7. Berita Baik

1425 Kata
“Dia yang aku katakan memiliki free pass untuk bertemu Mr. Austin, Chris. Sejak kemarin, tetap saja kau tak percaya padaku. Lihat bahkan mereka sangat akrab. Bagaimana bisa kau tak kenal?” Christian melirik kearah Kate yang sejak beberapa hari terus-menerus menggerutu karena seorang perempuan memiliki free pass untuk ke ruangan Michael. Awalnya Christian memang tidak percaya dengan ucapan Kate, bisa saja Kate hanya berlebihan karena cemburu. Bagaimanapun Kate sudah secara terang-terangan mengatakan bahwa dia menyukai Michael, sehingga bisa saja perempuan itu hanya cemburu pada seorang sahabat mereka atau siapapun yang belum Kate kenali. Tapi ternyata ia juga tidak mengenal perempuan itu. Perempuan yang tampak masih sangat muda, tubuh tinggi semampai, berkulit sedikit kecoklatan namun begitu bersinar, wajahnya tampak dingin namun begitu cantik secara bersamaan, dengan rambut yang di kuncir seperti ekor kuda. Tapi satu hal yang Christian yakini, ia yakin perempuan itu bukan perempuan yang Michael cintai. Karena ia tahu betul, Michael tergila-gila dengan Dokter bernama Milla. Tak mungkin sahabatnya itu berpaling begitu saja. Tapi ... siapa dia? “Christian! Kenapa kau malah melihat dia juga? Kau suka? Bawa pergi sana. Seharusnya aku yang bersama Mr. Austin. Baisanya juga aku yang bersama Mr. Austin.” Rajuk Kate lagi untuk kesekian kalinya sebelum Christian mengalihkan pandangan pada Michael yang sedang bersama perempuan itu lagi. “Saya berharap project kerja sama perusahaan kita akan berjalan dengan lancar Mr. Austin.” Ujar salah satu kolega bisnis Michael yang berasal dari China, Mr. Wang. “Saya juga berharap begitu Mr. Wang. Saya berharap anda bisa menyuplai kain berkualitas tinggi dari perusahaan anda, seperti yang tertera dalam perjanjian kita.” Balas Michael yang segera di angguki oleh lelaki itu. “Tentu saja, tentu saja Mr. Austin. Saya tunggu kunjungan anda ke China.” Michael mengangguk kemudian membalas uluran tangan lelaki itu yang mengulurkan tangan padanya. “Kalau begitu saya akan melihat-lihat ke tempat lain. Sampai berjumpa lagi Mr. Wang.” Pamit Michael kemudian beranjak pergi dengan seorang perempuan yang menggamit lengannya. “Bagaimana Sera, apakah dia mencurigakan?” bisik Michael pada perempuan itu, Sera. Perempuan itu menggeleng pelan. “Tidak Mr. Austin.” “Mr. Meadown mendekat.” Ujar Sera ketika melihat lelaki berumur awal empat puluhan mendekat kearah mereka dengan seorang perempuan yang menggunakan gaun berwarna merah menyala. “Mr. Austin ... bagaimana kabarmu? Aku dengar kau mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu.” Sapa lelaki itu, Joshua Meadown. Seorang pengusaha yang juga bergerak dibidang fashion, sama sepertinya. “Maaf aku tidak bisa menjengukmu, seperti yang kau tahu. Akhir-akhir ini aku sedang sangat sibuk.” Michael tersenyum pada lelaki yang lebih tua darinya itu. “Tak masalah Mr. Meadown, saya memahaminya.” Lalaki itu kemudian memberikan segelas anggur berwarna merah pekat pada Michael. “Terimalah ... sebagai hadiah atas kesembuhanmu.” Ujar lelaki itu yang segera Michael terima dengan baik. Ketika Michael hendak meminum anggur tersebut, Sera segera merebut gelas itu dengan cara yang anggun. Perempuan itu kemudian tersenyum pada Michael lalu menggeleng pelan. “Kau baru saja sembuh Michael. Tidak ada alcohol. Mengerti?” “Ah ... .” Michael