Tapi hati tidak akan pernah berbohong. Setelah satu minggu berlalu pasca Michael pergi dari rumah sakit ini ternyata ada yang kosong dalam hati Milla. Ada bagian yang serasa kurang disetiap harinya. Padahal sebelumnya, sekalipun ia tidak bertemu Gary selama satu bulan, ia tidak pernah merasakan perasaan sekosong ini. Namun sekarang hanya karena lelaki yang tiga hari ditemuinya saja. Membuat hatinya benar-benar kacau, sangat kacau.
Hatinya benar-benar tidak berbohong, ketika ia merasakan ada bagian yang hilang dalam hatinya, ketika ada bagian yang kosong, yang begitu menganga. Hatinya tidak bisa sedikitpun untuk berbohong. Bahkan ketika sekuat tenaga ia berusaha menepis perasaan itu.
Milla mendesah entah untuk keberapa kalinya saat tiba-tiba ia merasakan bosan. Hari ini sejak beberapa hari yang lalu kegiatannya memang berkurang karena pasangan Dokter, Indira dan Candra sudah kembali. Kegiatannya sekarang hanya berada di ruangannya ketika tak ada pasien anak-anak yang harus ia periksa.
“Lilly aku keluar dulu. Jika ada pasien segeralah hubungi aku.”
“Mau kemana?” tanya Lilly ketika Milla baru saja menanggalkan jas putih yang selalu ia kenakan.
“Keluar, aku bosan.” Jawab Milla seraya meraih sling bag-nya.
Tanpa Milla sadari Lilly tersenyum penuh arti, perawat itu menyadari beberapa hal yang lain dari Dokter itu. Ya ... beberapa, tak hanya satu. Pertama Milla tak pernah terlihat sebosan itu, kedua Milla tak pernah melamun terlalu banyak sekalipun pekerjaannya sudah selesai, ketika Milla tak akan pernah memandangi ponselnya sekalipun tidak bertemu dengan kekasihnya dalam jangka waktu lama. Tapi sejak beberapa hari ini dia melakukannya, seolah benar-benar kesepian dan tengah menunggu seseorang untuk menghubunginya.
“Kau bosan atau merindukan seseorang Dok?” tanya Lilly saat Milla sedang merapihkan dokumen di depannya. “Karena aku lebih terlihat seperti seseorang yang merindu daripada bosan.”
Milla mendesis. “Sok tahu.”
“Aku tidak sok tahu. Jangan bilang kau merindukan Mr. Austin?”
Mata Milla membulat. “Apa kau bilang?! Jangan mengada-ada Lilly. Jaga ucapanmu. Jangan sampai menimbulkan gosip yang tidak-tidak.” Bantah Milla dengan tegas.
Lilly bukannya merasa takut, perempuan itu justru tergelak melihat tingkahnya. “Kau berlebihan Dokter, selalu saja. Padahal jika memang tidak yasudah. Tak perlu marah-marah begitu.”
“Aku tidak marah, aku hanya jengkel. Kau terus membahas lelaki gila itu didekatku.”
Lilly mengedikkan bahu. “Padahal aku baru membahasnya lagi setelah dia pulang dari sini.”
Eh? Milla mengerjapkan matanya. Benarkah?
“Jangan bilang diam-diam kau memikirkannya?”
Deg!
Jantung Milla berdetak dengan sangat kencang. apakah tingkahnya benar-benar kentara? Milla kemudian mengerjapkan matanya lalu mendelik pada Lilly.
“Mana mungkin?!” Milla mendesis. “Sudahlah aku akan pergi. Bye!”
Lilly menggelengkan kepalanya pelan. “Jika kau memerlukan tempat curhat, datanglah padaku Dok. Aku akan dengan senang hati mendengarkan semua curhatanmu tentang Mr. Austin.”
Blam!
Milla menutup pintu itu dengan sedikit lebih kencang tanpa menanggapi ucapan Lilly lagi. Milla menarik nafas panjang kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan itu. Milla menghembuskan nafasnya terlebih dulu, beban dalam hatinya sedikit terangkat setelah berbicara dengan Lilly, meskipun nyatanya ia menyangkal kenyataan itu lagi. Tapi ... Milla menggelengkan kepalanya pelan. Sudahlah, cukup. Lupakan dia Milla, lupakan. Kau sudah memiliki Gary. Kau sudah memiliki tunangan yang sangat setia padamu.
