya serasa tenggelam, terperosok jatuh hingga kedasar samudra, tanpa menyadari lelaki itu mulai menyeringai dan tersenyum. “Jika kau ingin melihatku, bukankah seharusnya lebih dekat dari ini?” Michael menyentakkan tangannya sehingga Milla yang masih tak sadar dengan kejadian itu terhempas menunduk, menubruk d**a lelaki itu dengan cukup keras.
“Bukankah lebih baik?” tanya Michael lagi, membuat Milla seketika sadar lalu menegakkan tubuhnya lagi. Setelah itu ia mendelik menatap lelaki itu dengan tatapan yang berubah menjadi sangat tajam. “Jangan kurang ajar Mr. Austin, atau anda akan saya laporkan ke polisi atas tindakkan pelecehan seksual.”
Bukannya takut, lelaki itu justru terkekeh pelan mendengar ancamannya. “Silahkan saja, aku juga bisa melaporkanmu. Mengatakan pada atasanmu kalau kau tidak bekerja dengan baik. Kau justru hanya memandangi pasienmu yang sedang tertidur, bahkan tidak menggunakan stetoskopmu itu dengan benar. Kau pikir, setelah semua yang kau lakukan, kau akan selamat?” lelaki itu menyeringai. “Kau akan dianggap tidak profesional Dokter Milla Alexi.”
Rahang Milla mengatup, sebal, kesal! Bagaimana bisa lelaki itu selalu saja membuatnya kalah? Membuatnya tertunduk takluk, kalah hingga tak bisa membantah lagi? Michael! memang dilahirkan sebagai lelaki menyebalkan! Sungguh menyebalkan!
“Kau mengancamku? Lakukan! Lakukan saja sesukamu Mr. Austin yang terhormat.” Balas Milla sakratis sebelum menghentakkan tangan keatas tubuh lelaki itu cukup keras. Membuat lelaki itu meringis pelan seraya memegangi lengan bagian kanannya. Milla mengerjapkan matanya lagi, ketika sadar ia baru saja menghempaskan tangannya dengan kencang pada bagian yang terluka.
Milla segera membuka perban itu ketika melihat sedikit bercak darah diatas perban tersebut. Setelahnya dengan langkah yang cepat dan tangan yang cekatan ia segera mengganti balutan perban itu dengan perban baru setelah sebelumnya membersihkan luka yang hampir mengering itu. Ia menghembuskan nafasnya pelan lalu mendelik menatap Michael.
“Aku sudah memperingatimu jangan membuatku kesal.” Geram Milla dengan d**a yang naik turun, menahan nafas yang memburu akibat terkejut dengan kejadian diluar kendalinya itu.
Michael terkekeh pelan. “Tak masalah, sebenarnya tidak sesakit itu.”
Milla memutar bola matanya kemudian mengangkat tangannya hampir memukul lengan itu lagi. Namun Michael dengan cepat menghindar.
“Katanya tidak sakit, sini biar aku pukul lagi sampai berdarah! Akan kupukul sampai jahitannya lepas!” ancam Milla dengan tangan kanan yang masih terangkat dan juga nada yang sudah sangat amat jengkel. Sungguh setiap ia harus berhadapan dengan lelaki ini sepertinya ia harus menggunakan kesabaran yang sangat ekstra. Ia harus menyetok kesabaran dan ketenangannya lebih banyak lagi.
Michael tergelak seraya mengangkat telapak tangannya. “Ampun! Jangan. Ampun Dokter cantik.”
Mata Milla membulat. “Kau ingin benar-benar aku pukul HAH?!”
“Tidak tidak! Sudah jangan marah-marah lagi. Besok kalau kau merindukanku berabe.”
“Tak akan! Untuk apa aku merindukanmu? Jangan bermimpi!”
“Hari ini aku harus kembali ke Florida. Jadi besok kita tak akan bertemu lagi.”
Milla mendesis. “Baguslah, pergi saja sana. Jangan pernah kembali lagi.”
“Tenang saja, aku sesekali akan berkunjung agar kau tak rindu.”
“Michael!”
“Apa cantik?”
“Terserah! Aku tinggal.” Milla melangkahkan kakinya dengan lebar meninggalkan Michael. namun beberapa langkah sebelum sampai pintu ia berbalik menatap lelaki itu lagi.
“Tunggu, bukankah aku belum memberimu ijin untuk pulang? Kau masih harus di rawat. Lukamu masih basah dan harus melakukan perawatan lebih lama. setidaknya sampai satu minggu kedepan.”
Michael mengulas senyumannya. “Tak masalah, di rumah aku memiliki Dokter pribadi. Jadi aku bisa pulang sekarang.”
Milla mencebikkan bibirnya. “Kalau kau punya Dokter pribadi untuk apa dirawat disini? Pergis aja sana dari kemarin. Membuat pekerjaanku bertambah saja.” ujarnya kemudian berbalik kearah pintu lagi.
“Milla ... .”
“Apa lagi?! Berhenti mengatakan omong kosong Michael! Aku sudah muak mendengarkannya.” tanya Milla dengan nada yang cukup kencang, seraya berbalik menatap lelaki itu.
“Kau meninggalkan stetoskopmu dan catatannya.”
Blush!
Wajah Milla seketika memanas, menyadari kesalahannya sendiri.
Lelaki itu terkekeh pelan, menertawakan dirinya yang sangat memalukan itu. Lalu berujar pelan. “Apa yang kau pikirkan Milla? Kau pikir aku akan merayumu lagi hm?”
Oh sialan! Bagaimana bisa dia membaca pikirannya?
Milla menatap lelaki itu dengan berang. Kemudian mengambil stetoskop lalu catatan medis itu sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan lelaki yang masih terus saja berseru menggodanya itu.
“Ingat Milla ... jangan sampai kau rindu padaku.”
“Tak akan!” Seru Milla mendesis sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu.
Ya! Ia tak akan pernah merindukannya. Tidak! Jangankan rindu. Memikirkannya saja ia tak akan pernah. Tidak!
Milla kemudian mendesis. “Kau terlalu percaya diri Michael.” Sampai kapanpun aku tak akan merindukanmu! Lanjutnya di dalam hati.
Tidak akan pernah!