terkekeh pelan. “Maafkan aku sayang. Aku lupa. Terimakasih sudah mengingatkanku.” “Kekasihmu?” tanya Joshua seraya meneliti penampilan mereka berdua. “Terlihat masih sangat muda tapi cukup serasi.” Sera menyunggingkan senyumannya kemudian berujar. “Terimakasih.” “Kalau begitu saya pamit Mr. Meadown. Saya harus pergi menemui yang lain. Sampai jumpa lagi Mr. Meadown.” Pamit Michael sebelum akhirnya beranjak meninggalkan lelaki itu. Sera mengedus minuman itu sesaat. “Dia benar-benar memasukkan sesuatu yang aneh dalam minuman anda Mr. Austin. Anda harus lebih berhati-hati. Jangan sampai menerima gelas dari sembarangan orang.” ujar Sera seraya menyimpan gelas itu diatas nampan salah satu pelayan. “Kesimpulanmu, apakah kau curiga padanya?” Sera menoleh kearah belakangnya lagi kemudian menatap Michael. “Fifty:fifty. Sekalipun dia pesaing anda yang paling tenang, kemungkinan dia berbahaya untuk anda juga sangat besar.” Sera menghela nafas. “Apalagi dia memasukkan sesuatu pada minuman anda. Saya yakin, dia sedang memiliki tujuan. Entah apapun itu.” Ya ... Michael membawa Sera ketempat ini bukan tanpa alasan. Tapi ia sengaja membawa perempuan itu untuk meneliti dan menganalisa setiap orang yang ia kenal. Karena sungguh ia sudah sangat muak dengan semua gangguan-gangguan yang ia terima. Selain itu ia juga melakukan ini karena ia takut jika nanti ketika ia membawa Milla dalam kehidupnya, tanpa ia ketahui salah satu dari mereka akan menyakiti Milla tanpa ia ketahui, sehingga ia harus lebih bisa membaca situasi dari sekarang, sebelum Milla benar-benar tinggal disampingnya. *** “Ternyata ide Gary benar-benar luar biasa. Sampai-sampai dia tidak mengirimkan hadiah lagi. Untung saja dia ada ide bagus.” Ujar Milla sesaat setelah memasuki ruangannya yang aman dan damai. Tak ada lagi kardus-kardus atau paper bag yang memenuhi ruangannya. “Iya, dia juga pasti untung banyak karena menjual barang-barang mewah itu.” Lilly mendesis. “Lelaki serakah.” Milla mendelik. “Apa kau bilang?” “Lelaki serakah.” Ulang Lilly dengan tegas. Milla menarik nafas panjang kemudian menghembuskan nafasnya kembali. “Dia tidak serakah Lilly. Uang itu dia gunakan sebagai biaya penyelidikan pembunuhan Kakakku, karena dia membutuhkan banyak biaya. Apalagi dia harus pulang pergi dari Florida ke sini hanya untuk penyelidikan itu.” Lilly menghela nafas kemudian mendudukkan dirinya dihadapan Milla. “Dok, aku ingin bertanya.” “Apa itu?” tanya Milla seraya mengenakan jas putihnya. “Jangan bertanya tentang lelaki gila itu.” Lilly berdecak. “Bukan. Kau ini. Masih rindu ya pada Michael?” Mata Milla membulat sempurna. “Aku bilang aku tidak pernah merindukannya.” “Sudahlah itu tak penting.” Lilly menatap Milla lagi. “Aku hanya ingin sedikit bertanya saja.” “Apa?” tanya Milla, “Tanyakan saja, selama pertanyaan itu masih masuk akal.” “Kenapa kekasihmu tidak juga mendapatkan informasi mengenai Kakakmu? Dok apakah kau tidak curiga? Apalagi dia tidak pernah menunjukkan identitasnya sebagai detektif resmi.” Lilly menghembuskan nafas pelan. “Bagaimana jika dia ternyata menipumu?” Milla menghela nafas panjang, tangan kanannya terulur menepuk pundak Lilly sesaat. “Bagaimana caranya dia menunjukkan identitasnya Lilly. Dia detektif rahasia. Ini saja aku mengatakannya padamu karena kau orang kepercayaanku. Orang lain tak ada yang tahu Lilly. Identitas Gary ... bukan