Milla melangkahkan kakinya menuju ruangan tempatnya bekerja, sesekali ia menyapa perawat yang menyapanya dan juga tersenyum padanya. Ada beberapa orang yang berbisik aneh tapi ia abaikan, ia tidak pernah peduli dengan orang-orang yang menggunjingnya. Apalagi sejak ia menangani Michael dan kabar Michael yang menyukainya berhembus begitu kencang di seluruh penjuru rumah sakit, mereka semua kerap kali menggunjingnya dan mengatakan ia tak setia pada kekasihnya, ada pula yang mengatakan ia perempuan tak tahu diri bahkan ada juga yang mengatakannya perempuan penggoda. Tapi sekali lagi, Milla tidak pernah peduli karena toh semua itu tidak benar sama sekali. Michael memang menyukainya, bahkan sangat jelas, tetapi bukan berarti ia tak setia dan penggoda ‘kan? Ia bahkan tidak pernah merasa menggoda lelaki itu sama sekali.
“Aku penasaran siapa yang akan dia pilih, tunangannya itu atau lelaki kaya raya kemarin?”
Milla menghembuskan nafasnya pelan lalu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Dengarlah ... mereka bahkan berbicara seolah dirinya tak akan mendengar gunjingan itu. Mereka benar-benar berani sekali.
Ketika ia melangkahkan kaki memasuki ruangannya, kakinya terantuk sebuah kotak dibalik pintu. Mata Milla membulat seketika ketika menatap tumpukkan kotak dan juga paper bag yang tak hanya satu, dua atau tiga tapi banyak bahkan lebih dari lima hingga Milla sendiri tidak bisa menghitungnya satu persatu, yang jelas tumpukan kotak dan paper bag itu memenuhi ruangannya yang cukup sempit itu. Ia mengerjapkan matanya beberapa saat sebelum memasuki ruangannya itu, tak lama ia membantu Lilly menepikan kotak tersebut satu persatu, lalu bertanya pada perawat itu.
“Lilly dari mana ini? Kenapa banyak sekali kotak hadiah? Aku rasa aku tidak sedang berulang tahun.” Ujar Milla sesaat setelah melihat Lilly yang juga sedang memandangi kotak tersebut.
Lilly mendesah lelah lalu menatap Milla seraya menyeka keringatnya. “Menurutmu? Siapa lagi?”
“Dia benar-benar gila ya ... bagaimana bisa dia sudah membuat keributan pagi-pagi begini dengan mengirimkan hadiah sebanyak ini?” rutuk Lilly. “Aku yakin dia sangat tergila-gila padamu Dok. Aku sangat yakin karena dia mengirimkan semuanya seolah ini hadiah ini bukan apa-apa baginya. Padahal tadi aku sempat mengintip beberapa ... ternyata semuanya barang-barang mewah. Branded Dok.”
Milla meneguk ludahnya kasar, dalam hatinya berusaha menepis bahwa yang mengirimkan hadiah ini adalah orang yang ia pikirkan. Ia berharap hadiah ini datang dari orang lain. Setidaknya dari Gary atau dari orangtua pasiennya atau siapapun. Asalkan jangan seseorang yang sedang ia pikirkan sekarang. “Siapa?” tanya Milla dengan ragu. Masih berusaha menyangkal kenyataan bahwa yang mengirim hadiah ini sudah sangat dipastikan adalah Michael. Lelaki gila yang seharusnya sudah tidak mengganggunya lagi.
“Michael Austin tentu saja, siapa lagi? Pagi-pagi sekali seorang kurir datang kemudian memberikan ini semua dan ada sebuah surat. Itu sudah aku letakkan di atas mejamu.” ujar Lilly seraya melirik surat dengan ujung mata.
Milla meraih sebuah amplop yang tergeletak diatas mejanya kemudian membuka isi surat tersebut.
Hai Dokter Milla Alexi
Bagaimana? Merindukanku?
Tenang saja kau tak sendiri, aku juga merindukanmu.
Oh ya, aku kirimkan hadiah untukmu sebagai hadiah karena kau telah merawatku dengan baik.
Aku mengirimkannya kesini karena aku belum tahu alamat tempat tinggalmu
Aku harap kau menerima semua niat baikku ini.
Karena aku sungguh-sungguh berterimakasih atas semua pertolonganmu.
Dari aku, yang kau rindukan.
Michael
Milla meremas surat itu, tangan kanannya terkepal hebat kuat meremas dan merusak kertas itu secara bersamaan. Kesal, sangat kesal! Ia kesal karena dadanya yang berdetak dengan sangat kencang ketika membaca pesan itu. Ia kesal dengan perasaannya sendiri, ia kesal karena merasakan efek dari Michael yang ternyata sehebat ini untuk hatinya.
Selain itu, juga sangat kesal sekali dengan pikirannya sendiri yang bisa-bisanya membayangkan wajah tengil Michael ketika menulis surat itu dan mengatakan kalimat itu sendiri. Ia bisa membayangkan wajah lelaki menyebalkan itu. Padahal kemarin ia merasa semuanya sudah mulai membaik. Ia sudah merasa semuanya baik-baik saja. Tapi sekarang ...
Tok tok tok!
“Milla, Hai sayang ... sedang sibuk?”
Mata Milla mengerjap ketika melihat Gary yang tiba-tiba datang. Gawat! Sangat gawat! Kacau sekali jika Gary melihat semua hadiah ini. Bagaimana jika Gary marah? Bagaimana jika kekasihnya itu salah paham?
“Wah ... sepertinya kau memiliki banyak penggemar sekarang. Banyak sekali hadiah.”
Milla meneguk ludah dengan kasar, ia tak tahu itu sebuah sindiran atau pujian, yang jelas perasaannya menjadi tak enak, perasaannya benar-benar menjadi sangat buruk. Milla menggeram, jika sampai terjadi sesuatu semuanya salah Michael! Semuanya salah lelaki gila itu!
“Michael Austin? Siapa?” tanya Gary ketika membaca kartu nama pada salah satu paper bag itu.
“Tidak-tidak. Bukan siapa-siapa Gary. Dia hanya lelaki gila yang berusaha merebut perhatianku. Dia lelaki gila yang mengatakan bahwa mengirim ini hanya sebagai hadiah. Tapi sungguh aku tidak akan menerimanya Gary. Aku akan mengembalikannya sekarang. Aku akan mengembalikannya segera.” Jelas Milla dengan sangat cepat. karena sungguh dalam hati terdalamnya ia sangat takut jika Gary akan salah paham akan semua hadiah yang diterimanya ini.
Tapi sepertinya dugaannya salah, apalagi ketika Gary justru tersenyum padanya. “Jika kau mengembalikannya, dia akan menilaimu mencari perhatiannya. Dia akan kembali mengirimmu hadiah sayang.” Ujar Gary.
Mata Milla kembali mengerjap. “Benar juga, jika aku mengembalikannya dia pasti akan mengirim hadiah lain padaku.” Ia mengalihkan pandangan pada Gary. “Lalu harus aku apakan ini semua Gary?”
“Kau tak perlu melakukan apapun sayang. Kau cukup diam saja. Biar aku yang akan menjualnya. Percayalah padaku, setelah ini dia tidak akan mengganggu kekasih cantikku lagi.” ujar Gary seraya membelai wajahnya sesaat.
Milla menghembuskan nafas ringan kemudian tersenyum lega. Beruntunglah kekasihnya ini tidak cemburuan. Sehingga daripada marah, dia lebih memilih mencari jalan keluar terbaik untuknya. “Bagus. Sekarang aku bantu bawa barang-barang ini ke dalam mobilmu ya ... agar segera bisa kau jual.”
“Tidak sayang! Jangan. Kasihan tangan cantikmu. Kau diam saja disini, aku yang akan mengangkutnya dengan kedua tanganku. Kau tahu ‘kan aku sangat kuat?”
Milla terkekeh pelan mendengar hal itu. “Baiklah Gary, kalau begitu aku akan memeriksa pasien ya.” Ujar Milla kemudian mengecup ringan pipi kekasihnya itu sebelum ia mengenakan jas putihnya.
Sementara itu tanpa mereka sadari Lilly mendengus, ketika merasakan keanehan yang ada dalam kekasih Dokter itu. lelaki itu ... benar-benar aneh. Bagaimana bisa dia tidak terlihat cemburu sama sekali? Daripada cemburu dia malah membantu menjual. Tidakkah itu sangat tidak masuk akal? Seharusnya minimal ada sedikit gurat cemburu. Tapi lelaki itu. Tidak sama sekali.
“Aku hampir berpikir jika dia tidak mencintaimu Dokter. Bagaimana bisa dia tidak terlihat cemburu sama sekali?” tanya Lilly setelah melihat lelaki itu pergi membawa kotak-kotak hadiah milik Milla dengan senyuman yang tampak sangat cerah. Lelaki itu seolah mendapatkan jackpot ketika melihat semua barang-barang itu.
Milla justru terkekeh menanggapi ucapan Lilly.
“Bukannya bagus tidak cemburuan? Lagipula kami sudah dewasa Lilly. Tidak cocok cemburu-cemburu seperti anak remaja.”
“Tapi kan ... .”
“Sudahlah ... ayo!”
Lilly menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi, sungguh dalam hatinya ia tetap merasakan keanehan dari lelaki itu. Bahkan sejak Milla mengenalkan lelaki itu adalah kekasihnya. Ia merasa sangat ganjil akan hal itu. Seolah ada sesuatu yang lelaki itu sembunyikan tapi tidak ia mengerti.
***
“Sialan!” umpat Michael setelah membaca pesan masuk dalam ponselnya.
Christian yang sedang bersama Michael menoleh sebelum melanjutkan kegiatannya memilih dokumen yang akan ia bawa ke sebuah meeting penting berkedok pesta malam ini. “Kenapa? Dia memberikan kembali barang-barang itu padamu?” Christian menghembuskan nafasnya pelan. “Sudah aku katakan semuanya akan sia-sia Michael. kau tak akan berhasil.”
Michael menggeram dengan tangan kanan yang terkepal erat. “Tidak, dia tidak mengembalikannya.”
Christian menoleh kembali, menatap sahabatnya itu lamat. “Lalu ada apa dengan wajahmu itu?”
“Kekasihnya menjual semua barang-barang pemberianku.”
“Memang pantas. Dia pasti akan melindungi kekasih cantiknya itu. Sudahlah ... ayo pergi. Kita harus segera bersiap. Aku juga sudah meminta Kate untuk ke salon.”
“Aku tidak bilang akan pergi dengan Kate.”
Christian mendelik. “Lalu? Jangan gila! Jangan pernah berpikir kau akan menjemput perempuan itu hanya untuk makan malam bisnis Michael! jangan gila! Sudah cukup! Kau sudah cukup membuatku pusing.”
Michael mengerutkan keningnya. “Kau ini kenapa Chris? Kenapa marah-marah begitu? Tentu saja tidak. Aku juga memiliki akal sehat. Mana mungkin aku menjemput Milla?” Michael mendesis. “Aku sudah mengajak pasanganku sendiri. Jika memang dia terlanjur ke salon, kau bisa berpasangan dengannya. Bukankah selama ini kau menyukainya?”
Mata Christian memicing. “Jangan mengalihkan pembicaraan.”
“Aku tidak, aku benar-benar sudah ada pasangan.” Michael menghembuskan nafasnya. “Tenang saja ... bukan Milla. Meskipun aku sangat ingin membawanya sekarang juga ke sampingku. Tapi aku tidak akan gegabah. Aku ... akan membawanya dengan cara yang halus sampai dia sendiri tidak menyadari dia masuk dalam perangkapku.”
Christian memicingkan matanya ketika melihat senyuman janggal yang Michael berikan. “Apa yang sedang kau pikirkan Michael? jangan mengada-ada.”
Michael terkekeh pelan. “Lihat saja nanti. Kau hanya perlu menyaksikan semuanya Chris.” Ujarnya diiringi oleh seringaian iblis yang menghiasi wajah tampannya.
***