***
Michael membaca dokumen ditangannya dengan sangat teliti kemudian membubuhkan beberapa tanda tangan setelah itu menutupkan dokumen tersebut. Ia terus-menerus melakukannya sampai beberapa kali. Sampai dokumen yang sebelumnya menggunung kini hanya tersisa beberapa saja.
Inilah alasan mengapa Michael tak pernah ingin libur lebih lama, ini juga alasan mengapa dirinya harus selalu sehat tanpa ada gangguan kesehatan apapun. Dirinya hidup sebatangkara sejak muda, tak ada yang mampu menopangnya, tak ada yang mampu membantunya secara lebih. Hanya ada Christian dan Maria. Hanya ada dua orang itu yang sebenarnya masih dikatakan orang lain juga. Ia masih harus bertanggung jawab pada dirinya sendiri tanpa merepotkan mereka yang tentu saja memiliki kepentingan untuk diri mereka sendiri. Sehingga tak selamanya ia bisa bergantung pada dua orang itu.
Kehidupannya memang cukup menyedihkan, bahkan sangat menyedihkan. Dibalik kekuatan yang ia miliki sekarang, sebetulnya ada banyak kisah memilukan yang membuatnya begitu rapuh. Bahkan kekuatannya yang tampak didepan semua orang saat ini, terbangun kokoh karena kerapuhan-kerapuhan yang ia miliki sejak muda. Terbangun karena kesedihan, karena luka dan tekanan dari semua sisi, juga jebakan yang tidak ada hentinya.
Sejak usia dua dua puluh tahun ia sudah di tuntut untuk kuat dan mandiri, karena di usia itulah ia harus kehilangan orangtuanya yang meninggal dalam sebuah kecelakaan beruntun di ruas tol sepulang dari dinas diluar negeri. Tekanan demi tekanan mulai datang, dari mulai dewan direksi perusahaan yang tidak memercayai kredibilitasnya, dari pemegang saham lain yang meragukan kepemimpinannya, hingga dari pihak kanan dan kiri keluarganya sendiri yang berusaha menggulingkan kakinya yang masih rapuh. Namun sekuat tenaga ia bangkit, dengan kekuatan yang tersisa dan juga dengan kekuatan yang ia dapatkan dari orang-orang disekitarnya.
Memang tak mudah untuk mendapatkan kepercayaan mereka semua. Sangat tidak mudah. Apalagi ketika ia gagal mendapatkan tender-tender besar. Namun sekali lagi Michael tidak pernah menyerah, ia terus bangkit hingga akhirnya beberapa tahun kemudian ia bisa berdiri dengan kakinya sendiri, hingga saat ini.
Tok tok tok!
“Masuk.” Seru Michael.
Seorang perempuan yang mengenakan celana jeans hitam, kaus hitam yang dipadukan dengan jaket denim dan juga rambut yang di kuncir kuda masuk menghampiri Michael dengan sebuah dokumen ditangannya.
“Sera.” Panggil Michael ketika melihatnya.
Perempuan itu Seraphina, seorang tangan kanannya yang sebenarnya tidak diketahui orang lain. Bahkan pertemuan mereka saja hampir tak pernah di kantor, tapi kali ini karena mendesak jadi ia biarkan perempuan itu datang membawa dokumen yang diinginkannya ke kantor.
“Semua bukti mengenai kecelakaan anda benar-benar raib, kecuali sebuah kalung yang menandakan identitas suatu kelompok terjatuh didalam mobil anda.” Jelas perempuan itu kemudian memberikan sebuah kalung yang dilapisi plastik. “Ini hasil penelitianku melalui chip yang ada di kalung tersebut.”
Michael membaca dokumen itu dengan seksama. Ia benar-benar membacanya dengan sangat teliti dan memastikan tak ada satupun yang terlewat. Tak lama setelah itu ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali.
“Sayang sekali kita tidak menemukan otak dari pelaku utamanya. Sekalipun kita melaporkan mereka, mereka pasti akan kembali bebas dengan mudah.”
Sera mengangguk. “Kami akan berusaha menyelidikinya lagi. Apakah ada yang ingin anda perintahkan lagi Mr. Austin?”
“Sudah cukup untuk saat ini Sera, kau bisa pulang. Aku akan menghubungimu jika ada hal mendesak.”
Perempuan itu mengangguk lagi kemudian membungkuk sesaat sebelum berpamitan untuk meninggalkan ruangan tersebutt.
Michael menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi. Jujur saja, ia tak habis pikir dengan seseorang yang melakukan kejahatan padanya ini. Karena ia tidak pernah merasa mengganggu kehidupan orang lain atau bahkan menghancurkan perusahaan seseorang lain. Tapi mengapa mereka dengan tega melakukannya? Apa motif dari pencobaan pembunuhan itu padanya? Apa yang menjadi motivasi mereka? Balas dendam? Atau karena hanya iri? Semuanya benar-benar diluar nalar.
Ketika Michael menyimpan dokumen itu kedalam lacinya, Ponsel Michael berdering pertanda sebuah panggilan masuk. Ia segera meraih ponsel itu lalu menjawab panggilan tersebut tanpa melihat kontak yang tertera di layar.
“Hallo ... .”
“Michael ... kau pasti melupakan makan siang.”
Michael mengerjapkan matanya kemudian menatap kearah dinding, melihat jam yang tertera. “Ah ... ya ... terimakasih sudah mengingatkanku Maria. Aku akan segera makan siang.”
Michael dapat merasakan perempuan itu tersenyum padanya, “Aku sudah mengirim makan siang untukmu. Coba tanyakan pada Kate. Katanya baru saja sampai.”
Michael mengulas senyumannya. “Terimakasih Maria, aku tutup dulu.”
Perempuan itu menggumam. “Pastikan ketika pulang tak ada isinya lagi ya.”
Michael terkekeh pelan. “Tentu saja. Tak akan ada yang menyisakan makanan darimu. Yasudah sampai nanti.”
Bersamaan dengan panggilan itu berakhir pintu ruangannya diketuk sebanyak tiga kali. Kemudian muncullah Kate, sekretarisnya.
“Makan siang anda Mr. Austin.”
Michael menganggukkan kepalanya sesaat. “Simpan di meja.”
Perempuan itu Kate Thunder, sekretarisnya. Perempuan itu menjadi salah satu perempuan yang perhatian padanya, perempuan itu selalu berusaha melayaninya dengan baik, bahkan terkadang dia sudah menyiapkannya kopi dan kudapan, atau bahkan sarapan ketika ia tidak sempat sarapan dirumah. Kate meletakkan makanan tersebut kemudian membukanya satu persatu seperti yang biasa dilakukannya.
“Silahkan Mr. Austin.”
Michael kemudian beranjak dengan ponsel ditangannya. Ia baru menyadari ternyata ada beberaoa pesan yang masuk, beberapa foto dan juga pesan yang cukup panjang. Ia tersenyum sekilas sebelum menyimpan benda pipih itu lagi di atas meja.
“Kau bisa kembali ke tempatmu Kate.”
Perempuan itu mengerjapkan matanya sesaat kemudian tersenyum canggung, terlihat sangat aneh. Berbeda dengan Kate yang baisanya. “Ah ya ... Mr. Austin. Maafkan saya.”
“Ada apa Kate? Apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?”
“Perempuan itu ... siapa? Ah! Tidak, tidak Mr. Austin. Maafkan saya lancang. Saya akan kembali ke tempat saya bekerja lagi.” Ujar perempuan itu dengan cepat kemudian berlalu dari hadapannya setelah berpamitan.
Michael tak langsung makan, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kemudian meraih ponselnya lagi, membaca pesan yang baru saja masuk untuk ke sekian kalinya.
Michael terkekeh pelan dengan kepala yang menggeleng-geleng sesaat ketika membaca pesan yang masuk lagi. Senyumannya terlampau lebar, bahkan nyaris membuat bibirnya robek. Ia menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi, setelah itu kembali mengulas senyumannya.
“Sudah aku bilang, kau akan merindukanku Milla. Tapi kau selalu saja menyangkalnya. Sekarang, terbuktikan?” Michael menyeringai seraya membelai layar ponselnya yang menunjukkan paras cantik Milla sesaat, “Kita lihat sampai sejauh mana kau akan terus menyangkal keberadaanku sayang. Karena sebentar lagi, aku akan menjemputmu dan membuatmu tinggal bersamaku.”