identitas yang bisa di umbar sembarangan. Aku ... justru seharusnya menutup mulutku rapat-rapat, aku tak boleh membongkar identitasnya.” “Tetap saja ... Dokter. Kau kekasihnya, setidaknya kau harus melihat tanda pengenal atau ... apapun itu. Bagaimana jika dia menipumu?” Milla menggelengkan kepalanya. “Tidak akan. Dia tidak akan menipuku. Kami sudah dua tahun saling mengenal Lilly. Aku tahu, dia lelaki yang sangat baik.” “Tapi Dok ... apa kau tidak menyadari tingkahnya juga aneh? Kau ... jika cinta jangan buta. Kau harus membuka matamu, kau harus peka. Jangan sampai dibodohi.” Milla termenung. Benarkah ia cinta buta? Padahal selama ini yang ia rasakan biasa saja. Tidak ada perasaan cinta yang memburu, yang terlalu membara atau apapun itu yang terasa berlebihan. Ia hanya berusaha percaya pada hubungan mereka, karena bagaimanapun selama ini Gary yang sudah berusaha mencari tahu tentang Kakaknya. Dia yang sanggup membantunya, karena ia sendiri tidak sanggup jika harus membayar detektif legal. Ia hanya sedikit beruntung bisa bertemu dengan Gary yang mau secara sukarela menolongnya dan hanya ia bayar seadanya saja. Milla kemudian menyunggingkan senyumannya. “Terimakasih Lilly kau sudah mengkhawatirkanku. Aku senang kau begitu perhatian padaku. Tapi ... tenanglah. Aku akan berhati-hati. Aku tetap percaya Gary tidak mungkin menipuku dan membodohiku.” Lilly menghembuskan nafasnya lagi. Ia sudah menduga Milla akan menjawab seperti itu lagi. Sebenarnya ia sudah bosan mengatakannya. Namun ia tetap berharap jika suatu saat Milla akan sadar dengan semua keanehan yang ada pada Gary. “Bersiaplah, kita harus melakukan pemeriksaan.” Ujar Milla yang segera di angguki oleh Lilly. Perempuan yang lebih muda darinya itu segera beranjak untuk bersiap. Sementara itu Milla meraih beberapa dokumen yang terletak di mejanya, ada juga beberapa surat yang tertumpuk, hasil dari laboratorium dan berbagai hal lagi. Ketika ia akan menyimpan surat itu ke dalam laci. Sebuah surat dengan logo amplop yang tidak familiar dimatanya begitu menarik perhatian. Ia meraih surat itu kemudian segera membukanya dan membacanya secara teliti. Senyuman Milla merekah sempurna setelah selesai membaca pesan tersebut. Ia menatap surat itu dengan seksama, membacanya berulang-ulang dengan senyuman yang semakin merekah. “Dokter, kau kenapa? Seperti mendapatkan Jackpot saja.” tegur Lilly. “Lilly! Aku mendapatkan surat rekomendasi dari rumah sakit ternama. Rumah sakit besar di Florida Lilly.” Senyuman Milla merekah sempurna dengan iris mata berbinar yang masih menatap kearah surat itu. “Akhirnya ... aku bisa ke Florida, aku bisa tinggal disana tanpa rasa khawatir lagi Lilly. Apalagi disana aku akan mendapatkan apartemen dan kendaraan pribadi. Akan sangat memudahkanku Lilly.” Guman Milla lagi dengan senyuman yang semakin merekah, bahagia. Bekerja di Florida adalah salah satu mimpinya, salah satu tujuan utamanya. Karena di kota itulah Kakaknya di bunuh, jadi ketika ia tinggal disana. Ia tentu saja dapat dengan mudah menemukan pembunuh itu dan membalaskan dendam atas kematian kakaknya dengan cepat juga bukan? Tangan Milla mengepal sempurna dengan seringaian yang sesaat terpatri di wajah cantiknya. Setelah itu ia tersenyum lebar kembali. Jika seperti ini ceritanya ... bukankah ia harus segera menyusun rencana?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN